[Fanfiction] My Dear | Saquel END

Fanfiction By
The Little Prince
••

Cast

Choi Siwon || Im Yoona || And Other Cast.

••

Sumarry

Maafkan aku, karna baru sadar, jika dirimu bukan hanya sekedar penting bagi ku. Kau adalah keharusan untuk ku, kau harus ada disetiap kisah kehidupan ku..

Gadis Hari Rabu.

••

••

Happy Reading^^

••

••

“Kau– Siapa kau?”

Dan hati ku mati seketika, pegangan tangan ku terlepas tiba-tiba, aku menatap mata sayunya.

Baru saja aku bahagia karna dapat menemukannya,
Baru saja aku bersyukur pada Tuhan karna bisa melihat wajah nya lagi,
Baru saja, baru saja aku bisa menyentuh tangan nya lagi.

Tapi ternyata, Tuhan tidak berpihak pada ku untuk melengkapi kebahagiaan ku hari ini.

Ku pikir kau akan tersenyum saat mendengar suara ku lagi,
Ku pikir kau akan berlari memeluku saat kau kembali melihat ku lagi,
Ku pikir kau akan mengatakan ‘Aku merindukan mu’ saat kita kembali bertemu.

Aku berkeyakinan akan membawa mu kembali bersama ku lagi saat aku menemukan mu,
Tapi Tuhan mungkin tak merestui itu, tidak-tidak, bukan mungkin, tapi Tuhan memang tak merestuinya.

Dia berjalan menjauh dari ku dengan sepedah putihnya, rambutnya diikat kepang hari ini, tubuhnya dibalut dress putih sebatas lutut, dia terlihat baik.

Yoona,

Karna aku sadar kau penting untuk ku, aku mencari mu,
Karna aku sadar aku menyayangi mu,aku mencari mu,
Karna aku sadar aku mencintai mu,
Aku datang.

Yoona,

Apa ini sebuah hukuman untuk ku?
Ujian?
Pembalasan dendam?
Atau kebencian?

Yoona,

Jika semua ini adalah hukuman,
Maka aku akan menerimanya,
Jika semua ini adalah ujian,
Maka aku akan menjalaninya,
Jika semua ini adalah pembalasan dendam,
Maka aku patut mendapatkannya
Tapi jika ini adalah bentuk kebencian mu, maka biarkan itu hidup dalam hati mu untuk sesaat.

Karna aku sadar, aku mencintai mu, jadi
Tolong jangan benci cinta ini.

Biarkan aku menjalani hukuman ku.
Lalu setelah itu kembalilah pada ku,
Karna dirimu, hidup ku menjadi berarti.

Karna aku sadar, aku ingin menjaga mu sepanjang hidup ku, lebih dari penjagaan untuk diriku sendiri,
Biarkan aku menjalani ujian ku,
Lalu setelah itu hiduplah bersama ku, dan mari saling menjaga.

Karna aku sadar, aku sangat teramat bersalah,
Maka biarkan aku menebus dosa ku,
Lalu setelah itu, marilah hidup bersama dengan saling memberi cinta yang cukup untuk kita berdua.

Yoona,
Maafkan aku, membiarkan mu pergi adalah kesalahan besar ku.
Dan membuat mu melupakan ku, adalah hukuman terberat untuk ku..

••

“Hyung, kau menemukannya?”

Aku menatap adik kecil ku yang saat ini masih berbaring diatas ranjang dikamar ku bersama ku.

“Emm,”

Aku mengangguk berat seraya mencoba menahan air mata ku.

“Lalu kenapa kau tak membawanya pulang?”

Tae Gu, apa yang harus ku jelaskan?

“Dia hanya ingin sendiri untuk beberapa saat, setelah itu Yoona nuna akan pulang lagi kesini.”

“Hyung– apa kau sedang mencoba membohongi ku? Aku sudah berada dikelas empat sekarang, aku mengabulkan permintaan mu untuk mendapatkan nilai memuaskan, dengan syarat kau akan membawa kembali Nuna pulang, tapi kau–”

Dia memunggungi ku sekarang, entah kenapa dia selalu menangis jika membahas Yoona, juga janji ku.

“Tae Gu-ah, Hyung Mianhae–”

Aku menggantungkan kalimat ku.
Tae Gu-ah Jika bisa, akupun sama seperti mu, aku ingin dia kembali, tapi tanpa pesan apapun dia meninggalkan ku.

“Hyung– sebelum menghilang, Yoona Nuna ingin sekali melihat gambar ku, tanpa ada yang tau, aku mengikuti lomba melukis yang diadakan disekolah, dia menyemangati ku, aku mendapat juara dua..
Tidak seperti Appa yang akan biasa-biasa saja jika prestasi ku ada dikesenian, Yoona Nuna selalu bersemangat untuk apa saja yang aku lakukan.”

Dia terdengar menahan isakannya. Dan tak banyak yang bisa ku lakukan, selain berbaring menatap punggung mungilnya.

“Hyung Ku pikir, kau sayang pada ku, itu sebabnya kau membawa teman sebaik Yoona Nuna untuk ku– hikss– tapi kau–”

Aku masih terdiam mendengar cerita adik kecil ku.

“Tidak seperti Oemma, yang menganggap– anak lelaki tak butuh Dongeng pengantar tidur– Yoona Nuna justru sebaliknya– hikss– dia bilang– semua anak berhak mendapatkan Dongeng, Boneka– atau apapun yang ia suka– entah itu seorang gadis kecil atau pria kecil, semua sama– hikss– dia– dia baik– dia tak ingin berbicara pada kalian– karna kalian selalu menganggap nya gila dan membawanya– hikss– terapi– kalau Hyung Tau, Yoona– Yoona Nuna, sebenarnya lebih baik dari Guru ku– disekolah– dari Oemma– dari Appa– dari Hyung dan Nuna– dia selalu tersenyum dan menerima apapun kesalahan ku– aku– aku merindukannya– hikss–hikss.”

Aku menghembuskan nafas berat ku sebelum akhirnya merengkuh tubuh kecil adik lelaki ku, dan memeluknya, membiarkannya terisak dalam pelukan ku.

Tae Gu-ah
Hyung Mianhae,
Karna tak bisa seperti Yoona Nuna mu,
Karna tak secair Yoona Nuna mu,
Karna membiarkan Yoona Nuna mu pergi.

Tae Gu-ah
Hyung Mianhae,
Karna kali ini, aku tak bisa berjanji akan membawa Yoona Nuna mu kembali.

Tae Gu-ah
Hyung Mianhae,
Karna membiarkannya melupakan ku.

•••

Dia memakai dress berwarna biru baby dengan panjang sebatas lutut, rambutnya dia biarkan tergerai cantik, matanya terpejam, tangannya bertaut khusyuk saat berdoa digereja.

Hari ini, dirabu pagi pukul 07 : 26 , aku kembali menemuinya, dia meraih sepedah putih nya saat setelah keluar dari gereja, dia terlihat melebarkan senyum nya saat beberapa anak-anak berlarian mengenakan seragam sekolah, dia membalas sapaan halus dari para pemetik daun teh dengan anggukkan serta senyum ramahnya.
Aku memperhatikannya dan mengikutinya.
Dari kejauhan, dan secara diam-diam.

Yah,
Diam-diam aku tersenyum saat untuk pertama kalinya aku melihat senyum ringan nya.
Diam-diam aku mengikuti langkah kecilnya yang mendorong sepedah disisinya.
Diam-diam aku meminta izin pada hati ku untuk dapat melihatnya lebih lama.

Aku merindukannya, sungguh.
Sangat merindukannya.
Entah apa yang harus ku lakukan untuk menghilangkan rasa rindu ini. karna aku tak ingin lagi menyakiti mu, haruskah aku diam saja menimbun rindu-rindu untuk mu sepanjang hidup ku?

Berapa lama Yoona?
Berapa lama aku harus berdiri menatap mu dari kejauhan?

Sungguh aku merindukan saat dimana kita mendengar My Dear bersama, makan bersama, dan menikmati hujan bersama.
Aku rindu bukan hanya pada saatnya tapi teramat rindu pada dirimu.

Dia kembali tersenyum pada Suster Jung yang baru saja membuka kedai pangsitnya saat dia telah berada tepat didepan rumah sekaligus kedai pangsit milik suster Jung juga rumah tempatnya tinggal.

Dua hari ini aku mengikutinya diam-diam, memantapkan hati ku untuk menatapnya dari kejauhan, perlahan-perlahan mendekatinya, dan mungkin akan ada saat dimana aku akan sampai dihadapannya.
Tapi belum hari ini.
Tidak dengan Yoona yang tak lagi mengenal ku.

Biarlah.
Biarkanlah waktu berjalan, dan membawa ku datang kehadapannya, dia yang nanti akan merengkuh ku dengan pelukan erat.
Sekali lagi, bukan hari ini.

Pagi dihari minggu aku kembali lagi,
memperhatikannya dari kejauhan.
Aku memulainya dengan mengikuti langkah riangnya yang berjalan menelusuri pasar, tidak seperti pagi biasanya yang ia akan pergi dulu menuju gereja, pagi ini dia memilih untuk membeli bahan makanan dipasar, ia juga tidak membawa sepedah putihnya.

Ia membeli lima ikat bayam, satu kilo ikan segar, beberapa butir telur, dan bahan-bahan dapur lainya.
Rambutnya dikepang rapih hari ini, memakai dress pink baby dengan panjang dibawah lutut, bibirnya berwarna pink hari ini, dia membawa dompet putih, dan tersenyum sepanjang jalan.

“Bibi berapa harga ikannya.”

Aku tersenyum saat mendengarnya tawar menawar dengan para penjual dipasar yang sepertinya sudah akrab sekali dengannya.

Aku menghembuskan nafas ku pelan.

Yoona,
Apa yang kemudian membuat mu akhirnya membuka suara mu?
Karna Suster Jung?
Jeju?
Atau para penjual dipasar ini?

Masih tergambar jelas dipikiran ku, bagaimana dirimu yang dulu.
Kau hanya akan berteriak jika kau merasa takut.

Oh Yoona, andai saja aku masih ada di pikiran mu, maka detik ini juga aku akan berlari memeluk mu.

Ngiiiingggg…

“Arrghhhhh…”

Aku berteriak keras dan menghentikan langkah ku seketika, saat aku merasa telinga ku kembali berdengung dengan sangat keras dan membuat ku merasakan sesutu yang sangat menyakitkan didalam telinga ku.

Aku menekan keras telinga ku dengan kedua tangaan ku, berharap dengungan menyakitkan itu akan berhenti, tapi suara itu malah ku rasa semakin nyaring meneriaki telinga ku.

Keringat dingin menyusul setelahnya, membasahi seluruh permukaan wajah ku, samar-samar ku dengar suara orang-orang yang berteriak dan berlarian mendekati ku saat tubuh ku merosot jatuh keatas tanah, aku mengedarkan pandangan ku kesegala arah disisi ku, dan aku masih dapat melihatnya dengan mata yang mulai mengabut, bayangan tubuhnya mulai kabur, dia berdiri menatap ku dari kejauhan, aku melihatnya, sebelum akhirnya tubuh ku roboh, dan aku tak bisa lagi melihat apapun.

***

KEDAI PANGSIT CHOI

Aku tersenyum manis saat seorang wanita cantik dengan clemek birunya menepuk pundak ku dan mengangkat tangannya lalu menunjukan dua jarinya kehadapan wajah ku.

Itu berarti dua porsi pangsit.
Aku mengangguk kemudian tersenyum lagi.

“Aku akan segera membuatnya, yang hangat juga enak.”

Suara ku menyusul, yang akhirnya membuat wanita cantik dihadapan ku ini mengangguk, sebelum akhirnya berlalu pergi kembali menghampiri pengunjung-pengunjung baru yang berdatangan.

Aku menghembuskan nafas lega kala melihat keceriaannya menyapa satu persatu pelanggan dengan senyum ramahnya.

Gadis hari rabu.

Dia memakai dress dengan panjang dibawah lutut hari ini, warnanya pink, rambut panjangnya ia gulung ditengah kepalanya, wajahnya merah merona, dan bibirnya berwarna merah jambu hari ini, ia memakai clemek biru, dan membawa buku menu ditangannya, dia tersenyum sepanjang detik, dan dia cantik.

Sungguh, anugerah terindah yang Tuhan berikan pada ku adalah dia, permata ku, harta ku, bahagia ku.

Istri ku Im Yoona.

Gadis cantik yang aku temui pertama kali dihari rabu.

Siang dihari kamis satu tahun lalu, aku membuka mata ku pada pukul 12 : 05 diatas sebuah ranjang disalah satu ruangan di rumah sakit Mirae.

Asap yang keluar dari penghangat diatas nakas mengepul menerpa wajah ku.

Aku menghirup udara sebanyak-banyaknya, dan–

“Ahh..”

Tangan kanan ku menjadi sangat berat ketika aku hendak mengangkatnya, dan betapa terkejutnya aku.
Entah bagaimana bisa Tuhan mendatangkan Gadis cantik itu kehadapan ku, dia bahkan memejamkan matanya seraya memeluk tangan ku.

Ya Tuhan.
Demi apapun yang ada didunia ini, hati ku benar-benar bergetar saat melihat dia mengerjapkan matanya, dia nyata?

Matanya seperti bersinar saat untuk pertama kalinya kami kembali saling menatap, setetes air mata kemudian jatuh membasahi pipinya, beberapa kali aku melihat bibirnya seperti bergerak mengatakan sesuatu, tapi entah kenapa aku tak dapat mendengar suaranya,
Ralat, tak ada sedikitpun suara yang aku dengar sekarang. Hanya suara seperti angin yang terus bergemuruh dikedua telinga ku, mata ku bergerak gelisah, dan aku mulai menjadi khawatir saat Yoona, Gadis itu berlari cepat keluar dari tempat ku berada,
Dan lagi, aku bahkan tak bisa mendengar suara langkah kakinya.

Tuhan, apa sebenarnya ini?

Kerusakan Syaraf Telinga Pasca Kecelakaan.

Itulah yang dikatakan Dokter.
Yah, kecelakaan.

Satu bulan saat kepergian Yoona, Tiffany dia meninggalkan ku juga, dia pergi saat aku mengutarakan keinginan ku untuk menikahinya, tapi dia entah kenapa menolak ku, dia memilih pekerjaannya dibandingkan aku, menjadi model memang adalah cita-citanya, tapi aku tak pernah berfikir jika itu bisa menjadi alasannya meninggalkan ku.

