UPDATE

Tanpa kategori

[Fanfiction] The Little Prince (Chapter 2)

The Little Prince

Present.

The Little Prince

Cast

Daniel Hyunoo // Lim Yoona // Choi Siwon // And Other.

A/N : Tulisan yang berefek miring adalah sebagian dari Flashback.

14a7150f7ca6618e8ae81fbe52db3c0e

Continue reading “[Fanfiction] The Little Prince (Chapter 2)”

Advertisements
Tanpa kategori

[Fanfiction] The Little Pince (Chapter 1)

The Little Prince

Fanfiction By :

The Little Prince

14a7150f7ca6618e8ae81fbe52db3c0e

Cast :

Daniel Hyunoo // Lim Yoona // Choi Siwon // Kim Heechul // Tiffany Hwang // Im Siwan // Kim Taeyeon // And Other Cast.

Summary

“Karena aku menyangi Mommy, jadi aku tak ingin melihat air jatuh dari mata mu”
(Daniel)

A/N : Tulisan yang DIMIRINGKAN adalah sebagian dari Flashback.

Continue reading “[Fanfiction] The Little Pince (Chapter 1)”

Tanpa kategori

[Fanfiction Oneshoot] One Day For You

The little prince
Present.
[Fanfiction] One Day For You.

DSnlQL_VoAUebEv

Cast :

Choi Siwon And Lim Yoona.

Author :

The Little Prince

Summary :

Aku ingin memberikan hal berbeda dari semua hal yang mereka berikan untuk mu, sebuah hari spesial dari seluruh hari spesial di hidup mu, karena aku mencintai mu, aku ingin terlihat berbeda dari yang lain di mata mu. (Lim Yoona.)

Tak perlu berlebihan sungguh, kau adalah diri mu, jadilah seperti itu setiap hari, karena aku menyukainya. (Choi Siwon.)

*

*

*

Happy Reading Dear ^^

Continue reading “[Fanfiction Oneshoot] One Day For You”

Chapter

[Ficlet] No Other (?)

Fanfic By :

Ranny.S

¤¤

Main Cast : Yoona Lim, Choi Siwon, And Other Cast.

A/N : Penulis baruuu! Anyeong, salam kenal prince, princess, ranny suryani disini, karya pertama ku, mohon di mengerti jika jelek atau jalan cerita kurang memuaskan, okelah, happy reading aja yahh..

¤¤¤

“Kau dari mana?”

Siwon diam, ia tertegun dengan apa yang baru saja dikatakan Yoona. Dengan ekspresi wajah kesal juga dengan suara dingin Yoona berada dihadapannya sekarang.

“Yoong, aku–”

“Siwon, aku menunggu mu 3 jam, dan selama itu akhirnya kau tak datang juga menemui ku! Dan apa sekarang ini? Kau datang ke Apartemen ku dan meminta maaf? Kemana saja diri mu saat aku menunggu tadi direstoran?”

Maki Yoona, mengeluarkan amarahnya.

“Yoona, kau jangan salah paham dulu Sayang, tadi aku–”

“Sibuk syuting? Ada tambahan scene? Lalu kenapa kau tak bisa membalas satupun pesan ku? Harus nya kau mengirim setidaknya satu pesan saja pada ku, jika aku tak perlu menunggu mu.”

“Yoong–”

“Sebegitu menyenangkan kah bekerja dengan Liu Wen?”

“IM YOONA!!”

Dan pada akhirnya Siwon pun mengeluarkan rasa kesalnya. Yoona benar-benar tak memberinya kesempatan bicara sedikit pun, dan Siwon tak bisa bersabar untuk itu. Tapi hey!
Siapa yang sebenarnya berhak marah sekarang? Wanita mana yang tak kesal dibuat menunggu tiga jam tanpa kepastian? Dan sekarang tanpa tau malu datang ke Apartemennya tanpa permisi lalu meminta maaf?

“Sekarang kau marah pada ku?”
Suara Yoona kemudian dengan senyum meremehkan.

“Bukankah aku benar? Kau menjadi seperti ini sejak syuting dengan artis china itu? Sungguh Siwon ini bukan yang pertama kalinya kau syuting, tapi sejak bekerja sama dengan artis itu kau jadi lebih melupakan ku.”

“Yoong, bukan begitu, kau harus mendengarkan ku! Aku sungguh sangat sibuk tadi–”

“Kau berbohong Oppa!”

“Aku bersumpah demi kau Yoona!”

“Dan aku juga bersumpah demi diri mu, jika kau datang kesini sekarang, karena Jiwon! Aku mengirim pesan padanya, dan kau langsung datang! Kau melupakan janji mu Siwon.”

“Yoona ku mohon.”

“Entahlah Siwon, sekarang lakukan apa yang ingin kau lakukan. Aku akan berada dikamar sekarang, aku lelah.”
Ucap Yoona lemah, lalu tanpa menunggu lagi suara Siwon, ia melangkah pergi menuju kamarnya, menutup pintu dengan sangat pelan lalu menguncinya.

Sungguh, menghadapi Siwon yang sekarang sangat menyakitkan untuknya.

“Maafkan aku Yoong.” ucap Siwon setelah cukup lama terdiam memperhatikan pintu kamar Yoona yang sekarang telah terkunci rapat. Siwon menghembuskan nafas beratnya, sebelum akhirnya menjatuhkan tubuhnya keatas sofa yang berada tepat disebelah kirinya.
Ia memejamkan matanya sembari sesekali memijat pelipisnya, sungguh rasa sungkan nya kini merugikan untuk dirinya sendiri, sangat merugikan nya.

Siwon akhirnya bermalam di apartemen Yoona, ia tidur beralaskan sofa panjang berwarna putih yang sebenarnya terlalu kecil untuk menampung tubuh nya.
Dan dengan masih menginginkan permintaan maaf dari kekasihnya Yoona, pria itu bangun sangat pagi, ia merapikan seluruh sudut diapartemen Yoona tanpa terkecuali, membersihkan seluruh piring kotor, mencuci pakaian dengan mesin cuci, sampai membuat sarapan spesial khusus untuk Yoona dia melakukan nya, sungguh ia benar-benar sangat merasa bersalah, sehingga tanpa tau apa yang harus dia lakukan untuk mendapat maaf dari Yoona, ia akhirnya melakukan semua itu tanpa berpikir lagi.

“Oppa?–”
Siwon untuk sesaat menghentikan aktifitas tangan lincahnya yang sedang meracik teh hijau kesukaan Yoona. Ia mendongak saat dirasa seseorang mengeluarkan suaranya, dan tak lama kemudian dia tersenyum.

“Ya, ini aku Sayang, apa yang sedang kau lihat disana? Kemarilah, aku sudah menyiapkan sarapan untuk mu.”
Ucap Siwon dengan semangat menggebu.

Yoona menghela nafas berat, dan hari itu akhirnya berakhir dengan Siwon yang mendapat maaf dari Yoona, ya mau tak mau gadis cantik itu akhirnya memaafkan Siwon, meskipun sangat kesal, tapi dia tetap punya hati nurani, ia tidak mungkin mengabaikan Siwon yang kala itu bahkan rela mati-matian membuatkan sarapan untuknya. Yoona yakin Siwon benar sangat menyesal.
Dan dia cukup percaya jika Siwon mungkin takan lagi mengecewakan nya.

¤¤¤

Siwon ku tak mungkin lagi mempermainkan kepercayaan ku, Siwon ku tak mungkin lagi menyakiti ku, Siwon ku tak mungkin lagi melakukan hal yang sangat tak ku sukai.

Tapi sekarang yang ada dihadapan ku benar-benar sangat kembali mengecewakan ku, kembali mencabik-cabik hati ku, sangat tak ku sukai. Memang benar, tak akan pernah ada manusia yang dapat membaca pikiran manusia lain, memang benar, mempercayai manusia itu kadang menyakitkan, dan Siwon? Haruskah kau lagi yang menyakiti ku kepercayaan ku? Siwon? Apa ini? Yang aku lihat sekarang?

“Yoong–” bahkan manager ku yang sekarang berada disamping ku memandang prihatin pada ku Siwon. Tidakah kau prihatin juga pada ku? Atau setidaknya pada perasaan ku?

Aku mengeluarkan ponsel dari saku mantel hitam yang sedang ku pakai, menyalakan nya, lalu memulai mengetik huruf-huruf yang ingin ku kirim pada mu.

‘Kau sedang dimana Oppa?’

Siwon, lihatlah tangan ku bahkan bergetar saat menyatukan kata itu dilayar ponsel ku, mata ku bahkan berkaca-kaca saat menunggu balasan pesan mu, hanya satu yang ku harapkan sekarang, kau jangan berbohong, itu sangat melukai ku.

Drttt..

Aku sesegera mungkin mengalihkan perhatian ku pada ponsel ditanganku, dengan was-was aku membuka pesan dari mu. Dan–

“Aku di bandara Sayang, bukankah kau tau aku ada jadwal pemotretan diluar?”

badan ku melemas seketika itu juga.. Oh Siwon kau kembali berbohong? Jelas kau ada tak jauh didepan aku berada! Kenapa kau berbohong, jelas kas sedang mengobrol ringan dengan manager si artis china itu, aku melihatnya sekarang! Dirumah sakit ini. Di hadapan ku.
Dengan tangan yang mulai bergetar hebat aku kembali membalas pesan nya.

‘Sepertinya kau berbohong tuan! Jelas kau berada dihadan ku sekarang! Dan aku da diseberang kiri mu!’

aku dengan cepat mengirim pesan itu padanya, dan beberapa belas detik kemudian, saat Siwon kembali membaca pesan dari ku, ia dengan wajah tegang nya mengalihkan pandangan nya pada ku. Dan Tuhan! Wajah nya benar-benar terlihat sangat terkejut!

“Yoona” aku dapat melihat bibirnya menggumamkan nama ku sebelum akhirnya aku melambaikan tangan seraya tersenyum lebar padanya, lalu beberapa detik kemudian aku menghapus senyum ku, dan menurunkan tangan ku, dan pergi, meninggalkan Siwon yang masih terdiam kaku ditempatnya.
Dia mengejar ku memang, tapi aku tak ingin berada di hadapan nya sekarang, jadi aku memilih untuk masuk kedalam mobil ku dengan cepat lalu melesat pergi meninggalkan nya.

‘Kau kembali mengecewakan ku! Aku ingin kau pergi saja sejauh mungkin dari tempat ku!’

itu adalah pesan terakhir yang ku kirim padanya, sebelum akhirnya aku memilih untuk menghindarinya, ya tiga minggu berlalu setelah kejadian itu, dan aku benar-benar tak bertemu dengannya lagi, tak menjawab telpon nya, pesan nya atau pun semua suratnya, aku benar-benar telah dikecewakan nya. Aku bahkan tak pulang ke apartemen ataupun rumah ku tiga minggu belakangan ini. Aku beristirahat dirumah ayah ku atau kakak ku, karena aku yakin jika aku pulang ke apartemen atau rumah ku, dia akan dengan mudahnya masuk dan memaksa ku memaafkan nya, aku tidak mau! Aku merasa sudah sangat lelah.
Namun setelah tiga minggu berlalu, setelah aku merasa Siwon tak lagi menghubungi ku, aku memutuskan untuk pulang ke apartemen ku, karena memang lokasi syuting ku dekat dengan apartemen yang ku tinggali, jadilah aku memutuskan pulang ke apartemen bukan ke rumah Appa maupun kakak ku.

Gelap adalah hal pertama yang menyambut ku, saat aku membuka pintu apartemen ku, tak ada suara maupun bisikan, hanya hening dan tenang.
Tapi suasana menjadi berubah seketika saat aku menyalakan lampu dan terang menyertai setiap ruang sampai kesudut apartemen ku.

Seorang pria bertubuh tinggi tegap berdiri tak jauh dari tempat ku berdiri sekarang. Rambutnya acak-acakkan, wajahnya terlihat lemas, dibawah matanya ada lingkar hitam menyeramkan, dan dia Siwon.
Aku menatapnya dalam diam, tak berkata maupun bergerak, berbeda dengan nya yang beberapa kali menghela nafas dalam.

