Chapter, Mine

[FF] Mine | Chapter 6

Fanfiction By

The Little Prince




••

Cast

Im Yoona || Choi Siwon || Tiffany Hwang || Cristina Fernandez Lee || Other Cast.

••

••

••

Happy Reading ^^

••

••

••

Oh Tuhan!
Aku benar-benar mengeluh sekarang, ini benar-benar akan membuat ku gila.
Lihatlah sekarang!
Tidak dirumah,tidak dikantor, semuanya kacau! Tiffany! Apa yang sebenarnya wanita itu pikirkan? Dia akan membiarkan berita ini terus membesar dan menghancurkan ku?

Ini karna Siwon
Apakah karna Siwon
Benarkah Siwon..

Sungguh aku benar-benar muak dengan semua itu. Perkataan ini itu, berita ini itu!!
Apakah wanita itu akan benar-benar menghancurkan ku?

Citra ku menjadi buruk dikalangan mitra bisnis ku, satu persatu investor menarik kembali kerja sama yang telah dibuat, aku tak bisa lagi menghitung berapa banyak kerugian yang ku dapatkan karna berita sialan ini.

Aku memijat pelipis ku sekali lagi saat suara ponsel ku kembali berdering.

‘Oemma’

Memejamkan mataku perlahan, menghembuskan nafas berat, lalu mengambil ponsel yang masih berdering nyaring diatas meja ku.

“Oemma”

Panggil ku pelan.

“Siwon-ah, bagaimana disana?”

Suara Oemma khawatir disebrang telfon.

“Lebih buruk Oemma, reporter lebih banyak berdiri didepan kantor.”

Oemma menghembuskan nafasnya disebrang.

“Oemma khawatir pada Yoona Siwon.”

Aku ikut menghembuskan nafas ku.

“Aku tau ini akan sangat sulit bagi Yoona Oemma, tolong jaga dia selama aku tak ada, aku tak tau apa yang sekarang dia pikirkan.”

Ucap ku pelan, yang setelahnya dijawab setuju oleh Oemma, dan selanjutnya kami terdiam cukup lama, sebelum akhirnya.

“Tidak bisakah kau membicarkan hal ini baik-baik dengan Tiffany.”

Oh Ibu ku, aku tau ini benar-benar jadi beban seluruh keluarga ku.

“Aku bahkan tidak tau dimana, dan apa yang dia lakukan sekarang, ponselnya tak aktif, pihak agensinya pun seolah-olah menyembunyikannya.”

Aku bahkan mulai menjambak rambut ku kesal. Sunggu bungkamnya Tiffany benar-benar membuat semuanya semakin kacau.

“Siwon..”

Suara ibu ku lagi.

“Emm–”
Jawab ku singkat. Seraya kembali memijat pelipisku

“Pulanglah, kau perlu lebih banyak istirahat, dan istri mu pasti sangat tertekan dengan berita ini.. Oemma akan menyuruh Appa untuk membiarkan mu cuti sementara waktu.”

Aku kembali menghela nafas.

“Ku pikir seperti itu.. aku akan segera pulang, Oemma jangan terlalu khawatir eoh.”

“Ambil jalan belakang, biarkan mobil mu parkir dijalan. Didepan gerbang masih banyak wartawan.”

“Aku akan mengingat itu.”

***

“Ku pikir menikah dengan mu akan menyenangkan. Tetapi ternyata menikah dengan seseorang yang cukup berpengaruh di korea malah membuat ku seakan gila perlahan-lahan.”

Siwon melirik pada Yoona yang kini terlihat santai duduk bersandar diatas Sofa dikamarnya, seraya membaca sebuah buku tebal yang Siwon yakini sebuah Novel ditangannya.

“Kau tidak bisa menyesali tentang menikah dengan ku sekarang.”

Yoona menggaruk telinganya yang tidak gatal.

“Yah ku pikir sekarang sudah tak ada gunanya menyesal.”

Jawab Yoona dengan masih tak menghiraukan Siwon yang sekarang telah mengganti kemejanya dengan kaus putih secara cepat.

“Aku sangat lelah.”

Gerutu Siwon seraya menjatuhkan tubuhnya keatas ranjang.

“Apa kau benar-benar tak bertanggung jawab atas apa yang menimpa Tiffany?”

