Tanpa kategori

[Fanfiction] The Little Prince (Chapter 2)

The Little Prince

Present.

The Little Prince

Cast

Daniel Hyunoo // Lim Yoona // Choi Siwon // And Other.

A/N : Tulisan yang berefek miring adalah sebagian dari Flashback.

14a7150f7ca6618e8ae81fbe52db3c0e

*

*

*

Happy Reading~

*

*

***

“Mom, aku punya banyak teman baru sekarang.”

“Iyakah? Bukankah itu menyenangkan?”

“Sangat Mom, terima kasih.”

Yoona tersenyum pada putra kecilnya yang sekarang tengah duduk disampingnya, mereka berada dalam Bus sekarang, menuju ke rumah tepat pukul 08 : 03. Taeyeon menepati janjinya untuk mengantarkan Daniel ke Butik tempat kerja Yoona tepat pukul dua belas siang tadi, mereka bahkan sempat makan siang bersama, dan setelahnya Daniel tertidur pulas di butik, untuk kemudian membiarkan sang ibu menyelesaikan pekerjaan nya, dan akhirnya, sekarang, disepanjang perjalanan, Daniel nya tak dapat menghentikan celotehan nya barang satu detik saja, ia membicarakan segala hal yang terjadi disekolahnya, sungguh, energi nya benar-benar telah kembali setelah dari siang tadi ia hanya tertidur pulas diatas sofa butik.

“Kenapa harus berterima kasih emm?”

Pria kecil itu tersenyum lebar.

”Karena Mommy, aku jadi bahagia sekarang.”

Yoona tersenyum kecil, ia lalu membetulkan jaket Daniel yang terlihat sedikit terbuka, lalu mengusap rambutnya lembut.

“Cuaca sangat dingin, kau harus tetap kuat emm.”

Daniel lantas mengangguk dan kembali tersenyum pada Yoona.
Setelah perjalanan dalam Bus, mereka kembali berjalan kaki untuk sampai ke rumah, butuh waktu sekitar lima menit berjalan kaki untuk dapat sampai, dan Yoona terbisa menggendong Daniel dipunggungnya selama lima menit itu, mereka selalu menikmati setiap detik waktu saat mereka bersama.

“Mom, Daniel semakin berat, harusnya Mommy membiarkan Daniel berjalan saja.”

Ucap Daniel disela-sela perjalanan mereka, suaranya terdengar mulai memelan, dia mulai merasa lelah, dan Yoona kembali tersenyum saat menyadarinya.

“Saat Daniel semakin berat, maka Mommy jadi semakin kuat, Tuhan selalu adil dalam segala hal.”

Jawab Yoona lembut.

“Emm—Mom..”

“Hemm?”

“Aku ingin bertanya pada mu, bolehkah?”

Yoona tersenyum lebar, sungguh putranya benar-benar sangat menggemaskan, Ayolah, bukankah setiap hari dia selalu menanyakan banyak hal? Kenapa sekarang dia meminta izin.

“Katakan, apa yang ingin Daniel tanyakan pada Mommy?”

Jawab Yoona penuh semangat.
Namun setelah beberapa detik berlalu, Daniel nya tak kunjung mengatakan apapun, dan tentu saja Yoona heran, Putranya bahkan tak tidur.

“Daniel.”

“Emm?”
Jawab Daniel cepat, dan semakin membuat Yoona kebingungan.

“Bukankah ada sesuatu yang ingin Daniel tanyakan pada Mommy.”

Dan pria kecil itu akhirnya menjawab seraya menyandarkan kepalanya dipundak Yoona dan mempererat pegangannya dileher sang ibu.

“Daniel mengantuk Mom.”

Oh Tuhan!

Yoona menggeleng-gelengkan kepalanya pelan sembari tersenyum geli.

“Kita akan segera sampai Sayang.”

***

Jarum jam menunjuk angka 22 : 20.

Daniel, pria kecil itu menengok kearah pintu kamarnya, seluruh ruang disudut kamarnya gelap, selimut bergambar Kartun Doraemon bahkan masih menyembunyikan sebagian tubuhnya, sebelum akhirnya kedua tangan kecilnya menyingkirkan kain tebal itu, turun dari atas ranjangnya, lalu berjalan pelan menuju meja belajarnya, duduk diatas kursi kecil miliknya, lalu menyalakan lampu kecil disebelah kirinya.

