Oneshoot

29 November | Beautiful Moment

29 November (Beautiful Moment)

The Little Prince
Present.

dan

Choi Siwon & Lim Yoona

*

*

*

Happy Reading~

Siwon

38884768_2174566802780751_8997048035112386560_n

Cantik.

Tepat Pukul 07 : 00 aku akhirnya dapat melihat gadis itu duduk kembali debelakang meja kasirnya. Dengan sebuah komputer didepan nya juga beberapa orang yang mengelilinginya, aku akhirnya kembali melihatnya dengan kemeja biru mudanya, juga kacamata bulat berwarna Silver yang selalu ku lihat bertengger dihidung mancungnya setiap kali ia berhadapan dengan komputernya.

Cantik.

Aku kembali melihat rambut indah mu digulung dengan begitu imut,

yoona-innisfree-jeju-11

lipstik merah muda kembali menghiasi bibir mu setelah hari senin lalu kau memakai warna senada, dan jangan lupakan senyum manis mu yang tak pernah ku lihat terlepas dari wajah mu, kau begitu cantik hari ini, oh tidak—kau selalu cantik setiap hari, dari senin sampai minggu, kau selalu terlihat sangat cantik dan bercahaya Im Yoona.

DV98znKX0AAPSds

Itulah nama yang tertulis dari name tag yang melekat diatas baju biru mudanya, bukankah sangat cantik? Yoona, Im Yoona.

Dan aku selalu terpesona saat kembali melihat setiap potret mu yang aku ambil secara diam-diam dengan kamera ku. aku tahu aku telah melakukan sebuah pelanggaran dengan mengambil potret mu tanpa sepengetahuan diri mu, tapi sungguh aku bersumpah, aku tak bisa menghentikan jemari ku yang akan bergerak lincah saat melihat senyum mu, kau tahu? Aku bagai tersihir setiap kali kau melengkungkan bibir yang kadang berubah-rubah warna itu.

Maka demi kembali melihat semua itu aku akhirnya berada disini, disebuah Toko bunga yang mana adalah tempat dia bekerja setiap hari, tepatnya aku akan masuk kedalam toko dan membeli beberapa bunga disetiap Kamis, Jumat, dan Sabtu, ya tiga kali dalam seminggu aku akan menyempatkan diri ku mampir ke toko bunga ini demi melihatnya disela-sela kesibukan ku menjadi seorang direktur disebuah perusahan keluarga yang bergerak dibidang perhotelan, perbelanjaan, juga bagian-bagian lain nya yang tak bisa ku sebutkan.

Tapi lihatlah aku sekarang! Aku sudah seperti si bodoh yang selalu berdiri memperhatikan nya, membeli bunga tanpa memilih, memotret, lalu pergi, oh sungguh sangat konyol. Aku adalah seorang pengusaha muda yang begitu disegani banyak orang, ya aku tahu itu, semua pegawai di Senghong akan menunduk hormat setiap kali berpapasan dengan ku, setiap kolega akan bertepuk tangan setiap kali mereka mendengar presentasi ku, aku begitu menawan diantara pengusaha-pengusaha muda lain nya, aku berprestasi dan juga inspiratif.

Oh bukankah aku begitu Sombong jika mengatakan semua itu? Tapi jangan salah paham, aku bukan ingin sombong atau sebagainya, aku hanya ingin menunjukan sebuah kekonyolan disini, dan dimana kekonyolan nya? Tentu disini, sekarang, didalam diri ku! tepatnya setahun belakangan ini, ditempat yang sama, yaitu toko ini, aku selalu terlihat konyol.

Aku masih dapat mengingat dengan jelas pertemuan pertama kami, tepat di hari Rabu tanggal 29 November 2017, aku yang saat itu tanpa sengaja melihatnya saat membeli sebuket mawar putih untuk Ibu ku malah berdiri mematung untuk waktu yang cukup lama didepan meja kasir, aku bahkan tak sadar saat suara lembutnya berkali-kali memanggil ku, ia bahkan harus menyentuh lengan ku untuk dapat membawa diri ku kembali kedalam tubuh ku dan melihat beberapa orang berdiri
bingung dan merutuki ku.

“Anda baik-baik saja?”

Dia bahkan terlihat tersenyum geli saat menanyai ku, dan aku hanya dapat menunduk malu seraya menggaruk tengkuk ku. salah satu hal konyol yang baru pertama kali ku lakukan, karena tanpa sadar aku menunduk didepan seorang gadis saat beribu-ribu gadis menunduk didepan ku, saat semua pegawai dan kolega-kolega membungkukkan tubuh mereka didepan ku.

Ku katakan sekali lagi, setelah bertahun-tahun lamanya, aku akhirnya menunduk didepan seorang gadis dengan segala kegugupan, ya aku selalu gugup saat berdiri didepan meja kasir nya, aku telah membuat banyak orang gugup hanya karena kehadiran diri ku, dan aku akhirnya merasakan gugup yang sama saat seorang gadis dimeja kasir tersenyum dan mengucapkan beberapa kata pada ku. Oh dunia kurasa sedang berputar dibawah.

Aku mengambil nafas panjang dan menghembuskan nya sebelum akhirnya mengambil langkah lebar menuju kearah meja kasir, jika aku telah berdiri disana, itu berarti aku sudah siap untuk pergi dan bekerja.

“Selamat pagi Tuan.”

Aku mengangguk kaku saat dia menyapa ku dengan senyum ramahnya.

“Mawar putih lagi? Apakah Ibu anda sangat suka dengan mawar putih?”

“Nde?”

Aku menegakkan leher ku dan menatapnya denga perasaan terkejut. Ya benar-benar terkejut! Sejak kapan ia mengatakan sesuatu kecuali sapaan, harga, dan semoga hari ku indah? Dan juga, ‘Mawar Putih Lagi?’ apa dia memperhatikan diri ku juga selama ini?

“Ne—Ne”

Aku akhirnya mengangguk mencoba menyembunyikan keterkejutan ku seraya merogoh saku jas ku dan mengeluarkan Dompet berwarna hitam legam yang sangat mengkilap.

“Setahun lalu, bukankah Anda datang kesini untuk pertama kalinya pada 29 November?”

Aku menaikan sebelah alis ku, jantung ku berdetak cukup kencang sekarang, sungguh! Dia berbicara banyak hari ini dan aku sangat senang sekaligus gugup! Demi Tuhan aku bisa pingsan ditempat jika mendengar lebih banyak alunan suaranya, aku rasa aku bisa mati overdosis dengan suaranya. Tuhan itu begitu indah!

“Ne— Anda begitu pengertian.”

Jawab ku seadanya, dan ku rasa aku salah memilih suku kata, karena ku lihat dia tersenyum dan menunduk malu seraya melipatkan anak rambut yang terlihat berantakan karena tak terbawa digulungan rambutnya yang lain ke belakang telinganya, dan Demi Tuhan dia bagai bidadari saat melakukan itu.

“Emm apakah anda suka bunga tulip?”

Aku kembali menyatukan tatapan ku dengan matanya, dan jantung ku langsung berdetak kencang detik itu juga, dia kembali bertanya saat aku telah menyelesaikan pembayaran ku, dan hal itu kembali membuat ku terkejut tiba-tiba saja. Kenapa itu? Aku juga tak tahu. Aku langsung mengalihkan perhatian ku dari mata bulat yang terlihat bercahaya itu dengan cepat saat dirasa pasokan oksigen diparu-paru ku mulai menipis, sungguh apa aku terlihat bodoh sekarang?

“Tulip—tulip—ne—ne, aku lumayan suka—“

Jawab ku yang entah kenapa menjadi gagau, sungguh sangat memalukan! Berbeda dengan kegugupan ku, gadis dibelakang meja kasir itu malah terlihat tersenyum riang dan dengan cepat memasukan tiga tangkai tulip berwarna kuning kedalam sebuah plastik bening yang lumayan besar, dan dengan begitu bersemangat menyodorkan nya kearah ku bersamaan dengan sebuket mawar putih yang tadi ku pilih.