“Ne?”

Dengan refleks Siwon bangun dari posisi tidurnya, dan melemparkan tatapan bingungnya pada Yoona yang masih memusatkan pandangannya pada novel tebal ditangannya.

“Apa maksud mu?”

Yoona menyerah. Ia menutup novelnya dan menyimpan buku itu keatas meja didepannya, ia balas menatap Siwon, tanpa berniat bangun dari posisinya.

“Kehamilan Tiffany, benar tidak ada kaitannya dengan mu?”

Oh..
Siwon menatap Yoona tak percaya, apakah Yoona meragukan Seorang Choi Siwon?

“Yoona kau meragukan ku? Bagaimana mungkin aku bertanggung jawab untuk itu, disaat aku bahkan sangat menghargai Tiffany selama kami berkencan. Tak terjadi apapun diantara kami selain sebuah ciuman.”

Siwon terlihat kesal Yoona mengangguk-anggukan kepalanya pelan.
“Jika benar faktanya seperti itu, kenapa kau tak coba mengatakannya pada seluruh media? Kalau kau tidak ikut bertanggung jawab atas itu, dan kau tidak tau apa-apa selain berkencan bahagia dengannya.”
Siwon menghembuskan nafas lemah, mencoba menahan kekesalannya.
“Tidak semudah itu Yoona, dunia Hiburan tidak semudah seperti yang kau pikirkan.. dunia seorang aktris berbeda dengan dunia seseorang biasa. Dalam dunia mu kau bebas mengatakan ya dan tidak. Tapi dalam dunia seorang idol jika kita mengatakan Tidak.. tidak ada yang akan menerima itu begitupun jika kau mengatakan Iya, kau hanya akan semakin dicela. Semua serba salah Yoona!”
Mereka lalu terdiam cukup lama, saling melemparkan pandangan bingung.. Lalu kemudian Yoona menghela nafas dalam
“Lalu kau hanya akan diam dan membiarkan semua ini membesar begitu saja? Setidaknya katakan dulu kebenarannya.. Setelah itu cukup lihat hasilnya ”
Siwon menatap Yoona sekejap, sebelum akhirnya mengusap wajahnya kasar dengan kedua tangan nya .

Pria itu lalu berdiri cepat, dan tanpa menatap Yoona lagi ia berjalan meninggalkan istrinya itu menuju arah pintu keluar.
“Siwon-ssi”
Namun langkahnya terhenti saat Yoona kembali memanggil namanya. Siwon diam, tak membalas maupun berbalik, ia hanya berdiri mematung didepan pintu yang masih tertutup.
“Masalah itu adil, dia datang pada semua orang tanpa membawa jalan keluar. Tapi jalan keluar akan datang pada siapapun yang telah berjuang mengundangnya datang. Apapun yang akan kau lakukan aku mendukung mu. Ku pikir kau cukup cerdas untuk menangani semua ini. Fighting.”
Ucap Yoona panjang lebar.
“Entahlah.”

Dan yang hanya Siwon balas dengan ucapan singkat yang dilanjutkan dengan kaki yang mengambil langkah menjauh.
***

Tak tau akan jadi cerita apa ini..

Tak tau bagaimana Tuhan merancang akhirnya..

Tak tau bisakah aku mengakhirinya?
Kadang aku ingin hidup seperti semut, terinjak sekali langsung mati, bersabar tak membalas.

Aku juga terkadang berpikir jika hidup menjadi angin akan lebih menyenangkan.. bertiup kesana kemari memberi udara segar untuk semua orang.

Aku bahkan cemburu pada keikhlasan daun yang jatuh karna terpaan angin, tapi tak pernah marah atas takdir nya itu. Ia jatuh keatas tanah megering tertimpa hujan lalu melebur menjadi pupuk yang malah semakin memperkuat pohonnya..
Bagaimana aku bisa seikhlas itu? Sesabar itu? Menerima semuanya..
Aku bahkan berpikir ini adalah posisi tersulit dalam hidup ku.. berusaha meninggalkan kenangan,, setelah melangkah jauh kenangan itu malah tiba-tiba saja menarik ku kembali padaya..