Ia membuka laci meja belajarnya, dan mengeluarkan kotak kecil berwarna coklat, kotak cantik bergambar Kartun Doraemon, kenapa lagi-lagi Doraemon? Karena dia adalah penggemar dari film kartun itu, bahkan disatu waktu Heechul yang sering
ia panggil Appa bertanya padanya, saat Hari ulang tahun nya akan tiba dalam dua hari.

“Kau akan berulang tahun dua hari lagi, apa ada sesuatu yang kau inginkan?”

Mereka sedang berada diwahana permainan saat itu, pada hari minggu, dan menikmati ice cream, setelah sebelum nya Daniel membuat Appa nya itu merinding ketakutan saat menaiki kora-kora. Ya, pria kecil itu dengan jahilnya memaksa Heechul untuk menaiki kora-kora, sementara ia menunggu dan menyaksikan Appanya itu menjerit ketakutan.

“Doraemon. Bisakah Appa membelikan sesuatu yang bergambar Doraemon?”

“Doraemon? Bukankah tahun lalu hadiah mu juga sepatu bergambar Doraemon?”

“Tapi Daniel ingin sesuatu bergambar kartun Doraemon.”

“Kau sangat suka Doraemon ternyata, biasanya anak perempuan yang menyukai Doraemon.”

“Jinjja? Kenapa Appa bisa yakin?”

“Hanya banyak perempuan yang menyukainya.”

“Tapi aku menyukainya.”

“Ya, Appa mengetahuinya. Tapi bisakah Daniel katakan alasan nya? Alasan Daniel begitu menyukai Doraemon, apa mereka sangat begitu lucu dimata mu?.”

“Ya mereka sangat lucu.”

Daniel tersenyum sembari kembali menyendokan ice cream cokelat kedalam mulutnya.

“Dan juga—“

“Dan juga—“ ucap Heechul mengulang kata Daniel.

“Aku suka keluarga Nobita, sangat menyukai mereka.”

Heechul mengernyit bingung, dan Daniel tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi putihnya.

“Ibu dan Ayah Nobita sangat menyangi Nobita, meskipun dia sering membuat mereka kecewa dengan nilai ulangannya, membuat mereka marah dengan tingkah konyolnya, keduanya tetap menyayangi Nobita, aku sangat suka mereka, mereka seperti saling melindungi.”

Dan sungguh, demi apapun saat itu, untuk kesekian kalinya, Daniel hampir membuat air mata Heechul jatuh, bahkan sepanjang hari dihari itu Heechul habiskan untuk merenungkan semua hal yang dikatakan Daniel. Dia merasa telah menjadi paman dan ayah terbaik bagi Daniel, tapi hati anak itu tak akan pernah bisa dibohongi, ia punya ruang khusus untuk menyimpan nama ayah dan ibunya, hatinya membutuhkan kasih sayang yang lebih dari pada yang diberikan Heechul selama ini, kasih Sayang sesungguhnya dari seorang ayah. Heechul tak akan pernah bisa menggantikan peran itu.

Dan akhirnya, Heechul memberikan kotak itu saat ulang tahun Daniel yang ke tujuh, tepat pada tiga minggu yang lalu kotak itu menjadi miliknya. Kotak itu memiliki kunci yang Daniel simpan ditempat berbeda, dan ketika membuka kotak itu, maka yang terlihat didalam adalah buku kecil bertemakan kartun Doraemon yang sangat teramat lucu.

“Sekarang bukankah Daniel ku ini sudah bisa menulis? Maka dari itu jika Daniel ingin menulis sesuatu, Daniel bisa menulisnya dibuku ini.”

“Apakah ini semacam Diary Appa?”

“Kau bisa menganggapnya apapun yang kau suka.”

Dan sekarang Daniel benar-benar sangat menyukai buku itu, setiap malam, saat dia
terbangun, ia selalu membuka kotak itu dan menulis sesuatu pada buku didalamnya, sekarang dia menjadi gemar menulis, lebih tepatnya, buku pemberian Heechul itu sudah ia anggap sebagai alat komunikasinya bersama Tuhan, ya itu yang ada dipikirannya.

Seperti malam ini, dia kembali menyatukan tinta hitam dibuku itu, meski huruf-huruf nya tak sebagus huruf-huruf yang ditulis Ibunya, tapi setidaknya bukankah Tuhan masih dapat membacanya dengan baik?