Aku menatap bingung padanya juga pada jari lentiknya yang saat ini menggantung diudara seraya menggenggam sebuket mawar dan kantong plastik berisi tulip kuning tadi secara bergantian, dan dia malah semakin melebarkan senyumnya yang kemudian
membuat lutut ku bergetar dibalik celana bahan ku.

“Apa—ini?”

Suara ku bahkan hampir bergetar.

“Terimalah.”

Dia tak kunjung menghapus senyum lebarnya saat aku juga tak kunjung menerima apa yang ia sodorkan.

“Untuk—ku?”

Tanya ku lagi dengan masih kebingungan. Dia lalu mengangguk dengan semangat, dan akhirnya aku pun memilih untuk menerima buket mawar juga kantong plastik berisi tulip kuning itu dengan kedua tanga ku, dia lalu menurunkan tangan nya saat aku berhasil menerima semua barang dari genggaman nya.

“Tuan.”

“Ne—“

Aku dengan spontan kembali menegakkan leher ku, dan tanpa disangka-sangka gadis itu tiba-tiba saja berdiri dan memajukan tubuhnya kearah ku, kelima jarinya lalu mengintruksi ku dengan sangat manis untuk mendekat, dan aku tentu saja hanya dapat mengikuti intruksinya, dengan tubuh yang ku rasa mulai berkeringat aku mendekatkan telinga ku kearah wajahnya, kenapa telinga ku? karena jika aku membiarkan wajah ku berhadapan dengan wajahnya dari jarak yang lebih dekat dari sebelumnya aku bisa-bisa mati jantungan. Ya ku rasa jantung ku akan melompat kedalam jantungnya saat mata kami bertemu dalam jarak yang sangat dekat.

“29 November adalah hari ulang tahun saya.”

Oh Tuhan! Tubuh ku langsung beku ditempat, bukan! Bukan karena suara indahnya yang berhembus sangat dekat ditelinga ku, meskipun itu adalah salah satunya, tapi kali ini karena apa yang dia ucapkan, dan dia mengatakan sesuatu yang benar-benar membuat diri ku sangat bahagia, begitu bahagia, sampai-sampai aku tak tahu bagaimana cara mengekspresikan kebahagiaan itu.

Ulang tahun nya? Dia mengatakan sesuatu yang begitu rahasia pada ku? kenapa? Apa aku sekarang telah selangkah lebih dekat?
Dia menjauhkan tubuhnya setelah itu dan kembali menatap ku.

“Itu adalah hadiah dari saya, saya memberikan nya pada anda karena anda adalah pelanggan yang mulai berlangganan ditoko ini sejak saat 29 November, terima kasih.”

“Nde—“

Aku masih tak dapat berkata-kata.

“Semoga anda suka bunga tulip, anda bisa menyimpan nya, atau memberikan nya pada siapapun, tapi jika anda menyimpan nya saya akan sangat senang, juga anda harus menyimpan nya dalam air agar tidak layu dengan cepat.”

Dan lagi, aku masih berdiri dengan bodohnya seraya mendengar satu persatu kata yang dia ucapkan, tanpa menunjukan minat apapun. Aku harus merutuki wajah tampan ku yang begitu datar sekarang. Apakah dia tidak bisa berekspresi dengan lebih baik sekarang?

“Tuan—“

“Jam berapa kau pulang?.”

“Nde?—“

29 November (Beautiful Moment)

Untuk pertama kalinya aku merasa udara disekitar ku begitu segar, terik matahari ku rasa berubah menjadi sesuatu yang membahagiakan, rumput-rumput liar yang tumbuh sedikit-sedikit dihalaman perusahaan bagai menari riang mengikuti arah mata angin, dan jangan lupakan para pegawai Senghong yang memandang ku dengan ekspresi aneh mereka.

Bagaimana tidak? Aku bahkan bersenandung kecil disepanjang perjalanan menuju ruangan ku, menggerakkan tubuh ku seolah-olah aku mendengar ritme musik yang mengasyikan, bahkan beberapa kali tersenyum saat bayangan gadis itu kembali melintasi benak ku, ku rasa aku akan gila. Ya aku akan tergila-gila dengan hanya membayangkan senyum manis nya, Oh Im Yoona! Kau benar-benar membuat ku overdosis senyum mu.

Aku menghentikan senandung juga langkah riang ku saat mulai mengingat sesuatu, dan dengan segera berbalik seraya mengangkat tangan kanan ku menunjuk semangat pada sekertaris ku. dia berada disebelah Jongwoon supir ku yang sekarang tengah memeluk sebuket mawar merah dan menggeggam sebuah kantong plastik berisi bunga tulip.

“Irene.”

“Ne Sajangnim.”

Irene terlihat sedikit terkejut saat aku memanggil namanya dengan begitu bersemangat.

“Tolong carika Vas bunga, dan isi dengan air bersih Oke?”

Irene terlihat menaikan sebelah alisnya, dan terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk.

“Ne Sajangnim.”

Dan tanpa menunggu waktu lagi wanita itu dengan segera pergi menjauh dari pandangan ku untuk memenuhi permintaan ku.

“Dan kau jongwoon.”

“Saya Tuan.”

“Tolong taruh Tulipnya diatas meja ku, dan berikan buket mawar itu pada Oemma, kau boleh pulang pagi ini, jangan membawa mobil, minta beberapa won pada Irene untuk naik taxi sampai dirumah, dan jangan jemput aku, aku ada urusan yang tidak bisa diganggu siapapun! Apa kau mengerti?”

Jongwoon masih terlihat ragu untuk beberapa saat sebelum akhirnya dia mengangguk mengerti.

“Tapi Tuan—“

Jongwoon kembali membuka suaranya saat aku baru saja mendudukan tubuh ku jeatas kursi kerja ku.

“Emm?”

Jawab ku tanpa memperhatikan nya, dan lebih memilih untuk mengeluarkan tiga tangkai tulip yang sedari tadi terkurung didalam sebuah kantong plastik.

“Bagaimana jika Nyonya bertan—“

“Ahh itu—“

Aku akhirnya mengalihkan perhatian ku pada Jongwoon yang sekarang masih berdiri tegap diujung pintu.

“Katakan aku akan pergi berkencan dia akan senang mendengarnya.”
Ucap ku santai seraya kembali memfokuskan perhatian ku pada tiga tangkai Tulip berwarna kuning cerah yang sekarang berada dalam genggaman ku.

“Ne?”

“Ya—kau boleh pergi.”

Timpal ku seadanya, tanpa berminat untuk mengobati keterkejutan Jongwoon. Karena kali ini aku hanya ingin berdua saja, aku dan Im Yoona yang masih menari dalam ingatan ku.

Dan pandangan bahagia ku pagi ini entah kenapa tiba-tiba saja tanpa sengaja melihat pada sebuah cangkir putih yang berada diujung meja, dan alhasil aku kembali tersenyum saat melihatnya. Aku lalu menyentuh cangkir itu dengan tangan kanan ku sementara tangan lain nya masih mengenggam erat tiga tangkai tulip kuning yang diberikan Yoona beberapa saat yang lalu.

“Sekarang aku tahu mengapa Ekspreso begitu dominan dengan rasa pahit, ya, karena yang manis hanyalah Im Yoona. Hanya dia.”

****

29 November (Beautiful Moment) Flashback.

“Pukul lima sore—“

Jawabnya dengan malu-malu seraya menundukan wajahnya setelah cukup lama terdiam mematung dengan wajah kebingungan.

“Aku akan menjemput mu.”

Dan seketika itu juga Yoona merasa wajahnya memanas, ia semakin menunduk malu menghindari tatapan Siwon.

“Bolehkah?”