“Aku mohon Yoona, maafkan aku, aku tak bermaksud sedikitpun untuk menyakiti mu. Maafkan aku, ku mohon.” dia memulai suaranya yang parau, dan aku? Lima menit bahkan telah berlalu, dan aku tak membuka sedikitpun suara ku, hanya terus menatapnya dengan pandangan dingin.

“Aku hanya merasa tak enak jika menolak. Yoong dia asing disini. Aku juga sebenarnya tak mau mengantarkan dia kemana-mana, tapi dia hanya mengenal ku dikorea, tapi Yoong sungguh, aku mengantar nya hanya atas dasar aku merasa tak enak sungguh Yoona.”

dia berkata dengan nada suara putus asa. Dan aku? Lagi-lagi tak dapat membuka suara ku. Hanya terus diam dan memandang nya.

“Yoona, ku mohon.”

Siwon menatap lesu pada ku. Dan aku tak dapat melakukan apapun. Apapun, tak dapat mengeluarkan satu kata pun untuk menjawab semua pertanyaannya.

Siwon entah kenapa hati ku menjadi punya dua pikiran tentang mu, kepercayaan ku sedikit-sedikit menjadi goyah, aku menjadi ragu, haruskah aku memaafkan mu? Jujur aku merasa tersisihkan, jujur aku merasa cemburu, tapi tak bisakah kau mengerti itu? Lalu menghargai perasaan ku?

Aku ingin memaafkan mu. Tapi entah kenapa mejadi sangat sulit, apa yang harus ku lakukan?

¤

¤¤

horee.. Selesai deh, pengen saquel?

Tanpa kategori

[FF] Mine | Chapter 7

Fanfiction By
The Little Prince


••

Cast

Im Yoona || Choi Siwon || Tiffany Hwang || Choi Sooyoung || Cristina Fernandez Lee || And Other Cast.

A/N : Tulisa yang bercetak miring merupakan Flashback

••

••

Happy Reading~

••

••

Pagi berawal seperti biasanya, matahari terbit dari sebelah timur, embun membasahi daun-daun diluar rumah, dan aku menguap saat bangun tidur.
Semua berjalan seperti biasanya, hanya saja wartawan-wartawan itu masih saja tinggal didepaan rumah, seperti tak ada lagi yang mereka perdulikan selain ucapan seorang Choi Siwon.

“Kau akan berangkat?”

Tanya ku pada Siwon yang kini terlihat sedang memakaikan dasi dilehernya, raut wajahnya masih saja datar hingga sekarang.
Dan aku tau benar apa yang membuatnya menjadi kembali dingin.

“Kau pikir aku hanya akan tidur sepanjang hari.”

Aku kemudian terdiam saat dirasa suasana mulai memanas, tidak-tidak. Aku tidak akan mengganggu singa yang sedang merasa terancam.
Sehingga dengan mengabaikannya, akupun berjalan keluar dari kamar Siwon, dan masuk kedalam kamar yang berada tepat disebelah kamar Siwon.

Harum aroma Lavender langsung menyeruak dihidung ku, menyapa tenggorokan ku, dan menenangkan pikiran ku.

Aku tersenyum kala mendapati seorang gadis kecil yang sudah beberapa hari ini mengisi kamar bernuansa biru baby ini, sedang menyisir rambutnya seraya berdiri didepan jendela besar disisi ranjangnya.

Choi Anna.
Putri kecil ku, yang beberapa hari ini memanggil ku Oemma dengan suara lembut dan bibir kecilnya.

“Anna-ya.”

Aku memanggil nya dengan suara kecil ku, mencoba untuk tidak membuatnya terkejut.
Dan dia, dengan perlahan membalikkan badannya menghadap kearah ku yang berdiri tak jauh darinya.

“Oemma–”

Dia tersenyum cantik saat mengatakannya, sangat teramat cantik.
Aku ikut tersenyum, dan lantas berjalan pelan mendekatinya, membungkukkan tubuh ku, dan memandang wajah teduhnya.

“Bagaimana malam mu dikamar ini.”

Tanya ku seraya menggenggam tangannya.
Dia tersenyum dan masih memandang kelain arah.

“Aku masih merasa asing bu– maksud ku Oemma– aku bahkan tidur sangat larut semalam.”

Aku kembali tersenyum kecil, lalu meraih wajahnya untuk menghadap kearah ku. Dan dia kemudian tersenyum polos saat sadar jika dia salah mengarahkan tatapannya.

“Tak apa, kau akan merasa lebih baik perlahan-lahan.”

Jawab ku kemudian, yang kini entah kenapa memunculkan air mata saat aku kembali memandang wajah cerahnya.

“Emm, tapi aku bersyukur semalam Soo Unnie tidur dengan ku.”

“Soo–”

“Sooyoung Aunty Sayang, bukan Unnie, dia Aunty mu.”

Aku mengalihkan perhatian ku cepat, dan.

Oh Choi Siwon.
Baru saja aku akan kembali bertanya, pria itu sudah memotongnya.
Dia berjalan pelan seraya menebarkan senyum manisnya, dan menyingkirkan ku dari posisi ku saat dia sudah berada dihadapan Anna.

Cih..
Tadi saja didalam kamar bersama ku dia sok cool. Apa yang sebenarnya dia pikirkan?

“Appa.”

Suara Anna riang saat Siwon membawa tubuh mungil Anna kedalam gendongannya.

Namun bukan semakin bersemangat karna mendapat keriangan dari Anna, Siwon malah terlihat mamajukan bibirnya membentuk sebuah kekesalan.
Oh bahkan dia tidak malu dengan tubuh besarnya saat melakukan ekspresi itu. Andai Anna melihatnya, dia pasti akan tertawa sangat lama.

“Kenapa masih Appa? Kau harus memanggil ku Daddy Sayang.”

Oh,
Aku tak habis pikir.
Dasar Choi Siwon alay.

Anna menggelengkan kepalanya, dan Siwon semakin menekuk wajahnya.

“Hei Suami ku, janganlah keras kepala. Ku pikir Anna lebih nyaman dengan panggilan yang ku sarankan.”

Dan akhirnya aku mengeluarkan suara ku, yang memang aku sudah merasa gatal dengan sikap sok manis Siwon.

Pria itu lalu melemparkan tatapan tajamnya pada ku, yang ku jawab dengan delikan pundak ku.

“Tidak mau tau. Intinya Anna harus memanggil ku Daddy, itu lebih keren.”

Timpalnya, lagi-lagi masih keras kepala.

“Appa–”

Dan aku hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala ku saat melihat kelakuan Siwon dan Anna pagi ini.
Siwon bahkan memberikan ciuman bertubi-tubi pada wajah Anna saat Gadis kecil itu masih tak mau memanggilnya Daddy, dan terus menerus memanggilnya Appa.

Ya Tuhan.
Jika Anna cukup untuk kebahagiaan Siwon, maka ku mohon biarkan dia terus disisinya.
Dan jika cinta Siwon cukup untuk Anna, tolong jadikan itu sebagai hal yang akan mempertahankannya.

Entah kenapa hati ku bergetar saat melihat tawa Siwon melebur bersama tawa Anna.
Setetes air mata kemudian jatuh membasahi pipi ku.

Anna yang malang.

***

“Bolehkah aku duduk?”

Siwon mengalihkan perhatiannya pada ku , yang kini berdiri diambang pintu kaca balkon kamarnya.

Dan tanpa menunggu persetujuan Siwon yang aku yakin sedang tidak sibuk, karena tak ada sesuatu hal pun yang pria itu kerjakan selain duduk diatas kursi santai dilantai balkon kamarnya, hanya memandang redup langit hitam yang menyisakan setengah dari lingkaran bulan, dan dua bintang yang berkelip mendampinginya.

Aku lalu duduk disalah satu kursi kosong disebelahnya, mengangakat serta kaki ku, menekuknya, dan memeluk erat lutut ku. Cuaca malam diluar cukup dingin.

“Bagaimana Anna?”

Aku mengalihkan perhatian ku padanya, dia masih sibuk mamandangi bulan dan bintangnya.

“Emm, besok dia akan mulai terapi pertamanya. Untuk guru privatnya Appa sudah mengaturnya.”

Dan yang aku bingung, bukannya mengangguk manis, dia malah mendengus.

“Aku sudah tau itu lebih dulu dari mu. Yang aku maksud sekarang Anna dimana? Dia sudah tidur?”

Oh, aku menggaruk kepala ku yang tak gatal, dan Siwon menatap ku untuk sesat, tersenyum meremehkan ku, lalu kembali memandangi langit hitam didepannya.

“Sooyoung menemaninya. Semalam dia juga tidur bersama Anna.”

Siwon menganggukan kepalanya.
Ia lalu terlihat menghembuskan nafasnya berat.

Kami terdiam cukup lama setelahnya, memandang langit hitam dengan dua bintangnya yang mulai semakin meredup, sebelum akhirnya aku mengeluarkan suara ku.

“Tiffany–”

“Kanada..”

Dan dia menghela kata ku, aku mengalihkan perhatian ku padanya, memandangnya dengan raut wajah kebingungan.

“Maksud mu?”

Ia kembali menarik nafas dalam, sebelum akhirnya mengalihkan perhatiannya pada ku, memandang ku dalam dengan mata sayu dan wajah yang terlihat lelah.

“Tiffany, dia dikanada sekarang.”

Aku tentu saja terkejut, bahkan sangat terkejut sekarang.

“Kau– kau tau dari mana?”

“Tadi siang aku pergi ke Apartemen salah satu asisten nya.”

Oh Tiffany!
Benar-benar diluar pikiran ku,
Membuka aibnya sendiri pada seluruh media,
Membiarkan Siwon menderita, dan sekarang?
Apa dia lari dari masalah?

Aku memijat pelipis ku yang entah kenapa terasa berdenyut sekarang.

“Dan kau– dia meninggalkan mu dengan semua wartawan-wartawan yang bahkan tak lelah mengejar mu siang dan malam?.”

Suara ku pelan, seraya mengusap wajah ku dengan kedua tanganku.

“Aku bahkan sedikit demi sedikit kehilangan partner kerja.”

Timpal Siwon, yang entah kenapa malah semakin menatap ku lekat.

Aku mengedip-ngedipkan kedua mata ku cepat, dan mengalihkan perhatian ku dari Siwon.
Perasaan kacau tadi hilang seketika, berganti dengan rasa tak enak saat Siwon terus saja menatap ku seperti itu.
Apa ada kotoran di wajah ku?

“Emm.. Apa kau punya sosial media?”

Tanya ku lagi tanpa mau menatapnya.

“Ada Instagram.”

Jawabnya cepat.
Yang astaga!
Entah aku salah lihat atau apa, dia melemparkan senyum manisnya pada ku saat aku tak sengaja mengalihkan pandangan ku lagi padanya.
Oh Tuhan!
Im Yoona! Kenapa jadi seperti ini, Tidak-tidak, bahkan jantung ku berdebar cepat sekali saat ini hanya karna senyum kecilnya yang aku juga belum tau itu pasti atau tidak.

“Emm– kalau begitu kenapa tak coba kau cari informasi disana? Mungkin Tiffany mengunggah–”

Oh!
Yoona bodoh!
Aku langsung menghentikan kataku, menggigit bibir ku kuat, dan memalingkan wajah ku.
Mana ada orang yang sedang lari dari media mengekspos sesuatu tentang harinya ke media! Bodoh! Bodoh! Bodoh!

“HAHAAAHAAAA,,”

Dan akhirnya aku mendengarnya,
Siwon menertawaiku!
Upphh..
Aku menghembuskan nafas ku sesaat, sebelum akhirnya memalingkan kembali wajah ku padanya, yang sekarang masih tertawa renyah.