Disatu sisi aku ingin menghentikan ini dengan mematahkan Tiffany, tapi disisi lain, bahwa aku sangat mengenal Tiffany, ini semua rasanya tak mungkin dia lakukan.
Aku mengusap wajahku kasar..
Banyak yang bergentayangan dalam otak ku sekarang.. Kenapa Tiffany membiarkan berita ini semakin meluas. Bagaimana dengan perasaan Yoona? Bukankah aku telah berkomitmen dengannya? Dan juga entah kenapa dari banyaknya pikiran-pikiran itu nama Anna ada di barisan terdepan..
Yah, Anna, Choi Anna..

Gadis kecil itu entah kenapa selalu duduk disudut terdepan dikepala ku. 

Entah tentang apa semua ini.. Memikirkannya menjadi kebiasaan ku sekarang..

Oh ayolah sejak kapan seorang Siwon perduli pada gadis kecil? Aku bahkan terus menyadarkan diri ku..
“Butuh secangkir teh?”
Lamunan ku buyar. Saat ketika Sooyoung adik ku tiba-tiba saja duduk diatas ayunan yang juga tengah aku duduki ditaman belakang, seraya menyodorkan secangkir Teh hangat pada ku..

Aku tersenyum simpul, lalu kemudian menerima teh yang disodorkannya.
“Memikirkan jalan keluarnya?”
Tanya nya seraya masih memandangi ku.

Aku lalu mengangguk menjawabnya.
“Ketemu?”
Aku menghembuskan nafas ku, menunduk menatap pada teh digenggaman ku, lalu menggeleng pelan.
“Oh, kau berada hampir sepanjang hari disini dan tak menemukan apapun.”
Tanyanya tak percaya.
“Ada hal lain yang aku pikirkan.”
Dia menaikan alisnya.
“Apa itu?”
Aku meminum teh ku, sebelum menjawab.
“Yoona, dan Anna.”
Kening adik ku seketika itu juga berkerut lucu.
“Anna?”
Aku menatapnya, lalu tersenyum apa adanya.. Lalu kemudian mengangguk.
“Dia Seorang gadis kecil.”
Aku buru-buru mengucapkannya, saat Sooyong baru saja akan membuka lagi mulutnya?
“Gadis kecil?”
Tanyanya memastikan yang aku jawab kembali dengan sebuah anggukan.
“Rambutnya panjang dan hitam, matanya bulat, tangannya kecil, jari nya lembut, senyumnya manis, dia adalah gadis cantik.”
Sooyoung terdiam.
“Entah apa yang sedang terjadi pada ku Soo, ditengah-tengah masalah ini aku malah memikirkan hal lain.”
“Kau, bertemu seorang gadis kecil, menyukainya lalu terus memikirkannya? Dimana kau bertemu dengannya?”
Aku mengangguk lagi.
“Busan.. saat aku pergi bersama Yoona waktu itu.”
Ia menatap tak percaya pada ku.

“Apa kau serius Oppa? Kau perduli pada seorang gadis kecil?”
“Ku pikir lebih dari perduli”
“Kau..”
“Dia seorang yatim piatu entah bagaimana itu bisa menjadi kebetulan.. aku merasa butuh didekatnya saat masalah ini melingkupi ku.”
Sooyoung entah kenapa tiba-tiba tersenyum pada ku dan menyentuh tangan ku.
“Kau sudah menikah Oppa, wajar saja kau memikirkan seorang gadis kecil.”
Aku kemudian menunduk dalam.
“Kau bisa membicarakannya dengan Yoona.”
“Dia buta–”
Ucap ku pelan akhirnya. Sooyoung terlihat terkejut untuk sesaat, namun kemudian raut wajah nya berubah menjadi bingung.
“Yoona bukanlah masalah untuk keinginan ku ini, tapi Oemma dan Appa? Akan susah untuk mereka menerimanya.”
Lanjut ku putus asa.
“Tapi kau bisa berusaha dulu kan?”
Aku mendongak menatap Sooyoung yang juga tengah menatap ku penuh semangat.
“Setidaknya niat mu baik.”