Yoona akhirnya mengangguk dengan masih menduk dalam. Wajahnya sangat merah saat itu, namun sayang Siwon tak dapat melihatnya, tapi tak apa bukankah kebahagiaan Siwon saat ini cukup? Untuk wajah merah merona Yoona, biarlah dia melihatnya nanti-nanti.

‘Oh, jadi ini yang menyebabkan musim semi sedikit mendung dan sejuk? Karena hangat dan panas yang biasa ditularkan matahari ke bumi malah berpindah ke wajah ku’

Aahh..
Rasanya ingin sekali Yoona menjerit saat sesuatu dalam hatinya mengatakan hal itu.

November (Beautiful Moment)

“Apa kau selalu pulang dijam yang sama?”

“Tidak, terkadang Saya akan pulang cepat kalau boss Saya datang, dia baik.”

Siwon mengangguk paham seraya masih terfokus pada kemudinya, ya mereka berada dalam mobil mewah Siwon sekarang, Siwon menjemput Yoona tepat pukul lima sore, sebenarnya pria itu telah tiba didepan toko bunga tempat Yoona bekerja dari pukul setengah lima tapi baru benar-benar berangkat dengan gadis itu pada pukul lima tepat saat toko bunga itu tutup, ya Siwon menunggu setengah jam dihalaman parkir toko, entah kenapa Siwon.

Pria itu biasanya akan sangat marah jika disuruh menunggu, tapi kali ini tidak begitu, aksi menunggu nya benar-benar sangat menyenangkan, kenapa bisa? Karena ketika dia menunggu dalam mobil mewahnya, dia dapat melihat Yoona tersenyum sepanjang senja dibalik kaca besar toko. Dan Siwon rasa itu sungguh sangat menyenangkan.

“Emm, boss mu sangat baik, malah ku rasa aku yang keterlaluan.”

Siwon melirik sekejap pada Yoona sebelum kembali memfokuskan dirinya pada jalanan yang ia lalui dengan mobilnya.

“Maksud Tuan?”

Yoona menaikan sebelah alisnya dengan masih menjatuhkan pandangan sopan nya pada Siwon.

“Jangan panggil aku seperti itu, dan juga, tolong gunakan bahasa informal saja, aku sangat kaku dengan kata saya dan anda.”

Siwon kembali melirik Yoona seraya tersenyum ramah, tatapan nya sedikit lama sekarang karena memang mobilnya berhenti tepat didepan lampu lalulintas yang sekarang berwarna merah. Dan Yoona pun ikut tersenyum, tapi senyumnya kali ini memperlihatkan ketidaknyamanan nya.

“Saya rasa, saya butuh beberapa waktu untuk bisa seperti itu Tuan.”

“Ahh—“

Siwon mengangguk-nganggukkan kepalanya pelan, lalu kembali tersenyum pada Yoona.

“Oh ya, yang tadi, apa maksudnya Tuan?”

“Em—hanya—“

Yoona kembali menaikan sebelah alisnya menunggu apa yang akan Siwon katakan.

“Hanya, aku rasa aku lumayan keterlaluan dengan mengganggu waktu istirahat mu, maaf.”

“Oh—“

Yoona menunduk untuk selanjutnya terkekeh pelan, dan Siwon harus rela mengabaikan momen langka itu saat lampu lalulintas kembali berubah menjadi hijau, ia harus kembali fokus pada jalanan yang ia lalui, hanya sesekali saja ia dapat memperhatikan Yoona.

“Tidak Tuan—tidak seperti itu sungguh, saya rasa anda juga cukup baik dengan membawa saja pergi dihari ulang tahun Saya, terima kasih, saya beruntung mengenal anda Tuan—“

Yoona menggantungkan kalimatnya dan menatap Siwon dengan ekspresi penuh tanya.

“Oh—aku benar –benar lupa maaf.”

Siwon kembali melirik Yoona sekilas.

“Choi Siwon Imnida, kau bisa memanggil ku Siwon.”

Yoona akhirnya mengangguk mengerti.

“Terima kasih sekali lagi Tuan Choi.”

Siwon mengangguk kaku akhirnya, sungguh panggilan Yoona untuknya begitu membuatnya risih, namun apa boleh buat? Toh dia tidak bisa memaksa Yoona untuk bersikap santai padanya, dan juga bukankah ini perjalanan pertama bersamanya? Wajar jika dia masih merasa canggung.

Dia menghentikan mobilnya dipinggiran jalan yang mulai terlihat padat dan bercahaya.

“Apa kau suka Seafood Yoona? Atau Ramen?”

Yoona terlihat sedikit berfikir saat Siwon menanyainya, ya didepan mobil yang mereka tumpangi terdapat beberapa kedai makanan, salah satunya Seafood dan Ramen yang berada disisi kanan jalan.

“Saya suka ramen, tapi saya rasa saya ingin makan seafood sekarang.”

Siwon terkekeh pelan saat melihat ekspresi berfikir Yoona yang terlihat imut.

“Baiklah kita akan makan seafood kali ini.”

Timpal Siwon seraya melajukan mobilnya pelan untuk sampai kehalam parkir sebuah kedai Seafood yang memang sudah dekat.

“Kita sudah sampai.”

Seru Siwon seraya membuka sabuk pengaman nya, begitu pun Yoona.

“Tunggu dulu—“

Dan Yoona seketika itu juga menghentikan gerakan tangan nya yang baru saja akan membuka pintu mobil disisinya, saat Siwon berseru dengan tiba-tiba, Yoona lalu menatap bingung pada Siwon seraya mengerutkan keningnya.
Dan Yoona bertambah ningung ketika Siwon malah tersenyum dan membuka pintu mobil disisinya lalu keluar, Yoona dapat melihat Siwon yang berlari kecil mengitari mobilnya dan,

Cklek—

Yoona membulatkan matanya, ia kemudian terkekeh pelan, saat Siwon kembali menampakan dirinya dengan senyum cerahnya saat ia membuka pintu disisi Yoona.

“Bukankah kau berulang tahun hari ini? Kau jadi Nyonya sekarang.”

Yoona akhirnya mengangguk seraya masih terkekeh, lalu mulai menapakan kedua kakinya diatas tanah lalu berdiri, dan—

Wah, Siwon diam membeku ditempatnya. Ketika Yoona berdiri dengan anggun nya betapa dia sangat terpana dibuatnya.

Dress berwarna cream anggun dengan tinggi sebatas lutut itu baru Siwon sadari sangat cantik dan pas ditubuh Yoona, bahu Yoona sedikit terekspos karena memang modelnya seperti itu, dengan karet yang mengerut disekeliling tubuh bagian atas Yoona membentuk sebuah model dress indah yang semakin mempercantik dirinya, potongan lengan yang hanya sampai sikut dan dengan hiasan pita di kedua sisi lengan nya yang semakin membuat Yoona sangat menawan sore ini, rambutnya masih ia gulung keatas dengan anak rambut yang tidak dapat ditata rapih semakin menumbuhkan kesan manis dan imut padanya, dan jangan lupakan sneakrs putih yang melekat pada kedua kakinya yang membuat penampilan Yoona terlihat anggun, manis, juga santai dalam waktu yang bersamaan. Dan Siwon? Jangan tanya lagi, seperti hari biasanya, ia memakai celana bahan hitam, kemeja putih, dasi hitam dan juga sebuah jas yang masih rapih membalut tubuhnya meskipun ia menghabiskan banyak waktu dengan pekerjaan nya hari ini. Ia terlihat resmi tentu saja, hanya satu kata. Tak ada yang lain nya.

Siwon beberapa kali merutuki kebodohan nya karena baru menyadari betapa menawan Yoona sore tadi saat untuk pertama kalinya gadis itu masuk kedalam mobilnya, sungguh kegugupan nya kali ini begitu merugikan! Harusnya dia mengatakan sesuatu yang dapat membuat Yoona tersipu, seperti misalnya ‘Kau terlihat sangat manis dan cantik seperti biasa Yoona.’
Aisshh! Siwon benar-benar menyesal.