“Yakk, Im Yoona, guru pintar yang suka sekali mengeluarkan kata tegas, kau sebenarnya kenapa? Di depan ku apa kau merasa gugup.”

Aku membelakkan kedua mata ku, dan memundurkan wajah ku yang terkejut saat Siwon memajukan tubuhnya mendekati ku.

“Apa kau merasa jika jantung mu berdebar kencang sekarang?”

“M–mwoo?”

Pria ini bahkan mengedipkan sebelah matanya padaku?

Oh Choi Siwon!
Aku dengan cepat berdiri, mengerjapkan mata ku cepat, lalu tertawa dan memandangnya remeh.

“Ayolah Tuan Choi! Berhenti sok keren didepan ku! Aku bahkan tak bisa bereaksi apa-apa hanya karna mu.”

Ucap ku tegas, sebelum akhirnya berbalik dan melangkahkan kaki ku untuk pergi dari hadapannya.

Namun belum juga aku menginjak langkah kedua, dia Siwon, telah lebih dulu memegang lengan ku. Menarik ku pelan yang kemudian membuat aku akhirnya kembali menghadap dirinya, dekat, begitu dekat, mata kami saling berpandangan sekarang. Dia bahkan mengalungkan lengan kirinya dipinggang ku, dan Oh..
Dia kembali tersenyum untuk ku?
Ku mohon Choi Siwon, jangan dengar suara jantung ku yang bergemuruh sekarang.

“Siwon–ssi–”

Dan akhirnya aku tersadar dari keterkejutan ku, dan dengan gerakan cepat aku meronta meminta Siwon untuk melepaskan ku,
Namun bukannya melepaskan ku, dia malah semakin mempererat pelukannya pada pinggang ku, menatap ku intens, dan akhirnya perlahan-lahan aku tak punya lagi daya untuk menghalau pelukannya, aku menunduk semakin dalam perdetiknya kala ia semakin intens menatap ku dengan senyum misteriusnya.
Entah tengah takut atau apa, aku benar-benar tak bisa membalas tatapannya, benar! Jantung ku yang berdetak lebih dari biasanya membuat ku tak mampu mendongakkan wajah ku. Perlahan-lahan tangan ku yang sedari tadi meronta mencoba menjauhkan tubuhnya dari ku melemas, keduanya sekarang telah bersandar cantik didada bidangnya.

“Aku akan pergi.”

“Nde–”

Aku entah kenapa, seketika itu juga aku mendongakkan kepala ku dan akhirnya menatap dia.
Menatap Choi Siwon, yang masih setia memasang senyumnya pada ku.
Baru saja, entah karna euforia ku, halusinasi, atau salah dengar, suaranya begitu lembut mengalun dikedua telinga ku, dia berucap lembut pada ku.

“Entah sekarang kau tak punya rasa apapun saat bersama ku, atau kau belum menerima ku dalam kehidupan mu, aku akan tetap menunggunya, menunggu rasa itu muncul dalam diri mu. Kita sudah sepakat untuk berkomitmen, jadi tolong hargai komitmen itu, ku akui aku yang lebih dulu merasakan hal ini pada mu, tapi aku tak mau hanya merasakannya sendiri, kau juga harus merasakannya Yoona.”

“Siwon–ssi–”

Sungguh lidah ku langsung kelu saat Siwon tiba-tiba saja meraih wajah ku dengan tangan kanannya, dan mempererat pelukan dipinggang ku dengan tangan kirinya, wajah kami perlahan-lahan semakin mendekat tiap detiknya, aku bahkan bisa merasakan nafas rasa mintnya diwajah ku.

“Maafkan aku karna telah membawa mu dalam kehidupan ku yang kacau ini.. membawa mu pada masalah-masalah yang seharusnya aku hindari saat membuat komitmen bersama mu.. maaf membuat mu meragukan ku.. tolong belajar menerima ku mulai sekarang, dan akupun berjanji pada mu akan menyelesaikan semuanya, pergi menemuinya adalah hal yang ada dipikiran ku sekarang.”

“Siwon–ssi–”

Aku kembali menghentikan ucapan ku saat jari-jarinya yang berada diwajah ku tiba-tiba saja menekan kedua bagian pipi ku dan membuat bibir ku mengerucut maju, dia masih melemparkan tatapan tajam nya pada ku, dan aku?
Apalagi yang bisa ku lakukan selain mengerjap-ngerjapkan kedua mata ku, dan mencari objek untuk menghindari tatapannya.

“Aku sudah tidak sabar untuk menemuinya. Dan aku sungguh tak sabar untuk cinta mu. Aku menemuinya untuk menyelesaikan semuanya, dan kembali dengan harapan besar dari mu.”

Oh, apa yang sedang ku dengar sekarang?
Siwon– Siwon–
Apa yang sedang dia katakan?
Cinta?

“Aku mencintai mu Yoona, tapi cinta ku saja tak akan cukup untuk kita berdua.. jadi tolong cintai aku.”

Dan aku melebarkan kedua mata ku, saat Siwon entah bagaimana telah mendaratkan bibirnya diatas bibir ku, dia mengecupku lama, yah hanya mengecup, namun perlahan-lahan ia menggerakkan bibirnya diatas bibir ku, yang kemudian membuat aku terkejut setengah mati saat aku sadar apa yang sedang dia lakukan pada ku. Aku mencoba mendorong tubuhnya dengan kedua tangan ku saat Siwon tiba-tiba melumat bibir bawah ku.
Oh tapi sepertinya keadaan tidak berpihak pada ku, bukannya semakin kuat mendorongnya, tangan ku entah kenapa menjadi melemas, kaki ku bahkan bergetar, andai saja Siwon tak memeluk ku seposesiv ini, sudah pasti aku akan terjatuh diatas lantai.
Sepertinya takdir guru bukan berpihak pada kekuatannya, tapi pada otaknya, yang sekarang entah kenapa otak ku malah kosong melompong, tak ada ide untuk menjauhkan Siwon dari tubuh ku.
Dan akhirnya tanpa kusadari aku membiarkannya begitu saja, membiarkannya mencecap seluruh rasa bibir ku, entah itu lipstik atau apa, Aku membiarkannya saja, membiarkannya mencium seluruh permukaan bibir ku dengan intens, aku bahkan membiarkannya menggigit bibir atas ku, tak menolak atau pun membalasnya, aku hanya membiarkannya, mungkin karena aku ingin terbiasa dengannya, atau mungkin aku ingin mulai merasakan kehadirannya perlahan-lahan, ataukah mungkin aku mulai membuka hatiku?

Dia melepaskan ciumannya dengan cara yang begitu lembut menurut ku, membuka matanya perlahan, dan pelan-pelan dia melepaskan tekanan jarinya dikedua pipi ku yang membuat bibir ku mengerucut.

Aku membalas tatapannya, dan dia tersenyum dengan penuh pesona pada ku.

“Siwon-ssi? Panggilan macam apa itu? Kau bisa memanggilku dengan sedikit maniskan? Setiap detik ketika bersama ku, bukan hanya didepan Anna saja.”

Aku mengerjap-ngerjapkan mata ku cepat, tubuh ku merinding seketika.
Oh Choi, kau membuatku kembali gugup.

“Perlahan-lahan tanpa kau sadari, kau baru saja menerima ku.”

Ucapnya serak, lalu kembali mengecup bibir ku cukup lama, sebelum akhirnya melepasnya dan melepaskan pelukannya ditubuh ku.

Dia tersenyum kembali, sebelum akhirnya melangkah pergi menjauh dari ku, yang sekarang hanya dapat terdiam mematung tanpa gerak sedikitpun.

“Apa yang terjadi pada ku sebenarnya?”

***

Pagi hari di kanada tak jauh seperti pagi di Soul.
Matahari bersinar cerah, orang-orang berlalu lalang dipinggir-pinggir jalan bersiap-siap untuk memulai aktifitas pagi mereka, ada yang menunggu bus untuk kesekolah, ataupun pergi bekerja.

Aku menghembuskan nafas ku pelan, berdiri didepan sebuah gedung Hotel besar di kawasan Kota Quebec, Kanada, sendiri, tanpa Yoona, Anna, maupun keluarga ku.
Tiffany benar-benar telah membuat ku gila, aku bahkan harus mengeluarkan uang ratusan juta hanya untuk dapat bertemu dengannya?
Ayolah siapa dia?
Dia hanyalah orang yang menghancurkan masa depan ku!
Aku bahkan harus membayar orang-orang untuk menemukannya di negara yang bahkan aku tak tau dengan jelas semua kota-kotanya.

Apa yang sebenarnya dia inginkan?
Mempermainkan ku?
Dia berhasil!

Aku mengikuti langkah seorang pelayan lelaki yang membawa ku menuju lantai lima gedung ini, dia adalah salah seorang teman dari Taemin, yang tak lain adalah orang yang ku suruh untuk mencari keberadaan Tiffany, yang benar saja, pelayan disini tak akan mungkin memeberi tau orang lain tentang privansi termasuk nomor kamar maupun lantai dimana klien mereka tinggal, jika bukan atas kehendak klien itu sendiri.

Aku menolak saat pelayan pria itu berniat membantu ku untuk membuka pintu hotel dihadapan kami sekarang, dengan kunci cadangan mungkin?
Aku ingin mengejutkan wanita itu. Jadi aku harus benar-benar membuatnya terkejut.
Jadi aku hanya menyuruh pelayan itu memanggil Tiffany dari layar interkom diluar pintu masuk, agar wanita itu membuka pintunya.

Dan..

Tepat!

Dia disini, benar-benar disini. Demi apapun, setelah aku pulang ke seoul nanti, aku akan memeluk Taemin!
Oh Tuhan terima kasih.
Kau menolong ku.

Wajahnya menjadi sangat tegang sekarang, tatapannya benar-benar tak lepas dari ku. Ia bahkan berdiri kaku sekarang.
Dia benar-benar terkejut?

“Anyeonghaseo.. Hwang Min Young–ssi.”

Ucap ku dengan penuh penekanan seraya menatap tajam kearahnya, sesaat setelah pelayan pria itu menghilang dibalik lift.

“Si–siwon?”

Matanya berkaca?
Oh aku tersenyum sinis.

“Yah, aku Choi Siwon.”

Jawab ku, seraya tersenyum tajam padanya.

“Siwonn–”

Namun, aku benar-benar tak menyangka ini akan terjadi. Dia berlari dan memelukku?
Oh Tuhan apa-apaan wanita ini?

“Aku merindukan mu– aku merindukan mu– aku tau kau akan mencari ku Siwon, aku tau kau masih mencintai ku– aku—”

“Omong kosong Tiffany!”

Aku dengan cepat menghalau katanya. Mendorong tubuhnya menjauh dari ku, dan melangkah mundur satu langkah. Aku menatap marah padanya!

Sungguh, aku benci saat matanya menatap ku!

“Siwon–”

Suaranya bergetar.
Tapi entah kenapa, aku tak merasakan apapun lagi selain amarah sekarang. Tidak kasihan atau apapun, aku hanya marah!

“Inikah cara mu balas dendam pada ku Tiffany? Karna aku tak ingin kembali pada mu? Pada orang yang hanya mengingat ku saat dia tersakiti, dan membuang ku saat dia bertemu bahagianya.”

Dan benar!
Aku tak dapat menahannya lagi. Ini harus segera selesai.

“Siwon, aku–”

“Kau hamil, dan aku harus bertanggung jawab? Kau ditinggalkan oleh ayah bayi mu dan aku yang harus menggantikannya? Siapa aku dalam hidup mu sebenarnya? Buangan? Oh aku sungguh tersinggung.”

“Siwon, ku mohon dengarkan aku–”

“KAU—”

Aku kembali menghela katanya, berteriak keras, dan mengangkat jari telunjuk ku tepat didepan wajahnya.

“Kau yang harus mendengarkan aku Tiffany. Kau yang harus diam.”

Air matanya menetes kemudian. Tapi kembali, aku tak bisa menghentikannya hanya karna sebuah air mata yang aku tak bisa jamin keasliannya.