****
“Oemma mohon Siwon!! Apa yang sebenarnya kau pikirkan! Bukankah kau juga Yoona bisa memiliki seorang anak? Lalu untuk mengadopsi? Anak buta? Apa kau sehat!”
Siwon memejamkan matanya mencoba meredam amarahnya dengan kata-kata Nyonya Choi.
“Oemma tidak tau, dia gadis baik, dia cantik, matanya bersinar, dia juga punya tawa yang lebar, dia– dia–”
Dia menyimpan photo ku.
Lanjut Siwon dalam hati, suaranya bergetar, entah kenapa ia begitu emosional jika ada seorang saja yang mengkritik Anna.
“Siwon—”
“Kau benar-benar menyayanginya nak?”

Tuan Choi memotong ucapan sang istri yang terlihat kembali akan mengeluarkan ocehannya.
“Sangat Appa.”
Jawab Siwon pelan , seraya menatap sang ayah sendu.
“Apa yang membuat mu begitu menyayanginya?”
Siwon tersenyum singkat, lalu kedua matanya tiba-tiba saja berkhayal, ada Anna dibayangannya.
“Dia tertawa lebar, dia cantik, suaranya lucu, dan dia tidak mengeluh akan situasi.”
Siwon menunduk sekejap, lalu kembali tersenyum.
“Oemma, Appa, matanya begitu tenang, aku tidak pernah melihat kekhawatiran disana, meskipun didalamnya gelap. Dia juga mengajarkan ku bagaimana mensyukuri hidup, dia tak melihat setitik cahayapun, tapi dia menyimpan cahaya dihatinya, sementara aku, aku bisa melihat langit seluas mungkin, tapi aku membutakan hati ku.. aku banyak belajar dari Anna, dan entah bagaimana awalnya, aku tak bisa menghilangkan wajah penuh tawanya dari bayangan ku.”
Dan Nyonya Choi terdiam, entah kenapa hatinya terasa dipukul, beribu-ribu kali ia berpikir, ini Siwonnya?
Sedang Tuan Choi terlihat tersenyum penuh arti, dan kemudian menepuk pundak Siwon pelan.
“Dia luar biasa. Ku pikir aku ingin bertemu Anna yang kau sebut-sebut cantik itu, Yeobo, kau menentang niat baik putra mu? Lihatlah dia telah dewasa, dia telah menikah, ku pikir dia tak butuh persetujuan kita untuk melakukan apapun, tapi dia tetap meminta persetujuan kita, dia menjadi menghargai kita, apa kau benar-benar tak ingin bertemu gadis kecil itu?”
Nyonya Choi tertegun, ia berpaling pada Siwon yang kini tengah menatapnya penuh harap.

Lalu kembali beralih pada sang suami yang menganggukan kepala padanya.

Dan akhirnya ia menghembuskan nafas berat.
“Berjanjilah untuk selalu menyayanginya.”
Dan akhirnya..

Siwon bersorak dalam hati, dia bahkan melompat memeluk sang ibu yang hampir saja terjungkal dari sofanya karna kelakuan anaknya itu.
“Aigoo-aigoo, kau akan punya seorang putri dan masih bersikap seperti ini?”
Suara Nyonya Choi seraya tersenyum manis dan menepuk-nepuk punggung Siwon.
“Aku menyayangi Oemma.”
Cupp..
Dan Tuan Choi langsung tergelak saat Siwon tiba-tiba saja mengecup singkat pipi istrinya, sementara Nyonya Choi sendiri hanya bisa tersenyum penuh bahagia.
“Anak ku”
***
“Kenapa kau hanya diam sepanjang perjalanan? Ayolah Yoona, kita akan pergi kekota kelahiran mu.”
Aku kembali tersadar setelah kurang lebih 2 jam hanya terdiam sepanjang perjalanan menuju busan.

Oh lihatlah pria ini. Dia bahkan terus tersenyum lebar sepanjang jalannya.

Yah dia duduk bersebelahan dengan ku, seorang supir menemani kami kali ini.
“Kau tidak senang pergi dari rumah?”
Oh Choi Siwon!

Kenapa dengannya? Apa dia tak bisa merasakan apa yang aku rasakan sekarang?

Aku bingung bodoh!

Kau mengatakan dengan ringannya kalau kau akan mengadopsi seorang anak pada ku tadi, itu membuat ku terkejut, dan yang sangat membuat ku terkejut lagi adalah anak itu adalah Anna, Choi Anna!

Oh apakah dia pikir aku akan baik-baik saja?

