Oneshoot

29 November | Beautiful Moment

29 November (Beautiful Moment)

The Little Prince
Present.

dan

Choi Siwon & Lim Yoona

*

*

*

Happy Reading~

Siwon

38884768_2174566802780751_8997048035112386560_n

Cantik.

Tepat Pukul 07 : 00 aku akhirnya dapat melihat gadis itu duduk kembali debelakang meja kasirnya. Dengan sebuah komputer didepan nya juga beberapa orang yang mengelilinginya, aku akhirnya kembali melihatnya dengan kemeja biru mudanya, juga kacamata bulat berwarna Silver yang selalu ku lihat bertengger dihidung mancungnya setiap kali ia berhadapan dengan komputernya.

Cantik.

Aku kembali melihat rambut indah mu digulung dengan begitu imut,

yoona-innisfree-jeju-11

lipstik merah muda kembali menghiasi bibir mu setelah hari senin lalu kau memakai warna senada, dan jangan lupakan senyum manis mu yang tak pernah ku lihat terlepas dari wajah mu, kau begitu cantik hari ini, oh tidak—kau selalu cantik setiap hari, dari senin sampai minggu, kau selalu terlihat sangat cantik dan bercahaya Im Yoona.

DV98znKX0AAPSds

Itulah nama yang tertulis dari name tag yang melekat diatas baju biru mudanya, bukankah sangat cantik? Yoona, Im Yoona.

Dan aku selalu terpesona saat kembali melihat setiap potret mu yang aku ambil secara diam-diam dengan kamera ku. aku tahu aku telah melakukan sebuah pelanggaran dengan mengambil potret mu tanpa sepengetahuan diri mu, tapi sungguh aku bersumpah, aku tak bisa menghentikan jemari ku yang akan bergerak lincah saat melihat senyum mu, kau tahu? Aku bagai tersihir setiap kali kau melengkungkan bibir yang kadang berubah-rubah warna itu.

Maka demi kembali melihat semua itu aku akhirnya berada disini, disebuah Toko bunga yang mana adalah tempat dia bekerja setiap hari, tepatnya aku akan masuk kedalam toko dan membeli beberapa bunga disetiap Kamis, Jumat, dan Sabtu, ya tiga kali dalam seminggu aku akan menyempatkan diri ku mampir ke toko bunga ini demi melihatnya disela-sela kesibukan ku menjadi seorang direktur disebuah perusahan keluarga yang bergerak dibidang perhotelan, perbelanjaan, juga bagian-bagian lain nya yang tak bisa ku sebutkan.

Tapi lihatlah aku sekarang! Aku sudah seperti si bodoh yang selalu berdiri memperhatikan nya, membeli bunga tanpa memilih, memotret, lalu pergi, oh sungguh sangat konyol. Aku adalah seorang pengusaha muda yang begitu disegani banyak orang, ya aku tahu itu, semua pegawai di Senghong akan menunduk hormat setiap kali berpapasan dengan ku, setiap kolega akan bertepuk tangan setiap kali mereka mendengar presentasi ku, aku begitu menawan diantara pengusaha-pengusaha muda lain nya, aku berprestasi dan juga inspiratif.

Oh bukankah aku begitu Sombong jika mengatakan semua itu? Tapi jangan salah paham, aku bukan ingin sombong atau sebagainya, aku hanya ingin menunjukan sebuah kekonyolan disini, dan dimana kekonyolan nya? Tentu disini, sekarang, didalam diri ku! tepatnya setahun belakangan ini, ditempat yang sama, yaitu toko ini, aku selalu terlihat konyol.

Aku masih dapat mengingat dengan jelas pertemuan pertama kami, tepat di hari Rabu tanggal 29 November 2017, aku yang saat itu tanpa sengaja melihatnya saat membeli sebuket mawar putih untuk Ibu ku malah berdiri mematung untuk waktu yang cukup lama didepan meja kasir, aku bahkan tak sadar saat suara lembutnya berkali-kali memanggil ku, ia bahkan harus menyentuh lengan ku untuk dapat membawa diri ku kembali kedalam tubuh ku dan melihat beberapa orang berdiri
bingung dan merutuki ku.

“Anda baik-baik saja?”

Dia bahkan terlihat tersenyum geli saat menanyai ku, dan aku hanya dapat menunduk malu seraya menggaruk tengkuk ku. salah satu hal konyol yang baru pertama kali ku lakukan, karena tanpa sadar aku menunduk didepan seorang gadis saat beribu-ribu gadis menunduk didepan ku, saat semua pegawai dan kolega-kolega membungkukkan tubuh mereka didepan ku.

Ku katakan sekali lagi, setelah bertahun-tahun lamanya, aku akhirnya menunduk didepan seorang gadis dengan segala kegugupan, ya aku selalu gugup saat berdiri didepan meja kasir nya, aku telah membuat banyak orang gugup hanya karena kehadiran diri ku, dan aku akhirnya merasakan gugup yang sama saat seorang gadis dimeja kasir tersenyum dan mengucapkan beberapa kata pada ku. Oh dunia kurasa sedang berputar dibawah.

Aku mengambil nafas panjang dan menghembuskan nya sebelum akhirnya mengambil langkah lebar menuju kearah meja kasir, jika aku telah berdiri disana, itu berarti aku sudah siap untuk pergi dan bekerja.

“Selamat pagi Tuan.”

Aku mengangguk kaku saat dia menyapa ku dengan senyum ramahnya.

“Mawar putih lagi? Apakah Ibu anda sangat suka dengan mawar putih?”

“Nde?”

Aku menegakkan leher ku dan menatapnya denga perasaan terkejut. Ya benar-benar terkejut! Sejak kapan ia mengatakan sesuatu kecuali sapaan, harga, dan semoga hari ku indah? Dan juga, ‘Mawar Putih Lagi?’ apa dia memperhatikan diri ku juga selama ini?

“Ne—Ne”

Aku akhirnya mengangguk mencoba menyembunyikan keterkejutan ku seraya merogoh saku jas ku dan mengeluarkan Dompet berwarna hitam legam yang sangat mengkilap.

“Setahun lalu, bukankah Anda datang kesini untuk pertama kalinya pada 29 November?”

Aku menaikan sebelah alis ku, jantung ku berdetak cukup kencang sekarang, sungguh! Dia berbicara banyak hari ini dan aku sangat senang sekaligus gugup! Demi Tuhan aku bisa pingsan ditempat jika mendengar lebih banyak alunan suaranya, aku rasa aku bisa mati overdosis dengan suaranya. Tuhan itu begitu indah!

“Ne— Anda begitu pengertian.”

Jawab ku seadanya, dan ku rasa aku salah memilih suku kata, karena ku lihat dia tersenyum dan menunduk malu seraya melipatkan anak rambut yang terlihat berantakan karena tak terbawa digulungan rambutnya yang lain ke belakang telinganya, dan Demi Tuhan dia bagai bidadari saat melakukan itu.

“Emm apakah anda suka bunga tulip?”

Aku kembali menyatukan tatapan ku dengan matanya, dan jantung ku langsung berdetak kencang detik itu juga, dia kembali bertanya saat aku telah menyelesaikan pembayaran ku, dan hal itu kembali membuat ku terkejut tiba-tiba saja. Kenapa itu? Aku juga tak tahu. Aku langsung mengalihkan perhatian ku dari mata bulat yang terlihat bercahaya itu dengan cepat saat dirasa pasokan oksigen diparu-paru ku mulai menipis, sungguh apa aku terlihat bodoh sekarang?

“Tulip—tulip—ne—ne, aku lumayan suka—“

Jawab ku yang entah kenapa menjadi gagau, sungguh sangat memalukan! Berbeda dengan kegugupan ku, gadis dibelakang meja kasir itu malah terlihat tersenyum riang dan dengan cepat memasukan tiga tangkai tulip berwarna kuning kedalam sebuah plastik bening yang lumayan besar, dan dengan begitu bersemangat menyodorkan nya kearah ku bersamaan dengan sebuket mawar putih yang tadi ku pilih.

Aku menatap bingung padanya juga pada jari lentiknya yang saat ini menggantung diudara seraya menggenggam sebuket mawar dan kantong plastik berisi tulip kuning tadi secara bergantian, dan dia malah semakin melebarkan senyumnya yang kemudian
membuat lutut ku bergetar dibalik celana bahan ku.

“Apa—ini?”

Suara ku bahkan hampir bergetar.

“Terimalah.”

Dia tak kunjung menghapus senyum lebarnya saat aku juga tak kunjung menerima apa yang ia sodorkan.

“Untuk—ku?”

Tanya ku lagi dengan masih kebingungan. Dia lalu mengangguk dengan semangat, dan akhirnya aku pun memilih untuk menerima buket mawar juga kantong plastik berisi tulip kuning itu dengan kedua tanga ku, dia lalu menurunkan tangan nya saat aku berhasil menerima semua barang dari genggaman nya.

“Tuan.”

“Ne—“

Aku dengan spontan kembali menegakkan leher ku, dan tanpa disangka-sangka gadis itu tiba-tiba saja berdiri dan memajukan tubuhnya kearah ku, kelima jarinya lalu mengintruksi ku dengan sangat manis untuk mendekat, dan aku tentu saja hanya dapat mengikuti intruksinya, dengan tubuh yang ku rasa mulai berkeringat aku mendekatkan telinga ku kearah wajahnya, kenapa telinga ku? karena jika aku membiarkan wajah ku berhadapan dengan wajahnya dari jarak yang lebih dekat dari sebelumnya aku bisa-bisa mati jantungan. Ya ku rasa jantung ku akan melompat kedalam jantungnya saat mata kami bertemu dalam jarak yang sangat dekat.

“29 November adalah hari ulang tahun saya.”

Oh Tuhan! Tubuh ku langsung beku ditempat, bukan! Bukan karena suara indahnya yang berhembus sangat dekat ditelinga ku, meskipun itu adalah salah satunya, tapi kali ini karena apa yang dia ucapkan, dan dia mengatakan sesuatu yang benar-benar membuat diri ku sangat bahagia, begitu bahagia, sampai-sampai aku tak tahu bagaimana cara mengekspresikan kebahagiaan itu.

Ulang tahun nya? Dia mengatakan sesuatu yang begitu rahasia pada ku? kenapa? Apa aku sekarang telah selangkah lebih dekat?
Dia menjauhkan tubuhnya setelah itu dan kembali menatap ku.

“Itu adalah hadiah dari saya, saya memberikan nya pada anda karena anda adalah pelanggan yang mulai berlangganan ditoko ini sejak saat 29 November, terima kasih.”

“Nde—“

Aku masih tak dapat berkata-kata.

“Semoga anda suka bunga tulip, anda bisa menyimpan nya, atau memberikan nya pada siapapun, tapi jika anda menyimpan nya saya akan sangat senang, juga anda harus menyimpan nya dalam air agar tidak layu dengan cepat.”

Dan lagi, aku masih berdiri dengan bodohnya seraya mendengar satu persatu kata yang dia ucapkan, tanpa menunjukan minat apapun. Aku harus merutuki wajah tampan ku yang begitu datar sekarang. Apakah dia tidak bisa berekspresi dengan lebih baik sekarang?

“Tuan—“

“Jam berapa kau pulang?.”

“Nde?—“

29 November (Beautiful Moment)

Untuk pertama kalinya aku merasa udara disekitar ku begitu segar, terik matahari ku rasa berubah menjadi sesuatu yang membahagiakan, rumput-rumput liar yang tumbuh sedikit-sedikit dihalaman perusahaan bagai menari riang mengikuti arah mata angin, dan jangan lupakan para pegawai Senghong yang memandang ku dengan ekspresi aneh mereka.