“Apa salah ku yang membuat mu tersakiti Tiffany? Apa kesalahan ku yang membuat mu ingin sekali menghancurkan masa depan ku! Sekarang, jika tanpa mu, aku mungkin telah bahagia dengan pilihan ku!”

“AKU MENCINTAI MU SIWON! AKU MENCINTAI MU! TIDAKKAH KAU MENGERTI ITU?”

Oh!
Aku mengusap wajah ku kasar.

“Lalu, apakah kau mengerti, hari disaat kau meninggalkan ku, aku sungguh sangat mencintai mu? Dan apakah kau mengerti, setelah kau melepaskan ku aku sungguh sangat membenci mu?”

Dan dia terdiam menatap ku dengan pandangan tak percayanya, air mata semakin deras membasahi wajahnya, dan aku sungguh muak dengan itu, aku bahkan menangis siang dan malam saat dia meninggalkan ku. Hari ini, aku adalah pria kejam.

“Tiffany, ada dua hal tentang cinta dalam dunia ini, cinta adalah awal tumbuhnya kasih sayang, dan cinta adalah awal tumbuhnya kebencian mendalam. Dan kau memilih yang kedua.”

Lanjutku tajam.

“Tiffany, memang benar dulu kau adalah satu-satunya alasan aku untuk berubah. Kau adalah satu-satunya cinta yang ku miliki, kau adalah satu-satunya kebahagiaan yang ku punya. Tapi sampai pada detik dimana kau meninggalkan ku. Akupun akhirnya melepaskan kepercayaan itu. Aku membuka mata dan hati ku lebih luas, dan aku akhirnya menemukan jawaban lain. Jika aku adalah yang membuat diri ku sendiri berubah, aku yang atas kemauan ku akhirnya terbiasa hidup tanpa mu, aku yang atas kemauan ku akhirnya melupakan cinta palsu mu. Kau hanya masa lalu mengerikan untuk ku. Jadi berhenti Tiffany, berhenti sampai kau jadi mengerikan saja dimata ku. Aku tak mau kau menjadi alasan masa depan ku hancur!”

“Siwon–”

“Satu lagi, kau pernah bertanya, mana mungkin aku bisa mencintai Yoona secepat itu? Tentu saja itu mungkin. Dan terima kasih. Itu berkat diri mu, berkat rasa sakit bertubi-tubi yang kau tanamkan dihati ku, berkat cinta palsu mu, yang membuat keyakinan ku kuat, untuk mencari cinta yang lebih layak ku cintai dari pada cinta mu, cinta yang lebih baik dari pada cinta mu!”

Ucap ku lagi, dengan panjang lebar.

“Kembali ke korea, dan selesaikan semuanya!”

Aku memberikan jeda.

“Berhenti membuat rasa benci ku tumbuh semakin banyak!”

Ucap ku kemudian dengan memandangnya tajam dan penuh penekanan, sebelum akhirnya menegakkan punggung ku, berbalik dan melangkah pergi.
Aku bahkan mendengar suara tangis Tiffany yang sekarang bahkan terisak sangat kencang.

Tuhan, Ku harap ini adalah akhir.

****

BREAKING NEWS

Berpelukan dengan Tiffany disalah satu hotel di kanada, Siwon kuatkan Rumor yang beredar?

Choi Siwon.

Pria itu terlihat berlari tergesa sesaat setelah melewati pintu salah satu Rumah Sakit di kota Seoul.

Menabrak beberapa orang di lorong Rumah sakit yang membuatnya akhirnya diteriaki bahkan dimaki, hampir terjatuh saat tak sengaja menabrak kursi di samping dinding-dinding Rumah Sakit.

Yah, Seoul.
Ia telah kembali, Siwon telah kembali menginjakkan kakinya lagi ditanah kelahirannya ini.
Dan sebuah Rumah Sakit?
Jawabnya adalah Anna.
Yah, harusnya pagi ini dia baru akan bersiap terbang dari Kanada menuju Seoul, tapi karna Anna, semuanya jadi tak sesuai jadwal, ia justru mengabil jadwal penerbangan dijam lain, sehingga paginya ia akhirnya tiba di Seoul.

Ia bahkan tak dapat memakan apapun saat didalam pesawat hingga sekarang, tak ingat makan ataupun minum, yang ada di pikirannya sekarang hanyalah Anna! Oh, bahkan Tuhan belum juga menyudahi hukuman nya.

“Yeobseo..”

“Siwon-ssi–“

“Oh, sekarang saat aku tak berada disisi mu , kau baru tau rasanya merindukan ku?”

Yoona yang menelpon.

“Siwon-ssi–“

“Bahkan kau tak memikirkan tagihan telpon yang kata mu akan mahal, begitu merindukan ku kah?”

Siwon kembali menghela dengan godaan nya.

“Anna–”
Suara Yoona lagi dengan nada yang begitu lirih .

Dan Siwon diam seketika itu juga. Gurat kebahagiaan yang baru saja terpatri diwajahnya hilang dalam sekejap.

“Anna?”

Suara Siwon mencoba meminta penjelasan lebih, tangannya bahkan entah kenapa tiba-tiba saja bergetar. Yah, selalu begitu saat dia merasa ketakutan.


“KENAPA DIAM! ADA APA DENGAN ANNA?

Oh Tuhan!

Siwon menjambak rambutnya dengan kasar saat suara percakapannya dengan Yoona melalui telpon kemarin, kembali terngiang ditelingannya.

Ya Tuhan, Anna.
Selamatkan dia Tuhan.

Ia bahkan kembali memohon untuk gadis kecil itu.
Beribu-ribu permohonan terus ia ulang-ulang untuk gadis kecilnya, berharap satu kali saja Tuhan mendengar jeritan hatinya.

Siwon menghentikan kedua kakinya saat setelah ia melihat sosok wanita yang tak bisa dia pungkiri lagi telah mengisi hatinya itu, tengah menangis tersedu dalam pelukan Sooyoung, didepan Ruag Icu, dengan Nyonya Choi yang juga tengah terduduk lemas diujung kursi.

Siwon kemudian melangkahkan kakinya kembali.
Kini berbeda, ia hanya melangkah kecil dan pelan, kali ini kakinya terasa berat penuh beban.
Air matanya bahkan telah berjatuhan membasahi wajahnya.

“Yoona–”

Suaranya pelan tertahan.

Yoona mendongak, dan ia semakin terisak saat matanya tepat menatap Siwon. Sooyoung yang berada disampingnya pun tak jauh berbeda kondisinya dengan Yoona, wajahnya memerah, dan matanya membengkak.

“Oppa..”

Sooyoung yang pertama kali berjalan padanya, lalu memeluk tubuh sang kakak dengan erat.

“Oppa–”

Sooyoung menangis semakin terisak dalam pelukan Siwon.

“Apa yang terjadi pada Anna Soo? Kenapa ini bisa terjadi saat aku tak ada?”

Siwon akhirnya menemukan suaranya. Dan Yoona yang berdiri tak jauh dari mereka malah kembali menjatuhkan air matanya.

“Dimana Appa?”

Tanya Siwon lagi, saat merasa jika ketiga wanita dihadapannya tak dapat menjawab pertanyaannya.

“Aku disini.”

Dan Sooyoung langsung melepaskan pelukannya ditubuh Siwon, saat suara Tuan Choi terdengar dibelakang tubuh Siwon.
Dan benar saja, pria paruh baya itu berdiri tak jauh dari mereka kini.

“Suami ku, apa yang dikatakan Dokter?”

Nyonya Choi yang pertama kali menyerbu sang suami dengan pertanyaan-pertanyaannya, ia bahkan terlihat berlari tergesa saat melihat Tuan Choi.

“Hana-ya…”

“Appa–”

Siwon memanggil sang ayah dengan putus asa.
Tuan Choi memejamkan matanya kuat, sungguh ini adalah pertama kalinya ia merasa takut melihat keluarganya yang rapuh.

“Kangker nya menyebar dengan sangat cepat, dia kritis.”

Oh, ketiga wanita itu menjerit pilu, berbeda dengan Siwon yang sekarang bahkan diam tak berdaya, ketiga wanita itu mengekspresikan sakit hati mereka melalui tangisan.

Sungguh, Siwon tak dapat lagi berpikir apapun sekarang, ia baru saja menikmati hari cerahnya bersama Anna, dan sekarang dia harus kehilangannya?

Oh Tuhan! Apa lagi sebenarnya ini?

“Apa ini Yoona? Apa lagi yang kau sembunyikan dari ku tentang Anna?”

Siwon menatap Yoona dengan tajam, rahangnya mengeras dan wajahnya memerah.

“Sungguh selain buta, aku tak tau hal ini Siwon!”

Siwon tersenyum sinis.

“Ketua panti tidak mengetahuinya juga?”

Yoona mendesah putus asa, sungguh bagaimana lagi caranya menjelaskan pada Siwon, jika ia benar-benar tak tau apapun?

‘Anak Nyonya dan Tuan Choi adalah seorang perokok pasif, ia mengidap kanker paru-paru stadium akhir’

Keributannya dengan Siwon berawal dari kejadian pagi tadi, yang Anna tiba-tiba saja pingsan dengan hidung yang mengeluarkan banyak darah. Mereka akhirnya membawa Anna ke Rumah sakit, yang disana akhirnya mereka tau apa yang menyebabkan Anna pingsan, dan mimisan.

Dia adalah seorang perokok pasif, Anna mereka mengidap kanker paru-paru stadium akhir.

Tak ayal ucapan Dokter itu membuat mereka terkejut setengah mati.

Seorang perokok pasif.
Anna sudah menjadi seorang perokok pasif sejak masih dalam kandungan.
Lebih jelasnya, anak malang itu telah coba dibunuh ibunya sendiri sejak dalam kandungan, Dokter yakin, ibunya adalah seorang perokok, yang saat dia mengandung Anna, dia masih setia menghisap rokok. Ditambah dengan lingkungan tempat Anna tinggal yang memang rentan terhadap asap rokok, yang kemudian semakin memperkuat pengembangan kanker diparu-paru nya.

Keajaiban Tuhan, karna Anna masih bisa lahir didunia meskipun dengan keadaan cacat.

“Ku Mohon Yoona! jika saja aku tau dari awal apa yang terjadi pada Anna, aku akan melakukan pengobatan sesegera mungkin!”

Yoona diam.
Wanita itu hanya bisa menangis sekarang, sungguh, ia bahkan lebih tersiksa dengan hal ini.

“Appa–”

Suara kecil itu kemudian menghentikan tangis Yoona juga membuat Siwon terdiam.

Anna.

Gadis itu berdiri diujung pintu kamar mereka dengan wajah pucatnya.

Apa dia mendengar keributan orang tuanya?

“Sayang_”

Siwon berjalan menghampiri Anna dengan cepat, meraih tubuhnya, lalu mengecupi wajahnya.

“Kau belum tidur Sayang.”

Suara Siwon melembut, dan Yoona masih saja menangis tanpa suara ditempatnya.

“Tolong jangan memarahi Yoona Oemma, dia tak tau apapun.”

Deg..

Anna mendengarnya?

“Anna-ya–”

“Hidung ku berdarah sudah sejak lama, aku juga sering pusing– dan aku tidak mengatakan apapun Mianhae..”

Bibirnya bergetar, dan Siwon benar-benar tak tahan dengan semua yang dia lihat kali ini.
Ia menghembuskan nafasnya, mencoba mereda emosinya.

“Kajja, Daddy akan tidur dengan mu.”

Suara Siwon akhirnya. Pria itu tersenyum, lalu membawa Anna pergi dari kamarnya, membiarkan Yoona sendiri, membiarkannya menangis sekencang mungkin.
Wanita itu sungguh menangis dengan kencang seperti anak kecil yang terjatuh dari sepedah, seperti anak kecil yang mendapat luka dilututnya, seperti anak kecil yang dipermainkan temannya.

Dia benar-benar merasa jika kini dia berada dititik keputusasaan.