Dia duduk seraya mengayunkan kakinya, dan kemudian menulis dengan sangat hati-hati, ia ingin membuat huruf yang cukup indah untuk dibaca hari ini, karena ia selalu berharap jika Tuhan dapat membaca surat-suratnya

Senin 20 Agustus 2018, Pukul 22 : 23

    Tuhan, malam ini aku kembali, Daniel. Kau tak lupakan pada ku? aku bangun saat orang lain tidur, kenapa? Karena aku ingin Kau berfokus pada ku malam ini.

    Tuhan, mulai pagi tadi aku telah resmi menjadi pelajar sekolah dasar, otak ku kembali diasah untuk membuat huruf-huruf yang semakin baik, kembali menghitung angka-angka yang semakin sulit, dan melancarkan lidah ku untuk membaca.

    Wali kelas ku seorang Pria, namanya Im Siwan, marganya sama seperti marga keluarga Mommy ku. dan seperti keluarga ku juga, dia sangat baik dan lembut, dia juga tampan, dia sangat suka tersenyum dan memeluk, aku menyukainya, terima kasih untuk dia.

    Aku juga banyak mendapat teman hari ini, mereka lumayan baik, dan teman sebangku ku sepertinya akan menjadi sahabat baru ku, namanya Cristina, dia cantik, seorang perempuan, dan dia baik, dia banyak bicara, tapi sungguh aku suka mendengar dia bicara. Terima kasih juga untuk dia.

    Dan aku juga tak akan pernah lupa berterima kasih untuk Mommy, Appa juga Taeyeon Halmeoni, biarkan mereka tetap disamping ku.

    Tuhan

    Aku akan menceritakan sesuatu yang menurut ku agak berat juga, tidak berat, tapi aku bingung untuk mengartikan nya seperti apa jadi seperti itu saja, tapi tidak terlalu seperti itu.

    Siang tadi saat Siwan Seongsangnim mengabsen semua murid dia sangat baik, tapi entah kenapa dari mulai murid pertama yang ia absen, tangan ku jadi bergetar hebat ,bahkan berkeringat sangat banyak, aku juga jadi ketakutan, aku ingin menangis tadi, tapi aku dengan hebat menahannya, Siwan Seongsangnim dengan sangat ramah bertanya pada satu persatu murid yang ia absen tentang siapa nama Ayah juga Ibu mereka, siapa Kakek Nenenk mereka, apa mereka punya saudara? Dia menanyakan banyak pertanyaan pada semua murid. Pertanyaan yang sama tapi sangat membuat ku khawatir, dan tepat saat giliran ku aku dengan gagah berani langsung memotong pertanyaan Siwan Seongsangnim, dan akhirnya aku terselamatkan, jantung ku mulai kembali berdetak dengan normal, jadi pada intinya, disurat ku yang kali ini, aku ingin berterima kasih pada Mu, karena semua ide yang Kau berikan selalu sangat berarti Tuhan, Terima kasih sungguh, dan tolong tetap perhatikan Mommy ku, dia segalanya untuk ku.
    Kalau begitu aku akan istirahat sekarang, besok aku akan kembali bersekolah, aku tak boleh telat, Mommy akan membangunkan ku sangat pagi, jadi Selamat malam Tuhan, berikan aku mimpi baik.

Dan Daniel pun menutup buku bergambar Doraemon miliknya, kembali membereskannya. dan kemudian segera bergegas tidur.

Flashback.

“Sekarang Seongsangnim ingin mengetahui seseorang yang bernama Lim Daniel.”

Daniel terdiam kaku, memandang khawatir pada seorang guru tampan yang berdiri didepan papan tulis.

“Daniel?”

Pria tampan itu kembali bersuara, dan akhirnya, dengan ragu tangan kecil itu terangkat, Daniel menunjukan dirinya pada sang guru, dan kemudian dia tersenyum lebar.

“Hey Daniel, apa kau gugup?”

Daniel menggeleng cepat pada sang guru, lalu kembali menarik tangan nya yang terangkat.

“Aku tak pernah gugup Seongsangnim.”

Ya, karena dia sedang khawatir sekarang, bukan gugup.

“Baiklah kalau begitu, jadi sekarang bukankah Seongsangnim bisa menge—“

“Banyak sekali orang yang menyayangi ku Seongsangnim, dan aku sungguh sangat menyayangi Mommy ku, dia baik, dan sangat hebat, dia sangat cantik, dan juga selalu melindungi ku.”