Bagaimana tidak? Aku bahkan bersenandung kecil disepanjang perjalanan menuju ruangan ku, menggerakkan tubuh ku seolah-olah aku mendengar ritme musik yang mengasyikan, bahkan beberapa kali tersenyum saat bayangan gadis itu kembali melintasi benak ku, ku rasa aku akan gila. Ya aku akan tergila-gila dengan hanya membayangkan senyum manis nya, Oh Im Yoona! Kau benar-benar membuat ku overdosis senyum mu.

Aku menghentikan senandung juga langkah riang ku saat mulai mengingat sesuatu, dan dengan segera berbalik seraya mengangkat tangan kanan ku menunjuk semangat pada sekertaris ku. dia berada disebelah Jongwoon supir ku yang sekarang tengah memeluk sebuket mawar merah dan menggeggam sebuah kantong plastik berisi bunga tulip.

“Irene.”

“Ne Sajangnim.”

Irene terlihat sedikit terkejut saat aku memanggil namanya dengan begitu bersemangat.

“Tolong carika Vas bunga, dan isi dengan air bersih Oke?”

Irene terlihat menaikan sebelah alisnya, dan terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk.

“Ne Sajangnim.”

Dan tanpa menunggu waktu lagi wanita itu dengan segera pergi menjauh dari pandangan ku untuk memenuhi permintaan ku.

“Dan kau jongwoon.”

“Saya Tuan.”

“Tolong taruh Tulipnya diatas meja ku, dan berikan buket mawar itu pada Oemma, kau boleh pulang pagi ini, jangan membawa mobil, minta beberapa won pada Irene untuk naik taxi sampai dirumah, dan jangan jemput aku, aku ada urusan yang tidak bisa diganggu siapapun! Apa kau mengerti?”

Jongwoon masih terlihat ragu untuk beberapa saat sebelum akhirnya dia mengangguk mengerti.

“Tapi Tuan—“

Jongwoon kembali membuka suaranya saat aku baru saja mendudukan tubuh ku jeatas kursi kerja ku.

“Emm?”

Jawab ku tanpa memperhatikan nya, dan lebih memilih untuk mengeluarkan tiga tangkai tulip yang sedari tadi terkurung didalam sebuah kantong plastik.

“Bagaimana jika Nyonya bertan—“

“Ahh itu—“

Aku akhirnya mengalihkan perhatian ku pada Jongwoon yang sekarang masih berdiri tegap diujung pintu.

“Katakan aku akan pergi berkencan dia akan senang mendengarnya.”
Ucap ku santai seraya kembali memfokuskan perhatian ku pada tiga tangkai Tulip berwarna kuning cerah yang sekarang berada dalam genggaman ku.

“Ne?”

“Ya—kau boleh pergi.”

Timpal ku seadanya, tanpa berminat untuk mengobati keterkejutan Jongwoon. Karena kali ini aku hanya ingin berdua saja, aku dan Im Yoona yang masih menari dalam ingatan ku.

Dan pandangan bahagia ku pagi ini entah kenapa tiba-tiba saja tanpa sengaja melihat pada sebuah cangkir putih yang berada diujung meja, dan alhasil aku kembali tersenyum saat melihatnya. Aku lalu menyentuh cangkir itu dengan tangan kanan ku sementara tangan lain nya masih mengenggam erat tiga tangkai tulip kuning yang diberikan Yoona beberapa saat yang lalu.

“Sekarang aku tahu mengapa Ekspreso begitu dominan dengan rasa pahit, ya, karena yang manis hanyalah Im Yoona. Hanya dia.”

****

29 November (Beautiful Moment) Flashback.

“Pukul lima sore—“

Jawabnya dengan malu-malu seraya menundukan wajahnya setelah cukup lama terdiam mematung dengan wajah kebingungan.

“Aku akan menjemput mu.”

Dan seketika itu juga Yoona merasa wajahnya memanas, ia semakin menunduk malu menghindari tatapan Siwon.

“Bolehkah?”

Yoona akhirnya mengangguk dengan masih menduk dalam. Wajahnya sangat merah saat itu, namun sayang Siwon tak dapat melihatnya, tapi tak apa bukankah kebahagiaan Siwon saat ini cukup? Untuk wajah merah merona Yoona, biarlah dia melihatnya nanti-nanti.

‘Oh, jadi ini yang menyebabkan musim semi sedikit mendung dan sejuk? Karena hangat dan panas yang biasa ditularkan matahari ke bumi malah berpindah ke wajah ku’

Aahh..
Rasanya ingin sekali Yoona menjerit saat sesuatu dalam hatinya mengatakan hal itu.

November (Beautiful Moment)

“Apa kau selalu pulang dijam yang sama?”

“Tidak, terkadang Saya akan pulang cepat kalau boss Saya datang, dia baik.”

Siwon mengangguk paham seraya masih terfokus pada kemudinya, ya mereka berada dalam mobil mewah Siwon sekarang, Siwon menjemput Yoona tepat pukul lima sore, sebenarnya pria itu telah tiba didepan toko bunga tempat Yoona bekerja dari pukul setengah lima tapi baru benar-benar berangkat dengan gadis itu pada pukul lima tepat saat toko bunga itu tutup, ya Siwon menunggu setengah jam dihalaman parkir toko, entah kenapa Siwon.

Pria itu biasanya akan sangat marah jika disuruh menunggu, tapi kali ini tidak begitu, aksi menunggu nya benar-benar sangat menyenangkan, kenapa bisa? Karena ketika dia menunggu dalam mobil mewahnya, dia dapat melihat Yoona tersenyum sepanjang senja dibalik kaca besar toko. Dan Siwon rasa itu sungguh sangat menyenangkan.

“Emm, boss mu sangat baik, malah ku rasa aku yang keterlaluan.”

Siwon melirik sekejap pada Yoona sebelum kembali memfokuskan dirinya pada jalanan yang ia lalui dengan mobilnya.

“Maksud Tuan?”

Yoona menaikan sebelah alisnya dengan masih menjatuhkan pandangan sopan nya pada Siwon.

“Jangan panggil aku seperti itu, dan juga, tolong gunakan bahasa informal saja, aku sangat kaku dengan kata saya dan anda.”

Siwon kembali melirik Yoona seraya tersenyum ramah, tatapan nya sedikit lama sekarang karena memang mobilnya berhenti tepat didepan lampu lalulintas yang sekarang berwarna merah. Dan Yoona pun ikut tersenyum, tapi senyumnya kali ini memperlihatkan ketidaknyamanan nya.

“Saya rasa, saya butuh beberapa waktu untuk bisa seperti itu Tuan.”

“Ahh—“

Siwon mengangguk-nganggukkan kepalanya pelan, lalu kembali tersenyum pada Yoona.

“Oh ya, yang tadi, apa maksudnya Tuan?”

“Em—hanya—“

Yoona kembali menaikan sebelah alisnya menunggu apa yang akan Siwon katakan.

“Hanya, aku rasa aku lumayan keterlaluan dengan mengganggu waktu istirahat mu, maaf.”

“Oh—“

Yoona menunduk untuk selanjutnya terkekeh pelan, dan Siwon harus rela mengabaikan momen langka itu saat lampu lalulintas kembali berubah menjadi hijau, ia harus kembali fokus pada jalanan yang ia lalui, hanya sesekali saja ia dapat memperhatikan Yoona.

“Tidak Tuan—tidak seperti itu sungguh, saya rasa anda juga cukup baik dengan membawa saja pergi dihari ulang tahun Saya, terima kasih, saya beruntung mengenal anda Tuan—“

Yoona menggantungkan kalimatnya dan menatap Siwon dengan ekspresi penuh tanya.

“Oh—aku benar –benar lupa maaf.”

Siwon kembali melirik Yoona sekilas.

“Choi Siwon Imnida, kau bisa memanggil ku Siwon.”

Yoona akhirnya mengangguk mengerti.

“Terima kasih sekali lagi Tuan Choi.”

Siwon mengangguk kaku akhirnya, sungguh panggilan Yoona untuknya begitu membuatnya risih, namun apa boleh buat? Toh dia tidak bisa memaksa Yoona untuk bersikap santai padanya, dan juga bukankah ini perjalanan pertama bersamanya? Wajar jika dia masih merasa canggung.

Dia menghentikan mobilnya dipinggiran jalan yang mulai terlihat padat dan bercahaya.

“Apa kau suka Seafood Yoona? Atau Ramen?”

Yoona terlihat sedikit berfikir saat Siwon menanyainya, ya didepan mobil yang mereka tumpangi terdapat beberapa kedai makanan, salah satunya Seafood dan Ramen yang berada disisi kanan jalan.

“Saya suka ramen, tapi saya rasa saya ingin makan seafood sekarang.”

Siwon terkekeh pelan saat melihat ekspresi berfikir Yoona yang terlihat imut.

“Baiklah kita akan makan seafood kali ini.”

Timpal Siwon seraya melajukan mobilnya pelan untuk sampai kehalam parkir sebuah kedai Seafood yang memang sudah dekat.

“Kita sudah sampai.”

Seru Siwon seraya membuka sabuk pengaman nya, begitu pun Yoona.

“Tunggu dulu—“

Dan Yoona seketika itu juga menghentikan gerakan tangan nya yang baru saja akan membuka pintu mobil disisinya, saat Siwon berseru dengan tiba-tiba, Yoona lalu menatap bingung pada Siwon seraya mengerutkan keningnya.
Dan Yoona bertambah ningung ketika Siwon malah tersenyum dan membuka pintu mobil disisinya lalu keluar, Yoona dapat melihat Siwon yang berlari kecil mengitari mobilnya dan,

Cklek—

Yoona membulatkan matanya, ia kemudian terkekeh pelan, saat Siwon kembali menampakan dirinya dengan senyum cerahnya saat ia membuka pintu disisi Yoona.

“Bukankah kau berulang tahun hari ini? Kau jadi Nyonya sekarang.”

Yoona akhirnya mengangguk seraya masih terkekeh, lalu mulai menapakan kedua kakinya diatas tanah lalu berdiri, dan—

Wah, Siwon diam membeku ditempatnya. Ketika Yoona berdiri dengan anggun nya betapa dia sangat terpana dibuatnya.

Dress berwarna cream anggun dengan tinggi sebatas lutut itu baru Siwon sadari sangat cantik dan pas ditubuh Yoona, bahu Yoona sedikit terekspos karena memang modelnya seperti itu, dengan karet yang mengerut disekeliling tubuh bagian atas Yoona membentuk sebuah model dress indah yang semakin mempercantik dirinya, potongan lengan yang hanya sampai sikut dan dengan hiasan pita di kedua sisi lengan nya yang semakin membuat Yoona sangat menawan sore ini, rambutnya masih ia gulung keatas dengan anak rambut yang tidak dapat ditata rapih semakin menumbuhkan kesan manis dan imut padanya, dan jangan lupakan sneakrs putih yang melekat pada kedua kakinya yang membuat penampilan Yoona terlihat anggun, manis, juga santai dalam waktu yang bersamaan. Dan Siwon? Jangan tanya lagi, seperti hari biasanya, ia memakai celana bahan hitam, kemeja putih, dasi hitam dan juga sebuah jas yang masih rapih membalut tubuhnya meskipun ia menghabiskan banyak waktu dengan pekerjaan nya hari ini. Ia terlihat resmi tentu saja, hanya satu kata. Tak ada yang lain nya.

Siwon beberapa kali merutuki kebodohan nya karena baru menyadari betapa menawan Yoona sore tadi saat untuk pertama kalinya gadis itu masuk kedalam mobilnya, sungguh kegugupan nya kali ini begitu merugikan! Harusnya dia mengatakan sesuatu yang dapat membuat Yoona tersipu, seperti misalnya ‘Kau terlihat sangat manis dan cantik seperti biasa Yoona.’
Aisshh! Siwon benar-benar menyesal.

“Apa yang ingin anda pesan Tuan?—“

“Oh—“

Siwon baru sadar dari aksinya yang sedang merutuki dirinya sendiri saat Yoona akhirnya mengeluarkan suara manisnya seraya melihat-lihat pada buku menu yang saat ini terlihat begitu Yoona minati.