Aku berfikir, keragu-raguan ku benar, saat akan melamarnya, entah kenapa hati ku mengatakan itu tak benar, dia tak tepat, dan rasa ku mulai hilang.
Ku pikir saat rasa ku mulai biasa-biasa saja padanya, itu hanyalah euforia ku yang akan melamarnya, tapi ternyata, jauh sebelum Tiffany datang lagi dalam kehidupan ku, rasa itu memang sudah hilang, tak ada cinta lagi untuknya.
Karna secara diam-diam yang bahkan tak ku sadari, hati ku sudah kembali memilih. Dan itu adalah cinta yang sesungguhnya.

Aku mengalami kecelakaan, di hari minggu malam. Pukul 10 : 30 , aku mengendarai mobil seorang diri, itu tepat 3 minggu yang lalu, dan hari itu adalah hari yang termasuk pada hari-hari dimana aku mencari Yoona.
Dan entah apa yang terjadi pada ku, perlahan-lahan, selalu ada dengungan menyakitkan di telinga ku setelah kecelakaan itu. Tak ada hal parah yang terjadi pada ku, hanya pelipis kiri ku yang terluka, juga kepala bagian belakang dan area wajah kanan yang termasuk telinga ku berbenturan keras dengan kaca mobil.

Dan aku tak pernah mengira, jika hal tak parah itu menjadi awal dimana aku tak dapat lagi mendengar suara Yoona yang bahkan mulai banyak bicara.

Aku mengusap seluruh wajah ku dengan kedua tangan ku, saat masa itu kembali muncul dihadapan ku.
Itu sudah berlalu, dan aku perlahan-lahan harus melupakan hari dimana Tuhan memberikan hukuman itu untuk ku.
Yah ini adalah hukuman Tuhan, untuk telah menyia-nyiakan Yoona, untuk telah membuatnya pergi dari Tae Gu, untuk ku karna telah membuatnya tersakiti dengan cintanya sendiri.

Apa kau perlu alat bantu pendengaran?

Yoona pernah menawarkan hal itu pada ku, tapi tidak, aku tidak butuh itu, jika dulu Yoona hanya membutuhkan ku dalam proses penyembuhannya, kali ini aku juga hanya ingin ada dia disisi ku.
Aku hanya mengikuti terapi satu minggu sekali, dan itu selalu didampingi Yoona.

Alat bantu pendengaran tidak akan membantu banyak begitu kata Dokter.

Jadi karna itu pula aku tak memilih jalan itu. Aku hanya perlu melihat Yoona bahagia bersama ku, itu sudah cukup.

Dan dia adalah cinta yang dipilih hati ku.

****

Dia bersama ku.
Kali ini, setiap hari, setiap jam, setiap rabu, kamis, jumat, sabtu, minggu, senin, selasa. Dia ada bersama ku, makan dan minum disisi ku, tidur dengan memeluk ku, dan hidup bahagia bersama ku.

Choi Siwon.

Kami memutuskan untuk menghabiskan masa bersama.
Sehingga dihari rabu, tepat delapan bulan yang lalu. Kami mengikat janji untuk hidup bersama sampai hanya maut yang memisahkan.

Tidak seperti saat pertama kali aku bertemu dengannya, yang dia adalah seorang Pengacara muda sukses. Sekarang dia hanyalah penjual pangsit disebuah kedai kecil di Busan.
Yah, kami pindah ke busan saat setelah satu bulan pernikahan kami.
Siwon bilang, dia hanya ingin menghabiskan masanya dengan tenang bersama ku, dikota kecil, dengan rumah didekat danau.

Dia tak bisa mendengar lagi, mendengarkan keberatan tersangka, ataupun mendengar keputusan Hakim didalam pengadilan.
Jadi dia memilih untuk menjadi Koki Pangsit dikedai kami. Dan juga menjadi suami ku.

Hari diminggu pagi, kami keluar untuk lari bersama, berhenti sebentar untuk menengok selada di kebun kami, dan kembali berlari santai menikmati embun yang masih menetes dari daunya, menelusuri padang ilalang dengan warna cokelat indahnya, dan berhenti tepat didepan sebuah danau, yang dimana matahari muncul dengan malu-malu diujung airnya.

Aku mengamati wajah suami ku yang saat ini tengah tersenyum indah dengan nafas yang masih tersenggal. Tatapannya tak lepas dari pemandangan pagi dihadapannya.
Ini adalah cita-citanya, tinggal dikota kecil, rumah yang tenang, dengan danau indah yang memunculkan mentari pagi, juga menggenggam tangan ku setiap hari.

“Oppa.”

Aku berkata seraya menggerakan tangan ku yang dia genggam sangat erat.
Dia lalu mengalihkan perhatiannya pada ku, bukan, bukan karna suara ku, tapi karna gerak tangan ku.

“Saranghae..”

Ucap ku seraya membentuk gambar Love dengan kedua tangan ku.
Dia tersenyum lebar, kemudian–

Cupp..

Mencium ku cukup lama.
Melepaskannya, kemudian memandang ku lekat.

“Mencintai mu.. aku sangat mencintai mu.. terima kasih telah menjaga rasa cinta mu untuk ku.. dan terima kasih tak menganggap aku hanya lari pada mu.”

Cupp..

Oh, Siwon yang manis.

“Bagaimana kalau menonton film, lalu makan siang bersama?”

Itu menarik.

Aku tersenyum, dan lantas mengangguk antusias.

Lari pagi bersama, merawat kebun bersama, menonton film, makan siang bersama, lalu menjemput Tae Gu.. Yah, adik kecil ku akan mengunjungi kami minggu ini, dan kami akan menyiapkan pangsit hangat Special untuknya.

Dan My Dear..
Kami mendengarnya setiap hari. Bersama, tanpa perduli jika salah satu diantara kami ada yang tak dapat mendengarnya, My Dear tatap menjadi yang Favorit.

Siwon.

Terima kasih telah memberikan cinta yang cukup untuk ku, kasih sayang yang cukup, perhatian yang cukup. Aku tak butuh hal-hal yang berlebihan untuk jatuh cinta pada mu, karna hanya Dirimu saja, itu sudah cukup. Kau bersama ku saat orang lain menganggap ku gila, maka aku pun akan bersama mu saat yang lain menganggap mu cacat.

Membuat ku lari dari mu,
Memisahkan kita,
Hanyalah segelintir dari banyaknya proses Tuhan untuk menyatukan kita.
Sehingga sekarang yang ada hayalah, aku dan kamu yang kemudian menjadi kita.

Aku mencintai mu.
Kau akan mendengar itu lagi, juga My Dear, suatu saat kau akan mendengar musiknya juga suara lembut Yesung.
Jadi percaya pada Tuhan, dan mari tetap saling melengkapi.

*

*

*

The End

***

WELLCOMEBACK SIWON!
WELLCOMEBACK SUPER JUNIOR!
WELLCOMEBACK FANFICTION-FANFICTION YOONWON.

Ayolah para author aku butuh asupan ff Yoonwon ini hahaha

Sesama Nited pasti ngertikan lah yah gimana ausnya kita sama ff yoonwon :-p
Yang satu ini bonus comeback Siwon lah yah, dari The Little Prince #eaaahhhh..
Meskipun amburadul, tapi lumayankan yah, biar My Dear gak gantung endingnya..
Kayak katanya Rani ‘Mak digantung teh gak enak’ kayak dianya pernah digantung ajah :-p

Oke semoga suka deh yah, Nhiina juga, tuh udah yah jan nagih-nagih saquel, udah happy ending ini.. aku nya mau cus nulis yang laen..

Buat NITED, I LOVE YOU FULL DAH..

PASSWORD

ASSALAMUALAIKUM..


Hai, The Little Prince disini 🙂
Gimana kabarnya My Lovely Readers?
Baikkan yah? ^^

Sehubungan dengan Beberapa Nited yang tanya-tanya gimana caranya dapetin Password ff-ff aku, atau yang gak bisa akses ke fb ku, aku akhirnya buat Postingan ini.

Oke selain itu juga, aku mau bahas dikit kejadian gak ngenakin yang aku dapetin baru-baru ini.
Beberapa Nited yang baca Ff disini minta pw-pw ff ku, dan aku kasih karna nemuin komen-komen mereka di ff aku, tapi ternyata Komennya itu hanya ada dibeberapa Chapter, dari Chapter 1 langsung ke chapter End, kan gak banget yah?
Aku Tau loh ID komen yang licik gitu 😀
Bukan apa-apa sih, aku ngerasa diboongin ajah, aku udah baik-baik kasih dan kalian bisa baca, eh digituin.

Oh ayolah Dear, banyak Loh Nited yang buang-buang tenaga dan Kuota mereka buat komen di setiap FF ku, kan gak adil juga buat mereka yang udah ngehargain aku banget. Mereka susah2 pengen dapet password, nungguin setiap part ff publish, dan nungguin balesan aku. Lah aku? Ngasih pw buat yang gak jujur?

Pleass deh, mood lagi jelek sumpah gegara berita yang bikin aku bahkan sempet kehilangan selera buat buka mata, dan ditambah lagi ini?

Terserahlah setelah ini mau baca ff aku atau gak.
Tapi yah gitu aja peraturannya.

Bukan pelit atau apa, aku cuman mau kalian ngehargain usaha ku buat nulis sebaik mungkin.

Oke kembali ke cara dapet password

Asalkan kalian ninggalin komentar ajah disetiap FF ku, bisa langsung dapet, aku gak pelitkan yah?
Tanya ajah sama Nited yang udah langganan dpet pw dari ku. Aku baik hati dan gak sombong kok 😀 asalkan kalian jujur aku BAHAGIAAA.. 😀

Nah sekarang

BUAT YANG GAK BISA AKSES FB KU Coba tulis link fb kalian dikomentar postingan Ini nanti aku langsung kasih pwenya ^^

•Semua readers disini perlu deh tulis, supaya aku bisa tau mana simpul nyata dan bukan 😛
Ada loh yang ngaku-ngaku ID kalian 😀 jadi akunya kadang ngerasa bingung, 1 ID dengan dua orang berbeda gimana coba?

Jadi mohon kerja samanya^^

Wassalamualikum Wr.Wb ^^

[FF] Mine | Chapter 6

Fanfiction By

The Little Prince




••

Cast

Im Yoona || Choi Siwon || Tiffany Hwang || Cristina Fernandez Lee || Other Cast.

••

••

••

Happy Reading ^^

••

••

••

Oh Tuhan!
Aku benar-benar mengeluh sekarang, ini benar-benar akan membuat ku gila.
Lihatlah sekarang!
Tidak dirumah,tidak dikantor, semuanya kacau! Tiffany! Apa yang sebenarnya wanita itu pikirkan? Dia akan membiarkan berita ini terus membesar dan menghancurkan ku?

Ini karna Siwon
Apakah karna Siwon
Benarkah Siwon..

Sungguh aku benar-benar muak dengan semua itu. Perkataan ini itu, berita ini itu!!
Apakah wanita itu akan benar-benar menghancurkan ku?

Citra ku menjadi buruk dikalangan mitra bisnis ku, satu persatu investor menarik kembali kerja sama yang telah dibuat, aku tak bisa lagi menghitung berapa banyak kerugian yang ku dapatkan karna berita sialan ini.

Aku memijat pelipis ku sekali lagi saat suara ponsel ku kembali berdering.

‘Oemma’

Memejamkan mataku perlahan, menghembuskan nafas berat, lalu mengambil ponsel yang masih berdering nyaring diatas meja ku.

“Oemma”

Panggil ku pelan.

“Siwon-ah, bagaimana disana?”

Suara Oemma khawatir disebrang telfon.

“Lebih buruk Oemma, reporter lebih banyak berdiri didepan kantor.”

Oemma menghembuskan nafasnya disebrang.

“Oemma khawatir pada Yoona Siwon.”

Aku ikut menghembuskan nafas ku.

“Aku tau ini akan sangat sulit bagi Yoona Oemma, tolong jaga dia selama aku tak ada, aku tak tau apa yang sekarang dia pikirkan.”

Ucap ku pelan, yang setelahnya dijawab setuju oleh Oemma, dan selanjutnya kami terdiam cukup lama, sebelum akhirnya.

“Tidak bisakah kau membicarkan hal ini baik-baik dengan Tiffany.”

Oh Ibu ku, aku tau ini benar-benar jadi beban seluruh keluarga ku.

“Aku bahkan tidak tau dimana, dan apa yang dia lakukan sekarang, ponselnya tak aktif, pihak agensinya pun seolah-olah menyembunyikannya.”

Aku bahkan mulai menjambak rambut ku kesal. Sunggu bungkamnya Tiffany benar-benar membuat semuanya semakin kacau.

“Siwon..”

Suara ibu ku lagi.

“Emm–”
Jawab ku singkat. Seraya kembali memijat pelipisku

“Pulanglah, kau perlu lebih banyak istirahat, dan istri mu pasti sangat tertekan dengan berita ini.. Oemma akan menyuruh Appa untuk membiarkan mu cuti sementara waktu.”

Aku kembali menghela nafas.

“Ku pikir seperti itu.. aku akan segera pulang, Oemma jangan terlalu khawatir eoh.”

“Ambil jalan belakang, biarkan mobil mu parkir dijalan. Didepan gerbang masih banyak wartawan.”

“Aku akan mengingat itu.”

***

“Ku pikir menikah dengan mu akan menyenangkan. Tetapi ternyata menikah dengan seseorang yang cukup berpengaruh di korea malah membuat ku seakan gila perlahan-lahan.”

Siwon melirik pada Yoona yang kini terlihat santai duduk bersandar diatas Sofa dikamarnya, seraya membaca sebuah buku tebal yang Siwon yakini sebuah Novel ditangannya.

“Kau tidak bisa menyesali tentang menikah dengan ku sekarang.”

Yoona menggaruk telinganya yang tidak gatal.

“Yah ku pikir sekarang sudah tak ada gunanya menyesal.”

Jawab Yoona dengan masih tak menghiraukan Siwon yang sekarang telah mengganti kemejanya dengan kaus putih secara cepat.

“Aku sangat lelah.”

Gerutu Siwon seraya menjatuhkan tubuhnya keatas ranjang.

“Apa kau benar-benar tak bertanggung jawab atas apa yang menimpa Tiffany?”

“Ne?”

Dengan refleks Siwon bangun dari posisi tidurnya, dan melemparkan tatapan bingungnya pada Yoona yang masih memusatkan pandangannya pada novel tebal ditangannya.

“Apa maksud mu?”