Dan cukup sampai Disitu, Siwan, guru pria itu, terdiam memandang Daniel, untuk beberapa saat dia tak melakukan pergerakan apapun, hanya memandang Daniel dan kemudian menunduk lalu tersenyum kembali.

“Jadi anak pintar untuk Mommy mu.”

Dan Daniel pun mengangguk semangat lalu akhirnya merasa lega.

Flashback End

***

“Aku hanya ingin kau tidak muncul dihadapan ku, kenapa sesulit ini!”

“Siwon! Aku istri mu, aku akan selalu berada disekitar mu!”

“Lalu, kalau begitu, apa yang harus ku lakukan agar aku tak melihat mu lagi. Apa aku harus mati!”

“Siwon ku mohon.”

Siwon, pria itu berbalik memunggungi seorang wanita cantik yang sekarang masih berdiri didekatnya dengan air mata yang berlinangan.
Pria itu membungkuk dihadapan meja kerjanya, ia memejamkan matanya, wajah nya sungguh terlihat sangat frustasi, ia benar-benar merasakan marah juga bingung diwaktu yang bersamaan.

“Siwon tidk bisakah kau mulai menerima kehadiran ku? sudah hampir tujuh tahun berlalu, apa aku masih tidak memiliki arti dihidup mu.”

“Kau membuat ku sangat menyesal Tiffany, sangat, tak akan pernah ada ruang kosong untuk menyimpan diri mu, ku mohon, aku ingin semua segera selesai.”

“Kau harus memikirkan leyna juga, bagaimana dengan dia Siwon.”

“Dia akan baik dengan hanya diri ku.”

Siwon menghela nafasnya, mengaturnya senormal mungkin.

“Siwon kenapa kau terus bersikukuh—-“

“KAU MEMBUAT AKU MELEPASKAN ORANG YANG SANGAT AKU CINTAI, KAU MENGHANCURKAN SEMUANYA TIFFANY KAU MENGHASUT SEMUA ORANG UNTUK MEMBENCI MANTAN ISTRI KU. DAN
KAU—“

Siwon menghentikan sejenak ucapan nya, nafasnya terengah-engah dan matanya kembali terpejam rapat, tangan kanan nya bahkan terlihat memijat pelipisnya untuk beberapa saat.

“Kau menipu ku, kau palsu!”

“Appa—“

Siwon juga Tiffany seketika itu juga membalikan tubuh mereka, dan tatapan mereka langsung tertuju pada seorang gadis kecil yang berdiri disudut pintu seraya memeluk bonekanya.

“Aylena—“

Bukan suara Siwon maupun Tiffany yang kemudian menyahut, tapi Bona, Choi Bona adik perempuan Siwon, dia berlari kecil mendekati Aylena yang masih memandang Siwon dengan mata bulatnya yang bagai bersinar

“Kau disini, Aunty mencari mu kemana-mana.”

Bona berucap seraya menundukan tubuhnya, ia bahkan sempat memandang Siwon dan Tiffany secara bergantian sembari berharap-harap cemas.

“Aunty, tadi aku mendengar Appa berteriak,”

Aylena kembali bersuara sembari memandang Siwon. Dan alhasil hal itu membuat Siwon luluh, ia menghela nafasnya lalu kemudian mengambil langkah untuk mendekat
pada Aylena. Namun Siwon kembali menghentikan gerakan nya saat Bona tiba-tiba langsung membawa Aylena kedalam pelukan nya, lalu menggendongnya.

“Aylena, kau harus cepat tidur, besok hari senin minggu kedua mu bersekolah, kau harus banyak istirahat.” Ucap Bona lembut

“Tapi Appa, apa dia baik-baik saja? Appa sedang marah pada Oemma.”
Bona kembali tersenyum ringan.

“Tenang, Appa mu hanya sedang bermain-main dengan Oemma.”

“Bermain?”

Oh sungguh, jangan salahkan dia jika kehilangan akal.

“Ne,, Sebaiknya kita cepat kekamar.”

Dan akhirnya dengan satu senyum lebar Bona pergi secepat kilat meninggalkan Siwon juga Tiffany yang ia sendiri tahu, apa yang sedang terjadi pada mereka.
Siwon menunduk setelahnya, kembali memijat pelipisnya yang mengerut.