****

“Ap–pa–”

Siwon mengerjap-ngejapkan matanya pelan.

“Ap–pa–pa–”

Ia mengangkat kepalanya yang sedari tadi telah bersandar diujung ranjang rawat Anna.
Menggeleng-gelengkan kepalanya sesaat sebelum akhirnya ia benar-benar tersadar dari alam mimpinya.

“App–ppa–”

Dan betapa terkejutnya ia saat melihat Anna telah membuka matanya dan tak lepas memandang dirinya.

“Anna– Choi Anna– sayang– Oh Tuhan terima kasih.”

Siwon bahkan kembali menjatuhkan air matanya saat ia menghujani kening juga rambut putrinya itu dengan ciuman.
Ia bahkan dengan cepat memencet tombol merah didinding disamping ranjang Anna nya, dan kembali menangis terisak seraya memeluk hati-hati tubuh Anna yang dipenuhi peralatan medis.

Beberapa saat seorang Dokter dengan asistennya juga dua orang suster datang kedalam ruangan yang hanya ada Anna dan Siwon didalamnya. Dokter Memeriksa gadis kecil itu, lalu memberi perintah kepada asistennya, dan berakhir dengan meminta Siwon untuk keluar bersamanya.

Keluarganya yang lain termasuk istrinya Yoona telah menunggu diluar ruangan dengan wajah penuh kecemasan.

“Apa yang terjadi padanya? Bukankah baik jika dia telah sadar?”

Siwon yang memang tak sabar dengan apa yang membuat wajah Dokter wanita itu terlihat penuh prihatin pun langsung menyerbunya dengan pertanyaan tajamnya.

“Memang benar Tuan Choi, ini kabar baik, tapi Saya minta kalian jangan terlalu berharap pada perkembangan baik ini.”

“Dokter, apa kau bermaksud membuat kami putus asa?”

Yoona merasa cukup tersinggung dengan apa yang baru saja dikatakan Dokter itu.

“Tidak Nyonya, hanya saja harapan anak anda untuk bertahan sangat kecil.”

“Tapi dia telah sadar!”

Nyonya Choi menimpali.

“Tetap saja kankernya masih bertahan, meskipun dia telah sadar Nyonya.”

Oh Sooyoung mendesis kesal.
Ia bahkan kembali menitikan air matanya.
Apa yang telah terjadi pada Keponakan barunya!

“Saya permisi.”

“Tunggu Dokter.”

Dokter itu menghentikan langkahnya saat Tuan Choi kembali memanggilnya, dia kemudian berbalik dengan ekspresi penuh penyesalan.

“Tidak bisakah kau melakukan operasi.”

Dokter wanita itu terlihat menghembuskan nafasnya perlahan.

“Itu tidak akan membantu banyak Tuan, kankernya benar-benar sudah menyebar, dan aku tak bisa melakukan hal yang gegabah, Kemoterapi bahkan tak bisa jadi jalan keluar.”

“Jadi kami hanya harus diam menunggunya mati?”

Siwon kembali bersuara dengan penuh kepedihan.

“Aku sangat menyesal Tuan.”

Akhirnya tak ada kata lagi yang bisa Dokter itu ucapkan selain kata penyesalan.
Dia membungkukkan tubuhnya begitu dalam dan lama, raut wajah nya benar-benar tak berdaya.

“Sekarang hanya keajaiban yang bisa ku harapkan.”

*

*

*

TBC~

*

*

Next Chapter~

“ANNA! ANNA! DIMANA KAU!”

~~

“Tiffany Tolong lepaskan dia, aku memohon.”

“Kalau begitu lepaskan Siwon!”

“Kau tak mengerti Tiffany!”

“Apa yang harus ku mengerti hah? APA YANG HARUS KU MENGERTI–“

“DIA BUTA! DIA SAKIT!”

~~

“Bisakah aku mempercayai mu Siwon?”

“Kau menolak ku?”

“Hanya aku takut jika kau hanya lari pada ku.”

“Yoona–”

“Yakinkan aku untuk cinta mu itu.”

~~

Keajaiban tak terjadi.
Pada kenyataannya keajaiban itu tak datang,
Normal jika keajaiban tak terjadi,
Itu sebabnya namanya adalah keajaiban.
Itu adalah hal yang akan terjadi atau benar-benar tak terjadi.
Keajaiban adalah seperti itu.

*

*

Tolong Tinggalkan jejaknya^^
Akhir-akhir ini aku dibuat kesel sama berita-berita -_- yang tersebar dimana-mana, jadi dimohonkan untuk tidak membuat saya semakin GARANG! 😀

aku udah yah kasih kado wellcomebacknya haha
#WellcomebackSiwon

Tanpa kategori

[Fanfiction] My Dear | Saquel END

Fanfiction By
The Little Prince
••

Cast

Choi Siwon || Im Yoona || And Other Cast.

••

Sumarry

Maafkan aku, karna baru sadar, jika dirimu bukan hanya sekedar penting bagi ku. Kau adalah keharusan untuk ku, kau harus ada disetiap kisah kehidupan ku..

Gadis Hari Rabu.

••

••

Happy Reading^^

••

••

“Kau– Siapa kau?”

Dan hati ku mati seketika, pegangan tangan ku terlepas tiba-tiba, aku menatap mata sayunya.

Baru saja aku bahagia karna dapat menemukannya,
Baru saja aku bersyukur pada Tuhan karna bisa melihat wajah nya lagi,
Baru saja, baru saja aku bisa menyentuh tangan nya lagi.

Tapi ternyata, Tuhan tidak berpihak pada ku untuk melengkapi kebahagiaan ku hari ini.

Ku pikir kau akan tersenyum saat mendengar suara ku lagi,
Ku pikir kau akan berlari memeluku saat kau kembali melihat ku lagi,
Ku pikir kau akan mengatakan ‘Aku merindukan mu’ saat kita kembali bertemu.

Aku berkeyakinan akan membawa mu kembali bersama ku lagi saat aku menemukan mu,
Tapi Tuhan mungkin tak merestui itu, tidak-tidak, bukan mungkin, tapi Tuhan memang tak merestuinya.

Dia berjalan menjauh dari ku dengan sepedah putihnya, rambutnya diikat kepang hari ini, tubuhnya dibalut dress putih sebatas lutut, dia terlihat baik.

Yoona,

Karna aku sadar kau penting untuk ku, aku mencari mu,
Karna aku sadar aku menyayangi mu,aku mencari mu,
Karna aku sadar aku mencintai mu,
Aku datang.

Yoona,

Apa ini sebuah hukuman untuk ku?
Ujian?
Pembalasan dendam?
Atau kebencian?

Yoona,

Jika semua ini adalah hukuman,
Maka aku akan menerimanya,
Jika semua ini adalah ujian,
Maka aku akan menjalaninya,
Jika semua ini adalah pembalasan dendam,
Maka aku patut mendapatkannya
Tapi jika ini adalah bentuk kebencian mu, maka biarkan itu hidup dalam hati mu untuk sesaat.

Karna aku sadar, aku mencintai mu, jadi
Tolong jangan benci cinta ini.

Biarkan aku menjalani hukuman ku.
Lalu setelah itu kembalilah pada ku,
Karna dirimu, hidup ku menjadi berarti.

Karna aku sadar, aku ingin menjaga mu sepanjang hidup ku, lebih dari penjagaan untuk diriku sendiri,
Biarkan aku menjalani ujian ku,
Lalu setelah itu hiduplah bersama ku, dan mari saling menjaga.

Karna aku sadar, aku sangat teramat bersalah,
Maka biarkan aku menebus dosa ku,
Lalu setelah itu, marilah hidup bersama dengan saling memberi cinta yang cukup untuk kita berdua.

Yoona,
Maafkan aku, membiarkan mu pergi adalah kesalahan besar ku.
Dan membuat mu melupakan ku, adalah hukuman terberat untuk ku..

••

“Hyung, kau menemukannya?”

Aku menatap adik kecil ku yang saat ini masih berbaring diatas ranjang dikamar ku bersama ku.

“Emm,”

Aku mengangguk berat seraya mencoba menahan air mata ku.

“Lalu kenapa kau tak membawanya pulang?”

Tae Gu, apa yang harus ku jelaskan?

“Dia hanya ingin sendiri untuk beberapa saat, setelah itu Yoona nuna akan pulang lagi kesini.”

“Hyung– apa kau sedang mencoba membohongi ku? Aku sudah berada dikelas empat sekarang, aku mengabulkan permintaan mu untuk mendapatkan nilai memuaskan, dengan syarat kau akan membawa kembali Nuna pulang, tapi kau–”

Dia memunggungi ku sekarang, entah kenapa dia selalu menangis jika membahas Yoona, juga janji ku.

“Tae Gu-ah, Hyung Mianhae–”

Aku menggantungkan kalimat ku.
Tae Gu-ah Jika bisa, akupun sama seperti mu, aku ingin dia kembali, tapi tanpa pesan apapun dia meninggalkan ku.

“Hyung– sebelum menghilang, Yoona Nuna ingin sekali melihat gambar ku, tanpa ada yang tau, aku mengikuti lomba melukis yang diadakan disekolah, dia menyemangati ku, aku mendapat juara dua..
Tidak seperti Appa yang akan biasa-biasa saja jika prestasi ku ada dikesenian, Yoona Nuna selalu bersemangat untuk apa saja yang aku lakukan.”

Dia terdengar menahan isakannya. Dan tak banyak yang bisa ku lakukan, selain berbaring menatap punggung mungilnya.

“Hyung Ku pikir, kau sayang pada ku, itu sebabnya kau membawa teman sebaik Yoona Nuna untuk ku– hikss– tapi kau–”

Aku masih terdiam mendengar cerita adik kecil ku.

“Tidak seperti Oemma, yang menganggap– anak lelaki tak butuh Dongeng pengantar tidur– Yoona Nuna justru sebaliknya– hikss– dia bilang– semua anak berhak mendapatkan Dongeng, Boneka– atau apapun yang ia suka– entah itu seorang gadis kecil atau pria kecil, semua sama– hikss– dia– dia baik– dia tak ingin berbicara pada kalian– karna kalian selalu menganggap nya gila dan membawanya– hikss– terapi– kalau Hyung Tau, Yoona– Yoona Nuna, sebenarnya lebih baik dari Guru ku– disekolah– dari Oemma– dari Appa– dari Hyung dan Nuna– dia selalu tersenyum dan menerima apapun kesalahan ku– aku– aku merindukannya– hikss–hikss.”

Aku menghembuskan nafas berat ku sebelum akhirnya merengkuh tubuh kecil adik lelaki ku, dan memeluknya, membiarkannya terisak dalam pelukan ku.

Tae Gu-ah
Hyung Mianhae,
Karna tak bisa seperti Yoona Nuna mu,
Karna tak secair Yoona Nuna mu,
Karna membiarkan Yoona Nuna mu pergi.

Tae Gu-ah
Hyung Mianhae,
Karna kali ini, aku tak bisa berjanji akan membawa Yoona Nuna mu kembali.

Tae Gu-ah
Hyung Mianhae,
Karna membiarkannya melupakan ku.

•••

Dia memakai dress berwarna biru baby dengan panjang sebatas lutut, rambutnya dia biarkan tergerai cantik, matanya terpejam, tangannya bertaut khusyuk saat berdoa digereja.

Hari ini, dirabu pagi pukul 07 : 26 , aku kembali menemuinya, dia meraih sepedah putih nya saat setelah keluar dari gereja, dia terlihat melebarkan senyum nya saat beberapa anak-anak berlarian mengenakan seragam sekolah, dia membalas sapaan halus dari para pemetik daun teh dengan anggukkan serta senyum ramahnya.
Aku memperhatikannya dan mengikutinya.
Dari kejauhan, dan secara diam-diam.

Yah,
Diam-diam aku tersenyum saat untuk pertama kalinya aku melihat senyum ringan nya.
Diam-diam aku mengikuti langkah kecilnya yang mendorong sepedah disisinya.
Diam-diam aku meminta izin pada hati ku untuk dapat melihatnya lebih lama.