Yoona menyerah. Ia menutup novelnya dan menyimpan buku itu keatas meja didepannya, ia balas menatap Siwon, tanpa berniat bangun dari posisinya.

“Kehamilan Tiffany, benar tidak ada kaitannya dengan mu?”

Oh..
Siwon menatap Yoona tak percaya, apakah Yoona meragukan Seorang Choi Siwon?

“Yoona kau meragukan ku? Bagaimana mungkin aku bertanggung jawab untuk itu, disaat aku bahkan sangat menghargai Tiffany selama kami berkencan. Tak terjadi apapun diantara kami selain sebuah ciuman.”

Siwon terlihat kesal Yoona mengangguk-anggukan kepalanya pelan.
“Jika benar faktanya seperti itu, kenapa kau tak coba mengatakannya pada seluruh media? Kalau kau tidak ikut bertanggung jawab atas itu, dan kau tidak tau apa-apa selain berkencan bahagia dengannya.”
Siwon menghembuskan nafas lemah, mencoba menahan kekesalannya.
“Tidak semudah itu Yoona, dunia Hiburan tidak semudah seperti yang kau pikirkan.. dunia seorang aktris berbeda dengan dunia seseorang biasa. Dalam dunia mu kau bebas mengatakan ya dan tidak. Tapi dalam dunia seorang idol jika kita mengatakan Tidak.. tidak ada yang akan menerima itu begitupun jika kau mengatakan Iya, kau hanya akan semakin dicela. Semua serba salah Yoona!”
Mereka lalu terdiam cukup lama, saling melemparkan pandangan bingung.. Lalu kemudian Yoona menghela nafas dalam
“Lalu kau hanya akan diam dan membiarkan semua ini membesar begitu saja? Setidaknya katakan dulu kebenarannya.. Setelah itu cukup lihat hasilnya ”
Siwon menatap Yoona sekejap, sebelum akhirnya mengusap wajahnya kasar dengan kedua tangan nya .

Pria itu lalu berdiri cepat, dan tanpa menatap Yoona lagi ia berjalan meninggalkan istrinya itu menuju arah pintu keluar.
“Siwon-ssi”
Namun langkahnya terhenti saat Yoona kembali memanggil namanya. Siwon diam, tak membalas maupun berbalik, ia hanya berdiri mematung didepan pintu yang masih tertutup.
“Masalah itu adil, dia datang pada semua orang tanpa membawa jalan keluar. Tapi jalan keluar akan datang pada siapapun yang telah berjuang mengundangnya datang. Apapun yang akan kau lakukan aku mendukung mu. Ku pikir kau cukup cerdas untuk menangani semua ini. Fighting.”
Ucap Yoona panjang lebar.
“Entahlah.”

Dan yang hanya Siwon balas dengan ucapan singkat yang dilanjutkan dengan kaki yang mengambil langkah menjauh.
***

Tak tau akan jadi cerita apa ini..

Tak tau bagaimana Tuhan merancang akhirnya..

Tak tau bisakah aku mengakhirinya?
Kadang aku ingin hidup seperti semut, terinjak sekali langsung mati, bersabar tak membalas.

Aku juga terkadang berpikir jika hidup menjadi angin akan lebih menyenangkan.. bertiup kesana kemari memberi udara segar untuk semua orang.

Aku bahkan cemburu pada keikhlasan daun yang jatuh karna terpaan angin, tapi tak pernah marah atas takdir nya itu. Ia jatuh keatas tanah megering tertimpa hujan lalu melebur menjadi pupuk yang malah semakin memperkuat pohonnya..
Bagaimana aku bisa seikhlas itu? Sesabar itu? Menerima semuanya..
Aku bahkan berpikir ini adalah posisi tersulit dalam hidup ku.. berusaha meninggalkan kenangan,, setelah melangkah jauh kenangan itu malah tiba-tiba saja menarik ku kembali padaya..

Disatu sisi aku ingin menghentikan ini dengan mematahkan Tiffany, tapi disisi lain, bahwa aku sangat mengenal Tiffany, ini semua rasanya tak mungkin dia lakukan.
Aku mengusap wajahku kasar..
Banyak yang bergentayangan dalam otak ku sekarang.. Kenapa Tiffany membiarkan berita ini semakin meluas. Bagaimana dengan perasaan Yoona? Bukankah aku telah berkomitmen dengannya? Dan juga entah kenapa dari banyaknya pikiran-pikiran itu nama Anna ada di barisan terdepan..
Yah, Anna, Choi Anna..

Gadis kecil itu entah kenapa selalu duduk disudut terdepan dikepala ku. 

Entah tentang apa semua ini.. Memikirkannya menjadi kebiasaan ku sekarang..

Oh ayolah sejak kapan seorang Siwon perduli pada gadis kecil? Aku bahkan terus menyadarkan diri ku..
“Butuh secangkir teh?”
Lamunan ku buyar. Saat ketika Sooyoung adik ku tiba-tiba saja duduk diatas ayunan yang juga tengah aku duduki ditaman belakang, seraya menyodorkan secangkir Teh hangat pada ku..

Aku tersenyum simpul, lalu kemudian menerima teh yang disodorkannya.
“Memikirkan jalan keluarnya?”
Tanya nya seraya masih memandangi ku.

Aku lalu mengangguk menjawabnya.
“Ketemu?”
Aku menghembuskan nafas ku, menunduk menatap pada teh digenggaman ku, lalu menggeleng pelan.
“Oh, kau berada hampir sepanjang hari disini dan tak menemukan apapun.”
Tanyanya tak percaya.
“Ada hal lain yang aku pikirkan.”
Dia menaikan alisnya.
“Apa itu?”
Aku meminum teh ku, sebelum menjawab.
“Yoona, dan Anna.”
Kening adik ku seketika itu juga berkerut lucu.
“Anna?”
Aku menatapnya, lalu tersenyum apa adanya.. Lalu kemudian mengangguk.
“Dia Seorang gadis kecil.”
Aku buru-buru mengucapkannya, saat Sooyong baru saja akan membuka lagi mulutnya?
“Gadis kecil?”
Tanyanya memastikan yang aku jawab kembali dengan sebuah anggukan.
“Rambutnya panjang dan hitam, matanya bulat, tangannya kecil, jari nya lembut, senyumnya manis, dia adalah gadis cantik.”
Sooyoung terdiam.
“Entah apa yang sedang terjadi pada ku Soo, ditengah-tengah masalah ini aku malah memikirkan hal lain.”
“Kau, bertemu seorang gadis kecil, menyukainya lalu terus memikirkannya? Dimana kau bertemu dengannya?”
Aku mengangguk lagi.
“Busan.. saat aku pergi bersama Yoona waktu itu.”
Ia menatap tak percaya pada ku.

“Apa kau serius Oppa? Kau perduli pada seorang gadis kecil?”
“Ku pikir lebih dari perduli”
“Kau..”
“Dia seorang yatim piatu entah bagaimana itu bisa menjadi kebetulan.. aku merasa butuh didekatnya saat masalah ini melingkupi ku.”
Sooyoung entah kenapa tiba-tiba tersenyum pada ku dan menyentuh tangan ku.
“Kau sudah menikah Oppa, wajar saja kau memikirkan seorang gadis kecil.”
Aku kemudian menunduk dalam.
“Kau bisa membicarakannya dengan Yoona.”
“Dia buta–”
Ucap ku pelan akhirnya. Sooyoung terlihat terkejut untuk sesaat, namun kemudian raut wajah nya berubah menjadi bingung.
“Yoona bukanlah masalah untuk keinginan ku ini, tapi Oemma dan Appa? Akan susah untuk mereka menerimanya.”
Lanjut ku putus asa.
“Tapi kau bisa berusaha dulu kan?”
Aku mendongak menatap Sooyoung yang juga tengah menatap ku penuh semangat.
“Setidaknya niat mu baik.”

****
“Oemma mohon Siwon!! Apa yang sebenarnya kau pikirkan! Bukankah kau juga Yoona bisa memiliki seorang anak? Lalu untuk mengadopsi? Anak buta? Apa kau sehat!”
Siwon memejamkan matanya mencoba meredam amarahnya dengan kata-kata Nyonya Choi.
“Oemma tidak tau, dia gadis baik, dia cantik, matanya bersinar, dia juga punya tawa yang lebar, dia– dia–”
Dia menyimpan photo ku.
Lanjut Siwon dalam hati, suaranya bergetar, entah kenapa ia begitu emosional jika ada seorang saja yang mengkritik Anna.
“Siwon—”
“Kau benar-benar menyayanginya nak?”

Tuan Choi memotong ucapan sang istri yang terlihat kembali akan mengeluarkan ocehannya.
“Sangat Appa.”
Jawab Siwon pelan , seraya menatap sang ayah sendu.
“Apa yang membuat mu begitu menyayanginya?”
Siwon tersenyum singkat, lalu kedua matanya tiba-tiba saja berkhayal, ada Anna dibayangannya.
“Dia tertawa lebar, dia cantik, suaranya lucu, dan dia tidak mengeluh akan situasi.”
Siwon menunduk sekejap, lalu kembali tersenyum.
“Oemma, Appa, matanya begitu tenang, aku tidak pernah melihat kekhawatiran disana, meskipun didalamnya gelap. Dia juga mengajarkan ku bagaimana mensyukuri hidup, dia tak melihat setitik cahayapun, tapi dia menyimpan cahaya dihatinya, sementara aku, aku bisa melihat langit seluas mungkin, tapi aku membutakan hati ku.. aku banyak belajar dari Anna, dan entah bagaimana awalnya, aku tak bisa menghilangkan wajah penuh tawanya dari bayangan ku.”
Dan Nyonya Choi terdiam, entah kenapa hatinya terasa dipukul, beribu-ribu kali ia berpikir, ini Siwonnya?
Sedang Tuan Choi terlihat tersenyum penuh arti, dan kemudian menepuk pundak Siwon pelan.
“Dia luar biasa. Ku pikir aku ingin bertemu Anna yang kau sebut-sebut cantik itu, Yeobo, kau menentang niat baik putra mu? Lihatlah dia telah dewasa, dia telah menikah, ku pikir dia tak butuh persetujuan kita untuk melakukan apapun, tapi dia tetap meminta persetujuan kita, dia menjadi menghargai kita, apa kau benar-benar tak ingin bertemu gadis kecil itu?”
Nyonya Choi tertegun, ia berpaling pada Siwon yang kini tengah menatapnya penuh harap.

Lalu kembali beralih pada sang suami yang menganggukan kepala padanya.

Dan akhirnya ia menghembuskan nafas berat.
“Berjanjilah untuk selalu menyayanginya.”
Dan akhirnya..

Siwon bersorak dalam hati, dia bahkan melompat memeluk sang ibu yang hampir saja terjungkal dari sofanya karna kelakuan anaknya itu.
“Aigoo-aigoo, kau akan punya seorang putri dan masih bersikap seperti ini?”
Suara Nyonya Choi seraya tersenyum manis dan menepuk-nepuk punggung Siwon.
“Aku menyayangi Oemma.”
Cupp..
Dan Tuan Choi langsung tergelak saat Siwon tiba-tiba saja mengecup singkat pipi istrinya, sementara Nyonya Choi sendiri hanya bisa tersenyum penuh bahagia.
“Anak ku”
***
“Kenapa kau hanya diam sepanjang perjalanan? Ayolah Yoona, kita akan pergi kekota kelahiran mu.”
Aku kembali tersadar setelah kurang lebih 2 jam hanya terdiam sepanjang perjalanan menuju busan.

Oh lihatlah pria ini. Dia bahkan terus tersenyum lebar sepanjang jalannya.

Yah dia duduk bersebelahan dengan ku, seorang supir menemani kami kali ini.
“Kau tidak senang pergi dari rumah?”
Oh Choi Siwon!

Kenapa dengannya? Apa dia tak bisa merasakan apa yang aku rasakan sekarang?

Aku bingung bodoh!

Kau mengatakan dengan ringannya kalau kau akan mengadopsi seorang anak pada ku tadi, itu membuat ku terkejut, dan yang sangat membuat ku terkejut lagi adalah anak itu adalah Anna, Choi Anna!

Oh apakah dia pikir aku akan baik-baik saja?

Setelah mendengarnya aku terkejut setengah mati, dan pusing memikirkan nya, bagaimana bisa? Tanpa sepengetahuan ku, ditengah-tengah masalah rumit, dia merencanakan semua ini?
“Kau tak akan bisa membawanya hari ini Siwon.”
Akhirnya aku menemukan suaraku, dia membalas tatapan ku.
“Apa?”
Oh Tuhan! Wajah polos itu!
“Anna! Kau tak akan bisa membawanya hari ini juga Siwon! Mengadopsi seorang anak, tak semudah seperti yang kau bayangkan! Kau harus—”
“Semua telah siap Sayang, aku telah membicarakan ini dengan anak buah ku, dia pergi ke busan sore kemarin, mengurus semua dokumen-dokumen yang diperlukan, membicarakan baik-baik dengan kepala panti, dan sesampainya di Seoul nantipun dia akan mengurus tentang perpindahan sekolah, penggantian marga, meskipun tak perlu diganti, memasukan kedalam daftar kartu keluarga dan sebagainya, kita hanya perlu menandatangani beberap dokumen, dan membawa Anna. Hanya itu..”

Wow..

Yoona benar-benar tertohok..

Benarkah ini Siwon?

Choi Siwon?

Siwon yang dingin?

Siwon yang tempramen?

Siwon yang selalu mempermasalahkan merk barang yang dia punya?

Siwon yang sombong?

Siwon yang keras kepala?
Oh Yoona benar-benar tak habis pikir.

Seorang Anna bisa menjadikan Siwon seperti ini?

Ini benar-benar gila!
Apa Siwon benar-benar mengabaikan semua masalahnya hanya karna Anna?

Hanya Tuhan dan Siwon sendiri yang tau apa yang dia pikirkan!

°°



°°



Tbc



°°


°°


Jangan Jadi readers nakal yah √

Part End di pwe jangan salahkan aku yeh kalau gx dapet pw karna gx ada id komen ^^
Anyeong^^

[Fanfiction] My Dear | Saquel

Fanfiction By

The Little Prince




  • Im Yoona || Choi Siwon


°°

°°

°°

Happy Reading^^

°°°

•••••


“Dia Tiffany, kekasih ku..”

Dan seketika detik itu, semua harapan ku bagaikan terbang menjadi debu-debu tak berguna.