“Oh ya—aku hanya ingin satu teh hangat.”

“Baik Tuan.”

Jawab seorang pelayan pria yang langsung mencatat pesanan Siwon.

“Tunggu—“

Siwon menatap Yoona ramah.

“Anda tidak ingin makan?”

Siwon lalu tersenyum sebaik mungkin pada Yoona

“Aku alergi Seafood—“

“Nde?”

Siwon mengangguk menanggapi keterkejutan Yoona.

“Aku tidak bisa memakan sesuatu yang berasal dari laut, aku bahkan alergi pada beberapa ikan, aku hanya dapat memakan ikan mas yang dibudidaya paman ku dikolam nya.”

Dan perasaan tak enak langsung menghampiri Yoona.

“Lalu kenapa anda pergi kesini.”

Siwon lalu tersenyum lebar untuk menenangkan Yoona.

“Bukankah kau yang berulang tahun? Jadi aku harus menuruti perkataan mu, kau sangat ingin seafood kan? Jadi pesanlah apa yang kau mau sekarang, aku baik-baik saja tenanglah.”

Ujar Siwon dengan begitu lembut.

“Jadi sekarang bahagaimana?”

Siwon menaikan sebelah alisnya, dan kemudian terkekeh pelan.

“Sekarang hanya kau harus secepatnya memesan, lihatlah dia sudah lama menunggu, kakinya mungkin kesemutan sekarang.”

Jawab Siwon seraya menepuk pelan lengan pria muda yang kemudian tersenyum canggung kearah mereka.
“Ahh—maafkan saya, baiklah—aku ingin ini satu, dan juga ini—“

Yoona lalu dengan cepat menunjuk sesuatu dalam buku menunya dan memperlihatkannya pada sang pelayan yang langsung mencatat pesanan nya, Yoona memesan satu porsi gurita yang dimasak dengan campuran kecap manis, saus teriyaki yang lumayan pedas, dan sedikit jeruk purut untuk menambah keasaman nya,

download

Sementara untuk minuman ia memilih jus Alpukat.

“Harusnya kita pergi ke kedai Ramen saja tadi.”

Yoona terlihat kembali menampakan ekspresi khawatirnya sekarang, dan Siwon dengan otomatis kembali melengkungkan kedua sudut dibibirnya ketika melihat ekspresinya itu, sungguh sangat manis.

“Itu akan lebih parah.”

Dan untuk yang kesekian kalinya Yoona melemparkan pandangan bingungnya pada Siwon. Dan pria itu lagi-lagi malah tersenyum.

“Lambung ku agak terganggu akhir-akhir ini, aku menghindari ramen, buah-buahan, kopi terkadang, juga santan.”

Dan Yoona benar-benar dibuat terpana dengan apa yang baru saja Siwon katakan. Wah pria yang begitu hebat.

“Apa anda juga menghindari rokok?”

Tanya Yoona kemudian.

“Apa aku terlihat seperti seorang perokok?”

Yoona lalu menggeleng cepat, lalu tersenyum malu.

“Tidak saya rasa.”
Jawab Yoona kemudian.

“Benarkah? Padahal aku kadang merokok dua minggu sekali atau sebulan sekali ketika merasa stress dengan pekerjaan.”

Dan Yoona terdiam seketika itu juga.

“Apa anda juga tipe orang yang penuh humor?”

Tanya Yoona kemudian dengan raut wajah pura-pura kesal.

“Apa kau kesal?”

Tanya Siwon menimpali dengan memasang raut wajah menyebalkan. Dan akhirnya Yoona tak dapat menahan lebih lama ekspresi kesal diwajahnya, dia akhirnya terkekeh pelan ketika melihat wajah Siwon saat ini.

“Ku rasa begitu.”

Jawab Yoona dengan masih terlihat geli.

“Oh—“

Mereka kemudian menghentikan percakapan untuk beberapa saat karena kedatangan seorang pelayan yang kini telah meletakkan pesanan Yoona juga teh milik Siwon keatas meja mereka.

“Terima kasih.”

Ucap Siwon pada sang pelayan sebelum dia pergi meninggalkan meja mereka, berbeda dengan Yoona yang hanya mengangguk dan tersenyum manis pada pelayan itu.

“Wah sepertinya enak.”

Seru Yoona riang seraya mengarahkan sumpitnya pada salah satu potongan gurita yang tersedia dihadapan nya.

“Apa ini pertama kalinya kau kesini.”

Yoona lalu mengangguk ringan seraya melahap potongan gurita tadi.

“Saya sering pergi ke restoran seafood, tapi saya tak pernah kesini.”
Jawab Yoona seraya tersenyum pada Siwon yang kini tengan memperhatikan nya.

“Apa kau sangat suka seafood.”

Yoona lalu mengangguk lagi sembari kembali mengambil potongan gurita dengan sumpitnya.

“Saya suka seafood, sayuran, dan semua jenis buah, saya rasa tak ada makanan yang tidak saya sukai.”

Siwon terkekeh pelan, sungguh gadis yang begitu menggemaskan pikirnya. Pria itu kemudian mulai menyeruput teh nya, dan kemudian memperhatikan Yoona yang tengah semangat melahap menu yang ia pesan, Siwon memilih diam dan hanya memperhatikan nya sampai selesai.

“Oh ya, apa anda juga tidak minum alkohol.”

Dan Yoona akhirnya bersuara kembali saat makanan nya tinggal sedikit lagi.

“Tidak banyak.”

Jawab Siwon seraya menggeleng tegas.

“Kau?” timpal Siwon lagi seraya menaikan sebelah alisnya penuh tanya pada Yoona.

“Saya minum alkohol saat masuk Universitas, dan saya langsung mabuk dengan dua gelas kecil. Setelah itu saya tak pernah ingin melihat wujudnya (Alkohol)”

Tutur Yoona seraya menampakkan wajah ngerinya.

“Kau punya pengalaman sangat buruk bersama alkohol.”

Yoona mengangguk semangat seraya mengelap bibirnya dengan tissue.

“Sangat buruk, saya mempermalukan diri saya saat itu, oh andai disana tak ada Sooyoung, saya pasti akan berakhir dengan sangat menyedihkan.”

Siwon kembali terkekeh pelan ketika mendengar Yoona yang begitu lancar mencurahkan cerita mengerikan nya itu.

“Apa wajah mu memerah saat mabuk?”

“Bahkan saya rasa wajah saya sangat panas.”

Siwon lalu mengangguk-ngangguk pelan.

“Jadi dihari ulang tahun mu ini, aku tak bisa meneraktir mu minum?”

Suara Siwon lagi, kini dibuat seolah-olah dia menyesal.

“Apa anda berniat minum juga tadi?”

Siwon lalu mengangguk lagi.

“Emmm, bagaimana kalau es cream saja? Jangan minum bersama malam ini, kita makan es cream saja sebelum pulang. Bagaimana?”

“Setuju!”

***

29 November (Beautiful Moment)

“Ku rasa memang benar.”

Siwon akhirnya bersuara setelah sekian lama diam dengan khidmat menikmati es cream nya, berjalan berdampingan dipinggiran jalan sungai han.

sungai-han-gang

Ya setelah menyelesaikan acara makan Seafood, mereka kemudian memutuskan untuk pergi menikmati es cream diarea sekitar sungai han yang akan terlihat sangat indah jika menjelang malam.

“Maksud anda.”

Siwon tersenyum mendengar jawaban Yoona, ia kembali melahap es cream nya tanpa mengalihkan sedikitpun perhatian nya pada gadis yang kini menatap bingung padanya.

“Ya, jika kau bisa memakan apapun jenis makanan nya, aku rasa itu memang benar.”
Yoona mendecih, sebelum akhirnya tersenyum geli.

“Harusnya anda percaya sejak tadi Tuan.”

“Ya, aku akan melakukan itu nanti.”

Dan yoona menghentikan gerak kedua kakinya seketika itu juga, Siwon yang menyadarinya pun langsung ikut memberhentikan langkahnya yang lebih dua langkah didepan Yoona, dia lalu membalikan tubuhnya dengan es cream cokelat yang masih berada digenggaman nya.

“Tuan, saya pikir kita hanya akan bertemu sekali ini saja, hanya hari ini.”

Ucap Yoona kemudian dengan raut wajah teduhnya, Siwon yang berada dua langkah didepan nya pun hanya dapat menatap Yoona dalam diam.

“Ya, saya pikir saya—“

“Apa kau sedang berkencan dengan seseorang?”

“Ne?—“

Dan tentu ucapan Siwon baru saja mampu membuat Yoona menatap pria itu dengan kedua mata yang melebar, bingung, gugup, dan juga entah apa itu. Berbeda dengan Siwon yang mulai menjatuhkan pandangan serius pada Yoona.

“Tuan—“

“Cukup jawab saja iya atau tidak, Yoona, apa kau sedang berada dalam sebuah hubungan spesial bersama seorang pria saat ini?”

Yoona panik tentu saja, Bagaimana mungkin tidak! Sekarang, detik ini, seorang pria yang baru ia tahu namanya beberapa jam sebelumnya menanyakan pertanyaan seolah-olah dia telah sering bertemu dengan dirinya, Gadis itu bahkan tak memperdulikan es cream vannila nya yang kini mulai mencair mengotori tangan kanan nya.

“Maaf Tuan—“

“Iya atau tidak. Aku hanya butuh jawaban itu.”

Potong Siwon lagi dengan suara lembutnya, dan kini Yoona benar-benar diam tak melemparkan sepatah kata pun untuk menjawab pertanyaan Siwon, dan entah kenapa jantungnya berdebar kencang tidak seperti biasanya sekarang, apa gadis itu gugup?

“Aku menyukai mu, tidak, aku yakin aku mencintai mu Yoona. Aku tertarik pada mu saat pertama kali aku bertemu dengan mu satu tahun lalu tepat dihari yang kau bilang sebagai hari ulang tahun mu, entah bagaimana pun ceritanya berjalan sampai hari ini, rasa ku masih bertahan dan berkembang Yoona, aku tidak pernah setertarik ini pada seorang wanita sebelum nya, tapi diri mu, kau, Im Yoona, sungguh mampu membuat ku terpesona. Aku mencintai mu, karena ku rasa sebuah rasa suka terlalu sederhana untuk menggambarkan perasaan ku pada mu sekarang.”

Tutur Siwon panjang lebar dengan tatapan penuh ketulusan.

“Tidak tuan, tak ada seseorang yang anda maksud dalam hidup saya sekarang.”

Dan setelah cukup lama memendam, akhirnya Yoona melontarkan jawaban sopan nya, yang kemudian membuat Siwon menatap Yoona dengan binar kebahagiaan dikedua bola matanya.

“Hanya—“

Deg—

Dan binar bahagia itu ternyata tak bertahan lama, Karena sekarang Siwon kembali merasakan kekhawatiran melanda dirinya saat Yoona kembali berucap suara pelan.

“Saya rasa anda bisa mengerti Tuan, akan saya jelaskan, saya adalah seorang anak yang tumbuh disebuah panti asuhan. Tidak ada seorang pun selain saudara-saudara yang bernasib sama dengan saya, saya tak mempunyai seorang Ayah atau Ibu, hanya seorang Ibu panti yang juga Ibu dari semua saudara panti saya. Saya tak pernah pergi ke salon untuk merawat diri, saya hanya mandi dan memakai shampoo yang kadang juga dipakai saudara saya yang lain, saya juga tak punya mobil semewah anda, saya terbiasa naik buss dan berjalan. Saya harap anda tahu apa maksud dari ucapan saya tanpa ada sedikitpun perasaan kasihan untuk saya.”

“Aku mencintai mu Im Yoona.”

Yoona akhirnya menunduk dalam, dan saat itu juga setetes air mata jatuh membasahi pipinya, dan entah kenapa dia merasa sangat tersiksa sekarang, melihat ketulusan itu dalam mata seorang Choi Siwon entah kenapa menyiksa ulu hatinya.