“Bisakah sekarang kau keluar?”

Dan Tiffany akhirnya menyerah, dengan segala rasa yang menumpuk dihatinya, akhirnya ia pergi, meninggalkan Siwon yang memang selalu menjadi emosional saat mereka memiliki waktu bersama.

“Kapan ini semua berakhir.”
Gumam Siwon pelan, dengan setelahnya mengusap kasar seluruh wajahnya.

***

“Yoong, kabar baik untuk mu.”

Yoona, wanita yang saat ini sedang terlihat terfokus pada layar komputernya kemudian mendongak dan mengalihkan tatapan sepenuhnya pada Sunny, sasahabat sekaligus patner kerjanya yang baru saja membuka pintu dan memekik riang.
Sedikit tentang Sunny, dia adalah sahabat baik Yoona, mereka bertemu saat keduanya mulai memasuki SMP, Sunny adalah wanita manis dan imut, dia cantik juga mempesona, dan satu yang tak akan pernah ia lupakan, jika Sunny adalah seseorang yang ia anggap penting selamanya.

Masih teringat jelas dikepala Yoona, bagaimana peran Sunny dalam menyemangati hidupnya, bahkan saat Yoona bercerai, dia adalah orang pertama yang mengetahui semua yang terjadi pada biduk rumah tangganya dengan Siwon, ia adalah tempat Yoona mencurahkan segala masalah pelik hidupnya, dia adalah seseorang yang sangat berbesar hati merangkul Yoona saat wanita itu beranggapan jika tak ada lagi hal yang bisa membuatnya bertahan, dan dia adalah seseorang yang mengantarkan Yoona menghadapi keluarga tercintanya dan mengatakan jika semuanya telah berakhir.

Flashback.

“Aku telah terusir—“

Gumam Yoona lemah pada sahabat baiknya yang baru saja membuka pintu rumahnya menyambut kedatangan Yoona.

Sunny menghembuskan nafas beratnya dari balik mata kosong sang sahabat, dia lalu merengkuh tubuh lemah Yoona, dan kemudian menuntunnya untuk berjalan masuk kedalam Rumah besar miliknya.

“Apa, semuanya benar-benar telah berakhir Yoong?”

Sunny bersuara setelah cukup lama mereka hanya terdiam seraya duduk diatas sofa besar diruang tamu.

“Pengadilan telah menyelesaikan tahap akhir dari perceraian ku, dan akhirnya, aku benar-benar telah hancur.”

Jawab Yoona setegar mungkin, namun getaran dalam suaranya benar-benar tak mampu menyembunyikan seluruh deritanya.

“Apa kau bisa mempercayai ku? setelah semua ini, kau benar-benar akan bahagia.”
Setitik air mata meluncur begitu saja melewati pipi Sunny, tangan nya bahkan bergetar ketika meraih dan menggenggam tangan Yoona, ia tentu saja sangat terpukul melihat derita sahabatnya itu.

“Bagaimana aku bisa bahagia setelah ini? Ayah ku, Kakak ku, bagaiman dengan merekaa jika mengetahui semua ini?”

Ucap Yoona yang mulai terisak pilu, Sunny kemudian merengkuh tubuh sahabatnya yang dirasa mulai semakin kurus, mengusap punggungnya lembut.

“Jika kau menjelaskan semuanya, aku yakin mereka akan mengerti.”

“Dan tersakiti, sama seperti ku.”

Sunny semakin mengeratkan peluknya, ia kembali meneteskan air matanya, jangankan keluarganya, Sunny pun sangat begitu tersiksa dengan hanya melihat kondisinya sekarang.

“Aku tak tahu bagaimana jadinya jika mereka mengetahui semua ini, mengingat bagaimana dulu Siwon bersikukuh meminta restu mereka untuk menikahi ku, dan sekarang pria itu bahkan menghina ku, mengusir ku, mencampakan ku. aku—aku—“

“Sstt,, dengarkan aku Yoong. Kau telah melakukan semuanya dengan sangat baik, tanpa kakak dan ayah mu, kau menyelesaikan semuanya dengan baik. Ini bukan salah mu Yoona, mereka akan mengerti semua ini, iya mereka akan sangat marah, iya mereka akan teramat tersakiti, tapi percayalah pada ku, ini hanya sementara waktu, aku yakin setelah ini, diwaktu yang akan datang, kalian akan berbahagia tanpa harus mengingat kepedihan masa lalu.”