Dia menolong ku sebagai seorang jaksa dipengadilan, dia perlahan-lahan membawa ku masuk dalam dunianya, dia yang dengan tangan besarnya menggenggam tangan ku..
Dia memberikan banyak makanan pada ku, dia membawa ku bertemu kembali dengan Ayah ku, dia memberikan kasih sayang sebuah keluarganya pada ku saat Ayah ku akhirnya terkubur dalam tanah, saat aku menangis karna Ayah, saat aku ketakutan, saat aku menjadi bahagia..
Dia, dia ada disamping ku..

Setelah semua itu, salahkah aku jika mengaguminya? Dia bersikap pada ku seolah-olah aku yang paling ia cintai, dia menemani ku ditaman, mendengarkan lagu bersama, dan membawa ku tinggal dirumahnya, tidakkah itu menimbulkan perasaan aneh pada ku? Dia memberikan semua hal yang ia punya didunianya untuk ku.. ku pikir ini cinta, ku pikir dia melihat ku sebagai seorang wanita.

Aku tidak gila, aku melihat kekhawatiran dimatanya setiap kali menatap ku, aku tidak bodoh, untuk mengerti semua perhatinnya..
Hanya saja aku tak tahu harus mulai dengan kata apa?

Dia menganggap ku sebagai seorang adik.

Yah, seorang adik..
Adakah seorang jaksa cerdas yang jatuh hati pada wanita yang tinggal di rumah sakit jiwa?
Aku tidak gila, aku bisa mengerti bahasa manusia, dan aku juga punya cinta. Tapi mana bisa aku disebut gadis normal saat aku menghabiskan setengah dari kehidupan ku dengan melamun didepan kaca rumah sakit jiwa?

Hujan bahkan tak berhenti untuk sekedar membiarkan ku berjalan lebih cepat.
Dress putih dengan tinggi dibawah lutut, payung merah, air mata, aku pergi dengan semua itu.. entah kenapa disaat aku bahkan tak berhak atas rasa sakit ini, aku bahkan tak bisa berhenti menangis.

Dia gadis pintar yang sangat cantik, apa yang bisa Siwon lihat dari ku, selain gadis gila dari rumah sakit jiwa.

Ku pikir hari saat hujan turun itu adalah waktu terindah, tapi nyatanya? Ini sangat dingin, aku bisa berjalan tanpa alas kaki diatas aspal disaat matahari bersinar cerah, tapi sekarang begitu dingin dan berat.

Tuhan.. kenapa harus aku yang jatuh cinta padanya?
Ini menyakitkan.. aku merasakannya karna aku tidak gila..

****

“Oemma pikir Yoona adalah pilihan mu.”

“Saat aku melihatnya, aku seperti melihat Sooyoung.. aku merasa harus melindunginya.”

Nyonya Choi mengangguk pelan.

“Dia gadis yang sopan, sejak kapan kalian saling menjalin hubungan?”

Dan Tuan Choi mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.

“Sebelum aku mengenal Yoona, kami sudah berkencan, hanya saja dia mengambil kuliah di china.”

Tuan Choi mengangguk paham.

“Semoga hubungan kalian tetap baik.. Appa mendukung pilihan mu.”

Siwon tersenyum lebar, lalu mulai meminum teh nya.

“Emmm.. ngomong-ngomong, bagaimana perkembangan Yoona? Apa yang dikatakan Dokter?”

Nyonya Choi lalu menatap hangat putranya itu.

“Dia baik Oemma, hanya saja dokter bilang kalau dia masih tak bisa menerima kepergian ayahnya begitu saja, dia hanya tak boleh terlalu banyak melamun.. dan dokter juga menyarankan untuk membawanya jalan-jalan bertemu orang banyak, agar dia bisa kembali bersosialisasi.”

Jelas Siwon pajang lebar.

“Dia masih takut bertemu orang asing.”

Suara Tuan Choi menimpali.

“Mungkin sebentar lagi tidak Ap–”

“Appa.. Oemma, apa kalian melihat Yoona Nuna?”

Siwon menghentikan ucapannya kala sang adik bungsu Tae Gu menghela ucapannya seraya berlari menuruni tangga menghampiri ketiga orang yang sedang serius mengobrol.

“Nuna mu ada dikamarnya Sayang..”

Nyonya Choi mengusap pelan rambut bocah lelaki itu saat Tae Gu telah berada dihadapan nya.

Tae Gu yang mendengar ucapan ibunya itu lantas menggeleng pelan.

“Tidak Oemma, aku sudah mencarinya.. dia menyuruh ku mengambil gambar yang ku lukis disekolah tadi, tapi saat aku kembali dia sudah tak ada.”

Dan seketika raut wajah Siwon juga kedua orang tuanya berubah terkejut.

“Tae Gu-ahh apa kau sudah mencarinya dengan baik?”
Tanya Siwon cepat, dan Tae Gu menggeleng pelan.

“Beberapa menit yang lalu aku ke kamar Yoona Nuna, aku ingin mendengar lagi cerita pangeran kodok yang belum ia selesaikan, tapi Nuna malah menyuruh ku mengambil gambar ku dulu, sebelum aku pergi dia memeluk ku dan mengatakan menyayangi ku, dan setelah aku kembali dia tak ada.”

Jelas Tae Gu panjang lebar yang malah membuat Siwon juga Nyonya dan Tuan Choi berkerut bingung.

“Dia berbicara pada Tae Gu?”

Tae Gu kembali mengangguk menjawab ucapan sang ayah.

“Dia mulai berbicara pada ku saat aku menangis dan bersembunyi di bawah meja di dapur, saat itu aku mendapat nilai matematika jelek aku takut Appa memarahi ku.”

Tae Gu menunduk saat mengatakan rahasianya itu.

“Tae Gu-ah,, kenapa kau tak mengatakan Apapun pada Hyung? Harusnya kau mengatakan jika Yoona Nuna berbicara pada mu.”

Siwon memegang pundak Tae Gu, mencoba untuk membuat adiknya itu menatap padanya.

“Mianhae Hyung.. itu karna Yoona Nuna tak ingin siapapun tahu kalau dia berbicara—”

Siwon masih menatap pada Tae Gu yang semakin menunduk dan bahkan telah menangis.

“Dia tidak gila, kenapa kalian terus membawanya ke rumah sakit untuk terapi? Itu membuatnya terganggu– Nuna mengatakan banyak hal yang membuat aku suka padanya, tidak ada orang gila yang seperti itu— dia membantu ku mengerjakan PR, dia selalu mendongengkan cerita baik.. Hyung apa kau membawanya lagi ke rumah sakit? Jangan lakukan itu bawa Nuna pulang segera.”

Dan barulah Tae Gu mendongak menatap Siwon dengan mata sembabnya.
Tak menghirukan Siwon dan Tae Gu yang betah terdim seraya saling berpandangan, Tuan Choi lebih memilih untuk bangkit dan berlari ke lantai atas untuk memastikan bahwa ucapan Tae Gu memang benar, Nyonya Choi mengekor dibelakangnya.

Dan ketika telah berada didalam kamar Yoona, Tuan Juga Nyonya Choi langsung menelusuri setiap sudut kamar itu, dan yang mereka dapatkan adalah apa yang dikatakan Tae Gu benar.

“Dia pergi?”

***

Musim Semi, Musim Gugur, Musim Salju, Musim Hujan, Musim Panas.

Aku mulai melewati semua musim itu tanpa diri mu..
Satu tahun berlalu, dan aku tak percaya masih bisa bernafas tanpa mu.

Siwon..
Choi Siwon..
Satu Tahun berlalu, pernahkah satu hari kau habiskan untuk memikirkan ku saja?
Siwon, Satu Tahun berlalu, pernahkah satu kali saja menghabiskan hari mu untuk mencari ku yang tiba-tiba hilang dari jangkauan mu.
Siwon, Satu Tahun berlalu, apakah sampai sekarang kau tak tau alasan terbesar ku pergi dari hidup mu?

Satu tahun berlalu..
Taukah kau aku masih hidup sampai sekarang, disini, ditempat ini, disebuah kota kecil di Jeju, diantara pantai indah, pepohonan rindang, dan suasana tenang.

Suster Jung.
Jung Ahjuma yang membawa ku kemari.
Yah, saat hari itu, aku menangis mendatangi Jung Ahjuma dirumah sakit, aku tinggal selama dua minggu dirumah nya di Seoul, dan setelah itu dia membawa ku pindah ke jeju, dia bilang ingin menghabiskan masa pensiun nya dikota kelahirannya.

Tau kah kau,
Ada kebun teh disepanjang jalan menuju gereja kecil yang terletak ditengah-tengah bukit, yang disanalah tempat aku biasa menghabiskan pagi ku untuk berdoa, mendoakan Appa, Oemma, Tae Gu, Bibi dan Paman Choi, juga Dirimu.

Tau kah kau,
Aku punya sepedah putih, yang selalu ku pakai kemanapun ku pergi, Jung Ahjuma yang memberikannya pada ku.

Tau kah kau,
Aku masih mendengarkan My Dear sampai sekarang?

Tau kah kau,
Aku sekarang membantu Jung Ahjuma melayani pembeli di kedai pangsit kecil-kecilannya

Tau kah kau,
Aku suka sekali mendengar bunyi lonceng gereja, setiap kali seseorang menyentuhnya saat akan masuk.

Tau kah kau,
Aku diam-diam selalu merindukan mu saat malam menjelang..

Ahh–
Tapi rasanya kau tak akan mau tau semua hal itu.
Apa yang aku lakukan,
Dimana aku,
Dan baikkah aku.
Aku tau kepergian ku pasti membuat mu membenci ku.
Gadis gila tak tau diuntung ,
Benarkan?

Aiihhh..
Tapi Nyatanya aku tetap berharap kau ingin tau semua itu.

Siwon,
Apakah kau telah bahagia bersama Tiffany-tiffany itu?
Mungkin kau telah tunangan dengannya? Menikah? Atau mungkin akan memiliki bayi?
Apapun itu, aku akan selalu berharap jika kau bahagia, selalu.

Aku menarik nafas dalam, lalu membuka kedua bola mata ku perlahan, aku lalu melepaskan tautan kedua tangan ku, sebelum akhirnya bangkit dari kursi panjang didalam gereja ini. Berjalan perlahan menuju pintu keluar, sekali lagi aku menyentuh loncengnya.

Tingg

Suaranya halus, dan aku kemudian tersenyum melanjutkan langkah kaki ku.
Aku telah menyelesaikan doa pagi ku.
Meraih sepedah ku, lalu menggandengnya, berjalan pelan untuk kembali ke rumah.

Berjalan seperti ini, selalu membuat ku memikirkan sesuatu dan berandai.

Andai Siwon datang kehadapan ku, mengatakan selama ini mencari ku, merindukan ku, lalu berlari memeluk ku.

Oh,
Aku tersenyum hambar khayalan apa itu? Apakah akan seperti itu jika kami kembali bertemu?
Aku menggeleng pelan, dan kembali melanjutkan langkah ku.
“Yoona.”
Deg..
Aku menghentikan langkah ku didepan gerbang gereja.

Suara itu..
Khayalan kah?
Apakah aku mulai mengkhayalkan suaranya?
Ini mimpi?

Seseorang dengan suara lembut itu?

Aku memejamkan mata ku kuat, aku berkhayal!

“Yoona.”

Aku dengan cepat membuka kedua mata ku.

Tapi aku mendengarnya lagi.
Mendongakkan kepala ku, dan mulai mencari seseorang dengan suara itu.
Namun tak ada siapapun.

“Yoona..”

Itu semakin dekat..
Suaranya semakin dekat..

Dan dengan masih membawa bersama sepedah ku, aku kemudian memilih untuk berbalik kembali kearah gereja, dan..

Aku langsung terdiam mematung ditempat ku, mengeratkan pegangan kedua tangan ku pada sepedah putih ku, dan memandang seseorang yang berdiri didepan ku itu dengan tatapan berkaca.

Ini bukan mimpi?
Dia nyata?
Dia menemui ku?
Mencari ku?

Choi Siwon.
Jaksa dermawan yang selalu ku dambakan kedatangannya, dia ada dihadapan ku sekarang?

“Yoona..”

Kembali, suara beratnya, kembali memanggil nama ku.
Kedua kakinya selangkah-selangkah berjalan mendekati ku.

Hari ini, dia memakai kemeja putih, celana bahan hitam, sepatu hitam mengkilap, rambutnya sedikit panjang, dia memiliki janggut diwajahnya sekarang, benarkah dia? Choi Siwon?

“Yoona–”

Suaranya lagi, semakin dekat, dan melangkah lebih dekat pada ku yang masih diam mematung ditempat ku.
Dan akhirnya..

“Yoona–”

Dia datang pada ku, suaranya bergetar, matanya berkaca, dia menyentuh tangan ku yang masih memegang erat stang sepeda ku.
Apa itu tanda dia merindukan ku?

“Yoona–”

“Kau– siapa kau?”

Karna aku tak ingin lagi merasakannya, rasa sakit itu.
Karna aku masih dapat mengingat rasanya, rasa sakit itu.
Karna aku masih dapat merasakannya, rasa sakit itu, masih tertoreh didalam hati ku.

Karna aku tak ingin lagi melihat mu bersama yang lain.
Karna aku ternyata mencintai mu.
Karna aku ternyata cemburu.

Dan akhirnya, itulah kata yang aku ucapkan saat kembali bertemu dengan mu.
Karna diri mu hanya memanggil nama ku.
Karna diri mu tak mengatakan merindukan ku.
Karna diri mu ternyata tak memeluk ku.

Kau menatap ku dengan mata yang semakin berkabut..
Suara mu tak ku dengar lagi..
Dan tangan mu tak ku rasa menyentuh tangan ku lagi..

Yoona.. Yoona.. Yoona..

Apa artinya itu?

Jika masih hanya seorang adik.. Maafkan aku, aku tidak bisa menerimanya..
Karna jujur, itu membuat ku sakit.

Mungkin dengan pura-pura tidak mengenal mu, hati ku juga akan pura-pura tidak mecintai mu.

Maafkan aku.
Ini bukan kesalahan mu.
Melainkan kesalahan ku yang tidak bisa membedakan Cinta dan Perhatian.

Maafkan aku.
Atas rasa yang terlalu berlebihan.

°°

°°


°°

The End ^^

[Coretan] Sweet Love

Sweet Love
Special The Little prince Birthday

°°
Happy Reading√
°°
°°

21 : 20
Dalam sebuah kamar mewah, disalah satu rumah besar dikawasan perumahan elit di Seoul itu dua orang berbeda jenis kelamin terlihat duduk kaku diatas ranjang putih berukuran besar. 
Jarum jam sudah berputar lebih dari satu jam saat pertama kali mereka duduk saling besisian diatas ranjang.