“Tuan, saya bahkan bersumpah pada anda, untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya duduk diatas kursi mobil mewah, tidak kah anda pikir saya begitu kamp—pph”

Dan sungguh, seperti sebuah mimpi indah, seperti bermain dalam sebuah drama penuh romansa dan emosi, seperti seorang wanita yang begitu dicintai, Yoona terkejut dan terharu dalam waktu yang bersamaan, saat dengan pastinya langkah Siwon mendekatinya terlihat pelan namun cepat, merengkuh pinggang Yoona dengan tangan kirinya, lalu menyatukan bibirnya dengan bibir berwarna pink milik gadis Im itu, mata Siwon terpejam bak seorang pangeran dalam negeri dongeng, daun-daun bahkan berjatuhan dengan irama indah yang dibawa angin. Dan hati Yoona menghangat, ada suatu kebahagiaan yang membuncah dalam dirinya, entah karena apa itu. Sungguh aneh, ia merasa bahagia dalam dekapan juga ciuman menenangkan yang disalurkan Siwon.

“Aku mencintai mu.”

Dan malam itu berakhir dengan sebuah kebahagiaan, kisah nya berakhir dengan penuh haru juga senyuman. Dan Yoona tak pernah menyangka, jika dia akan mendapat ungkapan cinta yang begitu indah dan menenangkan seperti dalam sebuah drama yang selalu ia tonton dimalam hari. Ia bahkan tidak berani membayangkan jika seorang pria mengagumkan menyatakan perasaan nya dihari spesial dengan cara yang sepesial juga untuk dirinya, seperti yang dilakukan Siwon detik ini.

“Oh es cream nya mencair.”

“Diam lah, aku hanya ingin mencium dan mencintai mu! Aku akan memberikan kedai es cream untuk mu nanti.”

“Setelah mencium dan mencintai saya?”

Siwon menggeleng cepat seraya masih memeluk hangat pinggang Yoona.

“Setelah mencium mu, karena tak akan pernah ada setelah untuk cinta ku pada mu, kau harus ingat, cinta ku begitu banyak dan tak terhingga pada mu.”

Dan mereka pun kembali terhanyut dalam romansa percintaan yang baru mereka bangun dipinggir sungai Han beberapa menit yang lalu, menyalurkan segala perasaan yang memenuhi hati mereka dalam sebuah ciuman lembut yang penuh dengan rasa Vannila dan Cokelat.

“Selamat ulang tahun Yoona sayang ku.”

“Dan ayo kita menikah minggu depan.”

“NE?”

***

THE END

***

HAPPY BIRTHDAY RANNY SURYANI, SEMOGA PANJANG UMUR MU DAN SELALU BAHAGIA.
Terkhusus untuk mu yang selalu nganggap diri ku emak dan pacar(?) kebanyakan VC tiap malem jadi serasa pacar seseorang dah wkwkwk. doanya buat mu? Pokoknya semoga kamu selalu diberkahi Alloh, selalu mendapat bahagiaNya, makasih masih tetap bertahan dengerin curhatan-curhatan emak yang terkadang penuh emosi, makasih udah sabar jadi temen emak, makasih udah perhatian. Maaf sampai saat ini kita belum bisa ketemu. Hanya ini kado yang bisa emak kasih buat mu, kado berharga menurut emak, karena dari FF Yoonwon kita akhirnya bersaudara sampai sekarang, menjauhi semua kesalah pahaman yang mungkin bisa misahin kita, makasih kamu udah bisa ngerti emak. Selalu seperti rani yang emak kenal oke? Selalu jadi sahabat terbaik emak saat emak lagi gak bisa bersahabat sama dunia. Selalu
marahin emak kalau emak salah, dan saling mendoakan untuk kebaikan masing-masing. Dan semoga di umur mu yang udah segede gini, kamu nemuin kebahagiaan yang insyaalloh bakalan buat kamu senyum setiap waktu. Janji sama emak buat jangan terluka, jangan sakit ya nak.
Sekali lagi selamat ulang tahun. Emak sayang banget sama kamu nak.

Dan teruntuk semua NITED yang sampai saat ini masih bertahan baca ff dari aku, terima kasih banyaaakkkk, udah kasih dukungan dan semangat selama ini, aku juga sayang banget sama kalian, semoga kita tetap jadi sahabat dan saudara yang selalu hangat dan saling merangkul. Terima kasih terima kasih sebanyak-banyaknya, aku sayang kaliannnnn..

Advertisements
Chapter, Mine

[FF] Mine | Chapter 6

Fanfiction By

The Little Prince




••

Cast

Im Yoona || Choi Siwon || Tiffany Hwang || Cristina Fernandez Lee || Other Cast.

••

••

••

Happy Reading ^^

••

••

••

Oh Tuhan!
Aku benar-benar mengeluh sekarang, ini benar-benar akan membuat ku gila.
Lihatlah sekarang!
Tidak dirumah,tidak dikantor, semuanya kacau! Tiffany! Apa yang sebenarnya wanita itu pikirkan? Dia akan membiarkan berita ini terus membesar dan menghancurkan ku?

Ini karna Siwon
Apakah karna Siwon
Benarkah Siwon..

Sungguh aku benar-benar muak dengan semua itu. Perkataan ini itu, berita ini itu!!
Apakah wanita itu akan benar-benar menghancurkan ku?

Citra ku menjadi buruk dikalangan mitra bisnis ku, satu persatu investor menarik kembali kerja sama yang telah dibuat, aku tak bisa lagi menghitung berapa banyak kerugian yang ku dapatkan karna berita sialan ini.

Aku memijat pelipis ku sekali lagi saat suara ponsel ku kembali berdering.

‘Oemma’

Memejamkan mataku perlahan, menghembuskan nafas berat, lalu mengambil ponsel yang masih berdering nyaring diatas meja ku.

“Oemma”

Panggil ku pelan.

“Siwon-ah, bagaimana disana?”

Suara Oemma khawatir disebrang telfon.

“Lebih buruk Oemma, reporter lebih banyak berdiri didepan kantor.”

Oemma menghembuskan nafasnya disebrang.

“Oemma khawatir pada Yoona Siwon.”

Aku ikut menghembuskan nafas ku.

“Aku tau ini akan sangat sulit bagi Yoona Oemma, tolong jaga dia selama aku tak ada, aku tak tau apa yang sekarang dia pikirkan.”

Ucap ku pelan, yang setelahnya dijawab setuju oleh Oemma, dan selanjutnya kami terdiam cukup lama, sebelum akhirnya.

“Tidak bisakah kau membicarkan hal ini baik-baik dengan Tiffany.”

Oh Ibu ku, aku tau ini benar-benar jadi beban seluruh keluarga ku.

“Aku bahkan tidak tau dimana, dan apa yang dia lakukan sekarang, ponselnya tak aktif, pihak agensinya pun seolah-olah menyembunyikannya.”

Aku bahkan mulai menjambak rambut ku kesal. Sunggu bungkamnya Tiffany benar-benar membuat semuanya semakin kacau.

“Siwon..”

Suara ibu ku lagi.

“Emm–”
Jawab ku singkat. Seraya kembali memijat pelipisku

“Pulanglah, kau perlu lebih banyak istirahat, dan istri mu pasti sangat tertekan dengan berita ini.. Oemma akan menyuruh Appa untuk membiarkan mu cuti sementara waktu.”

Aku kembali menghela nafas.

“Ku pikir seperti itu.. aku akan segera pulang, Oemma jangan terlalu khawatir eoh.”

“Ambil jalan belakang, biarkan mobil mu parkir dijalan. Didepan gerbang masih banyak wartawan.”

“Aku akan mengingat itu.”

***

“Ku pikir menikah dengan mu akan menyenangkan. Tetapi ternyata menikah dengan seseorang yang cukup berpengaruh di korea malah membuat ku seakan gila perlahan-lahan.”

Siwon melirik pada Yoona yang kini terlihat santai duduk bersandar diatas Sofa dikamarnya, seraya membaca sebuah buku tebal yang Siwon yakini sebuah Novel ditangannya.

“Kau tidak bisa menyesali tentang menikah dengan ku sekarang.”

Yoona menggaruk telinganya yang tidak gatal.

“Yah ku pikir sekarang sudah tak ada gunanya menyesal.”

Jawab Yoona dengan masih tak menghiraukan Siwon yang sekarang telah mengganti kemejanya dengan kaus putih secara cepat.

“Aku sangat lelah.”

Gerutu Siwon seraya menjatuhkan tubuhnya keatas ranjang.

“Apa kau benar-benar tak bertanggung jawab atas apa yang menimpa Tiffany?”

“Ne?”

Dengan refleks Siwon bangun dari posisi tidurnya, dan melemparkan tatapan bingungnya pada Yoona yang masih memusatkan pandangannya pada novel tebal ditangannya.

“Apa maksud mu?”

Yoona menyerah. Ia menutup novelnya dan menyimpan buku itu keatas meja didepannya, ia balas menatap Siwon, tanpa berniat bangun dari posisinya.

“Kehamilan Tiffany, benar tidak ada kaitannya dengan mu?”

Oh..
Siwon menatap Yoona tak percaya, apakah Yoona meragukan Seorang Choi Siwon?

“Yoona kau meragukan ku? Bagaimana mungkin aku bertanggung jawab untuk itu, disaat aku bahkan sangat menghargai Tiffany selama kami berkencan. Tak terjadi apapun diantara kami selain sebuah ciuman.”

Siwon terlihat kesal Yoona mengangguk-anggukan kepalanya pelan.
“Jika benar faktanya seperti itu, kenapa kau tak coba mengatakannya pada seluruh media? Kalau kau tidak ikut bertanggung jawab atas itu, dan kau tidak tau apa-apa selain berkencan bahagia dengannya.”
Siwon menghembuskan nafas lemah, mencoba menahan kekesalannya.
“Tidak semudah itu Yoona, dunia Hiburan tidak semudah seperti yang kau pikirkan.. dunia seorang aktris berbeda dengan dunia seseorang biasa. Dalam dunia mu kau bebas mengatakan ya dan tidak. Tapi dalam dunia seorang idol jika kita mengatakan Tidak.. tidak ada yang akan menerima itu begitupun jika kau mengatakan Iya, kau hanya akan semakin dicela. Semua serba salah Yoona!”
Mereka lalu terdiam cukup lama, saling melemparkan pandangan bingung.. Lalu kemudian Yoona menghela nafas dalam
“Lalu kau hanya akan diam dan membiarkan semua ini membesar begitu saja? Setidaknya katakan dulu kebenarannya.. Setelah itu cukup lihat hasilnya ”
Siwon menatap Yoona sekejap, sebelum akhirnya mengusap wajahnya kasar dengan kedua tangan nya .

Pria itu lalu berdiri cepat, dan tanpa menatap Yoona lagi ia berjalan meninggalkan istrinya itu menuju arah pintu keluar.
“Siwon-ssi”
Namun langkahnya terhenti saat Yoona kembali memanggil namanya. Siwon diam, tak membalas maupun berbalik, ia hanya berdiri mematung didepan pintu yang masih tertutup.
“Masalah itu adil, dia datang pada semua orang tanpa membawa jalan keluar. Tapi jalan keluar akan datang pada siapapun yang telah berjuang mengundangnya datang. Apapun yang akan kau lakukan aku mendukung mu. Ku pikir kau cukup cerdas untuk menangani semua ini. Fighting.”
Ucap Yoona panjang lebar.
“Entahlah.”

Dan yang hanya Siwon balas dengan ucapan singkat yang dilanjutkan dengan kaki yang mengambil langkah menjauh.
***

Tak tau akan jadi cerita apa ini..

Tak tau bagaimana Tuhan merancang akhirnya..

Tak tau bisakah aku mengakhirinya?
Kadang aku ingin hidup seperti semut, terinjak sekali langsung mati, bersabar tak membalas.