Aku merindukannya, sungguh.
Sangat merindukannya.
Entah apa yang harus ku lakukan untuk menghilangkan rasa rindu ini. karna aku tak ingin lagi menyakiti mu, haruskah aku diam saja menimbun rindu-rindu untuk mu sepanjang hidup ku?

Berapa lama Yoona?
Berapa lama aku harus berdiri menatap mu dari kejauhan?

Sungguh aku merindukan saat dimana kita mendengar My Dear bersama, makan bersama, dan menikmati hujan bersama.
Aku rindu bukan hanya pada saatnya tapi teramat rindu pada dirimu.

Dia kembali tersenyum pada Suster Jung yang baru saja membuka kedai pangsitnya saat dia telah berada tepat didepan rumah sekaligus kedai pangsit milik suster Jung juga rumah tempatnya tinggal.

Dua hari ini aku mengikutinya diam-diam, memantapkan hati ku untuk menatapnya dari kejauhan, perlahan-perlahan mendekatinya, dan mungkin akan ada saat dimana aku akan sampai dihadapannya.
Tapi belum hari ini.
Tidak dengan Yoona yang tak lagi mengenal ku.

Biarlah.
Biarkanlah waktu berjalan, dan membawa ku datang kehadapannya, dia yang nanti akan merengkuh ku dengan pelukan erat.
Sekali lagi, bukan hari ini.

Pagi dihari minggu aku kembali lagi,
memperhatikannya dari kejauhan.
Aku memulainya dengan mengikuti langkah riangnya yang berjalan menelusuri pasar, tidak seperti pagi biasanya yang ia akan pergi dulu menuju gereja, pagi ini dia memilih untuk membeli bahan makanan dipasar, ia juga tidak membawa sepedah putihnya.

Ia membeli lima ikat bayam, satu kilo ikan segar, beberapa butir telur, dan bahan-bahan dapur lainya.
Rambutnya dikepang rapih hari ini, memakai dress pink baby dengan panjang dibawah lutut, bibirnya berwarna pink hari ini, dia membawa dompet putih, dan tersenyum sepanjang jalan.

“Bibi berapa harga ikannya.”

Aku tersenyum saat mendengarnya tawar menawar dengan para penjual dipasar yang sepertinya sudah akrab sekali dengannya.

Aku menghembuskan nafas ku pelan.

Yoona,
Apa yang kemudian membuat mu akhirnya membuka suara mu?
Karna Suster Jung?
Jeju?
Atau para penjual dipasar ini?

Masih tergambar jelas dipikiran ku, bagaimana dirimu yang dulu.
Kau hanya akan berteriak jika kau merasa takut.

Oh Yoona, andai saja aku masih ada di pikiran mu, maka detik ini juga aku akan berlari memeluk mu.

Ngiiiingggg…

“Arrghhhhh…”

Aku berteriak keras dan menghentikan langkah ku seketika, saat aku merasa telinga ku kembali berdengung dengan sangat keras dan membuat ku merasakan sesutu yang sangat menyakitkan didalam telinga ku.

Aku menekan keras telinga ku dengan kedua tangaan ku, berharap dengungan menyakitkan itu akan berhenti, tapi suara itu malah ku rasa semakin nyaring meneriaki telinga ku.

Keringat dingin menyusul setelahnya, membasahi seluruh permukaan wajah ku, samar-samar ku dengar suara orang-orang yang berteriak dan berlarian mendekati ku saat tubuh ku merosot jatuh keatas tanah, aku mengedarkan pandangan ku kesegala arah disisi ku, dan aku masih dapat melihatnya dengan mata yang mulai mengabut, bayangan tubuhnya mulai kabur, dia berdiri menatap ku dari kejauhan, aku melihatnya, sebelum akhirnya tubuh ku roboh, dan aku tak bisa lagi melihat apapun.

***

KEDAI PANGSIT CHOI

Aku tersenyum manis saat seorang wanita cantik dengan clemek birunya menepuk pundak ku dan mengangkat tangannya lalu menunjukan dua jarinya kehadapan wajah ku.

Itu berarti dua porsi pangsit.
Aku mengangguk kemudian tersenyum lagi.

“Aku akan segera membuatnya, yang hangat juga enak.”

Suara ku menyusul, yang akhirnya membuat wanita cantik dihadapan ku ini mengangguk, sebelum akhirnya berlalu pergi kembali menghampiri pengunjung-pengunjung baru yang berdatangan.

Aku menghembuskan nafas lega kala melihat keceriaannya menyapa satu persatu pelanggan dengan senyum ramahnya.

Gadis hari rabu.

Dia memakai dress dengan panjang dibawah lutut hari ini, warnanya pink, rambut panjangnya ia gulung ditengah kepalanya, wajahnya merah merona, dan bibirnya berwarna merah jambu hari ini, ia memakai clemek biru, dan membawa buku menu ditangannya, dia tersenyum sepanjang detik, dan dia cantik.

Sungguh, anugerah terindah yang Tuhan berikan pada ku adalah dia, permata ku, harta ku, bahagia ku.

Istri ku Im Yoona.

Gadis cantik yang aku temui pertama kali dihari rabu.

Siang dihari kamis satu tahun lalu, aku membuka mata ku pada pukul 12 : 05 diatas sebuah ranjang disalah satu ruangan di rumah sakit Mirae.

Asap yang keluar dari penghangat diatas nakas mengepul menerpa wajah ku.

Aku menghirup udara sebanyak-banyaknya, dan–

“Ahh..”

Tangan kanan ku menjadi sangat berat ketika aku hendak mengangkatnya, dan betapa terkejutnya aku.
Entah bagaimana bisa Tuhan mendatangkan Gadis cantik itu kehadapan ku, dia bahkan memejamkan matanya seraya memeluk tangan ku.

Ya Tuhan.
Demi apapun yang ada didunia ini, hati ku benar-benar bergetar saat melihat dia mengerjapkan matanya, dia nyata?

Matanya seperti bersinar saat untuk pertama kalinya kami kembali saling menatap, setetes air mata kemudian jatuh membasahi pipinya, beberapa kali aku melihat bibirnya seperti bergerak mengatakan sesuatu, tapi entah kenapa aku tak dapat mendengar suaranya,
Ralat, tak ada sedikitpun suara yang aku dengar sekarang. Hanya suara seperti angin yang terus bergemuruh dikedua telinga ku, mata ku bergerak gelisah, dan aku mulai menjadi khawatir saat Yoona, Gadis itu berlari cepat keluar dari tempat ku berada,
Dan lagi, aku bahkan tak bisa mendengar suara langkah kakinya.

Tuhan, apa sebenarnya ini?

Kerusakan Syaraf Telinga Pasca Kecelakaan.

Itulah yang dikatakan Dokter.
Yah, kecelakaan.

Satu bulan saat kepergian Yoona, Tiffany dia meninggalkan ku juga, dia pergi saat aku mengutarakan keinginan ku untuk menikahinya, tapi dia entah kenapa menolak ku, dia memilih pekerjaannya dibandingkan aku, menjadi model memang adalah cita-citanya, tapi aku tak pernah berfikir jika itu bisa menjadi alasannya meninggalkan ku.

Aku berfikir, keragu-raguan ku benar, saat akan melamarnya, entah kenapa hati ku mengatakan itu tak benar, dia tak tepat, dan rasa ku mulai hilang.
Ku pikir saat rasa ku mulai biasa-biasa saja padanya, itu hanyalah euforia ku yang akan melamarnya, tapi ternyata, jauh sebelum Tiffany datang lagi dalam kehidupan ku, rasa itu memang sudah hilang, tak ada cinta lagi untuknya.
Karna secara diam-diam yang bahkan tak ku sadari, hati ku sudah kembali memilih. Dan itu adalah cinta yang sesungguhnya.

Aku mengalami kecelakaan, di hari minggu malam. Pukul 10 : 30 , aku mengendarai mobil seorang diri, itu tepat 3 minggu yang lalu, dan hari itu adalah hari yang termasuk pada hari-hari dimana aku mencari Yoona.
Dan entah apa yang terjadi pada ku, perlahan-lahan, selalu ada dengungan menyakitkan di telinga ku setelah kecelakaan itu. Tak ada hal parah yang terjadi pada ku, hanya pelipis kiri ku yang terluka, juga kepala bagian belakang dan area wajah kanan yang termasuk telinga ku berbenturan keras dengan kaca mobil.

Dan aku tak pernah mengira, jika hal tak parah itu menjadi awal dimana aku tak dapat lagi mendengar suara Yoona yang bahkan mulai banyak bicara.

Aku mengusap seluruh wajah ku dengan kedua tangan ku, saat masa itu kembali muncul dihadapan ku.
Itu sudah berlalu, dan aku perlahan-lahan harus melupakan hari dimana Tuhan memberikan hukuman itu untuk ku.
Yah ini adalah hukuman Tuhan, untuk telah menyia-nyiakan Yoona, untuk telah membuatnya pergi dari Tae Gu, untuk ku karna telah membuatnya tersakiti dengan cintanya sendiri.

Apa kau perlu alat bantu pendengaran?

Yoona pernah menawarkan hal itu pada ku, tapi tidak, aku tidak butuh itu, jika dulu Yoona hanya membutuhkan ku dalam proses penyembuhannya, kali ini aku juga hanya ingin ada dia disisi ku.
Aku hanya mengikuti terapi satu minggu sekali, dan itu selalu didampingi Yoona.

Alat bantu pendengaran tidak akan membantu banyak begitu kata Dokter.

Jadi karna itu pula aku tak memilih jalan itu. Aku hanya perlu melihat Yoona bahagia bersama ku, itu sudah cukup.

Dan dia adalah cinta yang dipilih hati ku.

****

Dia bersama ku.
Kali ini, setiap hari, setiap jam, setiap rabu, kamis, jumat, sabtu, minggu, senin, selasa. Dia ada bersama ku, makan dan minum disisi ku, tidur dengan memeluk ku, dan hidup bahagia bersama ku.

Choi Siwon.

Kami memutuskan untuk menghabiskan masa bersama.
Sehingga dihari rabu, tepat delapan bulan yang lalu. Kami mengikat janji untuk hidup bersama sampai hanya maut yang memisahkan.

Tidak seperti saat pertama kali aku bertemu dengannya, yang dia adalah seorang Pengacara muda sukses. Sekarang dia hanyalah penjual pangsit disebuah kedai kecil di Busan.
Yah, kami pindah ke busan saat setelah satu bulan pernikahan kami.
Siwon bilang, dia hanya ingin menghabiskan masanya dengan tenang bersama ku, dikota kecil, dengan rumah didekat danau.

Dia tak bisa mendengar lagi, mendengarkan keberatan tersangka, ataupun mendengar keputusan Hakim didalam pengadilan.
Jadi dia memilih untuk menjadi Koki Pangsit dikedai kami. Dan juga menjadi suami ku.

Hari diminggu pagi, kami keluar untuk lari bersama, berhenti sebentar untuk menengok selada di kebun kami, dan kembali berlari santai menikmati embun yang masih menetes dari daunya, menelusuri padang ilalang dengan warna cokelat indahnya, dan berhenti tepat didepan sebuah danau, yang dimana matahari muncul dengan malu-malu diujung airnya.

Aku mengamati wajah suami ku yang saat ini tengah tersenyum indah dengan nafas yang masih tersenggal. Tatapannya tak lepas dari pemandangan pagi dihadapannya.
Ini adalah cita-citanya, tinggal dikota kecil, rumah yang tenang, dengan danau indah yang memunculkan mentari pagi, juga menggenggam tangan ku setiap hari.

“Oppa.”

Aku berkata seraya menggerakan tangan ku yang dia genggam sangat erat.
Dia lalu mengalihkan perhatiannya pada ku, bukan, bukan karna suara ku, tapi karna gerak tangan ku.

“Saranghae..”

Ucap ku seraya membentuk gambar Love dengan kedua tangan ku.
Dia tersenyum lebar, kemudian–

Cupp..