Setelah mendengarnya aku terkejut setengah mati, dan pusing memikirkan nya, bagaimana bisa? Tanpa sepengetahuan ku, ditengah-tengah masalah rumit, dia merencanakan semua ini?
“Kau tak akan bisa membawanya hari ini Siwon.”
Akhirnya aku menemukan suaraku, dia membalas tatapan ku.
“Apa?”
Oh Tuhan! Wajah polos itu!
“Anna! Kau tak akan bisa membawanya hari ini juga Siwon! Mengadopsi seorang anak, tak semudah seperti yang kau bayangkan! Kau harus—”
“Semua telah siap Sayang, aku telah membicarakan ini dengan anak buah ku, dia pergi ke busan sore kemarin, mengurus semua dokumen-dokumen yang diperlukan, membicarakan baik-baik dengan kepala panti, dan sesampainya di Seoul nantipun dia akan mengurus tentang perpindahan sekolah, penggantian marga, meskipun tak perlu diganti, memasukan kedalam daftar kartu keluarga dan sebagainya, kita hanya perlu menandatangani beberap dokumen, dan membawa Anna. Hanya itu..”

Wow..

Yoona benar-benar tertohok..

Benarkah ini Siwon?

Choi Siwon?

Siwon yang dingin?

Siwon yang tempramen?

Siwon yang selalu mempermasalahkan merk barang yang dia punya?

Siwon yang sombong?

Siwon yang keras kepala?
Oh Yoona benar-benar tak habis pikir.

Seorang Anna bisa menjadikan Siwon seperti ini?

Ini benar-benar gila!
Apa Siwon benar-benar mengabaikan semua masalahnya hanya karna Anna?

Hanya Tuhan dan Siwon sendiri yang tau apa yang dia pikirkan!

°°



°°



Tbc



°°


°°


Jangan Jadi readers nakal yah √

Part End di pwe jangan salahkan aku yeh kalau gx dapet pw karna gx ada id komen ^^
Anyeong^^

Advertisements
Tanpa kategori

[Fanfiction] My Dear | Saquel

Fanfiction By

The Little Prince




  • Im Yoona || Choi Siwon


°°

°°

°°

Happy Reading^^

°°°

•••••


“Dia Tiffany, kekasih ku..”

Dan seketika detik itu, semua harapan ku bagaikan terbang menjadi debu-debu tak berguna.

Dia menolong ku sebagai seorang jaksa dipengadilan, dia perlahan-lahan membawa ku masuk dalam dunianya, dia yang dengan tangan besarnya menggenggam tangan ku..
Dia memberikan banyak makanan pada ku, dia membawa ku bertemu kembali dengan Ayah ku, dia memberikan kasih sayang sebuah keluarganya pada ku saat Ayah ku akhirnya terkubur dalam tanah, saat aku menangis karna Ayah, saat aku ketakutan, saat aku menjadi bahagia..
Dia, dia ada disamping ku..

Setelah semua itu, salahkah aku jika mengaguminya? Dia bersikap pada ku seolah-olah aku yang paling ia cintai, dia menemani ku ditaman, mendengarkan lagu bersama, dan membawa ku tinggal dirumahnya, tidakkah itu menimbulkan perasaan aneh pada ku? Dia memberikan semua hal yang ia punya didunianya untuk ku.. ku pikir ini cinta, ku pikir dia melihat ku sebagai seorang wanita.

Aku tidak gila, aku melihat kekhawatiran dimatanya setiap kali menatap ku, aku tidak bodoh, untuk mengerti semua perhatinnya..
Hanya saja aku tak tahu harus mulai dengan kata apa?

Dia menganggap ku sebagai seorang adik.

Yah, seorang adik..
Adakah seorang jaksa cerdas yang jatuh hati pada wanita yang tinggal di rumah sakit jiwa?
Aku tidak gila, aku bisa mengerti bahasa manusia, dan aku juga punya cinta. Tapi mana bisa aku disebut gadis normal saat aku menghabiskan setengah dari kehidupan ku dengan melamun didepan kaca rumah sakit jiwa?

Hujan bahkan tak berhenti untuk sekedar membiarkan ku berjalan lebih cepat.
Dress putih dengan tinggi dibawah lutut, payung merah, air mata, aku pergi dengan semua itu.. entah kenapa disaat aku bahkan tak berhak atas rasa sakit ini, aku bahkan tak bisa berhenti menangis.