Sunny berhenti sejenak, ia melepas pelukan nya, lalu mentap kedalam mata Yoona, ia tersenyum seraya mengusap air mata sahabat nya itu.

“Bersama anak mu kelak, kau akan sangat bahagia.”

Ucap Sunny pelan juga sangat lembut.

“Apa anak ku akan bahagia hanya dengan ku?”

Sunny mengembangkan senyum cantiknya.

“Dia akan sangat bahagia hanya dengan adanya diri mu, dia hanya akan hidup dengan pelukan mu, kasih mu, dan suara mu. Dia hanya akan tersenyum bersama mu, bersyukurlah, karena pada kenyataan nya Tuhan hanya mengizinkan diri mu untuk anak mu.”

Yoona akhirnya tersenyum dengan penuturan sahabatnya, Dia sahabatnya, Sunny, sahabat suka dukanya.

“Terima kasih, terima kasih, untuk tetap bersama ku Sunny-ah.”

Flashback End.

“Apa itu katakan pada ku.”

Jawab Yoona tenang seraya mentap Sunny ramah.

“Sungguh sangat diluar ekspetasi, Busana musim panas milik kita tepatnya Desain mu terjual dengan angka yang sangat tinggi, kita berhasi Yoong.”

Yoona seketika itu juga membulatkan matanya, sungguh, ia tak percaya sekarang, dan dia kemudian menjadi sama bersemangatnya dengan Sunny, dia berdiri dan berlari mendekat pada Sunny.

“Jinjja? Kau tak mengatakan kesalahan kan?”

Sunny menggelengkan kepalanya cepat. Ia meraih kedua tangan Yoona dan kemudian menggenggam nya.

“Apa ini saat nya untuk bercanda? Yoong usaha kita berhasil, kerja keras mu, semuanya tidak sia-sia. Bahkan banyak perusahaan yang kemudian tertari untuk bekerja sama dengan kita.”

“Ahhhhhh, aku sungguh sangat bahagia Sunny.”

Sunny tersenyum, keudian menatap Yoona dengan tatapan teduhnya.

“Kau akan bahagia dalam waktu yang sangat lama.”

“Aku sudah sangat bahagia dalam waktu yang panjang Sunny-ah”

Sunny kembali tersenyum.

“Aku sangat bahagia entah kenapa.”

Dan Yoona langsung berhambur memeluk Sunny, memeluk sahabat mungilnya itu dengan
erat.

Drrrtttt… Drrrtttt..

Namun hal itu tak berlangsung lama, Yoona terpaksa harus mengakhiri dulu acara bahagianya dengan sang sahabat ketika ponselnya tiba-tiba bergetar menandakan ada panggilan masuk.

‘Wali Kelas Daniel’

Yoona mengerutkan keningnya, sebelum akhirnya menjawab panggilan yang sedang menunggu dirinya itu.
Sunny hanya dapat menatap Yoona dengan penasaran setelah sebelumnya ia bertanya pada Yoona dengan isyarat nya, dan Yoona menjawab dengan menggerakan tangan nya, itu berarti ‘Sebentar’

“Ne Anyeonghaseo Seongsangnim”

“….”

“Nde? Daniel?”

Dan seketika itu juga entah kenapa Sunny tak tahu, tapi raut wajah Yoona berubah seketika, Yoona terlihat sangat terkejut ketika mendengar ucapan dari lawan bicaranya disebrang telfon.

“Ne—ne Seongsangnim, aku akan segera kesana, terima kasih.”

Tutt—

Yoona dengan secepat kilat langsung menyambar tas jingjing nya, ia bahkan tak memperdulikan Sunny yang saat itu menyerbunya dengan banyak pertanyaan.

“Aku akan menjelaskan nanti pada mu, aku akan menggunakan jam istirahat ku sekarang bolehkah? Ku mohon, ada yang harus aku urus disekolah Daniel.”

Sunny lalu menghembuskan nafasnya, lalu menepuk pelan pundak Yoona.

“Pergilah, aku akan mengurus semuanya, semoga Daniel baik-baik saja.”

Yoona mengangguk lalu tersenyum pada Sunny.

“Terima kasih.”

Dan ia kemudian langsung melesat pergi meninggalkan Sunny.