Aku juga terkadang berpikir jika hidup menjadi angin akan lebih menyenangkan.. bertiup kesana kemari memberi udara segar untuk semua orang.

Aku bahkan cemburu pada keikhlasan daun yang jatuh karna terpaan angin, tapi tak pernah marah atas takdir nya itu. Ia jatuh keatas tanah megering tertimpa hujan lalu melebur menjadi pupuk yang malah semakin memperkuat pohonnya..
Bagaimana aku bisa seikhlas itu? Sesabar itu? Menerima semuanya..
Aku bahkan berpikir ini adalah posisi tersulit dalam hidup ku.. berusaha meninggalkan kenangan,, setelah melangkah jauh kenangan itu malah tiba-tiba saja menarik ku kembali padaya..

Disatu sisi aku ingin menghentikan ini dengan mematahkan Tiffany, tapi disisi lain, bahwa aku sangat mengenal Tiffany, ini semua rasanya tak mungkin dia lakukan.
Aku mengusap wajahku kasar..
Banyak yang bergentayangan dalam otak ku sekarang.. Kenapa Tiffany membiarkan berita ini semakin meluas. Bagaimana dengan perasaan Yoona? Bukankah aku telah berkomitmen dengannya? Dan juga entah kenapa dari banyaknya pikiran-pikiran itu nama Anna ada di barisan terdepan..
Yah, Anna, Choi Anna..

Gadis kecil itu entah kenapa selalu duduk disudut terdepan dikepala ku. 

Entah tentang apa semua ini.. Memikirkannya menjadi kebiasaan ku sekarang..

Oh ayolah sejak kapan seorang Siwon perduli pada gadis kecil? Aku bahkan terus menyadarkan diri ku..
“Butuh secangkir teh?”
Lamunan ku buyar. Saat ketika Sooyoung adik ku tiba-tiba saja duduk diatas ayunan yang juga tengah aku duduki ditaman belakang, seraya menyodorkan secangkir Teh hangat pada ku..

Aku tersenyum simpul, lalu kemudian menerima teh yang disodorkannya.
“Memikirkan jalan keluarnya?”
Tanya nya seraya masih memandangi ku.

Aku lalu mengangguk menjawabnya.
“Ketemu?”
Aku menghembuskan nafas ku, menunduk menatap pada teh digenggaman ku, lalu menggeleng pelan.
“Oh, kau berada hampir sepanjang hari disini dan tak menemukan apapun.”
Tanyanya tak percaya.
“Ada hal lain yang aku pikirkan.”
Dia menaikan alisnya.
“Apa itu?”
Aku meminum teh ku, sebelum menjawab.
“Yoona, dan Anna.”
Kening adik ku seketika itu juga berkerut lucu.
“Anna?”
Aku menatapnya, lalu tersenyum apa adanya.. Lalu kemudian mengangguk.
“Dia Seorang gadis kecil.”
Aku buru-buru mengucapkannya, saat Sooyong baru saja akan membuka lagi mulutnya?
“Gadis kecil?”
Tanyanya memastikan yang aku jawab kembali dengan sebuah anggukan.
“Rambutnya panjang dan hitam, matanya bulat, tangannya kecil, jari nya lembut, senyumnya manis, dia adalah gadis cantik.”
Sooyoung terdiam.
“Entah apa yang sedang terjadi pada ku Soo, ditengah-tengah masalah ini aku malah memikirkan hal lain.”
“Kau, bertemu seorang gadis kecil, menyukainya lalu terus memikirkannya? Dimana kau bertemu dengannya?”
Aku mengangguk lagi.
“Busan.. saat aku pergi bersama Yoona waktu itu.”
Ia menatap tak percaya pada ku.

“Apa kau serius Oppa? Kau perduli pada seorang gadis kecil?”
“Ku pikir lebih dari perduli”
“Kau..”
“Dia seorang yatim piatu entah bagaimana itu bisa menjadi kebetulan.. aku merasa butuh didekatnya saat masalah ini melingkupi ku.”
Sooyoung entah kenapa tiba-tiba tersenyum pada ku dan menyentuh tangan ku.
“Kau sudah menikah Oppa, wajar saja kau memikirkan seorang gadis kecil.”
Aku kemudian menunduk dalam.
“Kau bisa membicarakannya dengan Yoona.”
“Dia buta–”
Ucap ku pelan akhirnya. Sooyoung terlihat terkejut untuk sesaat, namun kemudian raut wajah nya berubah menjadi bingung.
“Yoona bukanlah masalah untuk keinginan ku ini, tapi Oemma dan Appa? Akan susah untuk mereka menerimanya.”
Lanjut ku putus asa.
“Tapi kau bisa berusaha dulu kan?”
Aku mendongak menatap Sooyoung yang juga tengah menatap ku penuh semangat.
“Setidaknya niat mu baik.”

****
“Oemma mohon Siwon!! Apa yang sebenarnya kau pikirkan! Bukankah kau juga Yoona bisa memiliki seorang anak? Lalu untuk mengadopsi? Anak buta? Apa kau sehat!”
Siwon memejamkan matanya mencoba meredam amarahnya dengan kata-kata Nyonya Choi.
“Oemma tidak tau, dia gadis baik, dia cantik, matanya bersinar, dia juga punya tawa yang lebar, dia– dia–”
Dia menyimpan photo ku.
Lanjut Siwon dalam hati, suaranya bergetar, entah kenapa ia begitu emosional jika ada seorang saja yang mengkritik Anna.
“Siwon—”
“Kau benar-benar menyayanginya nak?”

Tuan Choi memotong ucapan sang istri yang terlihat kembali akan mengeluarkan ocehannya.
“Sangat Appa.”
Jawab Siwon pelan , seraya menatap sang ayah sendu.
“Apa yang membuat mu begitu menyayanginya?”
Siwon tersenyum singkat, lalu kedua matanya tiba-tiba saja berkhayal, ada Anna dibayangannya.
“Dia tertawa lebar, dia cantik, suaranya lucu, dan dia tidak mengeluh akan situasi.”
Siwon menunduk sekejap, lalu kembali tersenyum.
“Oemma, Appa, matanya begitu tenang, aku tidak pernah melihat kekhawatiran disana, meskipun didalamnya gelap. Dia juga mengajarkan ku bagaimana mensyukuri hidup, dia tak melihat setitik cahayapun, tapi dia menyimpan cahaya dihatinya, sementara aku, aku bisa melihat langit seluas mungkin, tapi aku membutakan hati ku.. aku banyak belajar dari Anna, dan entah bagaimana awalnya, aku tak bisa menghilangkan wajah penuh tawanya dari bayangan ku.”
Dan Nyonya Choi terdiam, entah kenapa hatinya terasa dipukul, beribu-ribu kali ia berpikir, ini Siwonnya?
Sedang Tuan Choi terlihat tersenyum penuh arti, dan kemudian menepuk pundak Siwon pelan.
“Dia luar biasa. Ku pikir aku ingin bertemu Anna yang kau sebut-sebut cantik itu, Yeobo, kau menentang niat baik putra mu? Lihatlah dia telah dewasa, dia telah menikah, ku pikir dia tak butuh persetujuan kita untuk melakukan apapun, tapi dia tetap meminta persetujuan kita, dia menjadi menghargai kita, apa kau benar-benar tak ingin bertemu gadis kecil itu?”
Nyonya Choi tertegun, ia berpaling pada Siwon yang kini tengah menatapnya penuh harap.

Lalu kembali beralih pada sang suami yang menganggukan kepala padanya.

Dan akhirnya ia menghembuskan nafas berat.
“Berjanjilah untuk selalu menyayanginya.”
Dan akhirnya..

Siwon bersorak dalam hati, dia bahkan melompat memeluk sang ibu yang hampir saja terjungkal dari sofanya karna kelakuan anaknya itu.
“Aigoo-aigoo, kau akan punya seorang putri dan masih bersikap seperti ini?”
Suara Nyonya Choi seraya tersenyum manis dan menepuk-nepuk punggung Siwon.
“Aku menyayangi Oemma.”
Cupp..
Dan Tuan Choi langsung tergelak saat Siwon tiba-tiba saja mengecup singkat pipi istrinya, sementara Nyonya Choi sendiri hanya bisa tersenyum penuh bahagia.
“Anak ku”
***
“Kenapa kau hanya diam sepanjang perjalanan? Ayolah Yoona, kita akan pergi kekota kelahiran mu.”
Aku kembali tersadar setelah kurang lebih 2 jam hanya terdiam sepanjang perjalanan menuju busan.

Oh lihatlah pria ini. Dia bahkan terus tersenyum lebar sepanjang jalannya.

Yah dia duduk bersebelahan dengan ku, seorang supir menemani kami kali ini.
“Kau tidak senang pergi dari rumah?”
Oh Choi Siwon!

Kenapa dengannya? Apa dia tak bisa merasakan apa yang aku rasakan sekarang?

Aku bingung bodoh!

Kau mengatakan dengan ringannya kalau kau akan mengadopsi seorang anak pada ku tadi, itu membuat ku terkejut, dan yang sangat membuat ku terkejut lagi adalah anak itu adalah Anna, Choi Anna!

Oh apakah dia pikir aku akan baik-baik saja?

Setelah mendengarnya aku terkejut setengah mati, dan pusing memikirkan nya, bagaimana bisa? Tanpa sepengetahuan ku, ditengah-tengah masalah rumit, dia merencanakan semua ini?
“Kau tak akan bisa membawanya hari ini Siwon.”
Akhirnya aku menemukan suaraku, dia membalas tatapan ku.
“Apa?”
Oh Tuhan! Wajah polos itu!
“Anna! Kau tak akan bisa membawanya hari ini juga Siwon! Mengadopsi seorang anak, tak semudah seperti yang kau bayangkan! Kau harus—”
“Semua telah siap Sayang, aku telah membicarakan ini dengan anak buah ku, dia pergi ke busan sore kemarin, mengurus semua dokumen-dokumen yang diperlukan, membicarakan baik-baik dengan kepala panti, dan sesampainya di Seoul nantipun dia akan mengurus tentang perpindahan sekolah, penggantian marga, meskipun tak perlu diganti, memasukan kedalam daftar kartu keluarga dan sebagainya, kita hanya perlu menandatangani beberap dokumen, dan membawa Anna. Hanya itu..”

Wow..

Yoona benar-benar tertohok..

Benarkah ini Siwon?

Choi Siwon?

Siwon yang dingin?

Siwon yang tempramen?

Siwon yang selalu mempermasalahkan merk barang yang dia punya?

Siwon yang sombong?

Siwon yang keras kepala?
Oh Yoona benar-benar tak habis pikir.

Seorang Anna bisa menjadikan Siwon seperti ini?

Ini benar-benar gila!
Apa Siwon benar-benar mengabaikan semua masalahnya hanya karna Anna?

Hanya Tuhan dan Siwon sendiri yang tau apa yang dia pikirkan!

°°



°°



Tbc



°°


°°


Jangan Jadi readers nakal yah √

Part End di pwe jangan salahkan aku yeh kalau gx dapet pw karna gx ada id komen ^^
Anyeong^^

Chapter, Mine

[FF] Mine | Chapter 5


Mine

BY

The Little Prince

••

Cast
Im Yoona || Choi Siwon || Tiffany Hwang || Choi Sooyoung || And Other Cast.

•••
A/N :
Tolong jangan meninggalkan komentar yang mengandung perdebatan, cukup nikmati Ceritanya, dan jangan terlalu baper sama peran Tiffany Oke√√

•••

Happy Reading ~~

•• 

••

°°°°°°
Entah kenapa, tiba-tiba aku telah memakai gaun pengantin putih di tubuh ku, mengucapkan janji suci pernikahan dengan pria yang bahkan baru beberapa bulan aku kenal, berada dalam kamarnya dan menjadi istrinya.
Tidakkah ini terlalu cepat? Apakah keputusan ku salah? Bertemu dalam keadaan buruk dengannya, saling beradu argumen, dan sekarang menikah? 