“Apa yang ingin anda pesan Tuan?—“

“Oh—“

Siwon baru sadar dari aksinya yang sedang merutuki dirinya sendiri saat Yoona akhirnya mengeluarkan suara manisnya seraya melihat-lihat pada buku menu yang saat ini terlihat begitu Yoona minati.

“Oh ya—aku hanya ingin satu teh hangat.”

“Baik Tuan.”

Jawab seorang pelayan pria yang langsung mencatat pesanan Siwon.

“Tunggu—“

Siwon menatap Yoona ramah.

“Anda tidak ingin makan?”

Siwon lalu tersenyum sebaik mungkin pada Yoona

“Aku alergi Seafood—“

“Nde?”

Siwon mengangguk menanggapi keterkejutan Yoona.

“Aku tidak bisa memakan sesuatu yang berasal dari laut, aku bahkan alergi pada beberapa ikan, aku hanya dapat memakan ikan mas yang dibudidaya paman ku dikolam nya.”

Dan perasaan tak enak langsung menghampiri Yoona.

“Lalu kenapa anda pergi kesini.”

Siwon lalu tersenyum lebar untuk menenangkan Yoona.

“Bukankah kau yang berulang tahun? Jadi aku harus menuruti perkataan mu, kau sangat ingin seafood kan? Jadi pesanlah apa yang kau mau sekarang, aku baik-baik saja tenanglah.”

Ujar Siwon dengan begitu lembut.

“Jadi sekarang bahagaimana?”

Siwon menaikan sebelah alisnya, dan kemudian terkekeh pelan.

“Sekarang hanya kau harus secepatnya memesan, lihatlah dia sudah lama menunggu, kakinya mungkin kesemutan sekarang.”

Jawab Siwon seraya menepuk pelan lengan pria muda yang kemudian tersenyum canggung kearah mereka.
“Ahh—maafkan saya, baiklah—aku ingin ini satu, dan juga ini—“

Yoona lalu dengan cepat menunjuk sesuatu dalam buku menunya dan memperlihatkannya pada sang pelayan yang langsung mencatat pesanan nya, Yoona memesan satu porsi gurita yang dimasak dengan campuran kecap manis, saus teriyaki yang lumayan pedas, dan sedikit jeruk purut untuk menambah keasaman nya,

download

Sementara untuk minuman ia memilih jus Alpukat.

“Harusnya kita pergi ke kedai Ramen saja tadi.”

Yoona terlihat kembali menampakan ekspresi khawatirnya sekarang, dan Siwon dengan otomatis kembali melengkungkan kedua sudut dibibirnya ketika melihat ekspresinya itu, sungguh sangat manis.

“Itu akan lebih parah.”

Dan untuk yang kesekian kalinya Yoona melemparkan pandangan bingungnya pada Siwon. Dan pria itu lagi-lagi malah tersenyum.

“Lambung ku agak terganggu akhir-akhir ini, aku menghindari ramen, buah-buahan, kopi terkadang, juga santan.”

Dan Yoona benar-benar dibuat terpana dengan apa yang baru saja Siwon katakan. Wah pria yang begitu hebat.

“Apa anda juga menghindari rokok?”

Tanya Yoona kemudian.

“Apa aku terlihat seperti seorang perokok?”

Yoona lalu menggeleng cepat, lalu tersenyum malu.

“Tidak saya rasa.”
Jawab Yoona kemudian.

“Benarkah? Padahal aku kadang merokok dua minggu sekali atau sebulan sekali ketika merasa stress dengan pekerjaan.”

Dan Yoona terdiam seketika itu juga.

“Apa anda juga tipe orang yang penuh humor?”

Tanya Yoona kemudian dengan raut wajah pura-pura kesal.

“Apa kau kesal?”

Tanya Siwon menimpali dengan memasang raut wajah menyebalkan. Dan akhirnya Yoona tak dapat menahan lebih lama ekspresi kesal diwajahnya, dia akhirnya terkekeh pelan ketika melihat wajah Siwon saat ini.

“Ku rasa begitu.”

Jawab Yoona dengan masih terlihat geli.

“Oh—“

Mereka kemudian menghentikan percakapan untuk beberapa saat karena kedatangan seorang pelayan yang kini telah meletakkan pesanan Yoona juga teh milik Siwon keatas meja mereka.

“Terima kasih.”

Ucap Siwon pada sang pelayan sebelum dia pergi meninggalkan meja mereka, berbeda dengan Yoona yang hanya mengangguk dan tersenyum manis pada pelayan itu.

“Wah sepertinya enak.”

Seru Yoona riang seraya mengarahkan sumpitnya pada salah satu potongan gurita yang tersedia dihadapan nya.

“Apa ini pertama kalinya kau kesini.”

Yoona lalu mengangguk ringan seraya melahap potongan gurita tadi.

“Saya sering pergi ke restoran seafood, tapi saya tak pernah kesini.”
Jawab Yoona seraya tersenyum pada Siwon yang kini tengan memperhatikan nya.

“Apa kau sangat suka seafood.”

Yoona lalu mengangguk lagi sembari kembali mengambil potongan gurita dengan sumpitnya.

“Saya suka seafood, sayuran, dan semua jenis buah, saya rasa tak ada makanan yang tidak saya sukai.”

Siwon terkekeh pelan, sungguh gadis yang begitu menggemaskan pikirnya. Pria itu kemudian mulai menyeruput teh nya, dan kemudian memperhatikan Yoona yang tengah semangat melahap menu yang ia pesan, Siwon memilih diam dan hanya memperhatikan nya sampai selesai.

“Oh ya, apa anda juga tidak minum alkohol.”

Dan Yoona akhirnya bersuara kembali saat makanan nya tinggal sedikit lagi.

“Tidak banyak.”

Jawab Siwon seraya menggeleng tegas.

“Kau?” timpal Siwon lagi seraya menaikan sebelah alisnya penuh tanya pada Yoona.

“Saya minum alkohol saat masuk Universitas, dan saya langsung mabuk dengan dua gelas kecil. Setelah itu saya tak pernah ingin melihat wujudnya (Alkohol)”

Tutur Yoona seraya menampakkan wajah ngerinya.

“Kau punya pengalaman sangat buruk bersama alkohol.”

Yoona mengangguk semangat seraya mengelap bibirnya dengan tissue.

“Sangat buruk, saya mempermalukan diri saya saat itu, oh andai disana tak ada Sooyoung, saya pasti akan berakhir dengan sangat menyedihkan.”

Siwon kembali terkekeh pelan ketika mendengar Yoona yang begitu lancar mencurahkan cerita mengerikan nya itu.

“Apa wajah mu memerah saat mabuk?”

“Bahkan saya rasa wajah saya sangat panas.”

Siwon lalu mengangguk-ngangguk pelan.

“Jadi dihari ulang tahun mu ini, aku tak bisa meneraktir mu minum?”

Suara Siwon lagi, kini dibuat seolah-olah dia menyesal.

“Apa anda berniat minum juga tadi?”

Siwon lalu mengangguk lagi.

“Emmm, bagaimana kalau es cream saja? Jangan minum bersama malam ini, kita makan es cream saja sebelum pulang. Bagaimana?”

“Setuju!”

***

29 November (Beautiful Moment)

“Ku rasa memang benar.”

Siwon akhirnya bersuara setelah sekian lama diam dengan khidmat menikmati es cream nya, berjalan berdampingan dipinggiran jalan sungai han.

sungai-han-gang

Ya setelah menyelesaikan acara makan Seafood, mereka kemudian memutuskan untuk pergi menikmati es cream diarea sekitar sungai han yang akan terlihat sangat indah jika menjelang malam.

“Maksud anda.”

Siwon tersenyum mendengar jawaban Yoona, ia kembali melahap es cream nya tanpa mengalihkan sedikitpun perhatian nya pada gadis yang kini menatap bingung padanya.