Dia gadis pintar yang sangat cantik, apa yang bisa Siwon lihat dari ku, selain gadis gila dari rumah sakit jiwa.

Ku pikir hari saat hujan turun itu adalah waktu terindah, tapi nyatanya? Ini sangat dingin, aku bisa berjalan tanpa alas kaki diatas aspal disaat matahari bersinar cerah, tapi sekarang begitu dingin dan berat.

Tuhan.. kenapa harus aku yang jatuh cinta padanya?
Ini menyakitkan.. aku merasakannya karna aku tidak gila..

****

“Oemma pikir Yoona adalah pilihan mu.”

“Saat aku melihatnya, aku seperti melihat Sooyoung.. aku merasa harus melindunginya.”

Nyonya Choi mengangguk pelan.

“Dia gadis yang sopan, sejak kapan kalian saling menjalin hubungan?”

Dan Tuan Choi mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.

“Sebelum aku mengenal Yoona, kami sudah berkencan, hanya saja dia mengambil kuliah di china.”

Tuan Choi mengangguk paham.

“Semoga hubungan kalian tetap baik.. Appa mendukung pilihan mu.”

Siwon tersenyum lebar, lalu mulai meminum teh nya.

“Emmm.. ngomong-ngomong, bagaimana perkembangan Yoona? Apa yang dikatakan Dokter?”

Nyonya Choi lalu menatap hangat putranya itu.

“Dia baik Oemma, hanya saja dokter bilang kalau dia masih tak bisa menerima kepergian ayahnya begitu saja, dia hanya tak boleh terlalu banyak melamun.. dan dokter juga menyarankan untuk membawanya jalan-jalan bertemu orang banyak, agar dia bisa kembali bersosialisasi.”

Jelas Siwon pajang lebar.

“Dia masih takut bertemu orang asing.”

Suara Tuan Choi menimpali.

“Mungkin sebentar lagi tidak Ap–”

“Appa.. Oemma, apa kalian melihat Yoona Nuna?”

Siwon menghentikan ucapannya kala sang adik bungsu Tae Gu menghela ucapannya seraya berlari menuruni tangga menghampiri ketiga orang yang sedang serius mengobrol.

“Nuna mu ada dikamarnya Sayang..”

Nyonya Choi mengusap pelan rambut bocah lelaki itu saat Tae Gu telah berada dihadapan nya.

Tae Gu yang mendengar ucapan ibunya itu lantas menggeleng pelan.

“Tidak Oemma, aku sudah mencarinya.. dia menyuruh ku mengambil gambar yang ku lukis disekolah tadi, tapi saat aku kembali dia sudah tak ada.”

Dan seketika raut wajah Siwon juga kedua orang tuanya berubah terkejut.

“Tae Gu-ahh apa kau sudah mencarinya dengan baik?”
Tanya Siwon cepat, dan Tae Gu menggeleng pelan.

“Beberapa menit yang lalu aku ke kamar Yoona Nuna, aku ingin mendengar lagi cerita pangeran kodok yang belum ia selesaikan, tapi Nuna malah menyuruh ku mengambil gambar ku dulu, sebelum aku pergi dia memeluk ku dan mengatakan menyayangi ku, dan setelah aku kembali dia tak ada.”

Jelas Tae Gu panjang lebar yang malah membuat Siwon juga Nyonya dan Tuan Choi berkerut bingung.

“Dia berbicara pada Tae Gu?”

Tae Gu kembali mengangguk menjawab ucapan sang ayah.

“Dia mulai berbicara pada ku saat aku menangis dan bersembunyi di bawah meja di dapur, saat itu aku mendapat nilai matematika jelek aku takut Appa memarahi ku.”

Tae Gu menunduk saat mengatakan rahasianya itu.

“Tae Gu-ah,, kenapa kau tak mengatakan Apapun pada Hyung? Harusnya kau mengatakan jika Yoona Nuna berbicara pada mu.”

Siwon memegang pundak Tae Gu, mencoba untuk membuat adiknya itu menatap padanya.

“Mianhae Hyung.. itu karna Yoona Nuna tak ingin siapapun tahu kalau dia berbicara—”

Siwon masih menatap pada Tae Gu yang semakin menunduk dan bahkan telah menangis.