Tapi tak sepatah katapun keluar dari bibir mereka.
Siwon dan Yoona.

Adalah sepasang suami istri yang baru tadi pagi mengikat janji suci.

Kedua nya adalah anak yang terlahir dari keluarga kaya raya. Mereka dipertemukan karna perjodohan orang tua masing-masing, dan tanpa mengenal lebih jauh entah kenapa mereka berdua mengiyakan saja keinginan orang tua mereka untuk secepatnya menikah.
Siwon adalah pria tampan, dermawan, pintar, dan pewaris utama Brain Croup, dia juga adalah salah satu direktur yang dipercaya untuk menangani Brain selain sang ayah yang Notabennya adalah Ketua Brain.

Siwon tidak suka makanan pedas, tidak suka sesuatu yang terlalu manis pada minuman dan makannan nya, juga sosok yang sangat sopan. Dia akan sangat nyaman dengan orang-orang yang telah lama dikenalnya, namun sayangnya dia akan menjadi sangat pemalu dan gugup jika berada didekat seseorang yang belum lama ia kenal. Seperti sekarang ia bahkan tidak tahu harus melakukan apa didalam kamar pengantinnya bersama Yoona, istri yang beberapa jam lalu dipersuntingnya. Satu lagi yang mungkin menurut pria tampan lainnya aneh, Siwon takut pada cicak.
Oke beralih pada Yoona.

Wanita cantik bermata rusa itu adalah seorang Dokter gigi yang sangat ramah, dan pemalu, tak heran jika dalam dunianya ia hanya punya beberapa sahabat yang tahan dengan sikap pemalunya, yang kadang membuat sahabat sesama dokternya kesal dengan tingkahnya yang selalu enggan diajak berpesta, atau hanya akan mengangguk dan menggeleng jika ditanya, dan menjawab iya atau tidak jika perlu berbicara, ia suka sekali tersenyum, dan berbeda pada pasiennya terutama anak-anak, ia akan banyak sekali bertanya sopan dan ramah khas seorang Dokter yang baik. Entah kenapa bisa seperti itu.

Sama halnya dengan Siwon yang memiliki satu kakak perempuan yang bernama Taeyeon, Yoona juga punya satu kakak laki-laki yang suka sekali menggoda, menjahili, dan teramat menyayanginya, Heechul.

Berlawanan dengan Siwon, Yoona suka sekali makanan pedas, ia juga cake, minuman dingin, bau musim semi, dan salju, cita-citanya adalah memiliki suami yang mengantar dan mejemputnya sepulang bekerja, menjelajahi taman-taman bunga bersama, makan bersama, dan bahagia.

Ia suka sekali suara Yesung, begitu menggilai Hyun Bin, dan kadang membaca novel juga membersihkan gigi tentu.
Dan inilah mereka, sepasang suami istri yang memiliki sifat sama, pemalu. Jadilah mereka hanya diam bersisian diatas ranjang dimalam pengantin mereka.
“Emm, apa kau— suka pasta giginya?”
Oh Choi, pertanyaan macam apa itu? Mentang-mentang dia seorang dokter gigi bukan berarti tentang pasta gigi yang harus dibahaskan? 

Oh Siwon merutuki kebodohannya yang entah karna gugup atau apa tak bisa menyaring perkataannya.
“Emm–”
Yoona terlihat menggigit bibirnya.
“Ya, aku suka– aku juga selalu memakai pasta gigi yang sama, dan aku juga suka sabunnya, itu sangat wangi.”
Jawab Yoona dengan suara pelan, bahkan teramat pelan menurut Siwon, gadis itu bahkan terus menunduk seraya memilin piyamanya, sama hal nya seperti Siwon yang terus mengetuk-ngetuk ranjang yang ia duduki dengan jari telunjuknya.
“Emm– kau– maksud ku Yoona– oh– maksud ku Dokter — eh—”
“Panggil saja semau mu– tidak — maksud ku jangan panggil dokter– bukankah aku istri mu? ”
Potong Yoona cepat dengan sama gugupnya seperti Siwon dan ditambah dengan wajah yang memerah, saat ia mengucapkan kalimat terakhirnya, ia bahkan menggigit kembali bibirnya, karna merasa malu dengan apa yang baru saja ia ucapkan.
Dan ternyata bukan hanya Yoona saja yang merona akibat ucapan itu, Siwon suaminya juga terlihat tersenyum malu-malu bahkan semakin menunduk ketika mendengarnya.
“Emm– Baiklah– maksud ku Yoona, kau terlihat cantik tadi– bahkan sangat cantik– dan maaf jika tadi kau terganggu dengan– ciuman—”
Siwon menghentikan ucapannya saat dirasa ia kembali merasa malu jika mengingatnya, bukan hanya Siwon , Yoona juga terlihat tersenyum malu-malu bahkan berpaling saat Siwon kembali mengingat ciuman itu.
Yah Ciuman,

Sebuah Ciuman singkat yang Siwon daratkan dibibir Yoona saat acara pemberkatan tadi benar-benar membuat hati mereka tak karuan saat kembali mengingatnya.
“Emm, Oppa juga terlihat– tampan tadi.”
Jawab Yoona pelan seraya tersenyum malu.

Dan blusshh..
Seketika wajah Siwon memerah, kulit diwajah nya ia rasa menghangat dan perlahan-lahan menjadi panas.
Oppa? Oh itu sangat manis ditelinga Siwon.
“Emm– ini sudah larut, apa kau tidak lelah?– kau pasti sangat lelahkan? Kita bisa tidur”
Yoona lantas mengangguk , Dan tanpa mengatakan apapun lagi, Yoona bergerak menaiki ranjang menata bantalnya sekejap, lalu akhirnya merebahkan tubuhnya, Siwon terlihat tersenyum diam-diam, sebelum akhirnya ikut merebahkan diri diatas ranjang yang sama disebelah Yoona, berbeda dengan Yoona yang tidur memunggunginya, Siwon justru berbaring menghadap pada punggung sang istri. Dan tanpa mereka tahu, satu sama lain ternyata masih membuka mata dan tersenyum malu-malu.
‘Harusnya bukan tidur yang seperti ini.’
Suara Siwon dalam hati yang masih senyum-senyum tak jelas, memikirkan bagaimana seharusnya malam sepasang pengantin baru.
Tapi tak apa, siapa tau setelah bangun mereka tiba-tiba tidur dengan berpelukan?
Bukankah di drama biasanya seperti itu?
Pikir Siwon kembali sebelum akhirnya menutup kedua matanya seraya masih memperlihatkan senyum indahnya.
***

Satu minggu berlalu..
Dan tak ada hal special yang dilakukan sepasang pengantin baru itu dihari-hari cuti pernikahan mereka, hanya makan bersama, mengobrol sedikit di belakang rumah, kemudian tidur, kadang juga menonton bersama, sungguh dirumah sebesar ini dengan banyaknya pelayan mereka hanya melakukan beberapa hal bersama, tak ada hal lain.
Namun pagi dihari senin ini ada yang berbeda. Pekerjaan Yoona bertambah satu, menyiapkan kemeja, celana juga jas Siwon. Yah mereka akan mulai bekerja hari ini, setelah membantu salah satu koki nya memasak, Yoona berlanjut untuk menyiapkan pakaian sang suami, mungkin setelah menikah ia akan mengambil jam siang untuk pergi kerumah sakit, oh sebenarnya cita-citanya yang lain setelah menikah adalah memiliki rumah sakit kecil sendiri dengan beberapa pekerja dan sedikit dokter gigi lainnya, tujuannya adalah untuk dapat menyeimbangkan pekerjaan dan rumah tangganya, tapi yah apa boleh buat, itu belum terlaksana, 
“Kau belum bersiap?”
Yoona mendongak mengalihkan perhatiannya dari lamunan panjangnya dan beralih pada sang suami yang baru saja menegurnya.

Dan..
“Oh–”
Yoona langsung menunduk ketika melihat apa yang ada dihadapannya, 

Siwon dengan hanya memakai handuk dipinggangnya?

Pipi Yoona memanas, jantungnya berdetak tak karuan kedua bola matanya mengerjap-ngerjap polos.

Apakah Siwon mulai sedikit berani sekarang?

Hari ini dada kotak-kotaknya, besok dan seterusnya apakah mungkin?
Oh Yoona menggelengkan kepalanya memusnahkan apa yang ada dipikirannya.
“Yoona– maafkan aku– ku pikir kau tak apa melihatku seper—”
“Tidak Oppa–”
Yoona dengan cepat mendongak, dan kemudian kembali tersenyum malu-malu ketika kembali melihat suaminya sekarang.

“Heechul Oppa– juga seperti itu saat dikamarnya–”
“Nde?”
“Oh, maksud ku– aku pernah tak sengaja memergokinya bertelanjang dada sa– saat telah mandi– mungkin semua pria seperti itu?–”
Jawab Yoona yang semakin panjang suaranya semakin kecil, dan kepalanya semakin menunduk,

Dan Siwon pria itu terlihat menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal, seraya tersenyum diam-diam.
“Kau belum bersiap?”
Dan Siwon mengulangi kembali pertanyaannya.
Yoona kembali menggeleng dengan masih menunduk memilin jarinya.
“Aku akan berangkat agak siang mulai dari sekarang, setelah kau berangkat– aku baru akan berangkat.”
Siwon menatap Yoona yang masih menundukkan kepalanya.
“Jika kau berangkat siang, bukankah kau akan pulang larut malam kan?”
Yoona mengangguk pelan.
“Kalau begitu aku tak mengizinkannya.”
Dan Yoona mendongak dengan cepat. Untuk pertama kalinya Siwon melayangkan satu larangan untuknya.
“Kau akan lelah Yoona, sekarang aku suami mu, aku akan berangkat dan pulang kerumah bersama mu, sekarang pergilah mandi, sudah cukup untuk mengurus ku, aku akan menunggu mu, jadi bersiaplah, tak apa jika lama pun.”
Hati Yoona menghangat.
“Baik Oppa.”
Suara Yoona seraya tersenyum malu-malu.

****
Sepanjang perjalanan menuju Rumah sakit, tak ada satu pun dari mereka yang mengeluarkan suara, hanya hening yang menemani perjalanan mereka, sampai pada akhirnya mobil yang Siwon kendarai berhenti melaju didepan sebuah rumah sakit besar khusus gigi, yang pada akhirnya Yoona mengeluarkan sedikit suaranya.
“Aku turun.”
Yang hanya dibalas senyum dan anggukkan manis dari Siwon.

Namun ternyata ketika Yoona baru saja akan membuka pintu mobilnya, Siwon tiba-tiba saja menyentuh tangannya, dan membuat sang istri kemudian menoleh, dan–
Cup..
Yoona mengerjap-ngerjapkan matanya polos, jantungnya tiba-tiba saja berdetak tak karuan. Entah bagaimana mulanya, Siwon tiba-tiba saja menempelkan bibirnya pada kening Yoona, dan
Blusshh…
Seperti biasa, wajah keduanya menjadi memerah, mereka tersenyum malu-malu, lalu menunduk.
“Semoga hari ini berjalan baik.”
“Ne Oppa– aku– aku turun.”
Jawab Yoona menyudahi, yang kemudian dilanjutkan dengan membuka pintu disisinya, dan berjalan keluar, tersenyum pada Siwon, lalu pergi seraya menutup wajahnya dengan kedua tangannya, seperti tingkah imut seorang remaja yang baru merasakan cinta.
****
Guyonan-guyonan menggoda dilemparkan teman-teman sesama Dokternya pada Yoona, yang semakin membuat Yoona merasa malu sepanjang hari ini adalah sahabatnya Yuri yang kebetulan sekarang sedang mengandung anak pertamanya. Dan Yoona hanya dapat menanggapinya dengan senyum malu khas seorang pengantin baru.
“Yoong, apa suami mu begitu meggoda saat diatas—”
“Unnie–”
Potong Yoona cepat dengan suara pelannya seraya melemparkan tatapan malu-malunya pada Yuri.
“Oh sepertinya terjadi sesuatu selama seminggu terakhir, setelah menjadi istri seorang direktur, apa yang kau lakukan sepanjang hari selama cuti bersama suami mu.
Yoona menunduk, tersenyum kemudian menggeleng singkat.
“Emm, kau malu-malu eoh? Ayo berbagi cerita pada Unnie, setelah menikah kau akan butuh nasehat ku.”
Suara Yuri lagi seraya memasukan anggur kedalam mulutnya, yah mereka tengah beristirahat dikantin rumah sakit sekarang.
“Tidak Unnie, aku hanya memasak, menemaninya mengobrol singkat, menonton TV bersama lalu tidur, kadang kami jalan-jalan disekitar taman.”
Cerita Yoona akhirnya dengan nada suara khas nya pelan.
“Tidur yang seperti apa?”
“Uhukk—”
Dan Yoona langsung tersedak oleh makakanan nya sendiri, Yuri buru-buru mengambilkan air untuknya, dan Yoona langsung menerimanya, air ia habiskan dalam dua kali tegukkan. Dan seperti biasa, wajahnya kembali memerah.
“Tidak— tidak terjadi apa-apa Unnie–”
Jawab Yoona akhirnya.
“Mwoya? Maksud mu suami mu tidak–”
Yoona menatap polos Yuri yang juga melemparkan tatapan tak percaya pada Yoona.
“Siwon– dia tidak–”
Yuri menepuk-nepuk dadanya sendiri, seraya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.
“Menyentuh mu?”
Lanjut Yuri seraya masih menepuk-nepuk dadanya sendiri.
“Unnie–”
Dan alhasil Yoona kembali menunduk malu karnanya.
“Oh Yoona ku yang polos.”

****
20.00
Tepat pada saat mobil yang dikenadarai Siwon memasuki sebuah pekarangan rumah besar dikawasan Gangnam, kediaman dari Orang tua Siwon.
Yah, tepat di minggu ketiga pernikahan Siwon dan Yoona, Tuan Juga Nyonya Choi berkeinginan untuk makan malam bersama putra dan menantunya itu. Dan dengan senang hati Siwon juga Yoona menerima tawaran dari Orang Tua Siwon.

Satu jam berlalu..