“Ya, jika kau bisa memakan apapun jenis makanan nya, aku rasa itu memang benar.”
Yoona mendecih, sebelum akhirnya tersenyum geli.

“Harusnya anda percaya sejak tadi Tuan.”

“Ya, aku akan melakukan itu nanti.”

Dan yoona menghentikan gerak kedua kakinya seketika itu juga, Siwon yang menyadarinya pun langsung ikut memberhentikan langkahnya yang lebih dua langkah didepan Yoona, dia lalu membalikan tubuhnya dengan es cream cokelat yang masih berada digenggaman nya.

“Tuan, saya pikir kita hanya akan bertemu sekali ini saja, hanya hari ini.”

Ucap Yoona kemudian dengan raut wajah teduhnya, Siwon yang berada dua langkah didepan nya pun hanya dapat menatap Yoona dalam diam.

“Ya, saya pikir saya—“

“Apa kau sedang berkencan dengan seseorang?”

“Ne?—“

Dan tentu ucapan Siwon baru saja mampu membuat Yoona menatap pria itu dengan kedua mata yang melebar, bingung, gugup, dan juga entah apa itu. Berbeda dengan Siwon yang mulai menjatuhkan pandangan serius pada Yoona.

“Tuan—“

“Cukup jawab saja iya atau tidak, Yoona, apa kau sedang berada dalam sebuah hubungan spesial bersama seorang pria saat ini?”

Yoona panik tentu saja, Bagaimana mungkin tidak! Sekarang, detik ini, seorang pria yang baru ia tahu namanya beberapa jam sebelumnya menanyakan pertanyaan seolah-olah dia telah sering bertemu dengan dirinya, Gadis itu bahkan tak memperdulikan es cream vannila nya yang kini mulai mencair mengotori tangan kanan nya.

“Maaf Tuan—“

“Iya atau tidak. Aku hanya butuh jawaban itu.”

Potong Siwon lagi dengan suara lembutnya, dan kini Yoona benar-benar diam tak melemparkan sepatah kata pun untuk menjawab pertanyaan Siwon, dan entah kenapa jantungnya berdebar kencang tidak seperti biasanya sekarang, apa gadis itu gugup?

“Aku menyukai mu, tidak, aku yakin aku mencintai mu Yoona. Aku tertarik pada mu saat pertama kali aku bertemu dengan mu satu tahun lalu tepat dihari yang kau bilang sebagai hari ulang tahun mu, entah bagaimana pun ceritanya berjalan sampai hari ini, rasa ku masih bertahan dan berkembang Yoona, aku tidak pernah setertarik ini pada seorang wanita sebelum nya, tapi diri mu, kau, Im Yoona, sungguh mampu membuat ku terpesona. Aku mencintai mu, karena ku rasa sebuah rasa suka terlalu sederhana untuk menggambarkan perasaan ku pada mu sekarang.”

Tutur Siwon panjang lebar dengan tatapan penuh ketulusan.

“Tidak tuan, tak ada seseorang yang anda maksud dalam hidup saya sekarang.”

Dan setelah cukup lama memendam, akhirnya Yoona melontarkan jawaban sopan nya, yang kemudian membuat Siwon menatap Yoona dengan binar kebahagiaan dikedua bola matanya.

“Hanya—“

Deg—

Dan binar bahagia itu ternyata tak bertahan lama, Karena sekarang Siwon kembali merasakan kekhawatiran melanda dirinya saat Yoona kembali berucap suara pelan.

“Saya rasa anda bisa mengerti Tuan, akan saya jelaskan, saya adalah seorang anak yang tumbuh disebuah panti asuhan. Tidak ada seorang pun selain saudara-saudara yang bernasib sama dengan saya, saya tak mempunyai seorang Ayah atau Ibu, hanya seorang Ibu panti yang juga Ibu dari semua saudara panti saya. Saya tak pernah pergi ke salon untuk merawat diri, saya hanya mandi dan memakai shampoo yang kadang juga dipakai saudara saya yang lain, saya juga tak punya mobil semewah anda, saya terbiasa naik buss dan berjalan. Saya harap anda tahu apa maksud dari ucapan saya tanpa ada sedikitpun perasaan kasihan untuk saya.”

“Aku mencintai mu Im Yoona.”

Yoona akhirnya menunduk dalam, dan saat itu juga setetes air mata jatuh membasahi pipinya, dan entah kenapa dia merasa sangat tersiksa sekarang, melihat ketulusan itu dalam mata seorang Choi Siwon entah kenapa menyiksa ulu hatinya.

“Tuan, saya bahkan bersumpah pada anda, untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya duduk diatas kursi mobil mewah, tidak kah anda pikir saya begitu kamp—pph”

Dan sungguh, seperti sebuah mimpi indah, seperti bermain dalam sebuah drama penuh romansa dan emosi, seperti seorang wanita yang begitu dicintai, Yoona terkejut dan terharu dalam waktu yang bersamaan, saat dengan pastinya langkah Siwon mendekatinya terlihat pelan namun cepat, merengkuh pinggang Yoona dengan tangan kirinya, lalu menyatukan bibirnya dengan bibir berwarna pink milik gadis Im itu, mata Siwon terpejam bak seorang pangeran dalam negeri dongeng, daun-daun bahkan berjatuhan dengan irama indah yang dibawa angin. Dan hati Yoona menghangat, ada suatu kebahagiaan yang membuncah dalam dirinya, entah karena apa itu. Sungguh aneh, ia merasa bahagia dalam dekapan juga ciuman menenangkan yang disalurkan Siwon.

“Aku mencintai mu.”

Dan malam itu berakhir dengan sebuah kebahagiaan, kisah nya berakhir dengan penuh haru juga senyuman. Dan Yoona tak pernah menyangka, jika dia akan mendapat ungkapan cinta yang begitu indah dan menenangkan seperti dalam sebuah drama yang selalu ia tonton dimalam hari. Ia bahkan tidak berani membayangkan jika seorang pria mengagumkan menyatakan perasaan nya dihari spesial dengan cara yang sepesial juga untuk dirinya, seperti yang dilakukan Siwon detik ini.

“Oh es cream nya mencair.”

“Diam lah, aku hanya ingin mencium dan mencintai mu! Aku akan memberikan kedai es cream untuk mu nanti.”

“Setelah mencium dan mencintai saya?”

Siwon menggeleng cepat seraya masih memeluk hangat pinggang Yoona.

“Setelah mencium mu, karena tak akan pernah ada setelah untuk cinta ku pada mu, kau harus ingat, cinta ku begitu banyak dan tak terhingga pada mu.”

Dan mereka pun kembali terhanyut dalam romansa percintaan yang baru mereka bangun dipinggir sungai Han beberapa menit yang lalu, menyalurkan segala perasaan yang memenuhi hati mereka dalam sebuah ciuman lembut yang penuh dengan rasa Vannila dan Cokelat.

“Selamat ulang tahun Yoona sayang ku.”

“Dan ayo kita menikah minggu depan.”

“NE?”

***

THE END

***

HAPPY BIRTHDAY RANNY SURYANI, SEMOGA PANJANG UMUR MU DAN SELALU BAHAGIA.
Terkhusus untuk mu yang selalu nganggap diri ku emak dan pacar(?) kebanyakan VC tiap malem jadi serasa pacar seseorang dah wkwkwk. doanya buat mu? Pokoknya semoga kamu selalu diberkahi Alloh, selalu mendapat bahagiaNya, makasih masih tetap bertahan dengerin curhatan-curhatan emak yang terkadang penuh emosi, makasih udah sabar jadi temen emak, makasih udah perhatian. Maaf sampai saat ini kita belum bisa ketemu. Hanya ini kado yang bisa emak kasih buat mu, kado berharga menurut emak, karena dari FF Yoonwon kita akhirnya bersaudara sampai sekarang, menjauhi semua kesalah pahaman yang mungkin bisa misahin kita, makasih kamu udah bisa ngerti emak. Selalu seperti rani yang emak kenal oke? Selalu jadi sahabat terbaik emak saat emak lagi gak bisa bersahabat sama dunia. Selalu
marahin emak kalau emak salah, dan saling mendoakan untuk kebaikan masing-masing. Dan semoga di umur mu yang udah segede gini, kamu nemuin kebahagiaan yang insyaalloh bakalan buat kamu senyum setiap waktu. Janji sama emak buat jangan terluka, jangan sakit ya nak.
Sekali lagi selamat ulang tahun. Emak sayang banget sama kamu nak.