“Dia tidak gila, kenapa kalian terus membawanya ke rumah sakit untuk terapi? Itu membuatnya terganggu– Nuna mengatakan banyak hal yang membuat aku suka padanya, tidak ada orang gila yang seperti itu— dia membantu ku mengerjakan PR, dia selalu mendongengkan cerita baik.. Hyung apa kau membawanya lagi ke rumah sakit? Jangan lakukan itu bawa Nuna pulang segera.”

Dan barulah Tae Gu mendongak menatap Siwon dengan mata sembabnya.
Tak menghirukan Siwon dan Tae Gu yang betah terdim seraya saling berpandangan, Tuan Choi lebih memilih untuk bangkit dan berlari ke lantai atas untuk memastikan bahwa ucapan Tae Gu memang benar, Nyonya Choi mengekor dibelakangnya.

Dan ketika telah berada didalam kamar Yoona, Tuan Juga Nyonya Choi langsung menelusuri setiap sudut kamar itu, dan yang mereka dapatkan adalah apa yang dikatakan Tae Gu benar.

“Dia pergi?”

***

Musim Semi, Musim Gugur, Musim Salju, Musim Hujan, Musim Panas.

Aku mulai melewati semua musim itu tanpa diri mu..
Satu tahun berlalu, dan aku tak percaya masih bisa bernafas tanpa mu.

Siwon..
Choi Siwon..
Satu Tahun berlalu, pernahkah satu hari kau habiskan untuk memikirkan ku saja?
Siwon, Satu Tahun berlalu, pernahkah satu kali saja menghabiskan hari mu untuk mencari ku yang tiba-tiba hilang dari jangkauan mu.
Siwon, Satu Tahun berlalu, apakah sampai sekarang kau tak tau alasan terbesar ku pergi dari hidup mu?

Satu tahun berlalu..
Taukah kau aku masih hidup sampai sekarang, disini, ditempat ini, disebuah kota kecil di Jeju, diantara pantai indah, pepohonan rindang, dan suasana tenang.

Suster Jung.
Jung Ahjuma yang membawa ku kemari.
Yah, saat hari itu, aku menangis mendatangi Jung Ahjuma dirumah sakit, aku tinggal selama dua minggu dirumah nya di Seoul, dan setelah itu dia membawa ku pindah ke jeju, dia bilang ingin menghabiskan masa pensiun nya dikota kelahirannya.

Tau kah kau,
Ada kebun teh disepanjang jalan menuju gereja kecil yang terletak ditengah-tengah bukit, yang disanalah tempat aku biasa menghabiskan pagi ku untuk berdoa, mendoakan Appa, Oemma, Tae Gu, Bibi dan Paman Choi, juga Dirimu.

Tau kah kau,
Aku punya sepedah putih, yang selalu ku pakai kemanapun ku pergi, Jung Ahjuma yang memberikannya pada ku.

Tau kah kau,
Aku masih mendengarkan My Dear sampai sekarang?

Tau kah kau,
Aku sekarang membantu Jung Ahjuma melayani pembeli di kedai pangsit kecil-kecilannya

Tau kah kau,
Aku suka sekali mendengar bunyi lonceng gereja, setiap kali seseorang menyentuhnya saat akan masuk.

Tau kah kau,
Aku diam-diam selalu merindukan mu saat malam menjelang..

Ahh–
Tapi rasanya kau tak akan mau tau semua hal itu.
Apa yang aku lakukan,
Dimana aku,
Dan baikkah aku.
Aku tau kepergian ku pasti membuat mu membenci ku.
Gadis gila tak tau diuntung ,
Benarkan?

Aiihhh..
Tapi Nyatanya aku tetap berharap kau ingin tau semua itu.

Siwon,
Apakah kau telah bahagia bersama Tiffany-tiffany itu?
Mungkin kau telah tunangan dengannya? Menikah? Atau mungkin akan memiliki bayi?
Apapun itu, aku akan selalu berharap jika kau bahagia, selalu.

Aku menarik nafas dalam, lalu membuka kedua bola mata ku perlahan, aku lalu melepaskan tautan kedua tangan ku, sebelum akhirnya bangkit dari kursi panjang didalam gereja ini. Berjalan perlahan menuju pintu keluar, sekali lagi aku menyentuh loncengnya.