Tepat pukul 21.05 makan malam ke empat orang itupun berakhir, mereka saling bertukar cerita, saat makan, setelahnya pun mereka mengobrol ringan diruang keluarga, tentang pekerjaan, keseharian juga shopping untuk para perempuan, kedua orang tua Siwon terlihat begitu bahagia dengan adaya putra juga menantunya, terlebih Nyonya Choi, pasalnya jarang sekali Rumah besar itu dikunjungi tamu, tak ada yang lain selain mereka berdua juga beberapa pelayan dan tukang kebun, jadilah kesepian mereka terobati dengan adanya Yoona juga Siwon.
“Siwon-ah.”
Nyonya Choi memanggil Siwon yang tengah serius bermain catur bersama sang ayah.
Perhatian Siwon beralih pada sang ibu yang juga tengah duduk bersama istrinya dengan sebuah majalah dipangkuannya, pria itu tersenyum sopan pada sang ibu.
“Ne Oemma.”
Jawab Siwon sama sopannya seperti tatapannya.
“Nanti kalau kau dan istrimu mempunyai anak, biarkan salah satunya bersama Oemma juga Appa, kau harus punya banyak anak, disini sangat sepi, kehadiran seorang cucu mungkin dapat menceriakan Ayah mu.”
Suara Nyonya Choi dengan senyum khasnya, yang kemudian berbuah pipi merah dari Siwon juga Yoona, sepasang suami istri itu terlihat tersenyum malu-malu, apa lagi Yoon yang semakin menundukkan kepalanya merasa malu.
Dan pada akhirnya sang ibu membahas itu.
Oh Choi, belum juga kau melakukannya, kau sudah dituntut untuk memberikan cucu.
Pikir Siwon dalam hati.
“Ne Siwon-ah, Appa benar-benar tak sabar untuk menimang cucu dari mu.”
Timpal Tuan Choi yang malah semakin membut pipi mereka bersemu.
“Bukankah Taeng Nuna, akan melahirkan seorang bayi juga? Kalian bisa meminjam dulu bayinya.”
Jawab Siwon setenang mungkin diiringi dengan candaan dikedua sudut bibirnya.
“Nuna mu tinggal jauh dari korea, dia tak akan mau semudah itu menyimpan bayinya disini, apalagi itu bayi pertamanya.”
Jawab Tuan Choi yang disetujui oleh Nyonya Choi yang sekarang betah sekali memperhatikan menantunya.
“Kalau begitu minta bayi keduanya nanti.”

Jawab Siwon lagi dengan masih mempertahankan candaannya.
Yah seperti yang dikatakan Tuan Choi, Taeyeon Nunanya berada jauh dari Korea, ia tinggal bersama suaminya di Argentina.
“Isshh, putra ku memang yang terbaik dalam menjawab, tapi tetap saja Oemma menunggu sepuluh anak dari mu.”
“Nde??”
***
22.08

Hujan turun cukup deras tiba-tiba saja, dan itu tetu saja menghambat Siwon juga Yoona untuk pulang.
“Kalian menginap saja disini,”
Dan akhirnya mereka menerima tawaran Nyonya Choi. Siwon juga Yoona tidur dikamar Siwon. Dan terpaksa juga untuk malam ini Yoona harus memakai kemeja Siwon karna memang tak ada baju lain, selain itu juga adalah pepatah dari Eunhyuk, teman satu profesi Siwon. Yah tanpa ada satupun yang tahu, Siwon diam-diam selalu meminta saran Eunhyuk untuk mendapatkan hati seorang gadis.

<b> biarkan dia memakai kemeja mu saat akan tidur, aku juga melakukannya saat malam pengantin ku </b>
Benarkah itu?

Pikir Siwon keras.
Lalu seperti biasa, ritual sebelum tidur mereka adalah duduk bersisian diatas ranjang. Keduanya terlihat seperti biasa, gugup.

Apalagi Yoona yang terlihat tak nyaman dengan pakaiannya, ia terus menarik-narik ujung kemejanya yang memang tak bisa menutupi lututnya.
“Oppa–apa tak ada celana kecil punya mu– kurasa, ini terlalu pendek–”
Oh Yoona bersuara?

Dan tiba-tiba saja ucapan Eunhyuk kembali terngiang ditelinganya.
<b> Buka perlahan-lahan bajunya, lalu sentuh dia secara intim. </b>
“Buka saja”
“Nde?”
Dan Siwon memukul keras bibirnya yang entah kenapa mengeluarkan kata itu. Oh Eunhyuk!! Pria itu mengganggu pikiran Siwon.

“Maksud ku– emm maksud ku, Yoona–”
Oke, malam inikah?
“Ne– Opp–a?”
Suara Yoona yang entah kenapa menjadi benar-benar gugup.
“Emm–malam ini– bisakah– bisakah– kita– maksudku aku– aku–”
Oh bagaimana cara mengatakannya?
Yoona masih menunggu kelanjutan dari ucapan Siwon.
“Yoona.”
Dan setelah memantapkan hatinya, Siwon akhirnya mendongak menatap Yoona dengan tatapan yang berbeda dari biasanya namun masih membuat jantung Yoona berdebar tak karuan.
“Aku–”
Siwon mendekatkan wajahnya pada wajah Yoona perlahan-lahan, dan dengan refleks Yoona memainkan ujung kemejanya dengan jari jemarinya menahan gugup, semakin dekat dan dekat, sampai hidung mancung keduanya bersentuhan, Siwon menatap Yoona lekat mencoba membangkitan keberaniannya, dan Yoona mengerjap-ngerjapkan matanya polos tak berani menatap kembali Siwon.
“Mencintai mu.”
Dan,

Siwon kembali menatap Yoona lekat-lekat, oh bibirnya bahkan terlihat bengkak, ini yang pertama kalinya, dan Siwon bisa menjadi sehebat ini? Oh Tuhan melihat warna dipipinya membuat Siwon kembali memanas.
“Oppa– Appa–”
Siwon menghentikan ucapan Yoona dengan menempelkan jari telunjuknya didepan bibir bengkak sang istri.
“Aku tak akan bisa memulainya lagi–”
Ucap Siwon parau, yang semakin membuat rona diwajah Yoona bertambah.
Siwon bisa bernafas lega, pasalnya ia tak melupakan untuk mengunci pintu kamarnya, tak perduli apa yang dibutuhkan sang ayah, Siwon tak bisa menghentikannya, jika ia menghentikannya, ia tak tau akan semalu apa ia saat kembali memulainya nanti.
“Ku simpulkan kau menerima ku Yoona.”
Ucap Siwon lagi yang masih saling bertatapan dengan sang istri.

Dan Yoona, entah dari mana keberanian itu datang, dia tersenyum lalu kemudian mengangguk manis, yang akhirnya membuat Siwon bersorak riang, dan tanpa menunggu lama lagi 

​​​

Ini yang mereka harapkan, akhir yang bahagia, tak perduli bagaimana mereka saling mengenal, bagaimana mereka bisa menikah, yang terpenting adalah bahwa sebuah cinta itu bisa berawal dimana saja, lewat apa saja, dan bagaimana pun caranya. Cinta itu berwarna karna Saling, bukan sepihak.
Menghabiskan malam dengan saling mencintai adalah yang mereka impikan, hidup bersama keluarga kecil, dan bahagia.
Bagaimana pun mereka menantikan kisah yang memiliki akhir bahagia.

Happy Ending.

•••

••
••

Hoalaaaaa..
Minal’adzin walfaidzin, mohon maaf lahir batin 🙂

Abis lebaran bawa yang gini?? Haha

Abis edisi buat yang ulang tahunkan harus yang manis, manis gimana gitukan?

Eh itu vidionya gambaran yaahhhhh jarang buat ff tema kek gini jadi berasa susah ajah..
Maaf kalau gak suka. Mohon dimengerti kalau banyak typo, ini ff super singkat sumpah.
Yaudah deh, sampai ketemu lagi 🙂 

[FF] Mine | Chapter 5


Mine

BY

The Little Prince

••

Cast
Im Yoona || Choi Siwon || Tiffany Hwang || Choi Sooyoung || And Other Cast.

•••
A/N :
Tolong jangan meninggalkan komentar yang mengandung perdebatan, cukup nikmati Ceritanya, dan jangan terlalu baper sama peran Tiffany Oke√√

•••

Happy Reading ~~

•• 

••

°°°°°°
Entah kenapa, tiba-tiba aku telah memakai gaun pengantin putih di tubuh ku, mengucapkan janji suci pernikahan dengan pria yang bahkan baru beberapa bulan aku kenal, berada dalam kamarnya dan menjadi istrinya.
Tidakkah ini terlalu cepat? Apakah keputusan ku salah? Bertemu dalam keadaan buruk dengannya, saling beradu argumen, dan sekarang menikah? 

Akulah yang memutuskan untuk memulai komitmen ini, dan kurasa ini terlalu cepat?

Dia Choi Siwon, bahkan aku tak tahu apakah dia telah melupakan wanita yang membuatnya hampir gila,
Oh Tuhan..

Jika saja Ayah ku masih ada sekarang, mungkin dia akan mengatakan ‘Apa-apaan kau Yoong!’
Siapa Siwon? Dia adalah pria yang menyelamatkan ku dari tempat gelap itu dengan uangnya, pria arogan yang akan menangis dimalam hari meratapi nasib buruknya, dan sangat kasar.

Dan dia menjadi suami ku sekarang? Tiba-tiba saja?
Oh, aku memejamkan mata ku kuat, saat aku mengucapkan untuk menikah dengannya, aku pikir aku punya waktu untuk mengenalnya lebih jauh sebelum pernikahan, tapi apa? Setelah kembali ke Seoul, aku hanya diberi waktu satu minggu untuk menjernihkan pikiran ku.

“Kau telah menyetujui sebuah pernikahan bukan berkencan, jadi jangan salahkan aku untuk itu.”
Dan aku membuka mata ku secepat mungkin, lalu mengalihkan perhatian ku pada pria yang kini telah merebahkan tubuh nya diatas ranjang putih disebelah kiri ku.

“Kau memikiran itu bukan?”

Dia membalikkan tubuhnya dan menatap ku.
Oh bahkan dia dapat menebaknya?

“Tidak-tidak sama sekali!”
Jawab ku cepat, namun ku pikir itu sedikit kacau, aku gelagapan.

“Iyakah? Berarti aku salah ya? Emm, oh apakah kau memikirkan bagaimana hidup mu setelah menjadi istri ku?”

Aku mendengus sebal.

“Aku tinggal hidup saja! Makan, minum, memasak seperti biasa.”

Dia tiba-tiba saja bangkit dan langsung duduk.

“Mana bisa begitu? Akan ada sedikit perubahan setelah aku bersama mu, seperti kau akan mengurus baju ku, menyiapkan sarapan untuk ku, dan kau juga bisa berbelanja dengan uang ku.”

Dia protes?

“Ya, ya, ya, terserah mu sajalah, yang penting apa yang aku pikirkan, dan apa yang kau tebak itu berbeda!”

Oh dia mendengus lucu. Oh Sikap barunyakah? Atau memang aku baru tahu ia memiliki sikap ini?

“Lalu yang kau pikirkan didepan cermin dari tadi apa? Oh aku tahu, yang ini pasti benar.”

Dia mengatakannya dengan penuh percaya diri.

“Benarkah kali ini?”
Aku menyilangkan kedua tangan ku didepan dada menantangnya.

“Kau memikirkan ciuman ku tadikan saat dialtar, oh kau terpesona karna itukan?”

“Nde?”

Aku menatap tak percaya padanya.

Cih benar-benar pria ini!

“Oh jika bukan itu, berarti tak salah lagi, kau memikirkan tentang malam ini.”

Dia mengedipkan matanya nakal pada ku, dan aku sungguh benar-benar merinding melihatnya. Suasana berubah menjadi horor seketika.

“Apakah kau merasa gugup sekarang?”

Oh, sikapnya yang mana lagi ini?

“Yakk!!”

Aku berdiri dengan cepat, dan menatapnya garang!

“Aku hanya berpikir untuk ganti baju, tidak sampai sejauh itu!”

Jawabku sekenanya.

“Benarkah? Oh padahal jika kau memikirkannya, itu wajar saja sekarang, dan lagi jika kau memang ingin mengganti baju, bukankah seharusnya didalam kamar mandi saja? Oh apa kau ingin aku menggantikannya untuk mu? Itu sangat mudah dan wajar saja, ku pikir akan menyenangkan juga.”

Aku membulatkan kedua bola mata ku tak percaya, oh apakah dia menjadi gila sekarang!

“Oh aku bisa gila!”

Pekikku kesal sembari menyeret kedua kaki ku dengan cepat menuju kamar mandi, meningalkan pria itu yang sekarang malah tengah terkikik geli memperhatikan ku,

Brrraaakkk!

Dan aku membanting kesal pintu kamar mandi.

“Sayang, pipi bersemu mu benar-benar menambah kecantikan mu, aku menunggu mu keluar oke?”

Dan aku masih dapat mendengar godaannya saat telah berada didalam kamar mandi.

“DIAM KAU!!”

Dia pasti kembali tertawa kini, Oh Tuhan! Aku butuh berendam untuk menjernihkan otak ku yang hampir meledak karna pria itu! Air hangat sangat menggoda tubuh ku kini, akan sedikit lama ku rasa.

Dan benar saja.. tanpa ku sangka ini bahkan lebih lama dari yang ku pikir, oh aku lupa membawa pakaian ganti ku! Oh pria itu benar-benar mengganggu! Sekarang bagaimana? Haruskah aku keluar dengan hanya memakai handuk? Apa jadinya jika itu terjadi didepan Siwon? Dia akan semakin menggoda ku habis-habisan.

“Sayang..”

Dan pikiran ku buyar seketika, saat pitu kamar mandi diketuk pelan dari luar, dan sebuah suara menyusul setelahnya.

“Apa kau tidur didalam?”

Oh benar-benar.

“Aku juga perlu mandi, kau tak ingin tidur dengan pria bau kan?”

Oh apakah di berpikir akan tidur satu ranjang dengan ku?

“Sayang…”

“DIAM JANGAN KATAKAN ITU LAGI!!”

Pekik ku setelah ku rasa kuping ku memanas mendengar panggilan dengan nada menjijikan darinya.

“Issshh.. keluarlah kalau begitu! Aku juga butuh mandi.”

Baiklah, aku menutup kedua bola mata ku sekejap.

“Siwon–”

Aku mulai berkata dengan sedikit lembut.

“Ya–”

“Sebenarnya—”

Aku akan meminta pertolongan darinya? Ya tentu saja apa salahnya?