Akulah yang memutuskan untuk memulai komitmen ini, dan kurasa ini terlalu cepat?

Dia Choi Siwon, bahkan aku tak tahu apakah dia telah melupakan wanita yang membuatnya hampir gila,
Oh Tuhan..

Jika saja Ayah ku masih ada sekarang, mungkin dia akan mengatakan ‘Apa-apaan kau Yoong!’
Siapa Siwon? Dia adalah pria yang menyelamatkan ku dari tempat gelap itu dengan uangnya, pria arogan yang akan menangis dimalam hari meratapi nasib buruknya, dan sangat kasar.

Dan dia menjadi suami ku sekarang? Tiba-tiba saja?
Oh, aku memejamkan mata ku kuat, saat aku mengucapkan untuk menikah dengannya, aku pikir aku punya waktu untuk mengenalnya lebih jauh sebelum pernikahan, tapi apa? Setelah kembali ke Seoul, aku hanya diberi waktu satu minggu untuk menjernihkan pikiran ku.

“Kau telah menyetujui sebuah pernikahan bukan berkencan, jadi jangan salahkan aku untuk itu.”
Dan aku membuka mata ku secepat mungkin, lalu mengalihkan perhatian ku pada pria yang kini telah merebahkan tubuh nya diatas ranjang putih disebelah kiri ku.

“Kau memikiran itu bukan?”

Dia membalikkan tubuhnya dan menatap ku.
Oh bahkan dia dapat menebaknya?

“Tidak-tidak sama sekali!”
Jawab ku cepat, namun ku pikir itu sedikit kacau, aku gelagapan.

“Iyakah? Berarti aku salah ya? Emm, oh apakah kau memikirkan bagaimana hidup mu setelah menjadi istri ku?”

Aku mendengus sebal.

“Aku tinggal hidup saja! Makan, minum, memasak seperti biasa.”

Dia tiba-tiba saja bangkit dan langsung duduk.

“Mana bisa begitu? Akan ada sedikit perubahan setelah aku bersama mu, seperti kau akan mengurus baju ku, menyiapkan sarapan untuk ku, dan kau juga bisa berbelanja dengan uang ku.”

Dia protes?

“Ya, ya, ya, terserah mu sajalah, yang penting apa yang aku pikirkan, dan apa yang kau tebak itu berbeda!”

Oh dia mendengus lucu. Oh Sikap barunyakah? Atau memang aku baru tahu ia memiliki sikap ini?

“Lalu yang kau pikirkan didepan cermin dari tadi apa? Oh aku tahu, yang ini pasti benar.”

Dia mengatakannya dengan penuh percaya diri.

“Benarkah kali ini?”
Aku menyilangkan kedua tangan ku didepan dada menantangnya.

“Kau memikirkan ciuman ku tadikan saat dialtar, oh kau terpesona karna itukan?”

“Nde?”

Aku menatap tak percaya padanya.

Cih benar-benar pria ini!

“Oh jika bukan itu, berarti tak salah lagi, kau memikirkan tentang malam ini.”

Dia mengedipkan matanya nakal pada ku, dan aku sungguh benar-benar merinding melihatnya. Suasana berubah menjadi horor seketika.

“Apakah kau merasa gugup sekarang?”

Oh, sikapnya yang mana lagi ini?

“Yakk!!”

Aku berdiri dengan cepat, dan menatapnya garang!

“Aku hanya berpikir untuk ganti baju, tidak sampai sejauh itu!”

Jawabku sekenanya.

“Benarkah? Oh padahal jika kau memikirkannya, itu wajar saja sekarang, dan lagi jika kau memang ingin mengganti baju, bukankah seharusnya didalam kamar mandi saja? Oh apa kau ingin aku menggantikannya untuk mu? Itu sangat mudah dan wajar saja, ku pikir akan menyenangkan juga.”

Aku membulatkan kedua bola mata ku tak percaya, oh apakah dia menjadi gila sekarang!

“Oh aku bisa gila!”

Pekikku kesal sembari menyeret kedua kaki ku dengan cepat menuju kamar mandi, meningalkan pria itu yang sekarang malah tengah terkikik geli memperhatikan ku,

Brrraaakkk!

Dan aku membanting kesal pintu kamar mandi.

“Sayang, pipi bersemu mu benar-benar menambah kecantikan mu, aku menunggu mu keluar oke?”

Dan aku masih dapat mendengar godaannya saat telah berada didalam kamar mandi.

“DIAM KAU!!”

Dia pasti kembali tertawa kini, Oh Tuhan! Aku butuh berendam untuk menjernihkan otak ku yang hampir meledak karna pria itu! Air hangat sangat menggoda tubuh ku kini, akan sedikit lama ku rasa.

Dan benar saja.. tanpa ku sangka ini bahkan lebih lama dari yang ku pikir, oh aku lupa membawa pakaian ganti ku! Oh pria itu benar-benar mengganggu! Sekarang bagaimana? Haruskah aku keluar dengan hanya memakai handuk? Apa jadinya jika itu terjadi didepan Siwon? Dia akan semakin menggoda ku habis-habisan.

“Sayang..”

Dan pikiran ku buyar seketika, saat pitu kamar mandi diketuk pelan dari luar, dan sebuah suara menyusul setelahnya.

“Apa kau tidur didalam?”

Oh benar-benar.

“Aku juga perlu mandi, kau tak ingin tidur dengan pria bau kan?”

Oh apakah di berpikir akan tidur satu ranjang dengan ku?

“Sayang…”

“DIAM JANGAN KATAKAN ITU LAGI!!”

Pekik ku setelah ku rasa kuping ku memanas mendengar panggilan dengan nada menjijikan darinya.

“Issshh.. keluarlah kalau begitu! Aku juga butuh mandi.”

Baiklah, aku menutup kedua bola mata ku sekejap.

“Siwon–”

Aku mulai berkata dengan sedikit lembut.

“Ya–”

“Sebenarnya—”

Aku akan meminta pertolongan darinya? Ya tentu saja apa salahnya?

“Sebenarnya apa?”

“Aku lupa membawa piyama tidur ku!”

Dan akhirnya kata itu keluar juga.

“Oh, jadi sedari tadi kau didalam itu karna melupakan piyama mu? Kenapa tak bicara dari tadi? Aku akan membawanya.”

Oh Dia baik ternyata, dan aku tersenyum puas setelahnya.

Beberapa menit berlalu sebelum akhirnya pintu kembali diketuk, dan suarnya kembali terdengar.

“Bukalah pintunya.”

Dan dengan perlahan aku mulai membuka pintu dihadapan ku, memunculkan wajah ku dan menyembunyikan tubuh ku dibelakang pintu,
Siwon terlihat menggelengka kepalanya saat ini, dan aku hanya mampu memperlihatkan senyum kaku dihadapannya.

“Pakailah.”

Dan tatapan mata ku terpaku seketika pada kemeja putih yang Siwon sodorkan pada ku.

“Kau melupakan untuk memindahkan barang-barang mu, jadi untuk malam ini pakailah dulu ini.”

Seolah dapat membaca pikiran ku, Siwon menjelaskannya dengan baik.

Oh aku merutuki kebodohan ku, dan dengan berat hati akhirnya aku menerimanya, menutup dan mengunci kembali pintunya, dan mulai mengenakan kemeja itu.

Berdiri sesat, melihat pantulan diri ku didepan cermin,
Tidak buruk, ia memiliki kemeja yang cukup besar.

Aku tersenyum puas, sebelum akhirnya membuka kembali pintunya, dan berjalan keluar dari kamar mandi itu dengan penuh percaya diri, Siwon masih berdiri didepan pintu saat aku keluar, memperhatikan ku dengan baik, lalu menggelengkan kepalanya ringan.

“Sudah selesai?”

Wajahnya terlihat bosan, dan aku tersenyum ringan padanya.

“Kau boleh masuk”

Ucap ku santai seraya kembali melanjutkan langkah ku.

“Kau punya kaki yang menggoda.”

Dan aku menghentikan kedua kaki ku seketika itu juga, dan dengan cepat membalikan tubuh ku kembali mentapnya garang.

“YAAAKKK!!!”

°°••°°

Pagi itu dimulai dengan kediaman Yoona, dia tak mengatakan apapun saat keuar dari kamarnya, saat memasak, ataupun saat ini.
Saat keluarga Siwon yang kini telah menjadi keluarganya juga sarapan bersama.
Yoona masih saja bungkam, dengan sesekali melamun.

“Malam pengantin kalian baik bukan?”

Dan akhirnya pertanyaan yang dilontarkan Choi Hana baru saja mampu membuat Yoona beralih dari pikirannya.

“Aku tidur di sofa semalam.”

Dan jawaban Siwon baru saja benar-benar membuat semua orang termasuk Yoona tertohok tak percaya menatapnya.

“Kenapa? Kenapa kalian menatap ku seperti itu? Aku jujur, semalam aku tidur di sofa.”
Ulang Siwon lagi dengan wajah polosnya, saat dirasa ibu, ayah, adik serta istrinya malah diam dan menatapnya aneh.

“Siwon-ahh—”

“Apakah ranjangnya terlalu kecil? Ah pasti karna itukan? Istri ku, sebaikya kau persiapkan ranjang yang lebih besar untuk mereka, bukankah kau juga tahu jika ranjang Siwon terlalu kecil untuk ditiduri dua orang?”

Dan Tuan Choi langsung menghela ucapan sang istri yang dia tahu pasti akan melontarkan pertanyaan-pertanyaan panjang yang tak akan ada henti-hentinya pagi ini. Choi hana juga terlihat marah.

“Tidak Bukan itu.”

Dan pupus sudah!
Tuan Choi menepuk keningnya putus asa, saat dirasa sang putra tak mendukung aksi penyelamatan dirinya.

“Bukan? Buan alasan itu? Lalu kenapa kalian—”

“Ahh, atau pasti karna–”

“Diam Soo!”

Dan Sooyoung yang baru saja akan menghentikan pertanyaan-pertanyaan mengerikan sang ibu langsung terdiam saat ternyata Nyonya Choi malah balik menghentikan ucapan nya dengan bentakkan keras.

“Siwon, Yoona, sekarang katakan pada Oemma, apa alasannya! Kalian tidur terpisah? Oh ayolah, ini konyol Siwon–”

“Yoona menjatuhkan gelasnya saat minum disisi lain ranjangnya, ranjang tempat ku tidur basah, aku tak mungkin meminta Yoona tidur di sofakan?”

Dan Sooyoung, Tuan Choi, juga Yoona menghembuskan nafas lega bersamaan saat mendengar alasan yang diberikan Siwon.

Sungguh Yoona lega, Siwon mengucapkan yang sebenarnya, meskipun ia tak mengatakan jika dia melakukan itu dengan sengaja. Yah agar Siwon tak tidur disebelahnya, bukankah itu ide yang cemerlang? Seorang guru memang diharuskan cerdas.

Yoona tersenyum puas memikirkan kecerdasannya.

“Nyonya, maafkan aku– aku tak sengaja.”

Tambah Yoona menyesal. Memperkuat penjelasan Siwon.

“Oemma! Biasakan itu sekarang, Arraseo!!”

Nyonya Choi menghembuskan nafasnya pelan, dan Yoona menunduk, lalu diam-diam menggigit bibirya.

“Oemma, maafkan aku.”

Ucap Yoona lagi, kini terdengar agak kaku. Dan Nyonya Choi hanya mengangguk menjawabnya.

“Apakah itu perlu diganti?”

Suara Tuan Choi kembali terdengar saat Siwon kembali menyuapkan rotinya.

“Tentu saja! Mana bisa dibiarkan”

Suara Nyonya Choi menimpali.

“Appa, jika tidak diganti aku akan menjadi menyedihkan lagi malam ini.”