Mencium ku cukup lama.
Melepaskannya, kemudian memandang ku lekat.

“Mencintai mu.. aku sangat mencintai mu.. terima kasih telah menjaga rasa cinta mu untuk ku.. dan terima kasih tak menganggap aku hanya lari pada mu.”

Cupp..

Oh, Siwon yang manis.

“Bagaimana kalau menonton film, lalu makan siang bersama?”

Itu menarik.

Aku tersenyum, dan lantas mengangguk antusias.

Lari pagi bersama, merawat kebun bersama, menonton film, makan siang bersama, lalu menjemput Tae Gu.. Yah, adik kecil ku akan mengunjungi kami minggu ini, dan kami akan menyiapkan pangsit hangat Special untuknya.

Dan My Dear..
Kami mendengarnya setiap hari. Bersama, tanpa perduli jika salah satu diantara kami ada yang tak dapat mendengarnya, My Dear tatap menjadi yang Favorit.

Siwon.

Terima kasih telah memberikan cinta yang cukup untuk ku, kasih sayang yang cukup, perhatian yang cukup. Aku tak butuh hal-hal yang berlebihan untuk jatuh cinta pada mu, karna hanya Dirimu saja, itu sudah cukup. Kau bersama ku saat orang lain menganggap ku gila, maka aku pun akan bersama mu saat yang lain menganggap mu cacat.

Membuat ku lari dari mu,
Memisahkan kita,
Hanyalah segelintir dari banyaknya proses Tuhan untuk menyatukan kita.
Sehingga sekarang yang ada hayalah, aku dan kamu yang kemudian menjadi kita.

Aku mencintai mu.
Kau akan mendengar itu lagi, juga My Dear, suatu saat kau akan mendengar musiknya juga suara lembut Yesung.
Jadi percaya pada Tuhan, dan mari tetap saling melengkapi.

*

*

*

The End

***

WELLCOMEBACK SIWON!
WELLCOMEBACK SUPER JUNIOR!
WELLCOMEBACK FANFICTION-FANFICTION YOONWON.

Ayolah para author aku butuh asupan ff Yoonwon ini hahaha

Sesama Nited pasti ngertikan lah yah gimana ausnya kita sama ff yoonwon :-p
Yang satu ini bonus comeback Siwon lah yah, dari The Little Prince #eaaahhhh..
Meskipun amburadul, tapi lumayankan yah, biar My Dear gak gantung endingnya..
Kayak katanya Rani ‘Mak digantung teh gak enak’ kayak dianya pernah digantung ajah :-p

Oke semoga suka deh yah, Nhiina juga, tuh udah yah jan nagih-nagih saquel, udah happy ending ini.. aku nya mau cus nulis yang laen..

Buat NITED, I LOVE YOU FULL DAH..

Tanpa kategori

PASSWORD

ASSALAMUALAIKUM..


Hai, The Little Prince disini 🙂
Gimana kabarnya My Lovely Readers?
Baikkan yah? ^^

Sehubungan dengan Beberapa Nited yang tanya-tanya gimana caranya dapetin Password ff-ff aku, atau yang gak bisa akses ke fb ku, aku akhirnya buat Postingan ini.

Oke selain itu juga, aku mau bahas dikit kejadian gak ngenakin yang aku dapetin baru-baru ini.
Beberapa Nited yang baca Ff disini minta pw-pw ff ku, dan aku kasih karna nemuin komen-komen mereka di ff aku, tapi ternyata Komennya itu hanya ada dibeberapa Chapter, dari Chapter 1 langsung ke chapter End, kan gak banget yah?
Aku Tau loh ID komen yang licik gitu 😀
Bukan apa-apa sih, aku ngerasa diboongin ajah, aku udah baik-baik kasih dan kalian bisa baca, eh digituin.

Oh ayolah Dear, banyak Loh Nited yang buang-buang tenaga dan Kuota mereka buat komen di setiap FF ku, kan gak adil juga buat mereka yang udah ngehargain aku banget. Mereka susah2 pengen dapet password, nungguin setiap part ff publish, dan nungguin balesan aku. Lah aku? Ngasih pw buat yang gak jujur?

Pleass deh, mood lagi jelek sumpah gegara berita yang bikin aku bahkan sempet kehilangan selera buat buka mata, dan ditambah lagi ini?

Terserahlah setelah ini mau baca ff aku atau gak.
Tapi yah gitu aja peraturannya.

Bukan pelit atau apa, aku cuman mau kalian ngehargain usaha ku buat nulis sebaik mungkin.

Oke kembali ke cara dapet password

Asalkan kalian ninggalin komentar ajah disetiap FF ku, bisa langsung dapet, aku gak pelitkan yah?
Tanya ajah sama Nited yang udah langganan dpet pw dari ku. Aku baik hati dan gak sombong kok 😀 asalkan kalian jujur aku BAHAGIAAA.. 😀

Nah sekarang

BUAT YANG GAK BISA AKSES FB KU Coba tulis link fb kalian dikomentar postingan Ini nanti aku langsung kasih pwenya ^^

•Semua readers disini perlu deh tulis, supaya aku bisa tau mana simpul nyata dan bukan 😛
Ada loh yang ngaku-ngaku ID kalian 😀 jadi akunya kadang ngerasa bingung, 1 ID dengan dua orang berbeda gimana coba?

Jadi mohon kerja samanya^^

Wassalamualikum Wr.Wb ^^

Chapter, Mine

[FF] Mine | Chapter 6

Fanfiction By

The Little Prince




••

Cast

Im Yoona || Choi Siwon || Tiffany Hwang || Cristina Fernandez Lee || Other Cast.

••

••

••

Happy Reading ^^

••

••

••

Oh Tuhan!
Aku benar-benar mengeluh sekarang, ini benar-benar akan membuat ku gila.
Lihatlah sekarang!
Tidak dirumah,tidak dikantor, semuanya kacau! Tiffany! Apa yang sebenarnya wanita itu pikirkan? Dia akan membiarkan berita ini terus membesar dan menghancurkan ku?

Ini karna Siwon
Apakah karna Siwon
Benarkah Siwon..

Sungguh aku benar-benar muak dengan semua itu. Perkataan ini itu, berita ini itu!!
Apakah wanita itu akan benar-benar menghancurkan ku?

Citra ku menjadi buruk dikalangan mitra bisnis ku, satu persatu investor menarik kembali kerja sama yang telah dibuat, aku tak bisa lagi menghitung berapa banyak kerugian yang ku dapatkan karna berita sialan ini.

Aku memijat pelipis ku sekali lagi saat suara ponsel ku kembali berdering.

‘Oemma’

Memejamkan mataku perlahan, menghembuskan nafas berat, lalu mengambil ponsel yang masih berdering nyaring diatas meja ku.

“Oemma”

Panggil ku pelan.

“Siwon-ah, bagaimana disana?”

Suara Oemma khawatir disebrang telfon.

“Lebih buruk Oemma, reporter lebih banyak berdiri didepan kantor.”

Oemma menghembuskan nafasnya disebrang.

“Oemma khawatir pada Yoona Siwon.”

Aku ikut menghembuskan nafas ku.

“Aku tau ini akan sangat sulit bagi Yoona Oemma, tolong jaga dia selama aku tak ada, aku tak tau apa yang sekarang dia pikirkan.”

Ucap ku pelan, yang setelahnya dijawab setuju oleh Oemma, dan selanjutnya kami terdiam cukup lama, sebelum akhirnya.

“Tidak bisakah kau membicarkan hal ini baik-baik dengan Tiffany.”

Oh Ibu ku, aku tau ini benar-benar jadi beban seluruh keluarga ku.

“Aku bahkan tidak tau dimana, dan apa yang dia lakukan sekarang, ponselnya tak aktif, pihak agensinya pun seolah-olah menyembunyikannya.”

Aku bahkan mulai menjambak rambut ku kesal. Sunggu bungkamnya Tiffany benar-benar membuat semuanya semakin kacau.

“Siwon..”

Suara ibu ku lagi.

“Emm–”
Jawab ku singkat. Seraya kembali memijat pelipisku

“Pulanglah, kau perlu lebih banyak istirahat, dan istri mu pasti sangat tertekan dengan berita ini.. Oemma akan menyuruh Appa untuk membiarkan mu cuti sementara waktu.”

Aku kembali menghela nafas.

“Ku pikir seperti itu.. aku akan segera pulang, Oemma jangan terlalu khawatir eoh.”

“Ambil jalan belakang, biarkan mobil mu parkir dijalan. Didepan gerbang masih banyak wartawan.”

“Aku akan mengingat itu.”

***

“Ku pikir menikah dengan mu akan menyenangkan. Tetapi ternyata menikah dengan seseorang yang cukup berpengaruh di korea malah membuat ku seakan gila perlahan-lahan.”

Siwon melirik pada Yoona yang kini terlihat santai duduk bersandar diatas Sofa dikamarnya, seraya membaca sebuah buku tebal yang Siwon yakini sebuah Novel ditangannya.

“Kau tidak bisa menyesali tentang menikah dengan ku sekarang.”

Yoona menggaruk telinganya yang tidak gatal.

“Yah ku pikir sekarang sudah tak ada gunanya menyesal.”

Jawab Yoona dengan masih tak menghiraukan Siwon yang sekarang telah mengganti kemejanya dengan kaus putih secara cepat.

“Aku sangat lelah.”

Gerutu Siwon seraya menjatuhkan tubuhnya keatas ranjang.

“Apa kau benar-benar tak bertanggung jawab atas apa yang menimpa Tiffany?”

“Ne?”

Dengan refleks Siwon bangun dari posisi tidurnya, dan melemparkan tatapan bingungnya pada Yoona yang masih memusatkan pandangannya pada novel tebal ditangannya.

“Apa maksud mu?”

Yoona menyerah. Ia menutup novelnya dan menyimpan buku itu keatas meja didepannya, ia balas menatap Siwon, tanpa berniat bangun dari posisinya.

“Kehamilan Tiffany, benar tidak ada kaitannya dengan mu?”

Oh..
Siwon menatap Yoona tak percaya, apakah Yoona meragukan Seorang Choi Siwon?

“Yoona kau meragukan ku? Bagaimana mungkin aku bertanggung jawab untuk itu, disaat aku bahkan sangat menghargai Tiffany selama kami berkencan. Tak terjadi apapun diantara kami selain sebuah ciuman.”

Siwon terlihat kesal Yoona mengangguk-anggukan kepalanya pelan.
“Jika benar faktanya seperti itu, kenapa kau tak coba mengatakannya pada seluruh media? Kalau kau tidak ikut bertanggung jawab atas itu, dan kau tidak tau apa-apa selain berkencan bahagia dengannya.”
Siwon menghembuskan nafas lemah, mencoba menahan kekesalannya.
“Tidak semudah itu Yoona, dunia Hiburan tidak semudah seperti yang kau pikirkan.. dunia seorang aktris berbeda dengan dunia seseorang biasa. Dalam dunia mu kau bebas mengatakan ya dan tidak. Tapi dalam dunia seorang idol jika kita mengatakan Tidak.. tidak ada yang akan menerima itu begitupun jika kau mengatakan Iya, kau hanya akan semakin dicela. Semua serba salah Yoona!”
Mereka lalu terdiam cukup lama, saling melemparkan pandangan bingung.. Lalu kemudian Yoona menghela nafas dalam
“Lalu kau hanya akan diam dan membiarkan semua ini membesar begitu saja? Setidaknya katakan dulu kebenarannya.. Setelah itu cukup lihat hasilnya ”
Siwon menatap Yoona sekejap, sebelum akhirnya mengusap wajahnya kasar dengan kedua tangan nya .