“Sebenarnya apa?”

“Aku lupa membawa piyama tidur ku!”

Dan akhirnya kata itu keluar juga.

“Oh, jadi sedari tadi kau didalam itu karna melupakan piyama mu? Kenapa tak bicara dari tadi? Aku akan membawanya.”

Oh Dia baik ternyata, dan aku tersenyum puas setelahnya.

Beberapa menit berlalu sebelum akhirnya pintu kembali diketuk, dan suarnya kembali terdengar.

“Bukalah pintunya.”

Dan dengan perlahan aku mulai membuka pintu dihadapan ku, memunculkan wajah ku dan menyembunyikan tubuh ku dibelakang pintu,
Siwon terlihat menggelengka kepalanya saat ini, dan aku hanya mampu memperlihatkan senyum kaku dihadapannya.

“Pakailah.”

Dan tatapan mata ku terpaku seketika pada kemeja putih yang Siwon sodorkan pada ku.

“Kau melupakan untuk memindahkan barang-barang mu, jadi untuk malam ini pakailah dulu ini.”

Seolah dapat membaca pikiran ku, Siwon menjelaskannya dengan baik.

Oh aku merutuki kebodohan ku, dan dengan berat hati akhirnya aku menerimanya, menutup dan mengunci kembali pintunya, dan mulai mengenakan kemeja itu.

Berdiri sesat, melihat pantulan diri ku didepan cermin,
Tidak buruk, ia memiliki kemeja yang cukup besar.

Aku tersenyum puas, sebelum akhirnya membuka kembali pintunya, dan berjalan keluar dari kamar mandi itu dengan penuh percaya diri, Siwon masih berdiri didepan pintu saat aku keluar, memperhatikan ku dengan baik, lalu menggelengkan kepalanya ringan.

“Sudah selesai?”

Wajahnya terlihat bosan, dan aku tersenyum ringan padanya.

“Kau boleh masuk”

Ucap ku santai seraya kembali melanjutkan langkah ku.

“Kau punya kaki yang menggoda.”

Dan aku menghentikan kedua kaki ku seketika itu juga, dan dengan cepat membalikan tubuh ku kembali mentapnya garang.

“YAAAKKK!!!”

°°••°°

Pagi itu dimulai dengan kediaman Yoona, dia tak mengatakan apapun saat keuar dari kamarnya, saat memasak, ataupun saat ini.
Saat keluarga Siwon yang kini telah menjadi keluarganya juga sarapan bersama.
Yoona masih saja bungkam, dengan sesekali melamun.

“Malam pengantin kalian baik bukan?”

Dan akhirnya pertanyaan yang dilontarkan Choi Hana baru saja mampu membuat Yoona beralih dari pikirannya.

“Aku tidur di sofa semalam.”

Dan jawaban Siwon baru saja benar-benar membuat semua orang termasuk Yoona tertohok tak percaya menatapnya.

“Kenapa? Kenapa kalian menatap ku seperti itu? Aku jujur, semalam aku tidur di sofa.”
Ulang Siwon lagi dengan wajah polosnya, saat dirasa ibu, ayah, adik serta istrinya malah diam dan menatapnya aneh.

“Siwon-ahh—”

“Apakah ranjangnya terlalu kecil? Ah pasti karna itukan? Istri ku, sebaikya kau persiapkan ranjang yang lebih besar untuk mereka, bukankah kau juga tahu jika ranjang Siwon terlalu kecil untuk ditiduri dua orang?”

Dan Tuan Choi langsung menghela ucapan sang istri yang dia tahu pasti akan melontarkan pertanyaan-pertanyaan panjang yang tak akan ada henti-hentinya pagi ini. Choi hana juga terlihat marah.

“Tidak Bukan itu.”

Dan pupus sudah!
Tuan Choi menepuk keningnya putus asa, saat dirasa sang putra tak mendukung aksi penyelamatan dirinya.

“Bukan? Buan alasan itu? Lalu kenapa kalian—”

“Ahh, atau pasti karna–”

“Diam Soo!”

Dan Sooyoung yang baru saja akan menghentikan pertanyaan-pertanyaan mengerikan sang ibu langsung terdiam saat ternyata Nyonya Choi malah balik menghentikan ucapan nya dengan bentakkan keras.

“Siwon, Yoona, sekarang katakan pada Oemma, apa alasannya! Kalian tidur terpisah? Oh ayolah, ini konyol Siwon–”

“Yoona menjatuhkan gelasnya saat minum disisi lain ranjangnya, ranjang tempat ku tidur basah, aku tak mungkin meminta Yoona tidur di sofakan?”

Dan Sooyoung, Tuan Choi, juga Yoona menghembuskan nafas lega bersamaan saat mendengar alasan yang diberikan Siwon.

Sungguh Yoona lega, Siwon mengucapkan yang sebenarnya, meskipun ia tak mengatakan jika dia melakukan itu dengan sengaja. Yah agar Siwon tak tidur disebelahnya, bukankah itu ide yang cemerlang? Seorang guru memang diharuskan cerdas.

Yoona tersenyum puas memikirkan kecerdasannya.

“Nyonya, maafkan aku– aku tak sengaja.”

Tambah Yoona menyesal. Memperkuat penjelasan Siwon.

“Oemma! Biasakan itu sekarang, Arraseo!!”

Nyonya Choi menghembuskan nafasnya pelan, dan Yoona menunduk, lalu diam-diam menggigit bibirya.

“Oemma, maafkan aku.”

Ucap Yoona lagi, kini terdengar agak kaku. Dan Nyonya Choi hanya mengangguk menjawabnya.

“Apakah itu perlu diganti?”

Suara Tuan Choi kembali terdengar saat Siwon kembali menyuapkan rotinya.

“Tentu saja! Mana bisa dibiarkan”

Suara Nyonya Choi menimpali.

“Appa, jika tidak diganti aku akan menjadi menyedihkan lagi malam ini.”

Ucap Siwon dengan memasang wajah sok imutnya. Dan benar-benar Yoona rasanya ingin sekali memukul keras kepala pria itu, beraninya dia!
Oh kenapa dia menjadi suaminya.

“Baiklah-baiklah, Paman Koki akan menggantinya nanti.”

Oh Yoona menghembuskan nafasnya pelan.
Apa yang harus dia jatuhkan selanjutnya kalau begitu?

“Oppa hari ini kau mengambil cuti?”

Dan suara Sooyoung memecahkan keheningan yang baru saja tercipta, Siwon mengalihkan pandangannya pada sang adik, sebelum akhirnya mengangguk.

“Appa membuat ku libur selama satu minggu.”

Jawab Siwon setenang mungkin, dengan masih menyuapkan makanan nya.

“Lalu rencana mu? Paris, singapura? Jeju? Bali atau–”

Tanya Sooyoung lagi, seraya menatap antusias pada Siwon.

“Hanya Tidur.”

“Mwo??”

Siwon menaikan sebelah alisnya.

“Harusnya kau berlibur Oppa, kau harus membawa Yoona jalan-jalan.”

“Kau jangan ikut campur tentang masalah bulan madu ku.”

Jawab Siwon tak suka, yang malah langsung mendapat perhatian dari Yoona.

“Bulan madu? Kau tak mengatakan tentang itu.”

Protes Yoona tak suka.

“Menantu, Siwon penuh dengan kejutan, kau harus siap dengan itu.”

Timpal Tuan Choi yang merasa geli sendiri melihat kepolosan menantunya itu, dan Yoona terlihat tertunduk malu setelahnya.

“Dengar, aku penuh kejutan.”

Dan Yoona menjauhkan sedikit wajahnya, saat Siwon tanpa bisa ditebak membisikkan kata itu tepat ditelinganya.

Gadis itu menatap garang pada Siwon, kedua bola matanya menatap tajam Siwon, seakan mengisyaratkan ‘Aku akan membunuh mu.’

“Aigoo.. Aigoo.. Suami ku lihatlah mereka terlihat sangat menggemaskan.”

Tuan Choi hanya mampu tersenyum menanggapi ucapan sang istri, sementara Sooyoung terlihat memutar kedua bola matanya malas, saat dirasa sang ibu mulai berlebihan menanggapi kelakuan Siwon.

Dan Yoona?
Tidakkah mereka memikirkan jika gadis itu masih perlu waktu untuk bisa terbiasa dengan semua ini.

Mereka bahkan tak perduli itu.

*****

“Aku tak mau! Aku benar-benar malas.”

Yoona menjatuhkan tubuhnya keatas ranjang dan mulai memejamkan matanya.

“Oh, kau hanya ingin tetap tinggal dirumah sepanjang hari?”

Siwon mendudukkan tubuhnya diatas ranjang yang sama dengan Yoona, disampingnya.

“Yah, kau bisa pergi kemanapun kau mau. Entah itu berbelanja, atau apapun, aku hanya ingin tinggal di rumah dan beristirahat.”

“Oh ayolah Yoona, aku juga ingin seperti itu, menghabiskan masa cuti ku dengan berjalan-jalan sendiri, dan menikmati udara segar. Tapi sekarang tanpa diri mu Oemma tak akan membiarkan ku lepas keluar begitu saja.”

Yoona mendengus sebal, ia lantas membuka kedua matanya, dan bangun dari posisi terlentangnya, menatap Siwon sebal.

“Kau membuat Tubuh ku pegal saat acara pernikahan, dan sekarang? Kau ingin aku menemani mu berjalan-jalan?”

“Apa? Apa-apaan, aku membuat mu letih di hari pernikahan? Bukankah kau menyiram tempat tidur ku? Mana mungkin aku bisa membuat mu letih saat aku bahkan tidak sama sekali menyentuh mu.”

Oh apa yang dikatakan pria ini? Apa hanya ada pikiran kotor di kepalanya? Ayolah Yoona hanya ingin beristirahat hari ini.

“Siwon-ssi bukan itu yang aku maksud. Tapi tentang berdiri menyalami tamu mu, yang mungkin datang beribu-ribu, oh aku bahkan masih merasakan kaku ditanga ku.”

“Itu sudah berlalu, jangan ingat itu lagi sebagai masa sulit mu! Sekarang aku hanya ingin kau menemani ku pergi keluar memotret beberapa objek, kita juga bisa makan, oh kau juga butuh beberapa baju, istri seorang CEO setampan aku harus memakai dress cantik.”

Yoona memutar bola matanya malas.

“Siwon—”

“Kau menolak!”

Dan Yoona terlonjak kaget seketika, bagimana tidak? Siwon pria itu tiba-tiba saja mendekatkan wajahnya pada Yoona dengan tanpa aba-aba.
Yoona mengerjap-ngerjapkan matanya polos, sementara Siwon, pria itu mulai melemparkan tatapan tajamnya pada sag istri.

“Jika kau mengajukan penolakan sekali lagi! Kau benar-benar tak akan kemana-mana, aku akan menemani mu disini.”

Siwon semakin mendekatkan wajahnya, dan Yoona semakin memundurkan tubuhnya.

“Aku akan mengunci pintunya, menutup tirainya, dan kau tahu apa yang harus ku lakukan, selanjutnya—”

Yoona dengan refleks dan cepat langsung membekap mulut Siwon, menghentikan ucapan pria itu.

“Aku akan pergi dengan mu, kita akan makan dan berbelanja oke? Aku akan bersiap dan menjadi sangaatt catik, layaknya seorang istri dari CEO, jadi jangan tutup tirai atau kunci pintunya, juga kita tak akan disini sepanjang hari, aku akan bersiap dulu.”

Siwon bersorak dalam hati. Bukankah istrinya itu mudah sekali terintimidasi.

Yoona dengan cepat berdiri, dan berjalan kaku menuju kamar mandi, dan Siwon meledakan tawanya seketika itu juga.

“Hahaha, apakah dia berpikir jika aku ingin menidurinya? Oh gadis polos_”

Siwon kembali tertawa geli.

“YEOBO, AKU AKAN MEMBERIKAN MU HADIAH JIKA KAU TAMPIL CANTIK”

Teriak Siwon mencoba menggoda istrinya, dan kemudian kembali tertawa geli.
****

“Ini terlalu berlebihan ditubuh ku.”

Siwon menggeleng tak setuju.

“Ini bahkan kurang mewah untuk seorang istri dari CEO, bukankah begitu?”

Yoona medengus sebal, sementara seorang pelayan wanita yang berdiri disamping Siwon mengangguk setuju.

Yah Siwon membawa Yoona kesebuah pusat perbelanjaan besar di korea, Hyundai departement store, tidak harus dijelaskan bukan jika mall besar ini adalah salah satu aset yang dimiliki Hyundai Croup.
Semua pelayan bahkan terus membungkuk hormat saat Siwon dan Yoona berjalan dihadapan mereka.

“Istri seorang CEO tidak perlu seberlebihan itu.”

Gerutu Yoona kesal yang masih dapat didengar oleh Siwon.

“Tetap saja kau harus terlihat sempurna. Kau tau suami mu ini selalu memakai pakaian dengan merk terkenal, mana mungkin istrinya memakai pakaian biasa-biasa saja, Oh apakah kau sudah melihat seisi lemari ku? Bahkan pakaian dalam ku pun bermerk.”

Tutur Siwon dengan penuh percaya diri, yang membuat Yoona tertohok tak percaya, dan pelayan yang sedari tadi mengikuti mereka tertunduk menahan senyumnya.

Dasar tak tahu malu! Pria mana yang bahkan membicarakan pakaian dalam didepan orang asing. Pikir Yoona dalam hati.

“Sekarang kau coba yang ini, kita akan membawa banyak pakaian untuk mu.”

Dan Yoona kemudian berbalik dengan malas sesaat setelah menerima salah satu dress merah yang Siwon sodorkan.

“Oh apakah sepanjang hari ku akan ku habiskan dengan mencoba semua pakaian yang ada disini? Ayolah aku sangat lelah.”
Gerutu Yoona didalam ruang ganti, seraya kembali melepas dan mengganti pakaiannya.

“Nah sekarang sudah.”

Yoona berucap saat membuka pintu ruang gantinya, dan ketika dia mendongak.
Yoona langsung diam seketika.

Tak ada Siwon disini, yang berdiri dihadapannya bukanlah Siwon, melainkan pelayan wanita yang menundukkan kepala padanya terlihat takut, dan seorang wanita berparas cantik yang menatap tajam padanya.
Wanita yang pernah Yoona temui disebuah acara pernikahan bersama Siwon.

Tiffany, Hwang Min Young.

“Oh ternyata dia tamu kehormatan yang kau maksud sehingga melarang ku memasuki area ini?”