Ucap Siwon dengan memasang wajah sok imutnya. Dan benar-benar Yoona rasanya ingin sekali memukul keras kepala pria itu, beraninya dia!
Oh kenapa dia menjadi suaminya.

“Baiklah-baiklah, Paman Koki akan menggantinya nanti.”

Oh Yoona menghembuskan nafasnya pelan.
Apa yang harus dia jatuhkan selanjutnya kalau begitu?

“Oppa hari ini kau mengambil cuti?”

Dan suara Sooyoung memecahkan keheningan yang baru saja tercipta, Siwon mengalihkan pandangannya pada sang adik, sebelum akhirnya mengangguk.

“Appa membuat ku libur selama satu minggu.”

Jawab Siwon setenang mungkin, dengan masih menyuapkan makanan nya.

“Lalu rencana mu? Paris, singapura? Jeju? Bali atau–”

Tanya Sooyoung lagi, seraya menatap antusias pada Siwon.

“Hanya Tidur.”

“Mwo??”

Siwon menaikan sebelah alisnya.

“Harusnya kau berlibur Oppa, kau harus membawa Yoona jalan-jalan.”

“Kau jangan ikut campur tentang masalah bulan madu ku.”

Jawab Siwon tak suka, yang malah langsung mendapat perhatian dari Yoona.

“Bulan madu? Kau tak mengatakan tentang itu.”

Protes Yoona tak suka.

“Menantu, Siwon penuh dengan kejutan, kau harus siap dengan itu.”

Timpal Tuan Choi yang merasa geli sendiri melihat kepolosan menantunya itu, dan Yoona terlihat tertunduk malu setelahnya.

“Dengar, aku penuh kejutan.”

Dan Yoona menjauhkan sedikit wajahnya, saat Siwon tanpa bisa ditebak membisikkan kata itu tepat ditelinganya.

Gadis itu menatap garang pada Siwon, kedua bola matanya menatap tajam Siwon, seakan mengisyaratkan ‘Aku akan membunuh mu.’

“Aigoo.. Aigoo.. Suami ku lihatlah mereka terlihat sangat menggemaskan.”

Tuan Choi hanya mampu tersenyum menanggapi ucapan sang istri, sementara Sooyoung terlihat memutar kedua bola matanya malas, saat dirasa sang ibu mulai berlebihan menanggapi kelakuan Siwon.

Dan Yoona?
Tidakkah mereka memikirkan jika gadis itu masih perlu waktu untuk bisa terbiasa dengan semua ini.

Mereka bahkan tak perduli itu.

*****

“Aku tak mau! Aku benar-benar malas.”

Yoona menjatuhkan tubuhnya keatas ranjang dan mulai memejamkan matanya.

“Oh, kau hanya ingin tetap tinggal dirumah sepanjang hari?”

Siwon mendudukkan tubuhnya diatas ranjang yang sama dengan Yoona, disampingnya.

“Yah, kau bisa pergi kemanapun kau mau. Entah itu berbelanja, atau apapun, aku hanya ingin tinggal di rumah dan beristirahat.”

“Oh ayolah Yoona, aku juga ingin seperti itu, menghabiskan masa cuti ku dengan berjalan-jalan sendiri, dan menikmati udara segar. Tapi sekarang tanpa diri mu Oemma tak akan membiarkan ku lepas keluar begitu saja.”

Yoona mendengus sebal, ia lantas membuka kedua matanya, dan bangun dari posisi terlentangnya, menatap Siwon sebal.

“Kau membuat Tubuh ku pegal saat acara pernikahan, dan sekarang? Kau ingin aku menemani mu berjalan-jalan?”

“Apa? Apa-apaan, aku membuat mu letih di hari pernikahan? Bukankah kau menyiram tempat tidur ku? Mana mungkin aku bisa membuat mu letih saat aku bahkan tidak sama sekali menyentuh mu.”

Oh apa yang dikatakan pria ini? Apa hanya ada pikiran kotor di kepalanya? Ayolah Yoona hanya ingin beristirahat hari ini.

“Siwon-ssi bukan itu yang aku maksud. Tapi tentang berdiri menyalami tamu mu, yang mungkin datang beribu-ribu, oh aku bahkan masih merasakan kaku ditanga ku.”

“Itu sudah berlalu, jangan ingat itu lagi sebagai masa sulit mu! Sekarang aku hanya ingin kau menemani ku pergi keluar memotret beberapa objek, kita juga bisa makan, oh kau juga butuh beberapa baju, istri seorang CEO setampan aku harus memakai dress cantik.”

Yoona memutar bola matanya malas.

“Siwon—”

“Kau menolak!”

Dan Yoona terlonjak kaget seketika, bagimana tidak? Siwon pria itu tiba-tiba saja mendekatkan wajahnya pada Yoona dengan tanpa aba-aba.
Yoona mengerjap-ngerjapkan matanya polos, sementara Siwon, pria itu mulai melemparkan tatapan tajamnya pada sag istri.

“Jika kau mengajukan penolakan sekali lagi! Kau benar-benar tak akan kemana-mana, aku akan menemani mu disini.”

Siwon semakin mendekatkan wajahnya, dan Yoona semakin memundurkan tubuhnya.

“Aku akan mengunci pintunya, menutup tirainya, dan kau tahu apa yang harus ku lakukan, selanjutnya—”

Yoona dengan refleks dan cepat langsung membekap mulut Siwon, menghentikan ucapan pria itu.

“Aku akan pergi dengan mu, kita akan makan dan berbelanja oke? Aku akan bersiap dan menjadi sangaatt catik, layaknya seorang istri dari CEO, jadi jangan tutup tirai atau kunci pintunya, juga kita tak akan disini sepanjang hari, aku akan bersiap dulu.”

Siwon bersorak dalam hati. Bukankah istrinya itu mudah sekali terintimidasi.

Yoona dengan cepat berdiri, dan berjalan kaku menuju kamar mandi, dan Siwon meledakan tawanya seketika itu juga.

“Hahaha, apakah dia berpikir jika aku ingin menidurinya? Oh gadis polos_”

Siwon kembali tertawa geli.

“YEOBO, AKU AKAN MEMBERIKAN MU HADIAH JIKA KAU TAMPIL CANTIK”

Teriak Siwon mencoba menggoda istrinya, dan kemudian kembali tertawa geli.
****

“Ini terlalu berlebihan ditubuh ku.”

Siwon menggeleng tak setuju.

“Ini bahkan kurang mewah untuk seorang istri dari CEO, bukankah begitu?”

Yoona medengus sebal, sementara seorang pelayan wanita yang berdiri disamping Siwon mengangguk setuju.

Yah Siwon membawa Yoona kesebuah pusat perbelanjaan besar di korea, Hyundai departement store, tidak harus dijelaskan bukan jika mall besar ini adalah salah satu aset yang dimiliki Hyundai Croup.
Semua pelayan bahkan terus membungkuk hormat saat Siwon dan Yoona berjalan dihadapan mereka.

“Istri seorang CEO tidak perlu seberlebihan itu.”

Gerutu Yoona kesal yang masih dapat didengar oleh Siwon.

“Tetap saja kau harus terlihat sempurna. Kau tau suami mu ini selalu memakai pakaian dengan merk terkenal, mana mungkin istrinya memakai pakaian biasa-biasa saja, Oh apakah kau sudah melihat seisi lemari ku? Bahkan pakaian dalam ku pun bermerk.”

Tutur Siwon dengan penuh percaya diri, yang membuat Yoona tertohok tak percaya, dan pelayan yang sedari tadi mengikuti mereka tertunduk menahan senyumnya.

Dasar tak tahu malu! Pria mana yang bahkan membicarakan pakaian dalam didepan orang asing. Pikir Yoona dalam hati.

“Sekarang kau coba yang ini, kita akan membawa banyak pakaian untuk mu.”

Dan Yoona kemudian berbalik dengan malas sesaat setelah menerima salah satu dress merah yang Siwon sodorkan.

“Oh apakah sepanjang hari ku akan ku habiskan dengan mencoba semua pakaian yang ada disini? Ayolah aku sangat lelah.”
Gerutu Yoona didalam ruang ganti, seraya kembali melepas dan mengganti pakaiannya.

“Nah sekarang sudah.”

Yoona berucap saat membuka pintu ruang gantinya, dan ketika dia mendongak.
Yoona langsung diam seketika.

Tak ada Siwon disini, yang berdiri dihadapannya bukanlah Siwon, melainkan pelayan wanita yang menundukkan kepala padanya terlihat takut, dan seorang wanita berparas cantik yang menatap tajam padanya.
Wanita yang pernah Yoona temui disebuah acara pernikahan bersama Siwon.

Tiffany, Hwang Min Young.

“Oh ternyata dia tamu kehormatan yang kau maksud sehingga melarang ku memasuki area ini?”

Suara Tiffany kejam, seraya masih menatap tajam Yoona, memperhatikan setiap sudut dari tubuhnya, dari kaki hingga ujung kepala, dan Yoona tak suka itu.

Ia merutuki suaminya dalam hati, tega-teganya dia meninggalkan Yoona bersama mantan kekasihnya.

“Kemana suami ku?”

Yoona mengabaikan Tiffany dan mengalihkan perhatiannya pada pelayan wanita yang masih saja menunduk dalam.
“Tuan, tadi ia berkata ingin berkeliling sebentar, dia akan kembali dengan beberapa pakaian.”

Oh Yoona tak habis pikir, bisa-bisanya dia!

“Kearah mana dia pergi.”

Yoona kembali bertanya seraya menahan kekesalannya.

“Tuan–”

“Kenapa? Kau menghindari ku?”

Yoona kembali mengalihkan perhatiannya pada Tiffany yang menatapnya dengan tatapan yang merendahkan.

“Oh apakah aku mantan kekasih yang tak terlupakan? Jadi kau mungkin agak terganggu dengan itu.”

Yoona mendengus sebal, bukankah seorang aktris memiliki kata-kata yang sopan didepan media?

“Tidakkah kau berpikir jika Siwon ku telah melupakan mu.”

Dan Yoona mulai geram mendengar kata-kata wanita itu tanpa membalasnya.

“Dia bahkan menangis dihadapan ku saat aku mencoba memutuskannya.”

Oh Yoona menyunggingkan senyum tajamnya, suaminya sungguh mematahkan egonya yang coba ia bangun dihadapan matan kekasih tersayangnya.

“Yah kau menolaknya, dan dia menangis, aku jelas tau itu, dan kau menangis ingin kembali padaya saat tau kau dikhianati, aku juga tau itu, bahkan kau meminta itu dihadapan ku.”

Dan air muka Tiffany berubah seketika itu juga, Yoona benar-benar membungkus keangkuhannya.

“Kau tahu Tiffany-ssi, saat kita ingin membuang sesuatu, harusnya kita berpikir lebih dulu, apakah sesuatu itu menganggap kita berharga baginya atau tidak, kadang sakit hati pencinta lebih mengerikan dari rasa cinta nya sendiri.. Jika kau bisa begitu saja membuang sesuatu, maka kau juga harus siap terbuang oleh dua hal, yang kau perjuangkan, dan yang memperjuangkan mu.. dan harusnya kau sudah sadar akan itu sekarang”

Ucap Yoona tenang yang membuat Tiffany semakin geram.

“Apa itu cukup?”
Lanjut Yoona tegas. Dan Tiffay semakin menatap Yoona tajam.

“Kurasa itu cukup, aku permisi Tiffany-ssi.”

Dan Tiffany mengepalkan kedua tangannya kuat saat Yoona mulai berjalan menjauh darinya.

“Dia masih mencintai ku! Kau tak akan pernah bisa mengelak itu!”

Dan Yoona menghentikan langkahnya seketika itu juga, kembali tersenyum kecil dan kemudian berbalik kembali memperhatikan pada Tiffany yang juga sudah berbalik menghadapnya. Kedua matanya terlihat berkaca, Yoona kembali menyunggingkan senyum tajamnya, kenapa ia masih bersikeras?