Dan teruntuk semua NITED yang sampai saat ini masih bertahan baca ff dari aku, terima kasih banyaaakkkk, udah kasih dukungan dan semangat selama ini, aku juga sayang banget sama kalian, semoga kita tetap jadi sahabat dan saudara yang selalu hangat dan saling merangkul. Terima kasih terima kasih sebanyak-banyaknya, aku sayang kaliannnnn..

Advertisements
Ficlet / Drabble, Oneshoot

[Coretan] Sweet Love

Sweet Love
Special The Little prince Birthday

°°
Happy Reading√
°°
°°

21 : 20
Dalam sebuah kamar mewah, disalah satu rumah besar dikawasan perumahan elit di Seoul itu dua orang berbeda jenis kelamin terlihat duduk kaku diatas ranjang putih berukuran besar. 
Jarum jam sudah berputar lebih dari satu jam saat pertama kali mereka duduk saling besisian diatas ranjang.

Tapi tak sepatah katapun keluar dari bibir mereka.
Siwon dan Yoona.

Adalah sepasang suami istri yang baru tadi pagi mengikat janji suci.

Kedua nya adalah anak yang terlahir dari keluarga kaya raya. Mereka dipertemukan karna perjodohan orang tua masing-masing, dan tanpa mengenal lebih jauh entah kenapa mereka berdua mengiyakan saja keinginan orang tua mereka untuk secepatnya menikah.
Siwon adalah pria tampan, dermawan, pintar, dan pewaris utama Brain Croup, dia juga adalah salah satu direktur yang dipercaya untuk menangani Brain selain sang ayah yang Notabennya adalah Ketua Brain.

Siwon tidak suka makanan pedas, tidak suka sesuatu yang terlalu manis pada minuman dan makannan nya, juga sosok yang sangat sopan. Dia akan sangat nyaman dengan orang-orang yang telah lama dikenalnya, namun sayangnya dia akan menjadi sangat pemalu dan gugup jika berada didekat seseorang yang belum lama ia kenal. Seperti sekarang ia bahkan tidak tahu harus melakukan apa didalam kamar pengantinnya bersama Yoona, istri yang beberapa jam lalu dipersuntingnya. Satu lagi yang mungkin menurut pria tampan lainnya aneh, Siwon takut pada cicak.
Oke beralih pada Yoona.

Wanita cantik bermata rusa itu adalah seorang Dokter gigi yang sangat ramah, dan pemalu, tak heran jika dalam dunianya ia hanya punya beberapa sahabat yang tahan dengan sikap pemalunya, yang kadang membuat sahabat sesama dokternya kesal dengan tingkahnya yang selalu enggan diajak berpesta, atau hanya akan mengangguk dan menggeleng jika ditanya, dan menjawab iya atau tidak jika perlu berbicara, ia suka sekali tersenyum, dan berbeda pada pasiennya terutama anak-anak, ia akan banyak sekali bertanya sopan dan ramah khas seorang Dokter yang baik. Entah kenapa bisa seperti itu.

Sama halnya dengan Siwon yang memiliki satu kakak perempuan yang bernama Taeyeon, Yoona juga punya satu kakak laki-laki yang suka sekali menggoda, menjahili, dan teramat menyayanginya, Heechul.

Berlawanan dengan Siwon, Yoona suka sekali makanan pedas, ia juga cake, minuman dingin, bau musim semi, dan salju, cita-citanya adalah memiliki suami yang mengantar dan mejemputnya sepulang bekerja, menjelajahi taman-taman bunga bersama, makan bersama, dan bahagia.

Ia suka sekali suara Yesung, begitu menggilai Hyun Bin, dan kadang membaca novel juga membersihkan gigi tentu.
Dan inilah mereka, sepasang suami istri yang memiliki sifat sama, pemalu. Jadilah mereka hanya diam bersisian diatas ranjang dimalam pengantin mereka.
“Emm, apa kau— suka pasta giginya?”
Oh Choi, pertanyaan macam apa itu? Mentang-mentang dia seorang dokter gigi bukan berarti tentang pasta gigi yang harus dibahaskan? 

Oh Siwon merutuki kebodohannya yang entah karna gugup atau apa tak bisa menyaring perkataannya.
“Emm–”
Yoona terlihat menggigit bibirnya.
“Ya, aku suka– aku juga selalu memakai pasta gigi yang sama, dan aku juga suka sabunnya, itu sangat wangi.”
Jawab Yoona dengan suara pelan, bahkan teramat pelan menurut Siwon, gadis itu bahkan terus menunduk seraya memilin piyamanya, sama hal nya seperti Siwon yang terus mengetuk-ngetuk ranjang yang ia duduki dengan jari telunjuknya.
“Emm– kau– maksud ku Yoona– oh– maksud ku Dokter — eh—”
“Panggil saja semau mu– tidak — maksud ku jangan panggil dokter– bukankah aku istri mu? ”
Potong Yoona cepat dengan sama gugupnya seperti Siwon dan ditambah dengan wajah yang memerah, saat ia mengucapkan kalimat terakhirnya, ia bahkan menggigit kembali bibirnya, karna merasa malu dengan apa yang baru saja ia ucapkan.
Dan ternyata bukan hanya Yoona saja yang merona akibat ucapan itu, Siwon suaminya juga terlihat tersenyum malu-malu bahkan semakin menunduk ketika mendengarnya.
“Emm– Baiklah– maksud ku Yoona, kau terlihat cantik tadi– bahkan sangat cantik– dan maaf jika tadi kau terganggu dengan– ciuman—”
Siwon menghentikan ucapannya saat dirasa ia kembali merasa malu jika mengingatnya, bukan hanya Siwon , Yoona juga terlihat tersenyum malu-malu bahkan berpaling saat Siwon kembali mengingat ciuman itu.
Yah Ciuman,

Sebuah Ciuman singkat yang Siwon daratkan dibibir Yoona saat acara pemberkatan tadi benar-benar membuat hati mereka tak karuan saat kembali mengingatnya.
“Emm, Oppa juga terlihat– tampan tadi.”
Jawab Yoona pelan seraya tersenyum malu.

Dan blusshh..
Seketika wajah Siwon memerah, kulit diwajah nya ia rasa menghangat dan perlahan-lahan menjadi panas.
Oppa? Oh itu sangat manis ditelinga Siwon.
“Emm– ini sudah larut, apa kau tidak lelah?– kau pasti sangat lelahkan? Kita bisa tidur”
Yoona lantas mengangguk , Dan tanpa mengatakan apapun lagi, Yoona bergerak menaiki ranjang menata bantalnya sekejap, lalu akhirnya merebahkan tubuhnya, Siwon terlihat tersenyum diam-diam, sebelum akhirnya ikut merebahkan diri diatas ranjang yang sama disebelah Yoona, berbeda dengan Yoona yang tidur memunggunginya, Siwon justru berbaring menghadap pada punggung sang istri. Dan tanpa mereka tahu, satu sama lain ternyata masih membuka mata dan tersenyum malu-malu.
‘Harusnya bukan tidur yang seperti ini.’
Suara Siwon dalam hati yang masih senyum-senyum tak jelas, memikirkan bagaimana seharusnya malam sepasang pengantin baru.
Tapi tak apa, siapa tau setelah bangun mereka tiba-tiba tidur dengan berpelukan?
Bukankah di drama biasanya seperti itu?
Pikir Siwon kembali sebelum akhirnya menutup kedua matanya seraya masih memperlihatkan senyum indahnya.
***