Suara Tiffany kejam, seraya masih menatap tajam Yoona, memperhatikan setiap sudut dari tubuhnya, dari kaki hingga ujung kepala, dan Yoona tak suka itu.

Ia merutuki suaminya dalam hati, tega-teganya dia meninggalkan Yoona bersama mantan kekasihnya.

“Kemana suami ku?”

Yoona mengabaikan Tiffany dan mengalihkan perhatiannya pada pelayan wanita yang masih saja menunduk dalam.
“Tuan, tadi ia berkata ingin berkeliling sebentar, dia akan kembali dengan beberapa pakaian.”

Oh Yoona tak habis pikir, bisa-bisanya dia!

“Kearah mana dia pergi.”

Yoona kembali bertanya seraya menahan kekesalannya.

“Tuan–”

“Kenapa? Kau menghindari ku?”

Yoona kembali mengalihkan perhatiannya pada Tiffany yang menatapnya dengan tatapan yang merendahkan.

“Oh apakah aku mantan kekasih yang tak terlupakan? Jadi kau mungkin agak terganggu dengan itu.”

Yoona mendengus sebal, bukankah seorang aktris memiliki kata-kata yang sopan didepan media?

“Tidakkah kau berpikir jika Siwon ku telah melupakan mu.”

Dan Yoona mulai geram mendengar kata-kata wanita itu tanpa membalasnya.

“Dia bahkan menangis dihadapan ku saat aku mencoba memutuskannya.”

Oh Yoona menyunggingkan senyum tajamnya, suaminya sungguh mematahkan egonya yang coba ia bangun dihadapan matan kekasih tersayangnya.

“Yah kau menolaknya, dan dia menangis, aku jelas tau itu, dan kau menangis ingin kembali padaya saat tau kau dikhianati, aku juga tau itu, bahkan kau meminta itu dihadapan ku.”

Dan air muka Tiffany berubah seketika itu juga, Yoona benar-benar membungkus keangkuhannya.

“Kau tahu Tiffany-ssi, saat kita ingin membuang sesuatu, harusnya kita berpikir lebih dulu, apakah sesuatu itu menganggap kita berharga baginya atau tidak, kadang sakit hati pencinta lebih mengerikan dari rasa cinta nya sendiri.. Jika kau bisa begitu saja membuang sesuatu, maka kau juga harus siap terbuang oleh dua hal, yang kau perjuangkan, dan yang memperjuangkan mu.. dan harusnya kau sudah sadar akan itu sekarang”

Ucap Yoona tenang yang membuat Tiffany semakin geram.

“Apa itu cukup?”
Lanjut Yoona tegas. Dan Tiffay semakin menatap Yoona tajam.

“Kurasa itu cukup, aku permisi Tiffany-ssi.”

Dan Tiffany mengepalkan kedua tangannya kuat saat Yoona mulai berjalan menjauh darinya.

“Dia masih mencintai ku! Kau tak akan pernah bisa mengelak itu!”

Dan Yoona menghentikan langkahnya seketika itu juga, kembali tersenyum kecil dan kemudian berbalik kembali memperhatikan pada Tiffany yang juga sudah berbalik menghadapnya. Kedua matanya terlihat berkaca, Yoona kembali menyunggingkan senyum tajamnya, kenapa ia masih bersikeras?

“Aku Istrinya! Itu sah! Dan kau tak akan pernah bisa merubah itu!”

Suara Yoona kembali menimpali ucapan Tiffay, yang kini terlihat dua kali lipat lebih marah.

“Seberapa keraspun Siwon merubah mu, kau masih akan terlihat buruk jika berbanding dengan ku! Seberapa baguspun pakaian-pakaian yang ia pilihkan untuk mu! Kau tak akan pernah bisa secantik diriku! Kau tak akan pernah bisa menyamai ku! Gadis yang Siwon cintai, kau tak akan pernah bisa seperti dia!”

Oh Yoona menghembusan nafasnya kasar. Mengapa dia begitu percaya diri.

“Tiffany-ssi, kau sangat benar jika kita sangat berbeda. Jauh berbeda kau adalah Tiffany dan aku Yoona.. dan yang harus kau tahu, aku tak pernah ingin sama seperti diri mu. Aku tak pernah ingin menjadi secantik diri mu, dan bagaimana mungkin kau berpikir aku ingin menyamai mu? Menjadi wanita yang memaksa suami orang lain untuk mencintainya bukanlah keahlian ku. Aku tidak tertarik akan hal itu.”

Yoona terdiam sejenak sebelum akhirnya kembali melanjutkan ucapannya.

“Dengar ini baik-baik Nona Hwang.. aku tak ingin seperti diri mu, garis bawahi itu! Dan Siwon. Kenyataannya sekarang dia milik ku! Kutipi itu. Itu cukup?”

Dan Tiffany benar-benar tertohok dengan apa yang baru saja Yoona ucapkan.

“Siwon mungkin mencintai mu, tapi faktanya dia menikahi ku, kau mungkin mantan kekasih yang dia cintai, tapi aku istrinya yang coba dia cintai, jadi bersiaplah menjadi yang terbuang.”

Yoona tersenyum puas saat melihat Tiffany yang sekarang bahkan tak bisa mengeluarkan suaranya lagi.
Oh jika dia aktris, Yoona adalah guru.

****

Siwon berdiri canggung menatap pada Yoona yang kini terlihat merapihkan ranjang sebelum ia berbaring tidur.

Dengan ragu ia pun akhirnya berjalan pelan kembali ketempat dimana malam kemarin ia tidur, sofa.
Ya, sejak kejadian tadi siang saat dia bertemu Tiffany, suasana hatinya Siwon rasa telah berubah. Entah memang benar atau salah, Yoona terlihat lebih banyak diam.

Ini memang murni kesalahan Siwon, kenapa bisa ia meninggalkan Yoona sediri dengan berakhir bertemu Tiffany. Harusnya juga ia berpikir panjang untuk membiarkan Yoona sendiri, mereka masih berada dikota yang sama, kemungkinan bertemu sangat besar, Siwon benar-benar menyesali itu, niat ingin mencoba saling membuka hati, dan melupakan Tiffany, ia malah mengacaukan itu. Oh Tuhan! Kapan saatnya Tiffany benar-benar hilang dari pikiran juga hatinya.

“Emm kau– apakah Tiffany mengatakan sesuatu yang membuat mu tersinggung?”

Dan akhirnya Siwon mengeluarkan suaranya yang terpendam, yang membuat Yoona terusik.

“Tidak. Lupakanlah itu.”

Dan Siwon langsung bungkam seketika mendengar jawaban dingin Yoona. Pria itu memilih untuk secepat mungkin berbaring dan memejamkan matanya.

“Kau, kau bilang ingin ada yang kau tanyakan saat di mobil tadi? Apa itu?”

Dan Siwon kembali membuka mataya yang tertutup rapat, ketika dirasa ia kembali mendengar suara Yoona.

“Emm,, apa tidak akan membuat mu tidur larut?”

Tanya Siwon tak enak.

“Katakanlah.”

Dan Siwon pun akhirnya melengkungkan senyum senangnya. Ia dengan semangat berbalik menyamping mencoba berhadapan dengan Yoona, dan membantali kepanya dengan kedua tagannya, tingkah imut yang memuakkan menurut Yoona.

“Anna.. aku terus memikirkannya entah kenapa.”

Kata Siwon dengan penuh kelembutan, raut wajahnya berubah menjadi serius, dan pertanyaannya tentu membuat Yoona terkejut.

“Choi Anna?”

Siwon mengangguk lemah.

“Saat setelah kembali ke seoul entah kenapa aku memikirkannya, wajahnya terus saja terbayang dikepala ku, cara dia berbicara, tersenyum.. aku memikirkannya setiap hari.”

Jelas Siwon pelan.

“Tentang Anna, kau tertarik? Ingin bertanya sesuatu lagi tentangnya?”

Bola mata Siwon menatap pada Yoona, gadis itu mencoba mengerti dirinya?

“Banyak hal.”
Jawab Siwon akhirnya seraya masih menatap Yoona lekat.

“Tanyakanlah.”

Suara Yoona menimpali.

“Dimana dia tinggal?”

Tanya Siwon memulai.

“Busan tentu saja. Tapi lebih tepat dia tinggal di panti asuhan yang kita kunjungi waktu itu.”

Raut Wajah Siwon berubah terkejut.

“Dia Yatim Piatu?”

Yoona mengangguk pelan.

“Seorang gadis usia 4 tahun, duduk diatas Ayunan ditaman bermain panti asuhan waktu itu. Dia duduk dengan menggenggam selembar kertas lusuh. Kami hanya memperhatikannya waktu itu. Kami pikir seseorang bersamanya, sebabnya kami tidak menghampirinya. Saat anak-anak mulai kembali kedalam panti, gadis itu masih diam tanpa melakukan apapun, atau bergerak sedikitpun. Tapi saat malam tiba, hujan mulai turun dengan petir, dia akhirnya bersuara dan mulai menangis. Dia menjerit ketakutan. aku dan ayah ku yang waktu itu menjemput ku untuk pulang akhirnya menghampiri anak itu. Dia terus mengatakan ‘Oemma, aku takut, tolong aku.’ Ayah ku membaca gulungan kertas yang gadis itu genggam, dan didalamnya tertulis ‘Namanya Choi Anna, tolong rawatlah dia’ dan dari sana barulah aku tahu jika dia dibuang karna buta.”

Siwon yang mendengarkan secara seksama cerita Yoona pun terlihat mulai terenyuh.

“Katakan lagi.”

Yoona tersenyum menatap Siwon. Dia semakin tertarik?

“Dia tak suka makanan pedas, dia suka pisang, teman-temannya, dan juga memotret, kamera yang selalu dia bawa adalah hadiah dari ayah ku, Anna memintanya saat Kim Oemma (Pengurus panti), berusaha keras mencari donatur yang bersedia memberikan bantuan untuk mengoperasi matanya, itu butuh biaya yang besar. Tapi gadis itu mengatakan pada ayah ku sesuatu yang membuat ayah ku tak bisa berhenti menyayanginya.”

“Apa itu?”

“Ayahnya Bu Guru Yoona.. bisakah Ayah mengatakan pada Oemma untuk berhenti saja mencari mata untuk ku? Aku tak butuh itu, itu akan menyusahkan banyak orang dan melelahkan untuk Oemma, lagi pula aku punya banyak mata sekarang. Ada mata punya Go Eun, Sam, Ayah Bu guru Yoona, Bu Guru Yoona , Oemma, dan banyak lagi. Bagaimana kalau belikan saja aku kamera? Jangan belikan mata. Ayah ku menangis saat itu dan menjawab kenapa? dan dia menjawab Aku tak bisa melihat, tapi dengan kamera aku jadi punya kenangan-kenangan tentang hal-hal yang pernah kutemui, ku coba, dan ku rasakan. Itu lebih berarti untukku.”

“Dia mengatakan semua itu?”

Yoona mengagguk.

“Dia cerdas, banyak berbicara, sumber penyemangat, lucu, juga dia takut petir. Dia suka bermain hujan, tapi tidak dengan petir.”

“Dia mengatakan ‘Smile’ saat memotret ku, apa itu kebiasaannya?”

“Dia ingin semua orang tersenyum saat bersamanya.”

“Mmmm.. oke, oke.”

Siwon mengangguk-ngangguk lucu.

“Aku sudah tau sekarang, jadi Nyonya muda, kau bisa tidur sekarang. Malam ini kau masih bisa tidur sendiri, tapi mulai besok kau harus tidur bersama ku.”

“Mwo?”

Yoona menatap tak percaya pada Siwon.

“Kau bilang ingin mencobanya pelan pelan! Jika terus begini, kita tak akan bisa saling membuka. Pertama tidur bersama dengan tenang, malam berikutnya saling berpelukan, dan akhirnya saling membuka bukan?”

“YAKKK!!!”

“HHAAAAHAHAHAHAAA…”

****

(Koran Pagi.)

Breaking News.


Gagal Menikah Artis sekaligus idol personel Girl Group TTS Tiffany Hamil. Anak Siwon?

“Astaga! Ya Tuhan”

Sooyoung berteriak keras dari luar rumah pagi-pagi buta, semua orang yang mendengarnya tentu saja panik dan buru-buru menghampirinya, Yoona dan Nyonya Choi bahkan masih menyiapkan sarapan saat itu.

Sedangkan Siwon dan Tuan Choi yang terlihat masih berada di kamar langsung berlari terburu-buru menuruni tangga.

Namun belum sampai mereka menghampiri Sooyoung, gadis itu malah terlihat telah lebih dulu berlari masuk kedalam rumah, hal itu tentu saja membuat semua orang yang melihatnya berdiri bingung.

“TV… TV.. TV!!!!!”

Teriak Sooyoung yang masih berlari menuju ruang keluarga.. Siwon berkerut bingung melihat reaksi Sooyoung pagi ini, namun ia akhirnya memilih untuk mengikuti langkahnya juga.

Dan betapa terkejutnya mereka saat layar Tv di ruang keluarga menayangkan sebuah acara gosip yang memberitakan tentang kegagalan Pernikahan Tiffany.

Saat ini belum ada klarifikasi langsung dari pihak Agensi ataupun Tiffany, tentang alasan gagalnya pernikahan sang aktris, ataupun tentang photo-photo yang memperlihatkan Tiffany yang tengah berada di sebuah rumah sakit khusus kandungan. Apakah karna dia hamil? Yang membuatnya gagal menikah? atau ada hal lain. Namun yang menjadi perbincangan hangat Netizen saat ini adalah siapa Pria yang bertanggung jawab atas hal ini jika sang aktris benar-benar hamil, dan banyak yang beranggapan jika itu adalah Choi Siwon, mantan kekasih dari Tiffany sendiri sekaligus CEO dari perusahaan Hyundai Croup.”

“MWO!!!!”

*

*

*

*

TBC~

*

*

Hiii~ kangen aku ^^
Haha, maaf baru cambek yah, aku kemaren2 sibuk banget °sok
Hehe, tapi sekali lagi buat yang baca ff ini jangan berkomentar terlalu emosi buat Tiffany yah, ini salah ku kok yang buat dia begitu. Abisnya emang jalan ceritanya gitu. Next kalian bakalan tau seberapa baik sebenernya fany. Okey segitu aja kali yah √√ semoga suka dengan ff ini.. taengkyuu yang udah lama banget nunggu nih ff, next semoga masih setia nunggu.

Anyeong. ^^