Tingg

Suaranya halus, dan aku kemudian tersenyum melanjutkan langkah kaki ku.
Aku telah menyelesaikan doa pagi ku.
Meraih sepedah ku, lalu menggandengnya, berjalan pelan untuk kembali ke rumah.

Berjalan seperti ini, selalu membuat ku memikirkan sesuatu dan berandai.

Andai Siwon datang kehadapan ku, mengatakan selama ini mencari ku, merindukan ku, lalu berlari memeluk ku.

Oh,
Aku tersenyum hambar khayalan apa itu? Apakah akan seperti itu jika kami kembali bertemu?
Aku menggeleng pelan, dan kembali melanjutkan langkah ku.
“Yoona.”
Deg..
Aku menghentikan langkah ku didepan gerbang gereja.

Suara itu..
Khayalan kah?
Apakah aku mulai mengkhayalkan suaranya?
Ini mimpi?

Seseorang dengan suara lembut itu?

Aku memejamkan mata ku kuat, aku berkhayal!

“Yoona.”

Aku dengan cepat membuka kedua mata ku.

Tapi aku mendengarnya lagi.
Mendongakkan kepala ku, dan mulai mencari seseorang dengan suara itu.
Namun tak ada siapapun.

“Yoona..”

Itu semakin dekat..
Suaranya semakin dekat..

Dan dengan masih membawa bersama sepedah ku, aku kemudian memilih untuk berbalik kembali kearah gereja, dan..

Aku langsung terdiam mematung ditempat ku, mengeratkan pegangan kedua tangan ku pada sepedah putih ku, dan memandang seseorang yang berdiri didepan ku itu dengan tatapan berkaca.

Ini bukan mimpi?
Dia nyata?
Dia menemui ku?
Mencari ku?

Choi Siwon.
Jaksa dermawan yang selalu ku dambakan kedatangannya, dia ada dihadapan ku sekarang?

“Yoona..”

Kembali, suara beratnya, kembali memanggil nama ku.
Kedua kakinya selangkah-selangkah berjalan mendekati ku.

Hari ini, dia memakai kemeja putih, celana bahan hitam, sepatu hitam mengkilap, rambutnya sedikit panjang, dia memiliki janggut diwajahnya sekarang, benarkah dia? Choi Siwon?

“Yoona–”

Suaranya lagi, semakin dekat, dan melangkah lebih dekat pada ku yang masih diam mematung ditempat ku.
Dan akhirnya..

“Yoona–”

Dia datang pada ku, suaranya bergetar, matanya berkaca, dia menyentuh tangan ku yang masih memegang erat stang sepeda ku.
Apa itu tanda dia merindukan ku?

“Yoona–”

“Kau– siapa kau?”

Karna aku tak ingin lagi merasakannya, rasa sakit itu.
Karna aku masih dapat mengingat rasanya, rasa sakit itu.
Karna aku masih dapat merasakannya, rasa sakit itu, masih tertoreh didalam hati ku.

Karna aku tak ingin lagi melihat mu bersama yang lain.
Karna aku ternyata mencintai mu.
Karna aku ternyata cemburu.

Dan akhirnya, itulah kata yang aku ucapkan saat kembali bertemu dengan mu.
Karna diri mu hanya memanggil nama ku.
Karna diri mu tak mengatakan merindukan ku.
Karna diri mu ternyata tak memeluk ku.

Kau menatap ku dengan mata yang semakin berkabut..
Suara mu tak ku dengar lagi..
Dan tangan mu tak ku rasa menyentuh tangan ku lagi..

Yoona.. Yoona.. Yoona..

Apa artinya itu?

Jika masih hanya seorang adik.. Maafkan aku, aku tidak bisa menerimanya..
Karna jujur, itu membuat ku sakit.

Mungkin dengan pura-pura tidak mengenal mu, hati ku juga akan pura-pura tidak mecintai mu.

Maafkan aku.
Ini bukan kesalahan mu.
Melainkan kesalahan ku yang tidak bisa membedakan Cinta dan Perhatian.

Maafkan aku.
Atas rasa yang terlalu berlebihan.

°°

°°


°°

The End ^^