Satu minggu berlalu..
Dan tak ada hal special yang dilakukan sepasang pengantin baru itu dihari-hari cuti pernikahan mereka, hanya makan bersama, mengobrol sedikit di belakang rumah, kemudian tidur, kadang juga menonton bersama, sungguh dirumah sebesar ini dengan banyaknya pelayan mereka hanya melakukan beberapa hal bersama, tak ada hal lain.
Namun pagi dihari senin ini ada yang berbeda. Pekerjaan Yoona bertambah satu, menyiapkan kemeja, celana juga jas Siwon. Yah mereka akan mulai bekerja hari ini, setelah membantu salah satu koki nya memasak, Yoona berlanjut untuk menyiapkan pakaian sang suami, mungkin setelah menikah ia akan mengambil jam siang untuk pergi kerumah sakit, oh sebenarnya cita-citanya yang lain setelah menikah adalah memiliki rumah sakit kecil sendiri dengan beberapa pekerja dan sedikit dokter gigi lainnya, tujuannya adalah untuk dapat menyeimbangkan pekerjaan dan rumah tangganya, tapi yah apa boleh buat, itu belum terlaksana, 
“Kau belum bersiap?”
Yoona mendongak mengalihkan perhatiannya dari lamunan panjangnya dan beralih pada sang suami yang baru saja menegurnya.

Dan..
“Oh–”
Yoona langsung menunduk ketika melihat apa yang ada dihadapannya, 

Siwon dengan hanya memakai handuk dipinggangnya?

Pipi Yoona memanas, jantungnya berdetak tak karuan kedua bola matanya mengerjap-ngerjap polos.

Apakah Siwon mulai sedikit berani sekarang?

Hari ini dada kotak-kotaknya, besok dan seterusnya apakah mungkin?
Oh Yoona menggelengkan kepalanya memusnahkan apa yang ada dipikirannya.
“Yoona– maafkan aku– ku pikir kau tak apa melihatku seper—”
“Tidak Oppa–”
Yoona dengan cepat mendongak, dan kemudian kembali tersenyum malu-malu ketika kembali melihat suaminya sekarang.

“Heechul Oppa– juga seperti itu saat dikamarnya–”
“Nde?”
“Oh, maksud ku– aku pernah tak sengaja memergokinya bertelanjang dada sa– saat telah mandi– mungkin semua pria seperti itu?–”
Jawab Yoona yang semakin panjang suaranya semakin kecil, dan kepalanya semakin menunduk,

Dan Siwon pria itu terlihat menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal, seraya tersenyum diam-diam.
“Kau belum bersiap?”
Dan Siwon mengulangi kembali pertanyaannya.
Yoona kembali menggeleng dengan masih menunduk memilin jarinya.
“Aku akan berangkat agak siang mulai dari sekarang, setelah kau berangkat– aku baru akan berangkat.”
Siwon menatap Yoona yang masih menundukkan kepalanya.
“Jika kau berangkat siang, bukankah kau akan pulang larut malam kan?”
Yoona mengangguk pelan.
“Kalau begitu aku tak mengizinkannya.”
Dan Yoona mendongak dengan cepat. Untuk pertama kalinya Siwon melayangkan satu larangan untuknya.
“Kau akan lelah Yoona, sekarang aku suami mu, aku akan berangkat dan pulang kerumah bersama mu, sekarang pergilah mandi, sudah cukup untuk mengurus ku, aku akan menunggu mu, jadi bersiaplah, tak apa jika lama pun.”
Hati Yoona menghangat.
“Baik Oppa.”
Suara Yoona seraya tersenyum malu-malu.

****
Sepanjang perjalanan menuju Rumah sakit, tak ada satu pun dari mereka yang mengeluarkan suara, hanya hening yang menemani perjalanan mereka, sampai pada akhirnya mobil yang Siwon kendarai berhenti melaju didepan sebuah rumah sakit besar khusus gigi, yang pada akhirnya Yoona mengeluarkan sedikit suaranya.
“Aku turun.”
Yang hanya dibalas senyum dan anggukkan manis dari Siwon.

Namun ternyata ketika Yoona baru saja akan membuka pintu mobilnya, Siwon tiba-tiba saja menyentuh tangannya, dan membuat sang istri kemudian menoleh, dan–
Cup..
Yoona mengerjap-ngerjapkan matanya polos, jantungnya tiba-tiba saja berdetak tak karuan. Entah bagaimana mulanya, Siwon tiba-tiba saja menempelkan bibirnya pada kening Yoona, dan
Blusshh…
Seperti biasa, wajah keduanya menjadi memerah, mereka tersenyum malu-malu, lalu menunduk.
“Semoga hari ini berjalan baik.”
“Ne Oppa– aku– aku turun.”
Jawab Yoona menyudahi, yang kemudian dilanjutkan dengan membuka pintu disisinya, dan berjalan keluar, tersenyum pada Siwon, lalu pergi seraya menutup wajahnya dengan kedua tangannya, seperti tingkah imut seorang remaja yang baru merasakan cinta.
****
Guyonan-guyonan menggoda dilemparkan teman-teman sesama Dokternya pada Yoona, yang semakin membuat Yoona merasa malu sepanjang hari ini adalah sahabatnya Yuri yang kebetulan sekarang sedang mengandung anak pertamanya. Dan Yoona hanya dapat menanggapinya dengan senyum malu khas seorang pengantin baru.
“Yoong, apa suami mu begitu meggoda saat diatas—”
“Unnie–”
Potong Yoona cepat dengan suara pelannya seraya melemparkan tatapan malu-malunya pada Yuri.
“Oh sepertinya terjadi sesuatu selama seminggu terakhir, setelah menjadi istri seorang direktur, apa yang kau lakukan sepanjang hari selama cuti bersama suami mu.
Yoona menunduk, tersenyum kemudian menggeleng singkat.
“Emm, kau malu-malu eoh? Ayo berbagi cerita pada Unnie, setelah menikah kau akan butuh nasehat ku.”
Suara Yuri lagi seraya memasukan anggur kedalam mulutnya, yah mereka tengah beristirahat dikantin rumah sakit sekarang.
“Tidak Unnie, aku hanya memasak, menemaninya mengobrol singkat, menonton TV bersama lalu tidur, kadang kami jalan-jalan disekitar taman.”
Cerita Yoona akhirnya dengan nada suara khas nya pelan.
“Tidur yang seperti apa?”
“Uhukk—”
Dan Yoona langsung tersedak oleh makakanan nya sendiri, Yuri buru-buru mengambilkan air untuknya, dan Yoona langsung menerimanya, air ia habiskan dalam dua kali tegukkan. Dan seperti biasa, wajahnya kembali memerah.
“Tidak— tidak terjadi apa-apa Unnie–”
Jawab Yoona akhirnya.
“Mwoya? Maksud mu suami mu tidak–”
Yoona menatap polos Yuri yang juga melemparkan tatapan tak percaya pada Yoona.
“Siwon– dia tidak–”
Yuri menepuk-nepuk dadanya sendiri, seraya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.
“Menyentuh mu?”
Lanjut Yuri seraya masih menepuk-nepuk dadanya sendiri.
“Unnie–”
Dan alhasil Yoona kembali menunduk malu karnanya.
“Oh Yoona ku yang polos.”

****
20.00
Tepat pada saat mobil yang dikenadarai Siwon memasuki sebuah pekarangan rumah besar dikawasan Gangnam, kediaman dari Orang tua Siwon.
Yah, tepat di minggu ketiga pernikahan Siwon dan Yoona, Tuan Juga Nyonya Choi berkeinginan untuk makan malam bersama putra dan menantunya itu. Dan dengan senang hati Siwon juga Yoona menerima tawaran dari Orang Tua Siwon.

Satu jam berlalu..