*****

Tap… tap.. tap..

Langkah kaki Yoona terdengar begitu jelas dilorong bangunan sekolah tempat sang putra menempuh pendidikan, pukul 10 : 09 dia sampai disana, berjalan cepat menuju ruang kepala sekolah, dimana menurut Siwan selaku Wali kelas Daniel, putranya ada disana.

Yoona berdiri mempersiapkan dirinya didepan pintu ruang kepala sekolah yang saat ini tertutup dengan sangat rapat, sebelum akhirnya mengetuk pintu dihadapan nya dan menunggu seseorang membuka pintu itu untuk nya, dan benar saja, baru dua kali Yoona mengetuk pintu tinggi itu, seseorang telah membukanya, dan itu adalah
Siwan, seorang pria yang tak lain adalah Guru Daniel.

“Anda sudah datang silahkan masuk.”

Yoona tersenyum pada Siwan, lalu kemudian mengangguk pelan, dan berjalan memasuki ruangan dengan Siwan yang menuntun langkahnya didepan, Namun kemudian tiba-tiba saja Yoona menghentikan langkah kakinya, saat tak sengaja kedua pandangan Yoona menangkap sosok seseorang, bukan Daniel yang saat ini tengah terduduk sembari menunduk di sofa, bukan juga pada kepala sekolah yang sekarang sedang tersenyum padanya, melainkan pada seorang pria yang kini duduk dengan tubuh tegapnya diatas sofa disebrang Daniel, seorang pria tampan berwajah keras, berkacamata bening, berpakaian rapih yang kini juga terlihat enggan melepaskan tatapan nya dari Yoona, dia—

“Siwon—“

Gumam Yoona sangat pelan, tangan nya bergetar sekarang, bibirnya bergerak gelisah, dan dia tak menyangka, dunia disekitarnya kembali mempertemukan dirinya dengan pria yang tak ingin lagi ditemuinya.

*

*

*

Tbc~

9 thoughts on “[Fanfiction] The Little Prince (Chapter 2)”

  1. engingeng~ akhirnyaa mereka bertemu kaya drama tinggal pake ost:v Rada kasian juga smaa fany cuma menyandang status aja sebagai istri tapi aslinyaa malah ga di peduliin..
    btw, maksudnyaa palsu apaan? fany nipu siwon? alyena bukan anaknya siwon kah? Si daniel anak cowo tapi punya perasaan selembut cewe nuna suka sama ini anak.. yoonaa ayoo move on jgn sampe goyah antepin aja siwon kamu sama yang lain saja biar siwon tau rasa:v

    Ow.. ko aneh yaa nodong nya berminggu minggu eh giliran udh jadi bacanyaa ga sampe 10menit wkwk ingin protes tapi takut ngilang komennya:v Sekian dan terima kasih semoga kelanjutan ceritanyaa tidak lama.. amin
    p.s : asa teu puguh komen teh:v

    Like

  2. Ceritanya makin bagus aja nih…
    kirain siwan itu kakaknya yoona ternyata bukan ya? Soalnya yoona gk terkejut. Akhirnya yoona ketemu lagi dengan siwon.. gimana ya usaha siwon bisa minta maaf ama yoona atas masa lalu mereka.. aleyna itu bnran anaknya siwon ma fany kah??? Ditunggu lanjutannya ya…

    Like

  3. Apa yang dilakukan istri baru Siwon?? sampai Siwon melepaskan Yoona yang sangat dicintainya???Apa karena putrinya??? benarkah itu putri Siwon??
    Kirain sesuatu terjadi pada Daniel saat Siwan menghubungi Yoona….,ternyata diruangan yang Yoona datangi,selain Siwan dan Daniel didalamnya juga ada Siwon??
    Apa yang membuat Siwon datang kesekolah Daniel??apa Siwon tahu jika Daniel adalah putranya??
    Ditunggu kelanjutannya…😊😉

    Like

  4. Udah sama Siwan aja, gakpapa aku mah. Wkwkk #padahalgakredo:v

    Penasaran sama masalalu mereka seperti apa?
    Udah, Siwon gakusah dipandangin lama-lama. Capek ati aja liat dia mah, udah kzl duluan. Padahal gak tau apa-apa, hahaaa

    Dear Daawaa, jangan lama-lama yaa lanjutnya. Takut lumutan ini, hihihii

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s