Pria itu lalu berdiri cepat, dan tanpa menatap Yoona lagi ia berjalan meninggalkan istrinya itu menuju arah pintu keluar.
“Siwon-ssi”
Namun langkahnya terhenti saat Yoona kembali memanggil namanya. Siwon diam, tak membalas maupun berbalik, ia hanya berdiri mematung didepan pintu yang masih tertutup.
“Masalah itu adil, dia datang pada semua orang tanpa membawa jalan keluar. Tapi jalan keluar akan datang pada siapapun yang telah berjuang mengundangnya datang. Apapun yang akan kau lakukan aku mendukung mu. Ku pikir kau cukup cerdas untuk menangani semua ini. Fighting.”
Ucap Yoona panjang lebar.
“Entahlah.”

Dan yang hanya Siwon balas dengan ucapan singkat yang dilanjutkan dengan kaki yang mengambil langkah menjauh.
***

Tak tau akan jadi cerita apa ini..

Tak tau bagaimana Tuhan merancang akhirnya..

Tak tau bisakah aku mengakhirinya?
Kadang aku ingin hidup seperti semut, terinjak sekali langsung mati, bersabar tak membalas.

Aku juga terkadang berpikir jika hidup menjadi angin akan lebih menyenangkan.. bertiup kesana kemari memberi udara segar untuk semua orang.

Aku bahkan cemburu pada keikhlasan daun yang jatuh karna terpaan angin, tapi tak pernah marah atas takdir nya itu. Ia jatuh keatas tanah megering tertimpa hujan lalu melebur menjadi pupuk yang malah semakin memperkuat pohonnya..
Bagaimana aku bisa seikhlas itu? Sesabar itu? Menerima semuanya..
Aku bahkan berpikir ini adalah posisi tersulit dalam hidup ku.. berusaha meninggalkan kenangan,, setelah melangkah jauh kenangan itu malah tiba-tiba saja menarik ku kembali padaya..

Disatu sisi aku ingin menghentikan ini dengan mematahkan Tiffany, tapi disisi lain, bahwa aku sangat mengenal Tiffany, ini semua rasanya tak mungkin dia lakukan.
Aku mengusap wajahku kasar..
Banyak yang bergentayangan dalam otak ku sekarang.. Kenapa Tiffany membiarkan berita ini semakin meluas. Bagaimana dengan perasaan Yoona? Bukankah aku telah berkomitmen dengannya? Dan juga entah kenapa dari banyaknya pikiran-pikiran itu nama Anna ada di barisan terdepan..
Yah, Anna, Choi Anna..

Gadis kecil itu entah kenapa selalu duduk disudut terdepan dikepala ku. 

Entah tentang apa semua ini.. Memikirkannya menjadi kebiasaan ku sekarang..

Oh ayolah sejak kapan seorang Siwon perduli pada gadis kecil? Aku bahkan terus menyadarkan diri ku..
“Butuh secangkir teh?”
Lamunan ku buyar. Saat ketika Sooyoung adik ku tiba-tiba saja duduk diatas ayunan yang juga tengah aku duduki ditaman belakang, seraya menyodorkan secangkir Teh hangat pada ku..

Aku tersenyum simpul, lalu kemudian menerima teh yang disodorkannya.
“Memikirkan jalan keluarnya?”
Tanya nya seraya masih memandangi ku.

Aku lalu mengangguk menjawabnya.
“Ketemu?”
Aku menghembuskan nafas ku, menunduk menatap pada teh digenggaman ku, lalu menggeleng pelan.
“Oh, kau berada hampir sepanjang hari disini dan tak menemukan apapun.”
Tanyanya tak percaya.
“Ada hal lain yang aku pikirkan.”
Dia menaikan alisnya.
“Apa itu?”
Aku meminum teh ku, sebelum menjawab.
“Yoona, dan Anna.”
Kening adik ku seketika itu juga berkerut lucu.
“Anna?”
Aku menatapnya, lalu tersenyum apa adanya.. Lalu kemudian mengangguk.
“Dia Seorang gadis kecil.”
Aku buru-buru mengucapkannya, saat Sooyong baru saja akan membuka lagi mulutnya?
“Gadis kecil?”
Tanyanya memastikan yang aku jawab kembali dengan sebuah anggukan.
“Rambutnya panjang dan hitam, matanya bulat, tangannya kecil, jari nya lembut, senyumnya manis, dia adalah gadis cantik.”
Sooyoung terdiam.
“Entah apa yang sedang terjadi pada ku Soo, ditengah-tengah masalah ini aku malah memikirkan hal lain.”
“Kau, bertemu seorang gadis kecil, menyukainya lalu terus memikirkannya? Dimana kau bertemu dengannya?”
Aku mengangguk lagi.
“Busan.. saat aku pergi bersama Yoona waktu itu.”
Ia menatap tak percaya pada ku.

“Apa kau serius Oppa? Kau perduli pada seorang gadis kecil?”
“Ku pikir lebih dari perduli”
“Kau..”
“Dia seorang yatim piatu entah bagaimana itu bisa menjadi kebetulan.. aku merasa butuh didekatnya saat masalah ini melingkupi ku.”
Sooyoung entah kenapa tiba-tiba tersenyum pada ku dan menyentuh tangan ku.
“Kau sudah menikah Oppa, wajar saja kau memikirkan seorang gadis kecil.”
Aku kemudian menunduk dalam.
“Kau bisa membicarakannya dengan Yoona.”
“Dia buta–”
Ucap ku pelan akhirnya. Sooyoung terlihat terkejut untuk sesaat, namun kemudian raut wajah nya berubah menjadi bingung.
“Yoona bukanlah masalah untuk keinginan ku ini, tapi Oemma dan Appa? Akan susah untuk mereka menerimanya.”
Lanjut ku putus asa.
“Tapi kau bisa berusaha dulu kan?”
Aku mendongak menatap Sooyoung yang juga tengah menatap ku penuh semangat.
“Setidaknya niat mu baik.”

****
“Oemma mohon Siwon!! Apa yang sebenarnya kau pikirkan! Bukankah kau juga Yoona bisa memiliki seorang anak? Lalu untuk mengadopsi? Anak buta? Apa kau sehat!”
Siwon memejamkan matanya mencoba meredam amarahnya dengan kata-kata Nyonya Choi.
“Oemma tidak tau, dia gadis baik, dia cantik, matanya bersinar, dia juga punya tawa yang lebar, dia– dia–”
Dia menyimpan photo ku.
Lanjut Siwon dalam hati, suaranya bergetar, entah kenapa ia begitu emosional jika ada seorang saja yang mengkritik Anna.
“Siwon—”
“Kau benar-benar menyayanginya nak?”

Tuan Choi memotong ucapan sang istri yang terlihat kembali akan mengeluarkan ocehannya.
“Sangat Appa.”
Jawab Siwon pelan , seraya menatap sang ayah sendu.
“Apa yang membuat mu begitu menyayanginya?”
Siwon tersenyum singkat, lalu kedua matanya tiba-tiba saja berkhayal, ada Anna dibayangannya.
“Dia tertawa lebar, dia cantik, suaranya lucu, dan dia tidak mengeluh akan situasi.”
Siwon menunduk sekejap, lalu kembali tersenyum.
“Oemma, Appa, matanya begitu tenang, aku tidak pernah melihat kekhawatiran disana, meskipun didalamnya gelap. Dia juga mengajarkan ku bagaimana mensyukuri hidup, dia tak melihat setitik cahayapun, tapi dia menyimpan cahaya dihatinya, sementara aku, aku bisa melihat langit seluas mungkin, tapi aku membutakan hati ku.. aku banyak belajar dari Anna, dan entah bagaimana awalnya, aku tak bisa menghilangkan wajah penuh tawanya dari bayangan ku.”
Dan Nyonya Choi terdiam, entah kenapa hatinya terasa dipukul, beribu-ribu kali ia berpikir, ini Siwonnya?
Sedang Tuan Choi terlihat tersenyum penuh arti, dan kemudian menepuk pundak Siwon pelan.
“Dia luar biasa. Ku pikir aku ingin bertemu Anna yang kau sebut-sebut cantik itu, Yeobo, kau menentang niat baik putra mu? Lihatlah dia telah dewasa, dia telah menikah, ku pikir dia tak butuh persetujuan kita untuk melakukan apapun, tapi dia tetap meminta persetujuan kita, dia menjadi menghargai kita, apa kau benar-benar tak ingin bertemu gadis kecil itu?”
Nyonya Choi tertegun, ia berpaling pada Siwon yang kini tengah menatapnya penuh harap.

Lalu kembali beralih pada sang suami yang menganggukan kepala padanya.

Dan akhirnya ia menghembuskan nafas berat.
“Berjanjilah untuk selalu menyayanginya.”
Dan akhirnya..

Siwon bersorak dalam hati, dia bahkan melompat memeluk sang ibu yang hampir saja terjungkal dari sofanya karna kelakuan anaknya itu.
“Aigoo-aigoo, kau akan punya seorang putri dan masih bersikap seperti ini?”
Suara Nyonya Choi seraya tersenyum manis dan menepuk-nepuk punggung Siwon.
“Aku menyayangi Oemma.”
Cupp..
Dan Tuan Choi langsung tergelak saat Siwon tiba-tiba saja mengecup singkat pipi istrinya, sementara Nyonya Choi sendiri hanya bisa tersenyum penuh bahagia.
“Anak ku”
***
“Kenapa kau hanya diam sepanjang perjalanan? Ayolah Yoona, kita akan pergi kekota kelahiran mu.”
Aku kembali tersadar setelah kurang lebih 2 jam hanya terdiam sepanjang perjalanan menuju busan.

Oh lihatlah pria ini. Dia bahkan terus tersenyum lebar sepanjang jalannya.

Yah dia duduk bersebelahan dengan ku, seorang supir menemani kami kali ini.
“Kau tidak senang pergi dari rumah?”
Oh Choi Siwon!

Kenapa dengannya? Apa dia tak bisa merasakan apa yang aku rasakan sekarang?

Aku bingung bodoh!

Kau mengatakan dengan ringannya kalau kau akan mengadopsi seorang anak pada ku tadi, itu membuat ku terkejut, dan yang sangat membuat ku terkejut lagi adalah anak itu adalah Anna, Choi Anna!

Oh apakah dia pikir aku akan baik-baik saja?

Setelah mendengarnya aku terkejut setengah mati, dan pusing memikirkan nya, bagaimana bisa? Tanpa sepengetahuan ku, ditengah-tengah masalah rumit, dia merencanakan semua ini?
“Kau tak akan bisa membawanya hari ini Siwon.”
Akhirnya aku menemukan suaraku, dia membalas tatapan ku.
“Apa?”
Oh Tuhan! Wajah polos itu!
“Anna! Kau tak akan bisa membawanya hari ini juga Siwon! Mengadopsi seorang anak, tak semudah seperti yang kau bayangkan! Kau harus—”
“Semua telah siap Sayang, aku telah membicarakan ini dengan anak buah ku, dia pergi ke busan sore kemarin, mengurus semua dokumen-dokumen yang diperlukan, membicarakan baik-baik dengan kepala panti, dan sesampainya di Seoul nantipun dia akan mengurus tentang perpindahan sekolah, penggantian marga, meskipun tak perlu diganti, memasukan kedalam daftar kartu keluarga dan sebagainya, kita hanya perlu menandatangani beberap dokumen, dan membawa Anna. Hanya itu..”

Wow..

Yoona benar-benar tertohok..

Benarkah ini Siwon?

Choi Siwon?

Siwon yang dingin?

Siwon yang tempramen?

Siwon yang selalu mempermasalahkan merk barang yang dia punya?

Siwon yang sombong?

Siwon yang keras kepala?
Oh Yoona benar-benar tak habis pikir.

Seorang Anna bisa menjadikan Siwon seperti ini?

Ini benar-benar gila!
Apa Siwon benar-benar mengabaikan semua masalahnya hanya karna Anna?

Hanya Tuhan dan Siwon sendiri yang tau apa yang dia pikirkan!

°°



°°



Tbc



°°


°°


Jangan Jadi readers nakal yah √

Part End di pwe jangan salahkan aku yeh kalau gx dapet pw karna gx ada id komen ^^
Anyeong^^