Tepat pukul 21.05 makan malam ke empat orang itupun berakhir, mereka saling bertukar cerita, saat makan, setelahnya pun mereka mengobrol ringan diruang keluarga, tentang pekerjaan, keseharian juga shopping untuk para perempuan, kedua orang tua Siwon terlihat begitu bahagia dengan adaya putra juga menantunya, terlebih Nyonya Choi, pasalnya jarang sekali Rumah besar itu dikunjungi tamu, tak ada yang lain selain mereka berdua juga beberapa pelayan dan tukang kebun, jadilah kesepian mereka terobati dengan adanya Yoona juga Siwon.
“Siwon-ah.”
Nyonya Choi memanggil Siwon yang tengah serius bermain catur bersama sang ayah.
Perhatian Siwon beralih pada sang ibu yang juga tengah duduk bersama istrinya dengan sebuah majalah dipangkuannya, pria itu tersenyum sopan pada sang ibu.
“Ne Oemma.”
Jawab Siwon sama sopannya seperti tatapannya.
“Nanti kalau kau dan istrimu mempunyai anak, biarkan salah satunya bersama Oemma juga Appa, kau harus punya banyak anak, disini sangat sepi, kehadiran seorang cucu mungkin dapat menceriakan Ayah mu.”
Suara Nyonya Choi dengan senyum khasnya, yang kemudian berbuah pipi merah dari Siwon juga Yoona, sepasang suami istri itu terlihat tersenyum malu-malu, apa lagi Yoon yang semakin menundukkan kepalanya merasa malu.
Dan pada akhirnya sang ibu membahas itu.
Oh Choi, belum juga kau melakukannya, kau sudah dituntut untuk memberikan cucu.
Pikir Siwon dalam hati.
“Ne Siwon-ah, Appa benar-benar tak sabar untuk menimang cucu dari mu.”
Timpal Tuan Choi yang malah semakin membut pipi mereka bersemu.
“Bukankah Taeng Nuna, akan melahirkan seorang bayi juga? Kalian bisa meminjam dulu bayinya.”
Jawab Siwon setenang mungkin diiringi dengan candaan dikedua sudut bibirnya.
“Nuna mu tinggal jauh dari korea, dia tak akan mau semudah itu menyimpan bayinya disini, apalagi itu bayi pertamanya.”
Jawab Tuan Choi yang disetujui oleh Nyonya Choi yang sekarang betah sekali memperhatikan menantunya.
“Kalau begitu minta bayi keduanya nanti.”

Jawab Siwon lagi dengan masih mempertahankan candaannya.
Yah seperti yang dikatakan Tuan Choi, Taeyeon Nunanya berada jauh dari Korea, ia tinggal bersama suaminya di Argentina.
“Isshh, putra ku memang yang terbaik dalam menjawab, tapi tetap saja Oemma menunggu sepuluh anak dari mu.”
“Nde??”
***
22.08

Hujan turun cukup deras tiba-tiba saja, dan itu tetu saja menghambat Siwon juga Yoona untuk pulang.
“Kalian menginap saja disini,”
Dan akhirnya mereka menerima tawaran Nyonya Choi. Siwon juga Yoona tidur dikamar Siwon. Dan terpaksa juga untuk malam ini Yoona harus memakai kemeja Siwon karna memang tak ada baju lain, selain itu juga adalah pepatah dari Eunhyuk, teman satu profesi Siwon. Yah tanpa ada satupun yang tahu, Siwon diam-diam selalu meminta saran Eunhyuk untuk mendapatkan hati seorang gadis.

<b> biarkan dia memakai kemeja mu saat akan tidur, aku juga melakukannya saat malam pengantin ku </b>
Benarkah itu?

Pikir Siwon keras.
Lalu seperti biasa, ritual sebelum tidur mereka adalah duduk bersisian diatas ranjang. Keduanya terlihat seperti biasa, gugup.

Apalagi Yoona yang terlihat tak nyaman dengan pakaiannya, ia terus menarik-narik ujung kemejanya yang memang tak bisa menutupi lututnya.
“Oppa–apa tak ada celana kecil punya mu– kurasa, ini terlalu pendek–”
Oh Yoona bersuara?

Dan tiba-tiba saja ucapan Eunhyuk kembali terngiang ditelinganya.
<b> Buka perlahan-lahan bajunya, lalu sentuh dia secara intim. </b>
“Buka saja”
“Nde?”
Dan Siwon memukul keras bibirnya yang entah kenapa mengeluarkan kata itu. Oh Eunhyuk!! Pria itu mengganggu pikiran Siwon.

“Maksud ku– emm maksud ku, Yoona–”
Oke, malam inikah?
“Ne– Opp–a?”
Suara Yoona yang entah kenapa menjadi benar-benar gugup.
“Emm–malam ini– bisakah– bisakah– kita– maksudku aku– aku–”
Oh bagaimana cara mengatakannya?
Yoona masih menunggu kelanjutan dari ucapan Siwon.
“Yoona.”
Dan setelah memantapkan hatinya, Siwon akhirnya mendongak menatap Yoona dengan tatapan yang berbeda dari biasanya namun masih membuat jantung Yoona berdebar tak karuan.
“Aku–”
Siwon mendekatkan wajahnya pada wajah Yoona perlahan-lahan, dan dengan refleks Yoona memainkan ujung kemejanya dengan jari jemarinya menahan gugup, semakin dekat dan dekat, sampai hidung mancung keduanya bersentuhan, Siwon menatap Yoona lekat mencoba membangkitan keberaniannya, dan Yoona mengerjap-ngerjapkan matanya polos tak berani menatap kembali Siwon.
“Mencintai mu.”
Dan,

Siwon kembali menatap Yoona lekat-lekat, oh bibirnya bahkan terlihat bengkak, ini yang pertama kalinya, dan Siwon bisa menjadi sehebat ini? Oh Tuhan melihat warna dipipinya membuat Siwon kembali memanas.
“Oppa– Appa–”
Siwon menghentikan ucapan Yoona dengan menempelkan jari telunjuknya didepan bibir bengkak sang istri.
“Aku tak akan bisa memulainya lagi–”
Ucap Siwon parau, yang semakin membuat rona diwajah Yoona bertambah.
Siwon bisa bernafas lega, pasalnya ia tak melupakan untuk mengunci pintu kamarnya, tak perduli apa yang dibutuhkan sang ayah, Siwon tak bisa menghentikannya, jika ia menghentikannya, ia tak tau akan semalu apa ia saat kembali memulainya nanti.
“Ku simpulkan kau menerima ku Yoona.”
Ucap Siwon lagi yang masih saling bertatapan dengan sang istri.

Dan Yoona, entah dari mana keberanian itu datang, dia tersenyum lalu kemudian mengangguk manis, yang akhirnya membuat Siwon bersorak riang, dan tanpa menunggu lama lagi 

​​​

Ini yang mereka harapkan, akhir yang bahagia, tak perduli bagaimana mereka saling mengenal, bagaimana mereka bisa menikah, yang terpenting adalah bahwa sebuah cinta itu bisa berawal dimana saja, lewat apa saja, dan bagaimana pun caranya. Cinta itu berwarna karna Saling, bukan sepihak.
Menghabiskan malam dengan saling mencintai adalah yang mereka impikan, hidup bersama keluarga kecil, dan bahagia.
Bagaimana pun mereka menantikan kisah yang memiliki akhir bahagia.

Happy Ending.

•••

••
••

Hoalaaaaa..
Minal’adzin walfaidzin, mohon maaf lahir batin 🙂

Abis lebaran bawa yang gini?? Haha

Abis edisi buat yang ulang tahunkan harus yang manis, manis gimana gitukan?

Eh itu vidionya gambaran yaahhhhh jarang buat ff tema kek gini jadi berasa susah ajah..
Maaf kalau gak suka. Mohon dimengerti kalau banyak typo, ini ff super singkat sumpah.
Yaudah deh, sampai ketemu lagi 🙂