“Aku Istrinya! Itu sah! Dan kau tak akan pernah bisa merubah itu!”

Suara Yoona kembali menimpali ucapan Tiffay, yang kini terlihat dua kali lipat lebih marah.

“Seberapa keraspun Siwon merubah mu, kau masih akan terlihat buruk jika berbanding dengan ku! Seberapa baguspun pakaian-pakaian yang ia pilihkan untuk mu! Kau tak akan pernah bisa secantik diriku! Kau tak akan pernah bisa menyamai ku! Gadis yang Siwon cintai, kau tak akan pernah bisa seperti dia!”

Oh Yoona menghembusan nafasnya kasar. Mengapa dia begitu percaya diri.

“Tiffany-ssi, kau sangat benar jika kita sangat berbeda. Jauh berbeda kau adalah Tiffany dan aku Yoona.. dan yang harus kau tahu, aku tak pernah ingin sama seperti diri mu. Aku tak pernah ingin menjadi secantik diri mu, dan bagaimana mungkin kau berpikir aku ingin menyamai mu? Menjadi wanita yang memaksa suami orang lain untuk mencintainya bukanlah keahlian ku. Aku tidak tertarik akan hal itu.”

Yoona terdiam sejenak sebelum akhirnya kembali melanjutkan ucapannya.

“Dengar ini baik-baik Nona Hwang.. aku tak ingin seperti diri mu, garis bawahi itu! Dan Siwon. Kenyataannya sekarang dia milik ku! Kutipi itu. Itu cukup?”

Dan Tiffany benar-benar tertohok dengan apa yang baru saja Yoona ucapkan.

“Siwon mungkin mencintai mu, tapi faktanya dia menikahi ku, kau mungkin mantan kekasih yang dia cintai, tapi aku istrinya yang coba dia cintai, jadi bersiaplah menjadi yang terbuang.”

Yoona tersenyum puas saat melihat Tiffany yang sekarang bahkan tak bisa mengeluarkan suaranya lagi.
Oh jika dia aktris, Yoona adalah guru.

****

Siwon berdiri canggung menatap pada Yoona yang kini terlihat merapihkan ranjang sebelum ia berbaring tidur.

Dengan ragu ia pun akhirnya berjalan pelan kembali ketempat dimana malam kemarin ia tidur, sofa.
Ya, sejak kejadian tadi siang saat dia bertemu Tiffany, suasana hatinya Siwon rasa telah berubah. Entah memang benar atau salah, Yoona terlihat lebih banyak diam.

Ini memang murni kesalahan Siwon, kenapa bisa ia meninggalkan Yoona sediri dengan berakhir bertemu Tiffany. Harusnya juga ia berpikir panjang untuk membiarkan Yoona sendiri, mereka masih berada dikota yang sama, kemungkinan bertemu sangat besar, Siwon benar-benar menyesali itu, niat ingin mencoba saling membuka hati, dan melupakan Tiffany, ia malah mengacaukan itu. Oh Tuhan! Kapan saatnya Tiffany benar-benar hilang dari pikiran juga hatinya.

“Emm kau– apakah Tiffany mengatakan sesuatu yang membuat mu tersinggung?”

Dan akhirnya Siwon mengeluarkan suaranya yang terpendam, yang membuat Yoona terusik.

“Tidak. Lupakanlah itu.”

Dan Siwon langsung bungkam seketika mendengar jawaban dingin Yoona. Pria itu memilih untuk secepat mungkin berbaring dan memejamkan matanya.

“Kau, kau bilang ingin ada yang kau tanyakan saat di mobil tadi? Apa itu?”

Dan Siwon kembali membuka mataya yang tertutup rapat, ketika dirasa ia kembali mendengar suara Yoona.

“Emm,, apa tidak akan membuat mu tidur larut?”

Tanya Siwon tak enak.

“Katakanlah.”

Dan Siwon pun akhirnya melengkungkan senyum senangnya. Ia dengan semangat berbalik menyamping mencoba berhadapan dengan Yoona, dan membantali kepanya dengan kedua tagannya, tingkah imut yang memuakkan menurut Yoona.

“Anna.. aku terus memikirkannya entah kenapa.”

Kata Siwon dengan penuh kelembutan, raut wajahnya berubah menjadi serius, dan pertanyaannya tentu membuat Yoona terkejut.

“Choi Anna?”

Siwon mengangguk lemah.

“Saat setelah kembali ke seoul entah kenapa aku memikirkannya, wajahnya terus saja terbayang dikepala ku, cara dia berbicara, tersenyum.. aku memikirkannya setiap hari.”

Jelas Siwon pelan.

“Tentang Anna, kau tertarik? Ingin bertanya sesuatu lagi tentangnya?”

Bola mata Siwon menatap pada Yoona, gadis itu mencoba mengerti dirinya?

“Banyak hal.”
Jawab Siwon akhirnya seraya masih menatap Yoona lekat.

“Tanyakanlah.”

Suara Yoona menimpali.

“Dimana dia tinggal?”

Tanya Siwon memulai.

“Busan tentu saja. Tapi lebih tepat dia tinggal di panti asuhan yang kita kunjungi waktu itu.”

Raut Wajah Siwon berubah terkejut.

“Dia Yatim Piatu?”

Yoona mengangguk pelan.

“Seorang gadis usia 4 tahun, duduk diatas Ayunan ditaman bermain panti asuhan waktu itu. Dia duduk dengan menggenggam selembar kertas lusuh. Kami hanya memperhatikannya waktu itu. Kami pikir seseorang bersamanya, sebabnya kami tidak menghampirinya. Saat anak-anak mulai kembali kedalam panti, gadis itu masih diam tanpa melakukan apapun, atau bergerak sedikitpun. Tapi saat malam tiba, hujan mulai turun dengan petir, dia akhirnya bersuara dan mulai menangis. Dia menjerit ketakutan. aku dan ayah ku yang waktu itu menjemput ku untuk pulang akhirnya menghampiri anak itu. Dia terus mengatakan ‘Oemma, aku takut, tolong aku.’ Ayah ku membaca gulungan kertas yang gadis itu genggam, dan didalamnya tertulis ‘Namanya Choi Anna, tolong rawatlah dia’ dan dari sana barulah aku tahu jika dia dibuang karna buta.”

Siwon yang mendengarkan secara seksama cerita Yoona pun terlihat mulai terenyuh.

“Katakan lagi.”

Yoona tersenyum menatap Siwon. Dia semakin tertarik?

“Dia tak suka makanan pedas, dia suka pisang, teman-temannya, dan juga memotret, kamera yang selalu dia bawa adalah hadiah dari ayah ku, Anna memintanya saat Kim Oemma (Pengurus panti), berusaha keras mencari donatur yang bersedia memberikan bantuan untuk mengoperasi matanya, itu butuh biaya yang besar. Tapi gadis itu mengatakan pada ayah ku sesuatu yang membuat ayah ku tak bisa berhenti menyayanginya.”

“Apa itu?”

“Ayahnya Bu Guru Yoona.. bisakah Ayah mengatakan pada Oemma untuk berhenti saja mencari mata untuk ku? Aku tak butuh itu, itu akan menyusahkan banyak orang dan melelahkan untuk Oemma, lagi pula aku punya banyak mata sekarang. Ada mata punya Go Eun, Sam, Ayah Bu guru Yoona, Bu Guru Yoona , Oemma, dan banyak lagi. Bagaimana kalau belikan saja aku kamera? Jangan belikan mata. Ayah ku menangis saat itu dan menjawab kenapa? dan dia menjawab Aku tak bisa melihat, tapi dengan kamera aku jadi punya kenangan-kenangan tentang hal-hal yang pernah kutemui, ku coba, dan ku rasakan. Itu lebih berarti untukku.”

“Dia mengatakan semua itu?”

Yoona mengagguk.

“Dia cerdas, banyak berbicara, sumber penyemangat, lucu, juga dia takut petir. Dia suka bermain hujan, tapi tidak dengan petir.”

“Dia mengatakan ‘Smile’ saat memotret ku, apa itu kebiasaannya?”

“Dia ingin semua orang tersenyum saat bersamanya.”

“Mmmm.. oke, oke.”

Siwon mengangguk-ngangguk lucu.

“Aku sudah tau sekarang, jadi Nyonya muda, kau bisa tidur sekarang. Malam ini kau masih bisa tidur sendiri, tapi mulai besok kau harus tidur bersama ku.”

“Mwo?”

Yoona menatap tak percaya pada Siwon.

“Kau bilang ingin mencobanya pelan pelan! Jika terus begini, kita tak akan bisa saling membuka. Pertama tidur bersama dengan tenang, malam berikutnya saling berpelukan, dan akhirnya saling membuka bukan?”

“YAKKK!!!”

“HHAAAAHAHAHAHAAA…”

****

(Koran Pagi.)

Breaking News.


Gagal Menikah Artis sekaligus idol personel Girl Group TTS Tiffany Hamil. Anak Siwon?

“Astaga! Ya Tuhan”

Sooyoung berteriak keras dari luar rumah pagi-pagi buta, semua orang yang mendengarnya tentu saja panik dan buru-buru menghampirinya, Yoona dan Nyonya Choi bahkan masih menyiapkan sarapan saat itu.

Sedangkan Siwon dan Tuan Choi yang terlihat masih berada di kamar langsung berlari terburu-buru menuruni tangga.

Namun belum sampai mereka menghampiri Sooyoung, gadis itu malah terlihat telah lebih dulu berlari masuk kedalam rumah, hal itu tentu saja membuat semua orang yang melihatnya berdiri bingung.

“TV… TV.. TV!!!!!”

Teriak Sooyoung yang masih berlari menuju ruang keluarga.. Siwon berkerut bingung melihat reaksi Sooyoung pagi ini, namun ia akhirnya memilih untuk mengikuti langkahnya juga.

Dan betapa terkejutnya mereka saat layar Tv di ruang keluarga menayangkan sebuah acara gosip yang memberitakan tentang kegagalan Pernikahan Tiffany.

Saat ini belum ada klarifikasi langsung dari pihak Agensi ataupun Tiffany, tentang alasan gagalnya pernikahan sang aktris, ataupun tentang photo-photo yang memperlihatkan Tiffany yang tengah berada di sebuah rumah sakit khusus kandungan. Apakah karna dia hamil? Yang membuatnya gagal menikah? atau ada hal lain. Namun yang menjadi perbincangan hangat Netizen saat ini adalah siapa Pria yang bertanggung jawab atas hal ini jika sang aktris benar-benar hamil, dan banyak yang beranggapan jika itu adalah Choi Siwon, mantan kekasih dari Tiffany sendiri sekaligus CEO dari perusahaan Hyundai Croup.”

“MWO!!!!”

*

*

*

*

TBC~

*

*

Hiii~ kangen aku ^^
Haha, maaf baru cambek yah, aku kemaren2 sibuk banget °sok
Hehe, tapi sekali lagi buat yang baca ff ini jangan berkomentar terlalu emosi buat Tiffany yah, ini salah ku kok yang buat dia begitu. Abisnya emang jalan ceritanya gitu. Next kalian bakalan tau seberapa baik sebenernya fany. Okey segitu aja kali yah √√ semoga suka dengan ff ini.. taengkyuu yang udah lama banget nunggu nih ff, next semoga masih setia nunggu.

Anyeong. ^^

Chapter, Colaboration, Freelance, Love Friend

[Colaboration | FF | Love Friend | 2

Love Friend

Fanfiction By

Karmila & The Little Prince

love-fridn.png

**

Cast

Im Yoona // Choi Siwon // Tiffany Hwang // Lee Donghae // Jessica Jung // Other Cast.

**

Summarry

Sahabat adalah bagian lain dari cinta.

**

A/N :
Sekali lagi ini adalah ff kolaborasi yang awal ceritanya beride dari Karmila 🙂

Chapter 1

**

Happy Reading

**

**

**

Continue reading “[Colaboration | FF | Love Friend | 2”